Ilustrasi kehidupan perantau di Ibu Kota. (Sumber gambar: Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)

Hypereport: Menelusuri Kehidupan Perantau di Ibu Kota

20 March 2023   |   19:30 WIB
Image
Gita Carla Hypeabis.id

Like
Jakarta, sebagai Ibu Kota Indonesia, selalu menjadi magnet bagi para perantau yang ingin meraih kesuksesan. Kota ini memiliki daya tarik yang tak bisa diabaikan, mulai dari lapangan pekerjaan yang melimpah, kualitas pendidikan yang baik, hingga infrastruktur dan fasilitas publik yang memadai. 

Sebagai tujuan para perantau, Ibu Kota memiliki sejarah yang panjang. Tak hanya saat musim arus balik Lebaran, tetapi para penjelajah dari berbagai negara juga tertarik dengan kota yang dahulu bernama Batavia ini. 

Jakarta dan kota-kota besar lainnya memang menawarkan kehidupan yang lebih baik, pekerjaan dengan bayaran yang layak, fasilitas yang memadai, kualitas pendidikan yang baik, infrastruktur besar dengan transportasi umum yang menjangkau hampir seluruh area. 

Baca juga: Hypereport: Pemaknaan Luas Generasi Muda tentang Janji Suci Pernikahan
 

Meskipun Jakarta terkenal dengan kesibukannya, tapi para perantau tetap bersemangat dan optimis dalam menghadapi tantangan baru yang ada di kota metropolitan ini. Banyak yang berangkat dengan modal yang minim, hanya membawa bekal tekad, dan semangat pantang menyerah. Tak jarang mereka harus menempuh perjalanan jauh dan melewati berbagai rintangan untuk sampai ke Jakarta. Namun, semua itu tak membuat semangat mereka surut. 

Memang perantauan tak melulu identik dengan Jakarta. Namun, tak bisa dimungkiri jika Jakarta masih dilirik orang di berbagai daerah untuk merantau. Hal ini terbukti dengan  terus meningkatnya pertambahan penduduk Jakarta setiap tahunnya. Data Badan Pusat Statistik pada 2021 mencatat bahwa Ibu Kota memiliki 10.609.700 jiwa, naik dari 10.563.200 jiwa pada 2020. Angka ini menempatkan DKI Jakarta sebagai provinsi terpadat di tanah Ibu Pertiwi. 

Pertambahan jumlah penduduk itu beriringan dengan banyaknya orang luar daerah yang bermukim di Jakarta. Tak sedikit kisah sukses perantau yang mampu menaklukkan Jakarta. Atau malah kembali ke kampung dan tetap berhasil.

Untuk itu, Hypeabis.id mencoba mengangkat kehidupan perantau dan menggali lebih mendalam sebagai laporan khusus kali ini yang dibagi ke dalam beberapa tema artikel berikut:
 

1.  Jakarta Tetap Jadi Magnet Bagi Perantau Mengejar Mimpi

Tradisi merantau telah banyak dilakukan masyarakat Indonesia. Berangkat dengan beragam mimpi, para perantau ini pergi meninggalkan kampung halaman ke kota-kota besar, khususnya Ibukota Jakarta. Selain meningkatkan kualitas hidup, tak sedikit pula orang yang keluar dari zona nyaman mereka untuk mengembangkan diri.

Sejarawan dan akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Johan Wahyudi mengatakan Jakarta sebagai tujuan bagi para perantau sudah ada sejak zaman dahulu atau pada abad ke-13 dan 14 masehi.

Pada saat itu, para perantau yang datang dari berbagai negara dari Eropa, Arab, dan juga China datang ke Jakarta melalui pelabuhan Sunda Kelapa. Mereka membeli berbagai macam komoditas lokal untuk dibawa ke negaranya.
 
Di antara mereka sudah ada yang menetap meskipun tidak permanen. Para perantau itu datang bermukim sambil menunggu angin untuk menggerakkan kapal yang digunakan untuk berlayar ke tempat tujuan. “Biasanya motivasi mereka datang ke Jakarta adalah untuk kepentingan perdagangan,” ujar Johan. 

Tidak jauh berbeda dengan masa lampau, perantau pada saat ini datang ke kota yang dahulu bernama Batavia ini juga memiliki motivasi ekonomi. Hanya saja, kasusnya lebih kompleks jika dibandingkan dengan zaman dahulu.
 
Banyak individu dari luar daerah ke ibu kota untuk mendapatkan uang dan menetap dengan membeli properti. Tidak jarang mereka juga membuka usaha, sehingga menciptakan lapangan pekerjaan yang luas.

Meskipun begitu, banyak perantau juga yang menjadikan kota ini sebagai tempat untuk memperoleh penghasilan saja. Mereka lebih memilih membelanjakan penghasilan yang diraih di kampung halamannya, seperti membeli rumah yang bagus, sawah yang luas, dan sebagainya.


2.  Orang-orang Ini Berhasil Membuktikan, Tinggal di Kampung pun Bisa Sukses

Perantauan menjadi fenomena yang sangat umum terjadi di Indonesia. Banyak orang meninggalkan kota kelahirannya untuk mengejar cita-cita dan impian mereka di kota-kota besar. Namun, tak jarang perantau yang telah sukses bekerja di Jakarta atau kota besar lainnya di Indonesia memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya setelah tinggal beberapa waktu.

Contohnya Muhsin yang bersama komunitasnya, Rumah Literasi Pojok Buku, kembali ke kampung halamannya. Saat ini dia sedang memaksimalkan potensi alam di desanya yang bernama Kalibening. Beberapa di antaranya dengan membuat workshop kepenulisan sejarah desa, fotografi, pemutaran film, serta pemberdayaan masyarakat berbasis sociopreneur.

Hal itu juga dilakukan oleh Syahrial Aman. Pebisnis asal Pati, Jawa Tengah itu dulunya sempat merantau ke berbagai daerah, tapi akhirnya memilih pulang kampung. Padahal, dia sudah diterima bekerja di perusahaan besar, tapi memutuskan banting setir menjadi wirausaha tas anyaman dari plastik bernama Syam's Handicraft.

Salah satu faktor kenapa memutuskan pulang kampung adalah kenyamanan. Terlebih saat Syahrial sudah berkeluarga, sehingga harus memboyong anak dan istrinya untuk ikut merantau. Namun, biaya hidup yang mahal dan kerja yang monoton membuatnya memilih untuk hengkang sebagai pegawai perusahaan.

Kini, bisnisnya pun mampu memberikan lapangan kerja bagi masyarakat. Total ada sekitar tiga ratus lima puluh orang yang turut membantunya memproduksi tas. Mereka didominasi ibu rumah tangga dan mantan tenaga kerja wanita yang dibantu oleh perangkat desa agar bisa berdaya guna.
 

3.  Hidup Guyub dan Rukun di Perantauan

Para perantau di kota besar seperti Jakarta memiliki ikatan yang cukup kuat. Memiliki kesamaan nasib untuk mencari peruntungan di Ibu Kota, tak jarang mereka saling membantu dan kerap menggelar kegiatan rutin untuk tetap terhubung, memperluas jaringan, hingga berkontribusi pada daerah asal. 

Alhasil untuk mewadahi kebutuhan tersebut, banyak perantau yang membuat atau bergabung dalam sebuah paguyuban. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, paguyuban memiliki makna perkumpulan yang bersifat kekeluargaan. 

Perkumpulan tersebut didirikan oleh orang-orang yang sepaham (sedarah) untuk membina persatuan atau kerukunan di antara para anggotanya. Seperti Forum Wartawan NTT Jakarta dan Dunia.

Peran lain dari paguyuban ini yakni membantu sesama anggota ketika terjadi kedukaan hingga masalah. Bantuan juga termasuk untuk perantau yang baru datang mengadu nasib di Ibu Kota.

“Ada fungsi persahabatan, advokasi, saling membantu untuk lowongan kerja lebih baik. Kalau mampu, kita bantu fasilitasi, bangun link. Ketika terbentuk, saling kenal, ada hal lain yang dikerjakan bersama,” tutur Koordinator Forum Wartawan NTT Jakarta dan Dunia, Agustinus Tetiro.
 

4. Kisah Perantau dari Dua Generasi yang Menginspirasi

Tak sedikit kisah sukses perantau yang mampu menaklukkan Jakarta. Misalnya Sayudi, sosok pendiri di balik banjirnya gang-gang di pelosok Jakarta dengan warung Tegal. Ketenaran Warteg Kharisma Bahari mungkin tak terdengar asing lagi bagi warga Jakarta. Di balik ratusan outlet-nya yang menghiasi sudut jalan, ternyata Sayudi-lah yang menjadi sosok penting di belakangnya. Tidak ada alasan spesifik mengapa akhirnya dia memutuskan untuk membuka warung nasi.

Dalam pandangannya, orang Indonesia sudah sangat terbiasa mengonsumsi nasi. Maka tak ada alasan untuk tidak melihat ini sebagai peluang bisnis. “Aku pikir warung nasi ini usaha yang enggak ada matinya. Karena kita menjual makanan pokok manusia,” jelas Sayudi (50 tahun) kepada Hypeabis.id.

Seperti Sayudi yang berkecimpung dalam dunia bisnis sejak usia 20-an, wanita muda asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, Isnaini Nurfajri Machdita (21 tahun) punya caranya sendiri. Mungkin sebagian Genhype mengenalnya dengan nama Valanyr. Di tengah industri gim yang semakin masif, Isnaini mampu mengambil peluang dengan jempol mahirnya.

Namanya bukan baru pertama dikenal dalam dunia esports. Bahkan belakangan, wanita kelahiran 9 Februari 2001 ini semakin melesat karena mewakili Indonesia pada ajang pesta olahraga Asia Tenggara, SEA Games 2023 di Kamboja.

Baca juga: Hypereport: Satwa Liar dalam Jerat Konten Medsos & Dilema Konservasi

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah

SEBELUMNYA

Musikal Ken Dedes, Broadway Bercita Rasa Nusantara

BERIKUTNYA

Kisah Inspiratif CEO Happy Heart Indonesia yang Peduli Anak Bangsa

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: