Generasi muda menghadapi persoalan kesehatan akibat gaya hidup yang dijalankan (Sumber gambar: Unsplash/Creative Christians)

Hypereport: Gaya Hidup Kekinian & Problem Kesehatan Generasi Masa Depan

18 September 2023   |   18:35 WIB
Image
Syaiful Millah Asisten Manajer Konten Hypeabis.id

Gaya hidup kekinian telah membawa perubahan signifikan dalam aspek kesehatan masyarakat. Publik yang makin sadar dengan isu kesehatan jadi salah satu sisi positif. Namun, tak sedikit dampak negatif yang ditimbulkan, termasuk pada kelompok penerus bangsa, generasi milenial dan Z.

Perilaku yang dimaksud mencakup banyak hal. Penggunaan media sosial yang kurang bijak, termasuk konsumsi informasi kesehatan seadanya di platform jejaring sosial; konsumsi makanan cepat saji, serba instan, dan ultra proses; sampai kurangnya aktivitas/malas gerak, atau yang beken dikenal sebagai gaya hidup sedentari. 

Baca juga: Hypereport: Menimbang Gaya Hidup Alternatif Bagi Kaum Urban
 

Mekipun beberapa aspek gaya hidup ini terkesan sepele dan sudah sewajarnya, ada risiko bahaya besar yang mengintai. Hal-hal yang demikian telah memicu berbagai masalah kesehatan pada kelompok usia muda.

Isunya lebih banyak berkaitan dengan penyakit akibat penurunan fungsi organ dan jaringan tubuh (degeneratif), yang selama ini telah menjadi pemicu kematian terbesar di Indonesia. Jika sebelumnya penyakit degeneratif timbul sebagai proses pertambahan usia atau penuaan yang kerap dialami oleh lansia, kini penyakit tidak menular itu banyak menimpa kelompok milenial hingga generasi Z.

Hal ini terlihat dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang mencatat bahwa prevalensi penyakit degeneratif di Indonesia cukup tinggi. Misalnya, risiko penyakit jantung yang mencapai 31,4 persen pada kelompok usia 15 tahun ke atas.

Data Globocon 2020 juga mencatat ada lebih dari 390.000 kasus kanker baru dan lebih dari 234.000 kematian akibat penyakit itu di dalam negeri. Yang menarik, angka kasusnya mulai meningkat pada kelompok usia muda, yang bisa berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas hidup. Tinginya angka risiko penyakit-penyakit mematikan ini tentu jadi masalah serius.

Jika ditelusuri, banyak kasus penyakit degeneratif hingga kematian pada kelompok usia muda dikaitkan dengan gaya hidup modern atau kekinian yang tidak sehat.

Dalam sebuah diskusi virtual, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah mengatakan bahwa jenis makanan kekinian erat hubungannya dengan kondisi seperti diabetes, obesitas, hingga hipertensi yang muncul pada usia remaja dan muda.

“Jadi penyakit degeneratif, sindrom metabolic ini sudah mulai banyak bergeser ke remaja, pahadal kan biasanya itu [terjadi] pada orang tua,” katanya.

Dalam Hypereport kali ini, tim Hypeabis.id coba menangkap dan mengeksplorasi topik seputar fenomena gaya hidup kekinian dan risiko penyakit berat pada usia muda. Termasuk pembahasan tentang generasi rebahan, gaya hidup serba instan, bahaya di balik produk perawatan dan kecantikan, hingga kematian mendadak anak-anak muda.

Yuk ikuti cerita utuhnya berikut ini. (klik sub-judul untuk membaca tulisan selengkapnya) 
 

1. Bahaya Ancaman Kesehatan Fisik & Mental Akibat Gaya Hidup Rebahan

Di Indonesia, kaum rebahan atau mager (malas gerak) jumlahnya cukup signifikan. Dari data Riset Kesehatan Dasar 2018, tercatat ada 35 persen masyarakat Indonesia terindikasi mager dan kurang melakukan aktivitas fisik. Angka ini meningkat dibandingkan dengan Riskesdas 2013 dengan persentase 26,1 persen.

Gaya hidup ini memang terasa nikmat, tapi punya banyak mudarat. Sport & Clinical Nutritionist Primaya Hospital Yohan Samudra mengatakan terlalu lama rebahan memang akan menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Terutama, hal-hal yang berkaitan dengan urusan fisik pasti performanya akan menurun atau bahkan bermasalah. Selain itu, rebahan yang berlebih juga bisa mengganggu kesehatan mental.

“Berat badan akan bertambah dan jadi obesitas. Lalu, komplikasi obesitas seperti diabetes, serangan jantung, stroke, gagal ginjal, juga bisa muncul. Bahkan, secara teori bisa terjadi peningkatan kematian 20 persen pada yang hobi rebahan,” imbuhnya. 
 

2. Rokok Elektrik hingga Kosmetik, Produk Gaya Hidup yang Mengancam Kesehatan

Penggunaan rokok elektrik dalam beberapa tahun belakangan memang sangat popular di kalangan remaja. Indonesia bahkan dinobatkan sebagai negara dengan pengguna rokok elektrik alias vape terbanyak di dunia berdasarkan data Statista sepanjang Januari-Maret 2023.

Tingginya minat terhadap rokok elektrik atau vape didorong oleh kepercayaan bahwa produk itu bisa menjadi pengganti rokok tradisional, karena dinilai lebih sehat. Sebuah paradigma yang nyatanya kurang tepat.

“Meski asap yang dihasilkan dari rokok konvensional lebih banyak mengandung zat kimia berbahaya, tetapi rokok elektrik tetap memberikan banyak risiko bagi para penggunanya,” kata Desilia Atikawati, Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi RSPI Puri Indah.
 

3. Kebugaran Fisik Tak Jamin Atlet Bebas dari Ancaman Penyakit Jantung

Atlet memiliki risiko tinggi mengalami masalah kesehatan jantung salah satunya yang paling sering terjadi ialah serangan henti jantung mendadak atau sudden cardiac death (SCD). Kondisi tersebut dialami sejumlah atlet yang terbilang masih berada di usia produktif seperti pesepak bola asal Denmark Christian Eriksen dan mendiang pebulutangkis Markis Kido.

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Antonius Andi Kurniawan menjelaskan masalah kesehatan jantung utama yang membuat sejumlah atlet mengalami kematian mendadak ialah kardiomiopati hipertrofik (HCM). Gangguan ini riskan terjadi pada atlet olahraga daya tahan yang kerap mengalami penebalan dinding otot jantung secara tidak normal. 

"Makanya kalau di atlet itu penting setidaknya enam bulan sekali untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, treadmill test dan elektrokardiogram untuk melihat fungsi jantungnya," katanya.
 

4. Cerdas dalam Memilah & Memilih Makanan Demi Kesehatan Anak dan Keluarga

Pangan olahan ultra menjadi makanan yang mengelilingi kehidupan manusia pada saat ini, baik dewasa maupun anak-anak. Kondisi tersebut mengharuskan publik untuk cerdas dalam memilih apa yang hendak dikonsumsi bagi diri sendiri dan anak. Jika tidak, sejumlah dampak buruk akan menghampiri, di mana salah satunya adalah potensi menderita kanker.

Pasalnya, makanan ultra proses kemungkinan besar memiliki banyak bahan tambahan seperti gula, garam, lemak, dan pewarna atau pengawet buatan. Pangan ultra proses sebagian besar terbuat dari zat yang diekstrak dai makanan, seperti lemak, pati, gula tambahan, dan lemak terhidrogenasi.

Dokter Spesialis Anak Yoga Devaera mengatakan bahwa makanan ultra proses memiliki beragam tingkat jenis dan pengolahan yang berbeda, sehingga memiliki kandungan gizi yang juga berlainan antara satu dengan yang lain. 

Baca juga: Hypereport: Menyusuri Jejak Generasi Baru Kalcer Skena

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

Rekomendasi Vacuum Cleaner Handheld di Bawah 1 Jutaan, Cocok Buat Kaum Urban

BERIKUTNYA

5 Fakta Hiatus Noah yang Perlu Diketahui

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: