Eksklusif Founder Visinema Angga Dwimas Sasongko: Mimpi Jadi Game Changer
Like
Sejak awal berdirinya, Visinema telah menunjukkan karakter kuat sebagai entitas yang mengedepankan kekuatan narasi. Dengan memadukan nilai artistik dan daya tarik pasar secara seimbang, Visinema konsisten menghasilkan karya-karya yang tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga sarat akan makna sosial dan kedalaman emosi.
Film-film seperti Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi, hingga Keluarga Cemara mencerminkan komitmen Visinema terhadap cerita yang kontekstual, membumi, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Eksklusif Desainer Dian Pelangi: Membentuk Karakter Brand Fesyen Muslim yang Inspiratif
Bukan sekadar jargon, visi Visinema sebagai perusahaan storytelling juga pada akhirnya mendorong lahirnya pendekatan lintas medium. Di Visinema, film kerap kali bukanlah produk akhir sebuah karya. Justru, dari sana berbagai hal mengejutkan bisa tercipta.
Cerita masih bisa dihidupkan dalam bentuk serial, konten digital, teater musikal, toko kopi, bahkan konser musik khusus untuk sekadar merayakan soundtrack dari karya-karya yang ada di dalam film. Begitulah yang terjadi di Jumbo, Keluarga Cemara, hingga Filosofi Kopi.
Namun, pada medio 2019-2020, ada satu lompatan besar yang disusun oleh rumah produksi yang berada di Jakarta Selatan ini. Mereka mulai menjelajahi dunia animasi, sebuah wilayah yang saat itu masih jarang disentuh secara serius oleh industri film Indonesia.
Langkah awal mereka hadir dalam bentuk Nussa, serial animasi anak-anak yang kemudian diangkat ke layar lebar dan mendapatkan sambutan luas. Keberhasilan ini membuka jalan bagi proyek animasi yang jauh lebih ambisius: Jumbo. Digarap selama kurang lebih lima tahun, Jumbo kini mencatatkan diri jadi film produksi Indonesia terlaris.
Kepada Hypeabis.id, Founder Visinema, Angga Dwimas Sasongko, bercerita mengenai alasannya menyentuh medium animasi dan cara pandang rumah produksinya terhadap film yang cukup unik. Berikut adalah petikan obrolan kami:
Kalau dibilang apakah menyangka mendapat 10 juta penonton, tentu enggak. Kalau nyangka, saya mungkin sudah bikin 4. Karena buat saya, apa yang kami dapatkan hari ini, itu karunia Tuhan. Sesuatu yang kalau kami kerjain sendiri sebagai manusia, rasanya enggak mungkin gitu.
Tapi bahwa jumbo menjadi besar, itu memang sesuatu yang kami persiapkan, kami rancang, dan kami wujudkan dengan eksekusi yang terkonsep. Mulai dari eksekusi cerita, eksekusi animasinya, eksekusi promo dan marketingnya. Lalu, kami juga dengan sadar memberikan ruang dan waktu yang panjang dan luas kepada Ryan Adriandhy selaku sutradara.
Bagaimana pun kami percaya bahwa untuk jadi besar perlu kualitas, dan kualitas membutuhkan investasi. Oleh karena itu, kami juga menyiapkan kapital yang signifikan untuk kreator, produser, serta sutradara agar mereka bisa bermain-main. Walaupun tentu dengan kondisi selalu akan ada limitasi, tapi semua ini dirancang, dipersiapkan untuk menjadi besar.
Saya sangat bangga karena kami mendapatkannya ini semua bukan karena kebetulan. Kami mendapatkannya dengan apa yang kami percayai, yakni storytelling. Jadi, jumbo adalah kesuksesan karena visi.
2. Apa yang terjadi pada medio 2019-2020, ketika Anda berpikir untuk memakai medium animasi? Sesuatu yang masih begitu jarang di industri
Animasi memungkinkan kami di Visinema untuk bisa melihat storytelling lebih jauh, beyond dari layar bioskop. Sebenarnya, ketika kita berbicara animasi, kita berbicara upaya agar perfilman Indonesia bisa break the ceiling.
Kenapa? karena di perfilman Indonesia saat ini, pembatas terbesar itu selalu diarahkan ke jumlah layar dan jumlah penyebaran bioskop. Kami percaya animasi bisa jadi salah satu pendorong untuk keluar dari hal tersebut.
Kami ingin membuat sesuatu, yang membuat storytelling yang kami ciptakan itu tidak lagi terbatas pada batas tersebut. Animasi adalah salah satu cara untuk menggapai hal tersebut.
3. Mengapa Anda percaya animasi bisa melebarkan spektrum perfilman Indonesia?
Waktu itu, Visinema pengin punya sesuatu, yang kalau itu berhasil, bisa jadi game changer. Bukan hanya soal genre atau medium, lebih dari itu. Kalau kita sekarang bicara kekurangan kita adalah layar, dan bermimpi untuk punya tiga kali lipat di masa depan, apakah kita juga membayangkan siapa yang akan mengisi kursi-kursi bioskop di masa depan?
Sekarang, kita punya 2.300-an layar, kemudian kita ingin ada 7.000-an lagi dalam 10-15 tahun ke depan, kalau kita enggak memikirkan penonton di masa depan, terus yang nonton 10-15 tahun lagi siapa? Makanya, kenapa animasi itu memungkinkan kami untuk bisa engage.
Animasi itu bisa menciptakan penonton yang akan jadi future audience-nya Indonesia. Mereka adalah anak-anak yang hari ini umurnya lima tahun, enam tahun, atau delapan tahun.
Baca juga: Eksklusif Helmy Yahya: Meracik Kembali Nilai Sejarah & Seni dengan Sentuhan Teknologi AI
Ini krusial banget kan ya. Kita maunya nambah layar, lalu harus ada pertumbuhan tiga kali lipat. Itu bagus, tapi kan sebenarnya enggak berhenti di situ. Jangan-jangan 10 tahun lagi layarnya ada, tapi gak ada yang nonton. Gue udah mikirin ini dari tujuh tahun lalu. Makanya gue pilih animasi. Karena animasi bisa narik penonton baru. Bukan cuma audience yang baru secara demografi, tapi juga penonton masa depan.
Anak-anak Gen Alpha yang sekarang nonton, kalau tiap dua tahun kita kasih mereka film animasi yang bagus, mereka bakal terbiasa nonton di bioskop. Bayangin, mereka akan selalu nunggu momennya, nunggu keramaiannya, dan mereka bakal percaya bahwa cerita kita tuh menarik.
Dan ya, animasi itu bisa menjangkau penonton-penonton kayak gini. Kalau kita berhasil bikin animasi, kita bukan cuma bisa break the ceiling, tapi juga membentuk industri yang baru. Jadi ini bukan cuma soal kejayaan Visinema. Memang, kalau berhasil ya pasti bakal ada glory-nya juga buat Visinema. Kita harus mikir jauh ke depan, kita harus bangun yang serius. Jangan cuma nyari low hanging fruit.
4. Apa yang menjadi kalkulasi Anda, mengingat belum ada contoh nyata dari keberhasilan animasi di dalam negeri? Apa yang memantik kegilaan dan keberanian tersebut?
Saya selalu mengatakan bahwa Visinema harus menjadi entitas yang bisa bertahan selamanya, melampaui siapa pun pendirinya. Meskipun saya masih tergolong muda, bahkan 10 tahun dari sekarang pun saya masih akan lebih muda dari sebagian besar kompetitor saat ini.
Artinya, time is ally sebenarnya kan. Pertanyaannya kemudian, jika waktu ada di pihak saya, apa yang seharusnya saya lakukan? Jadi waktu itu kita lagi bertaruh sama sesuatu yang benar-benar kita percaya: storytelling.
Kalau kita mau bertaruh di storytelling, kita mesti mikir, gimana caranya supaya storytelling ini bisa menjawab banyak pertanyaan besar yang belum kejawab di Indonesia.
Gue ngebayangin Visinema dari tahun 2018, saat pertama kali mikirin hal ini. Gue mikir, ke depannya pertumbuhan Visinema, baik itu revenue, EBITDA, bottom line, itu semua akan tergantung sama pertumbuhan bioskop.
Karena bisnis gue tergantung sama berapa banyak kursi di bioskop. Jadi gue harus pecahin 'batasan' itu. Caranya? Kita harus bikin cerita yang enggak cuma mengandalkan dari jumlah tiket yang terjual.
Gimana caranya cerita punya potensi besar tanpa bergantung ke penjualan tiket bioskop doang? Mungkin jawabannya adalah animasi, dan IP yang bisa bertahan lama.

CEO Visinema sekaligus Eksekutif Produser Film Jumbo Angga Dwimas Sasongko (kanan) dan Sutradara Ryan Adriandhy memberikan paparan saat acara Kamis Santuy di Wisma Bisnis Indonesia, Jakarta, Kamis (19/6/2025). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani)
5. Berapa biaya produksi Jumbo?
Saya tidak bisa menyebutkan secara pasti biaya produksinya, tapi untuk film Jumbo ini, jika dibandingkan dengan proyek-proyek yang pernah saya kerjakan sebelumnya, mungkin nilainya setara dengan dua kali lipat biaya produksi Mencuri Raden Saleh beserta seluruh biaya promosinya.
Prosesnya sangat panjang dan fokus besar diberikan pada para talent. Karena, secanggih apa pun teknologi yang dimiliki, tanpa sumber daya manusia yang mumpuni, hasilnya tidak akan maksimal. Sebaliknya, meskipun teknologi terbatas, jika ditangani oleh talenta yang benar-benar kompeten dan visioner, hasil akhirnya bisa tetap luar biasa.
6. Apa impact lain yang Anda harapkan?
Ketika bisa menginspirasi anak-anak usia 8, 9, 10 tahun lewat film animasi, harapannya dampaknya bisa lebih luas. Saat nanti layar semakin banyak, industri tumbuh, dan penontonnya bertambah, yang akan dibutuhkan adalah para pembuat film dan pencerita.
Mudah-mudahan anak-anak yang menonton Jumbo hari ini bisa bermimpi untuk menciptakan karya yang lebih keren dari Jumbo di 10–15 tahun ke depan. Itulah yang dianggap lebih penting, dan menjadi alasan kenapa memilih untuk memulai dari animasi.
Hal menarik lain, sadar enggak, kalau dua produser yang menangani film ini keduanya perempuan, yakni Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari, di tengah industri yang kerap disebut male-dominated.
7. Benar tidak, setelah kesuksesan Jumbo, investor jadi lebih percaya pada animasi?
Gak tau ya, soalnya kita juga gak ketemu sama investor-investor lain di luar ekosistem Visinema. Jadi gak tahu juga gimana mereka. Tapi yang pasti, sejak film Jumbo rilis, makin banyak pihak yang tertarik buat kerja sama, khususnya soal lisensi dan kolaborasi. Mereka pengin kerja bareng sama karakter dan IP Jumbo.
Di filmnya sendiri juga udah ada beberapa brand yang ikutan kolaborasi. Mereka itu pihak-pihak yang dari awal udah percaya dan berani coba, padahal waktu itu masih banyak yang belum yakin sama potensi film animasi. Tapi setelah Jumbo sukses untuk kedua kalinya, minat buat kolaborasi jadi makin besar dan suasananya juga makin rame.
Baca juga: Eksklusif Desainer Interior Ary Juwono: Sunyi di Media Sosial, Lantang dalam Berkarya
8. Menurut Anda, bagaimana perkembangan animasi di Indonesia sejauh ini?
Kalau ngomongin animasi, gue lihat ini sebenarnya medium yang punya banyak banget talenta hebat di Indonesia. Tapi sayangnya, animasi belum pernah jadi industri yang benar-benar signifikan, karena selama ini model bisnisnya masih bergantung ke servicing. Jadi, proyek-proyek luar masuk ke sini, terus animator Indonesia yang ngerjain, tapi cuma sebatas tukang jahit.
Artinya, mereka gak hidup dari ide atau gagasan, tapi cuma dari skill teknis aja. Nah, di titik ini, kalau Visinema mau masuk ke animasi, pendekatannya harus sama kayak waktu kita masuk ke musikal lewat Musikal Keluarga Cemara. Dua tahun, 30 kali show, kita bangun industrinya dulu.
Bangun industri itu artinya, kalau kita bikin animasi, ya bikin buat diri sendiri—kita yang ciptain, kita yang kembangin, kita juga yang distribusiin. Bukan buat orang lain. Supaya bisa jadi proyek percontohan, dan teman-teman animator di Indonesia bisa percaya bahwa industri animasi lokal bisa berdiri di atas kaki sendiri.

CEO Visinema sekaligus Eksekutif Produser Film Jumbo Angga Dwimas Sasongko (kanan) dan Sutradara Ryan Adriandhy memberikan paparan saat acara Kamis Santuy di Wisma Bisnis Indonesia, Jakarta, Kamis (19/6/2025). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani)
9. Visinema dikenal menghasilkan karya yang lintas medium, dari film ke serial, animasi ke konser, hingga produk turunan. Apakah kelenturan medium ini sudah direncanakan sejak awal? Bagaimana Visinema memandang produksi film sebenarnya?
Kalau di Visinema, gue biasanya bilang North Star kita itu salah satunya ya studio kita, sekolah kita, dan perusahaan-perusahaan yang kita punya itu adalah bagian dari ekosistem. Itu kuncinya. Studio-studio kayak Visinema Pictures, Visinema Studios, Bioskop Online, dan lainnya kita anggap kayak sekolah.
Karena dianggap sekolah, yang kita bangun itu bukan cuma bikin film doang. Kita juga ngerawat dan ngembangin talenta, dan para talenta ini hidup dalam ekosistem itu.
Makanya kalau film-film Visinema dibilang lentur dan punya napas panjang, itu karena yang bikin bukan cuma Angga Dwi Sasongko doang. Di ekosistem ini banyak talent, dan idenya juga banyak. Jadi emang dari awal polanya kita fokus ke ngebesarin kekuatan kreatif.
10. Konsep tersebut muncul sejak awal atau apa yang memantik Anda?
Bangun sesuatu itu kan proses, pasti berubah seiring waktu. Tapi visi awalnya jelas: kita pengin jadi game changer di industri. Salah satu caranya ya dengan ngerjain hal-hal yang gak dilakukan sama perusahaan Indonesia lainnya. Biasanya kan perusahaan di Indonesia lebih fokus ke figur.
Kalau kita, yang dibangun itu ekosistem. Angga memang CEO, tapi yang bikin karya bukan cuma Angga. Semua orang di Visinema punya otoritas kreatifnya sendiri, dan dikasih ruang buat ngembangin visi kreatif mereka. Jadi setiap orang di sini bisa ngejar mimpinya sendiri, bukan cuma mimpi foundernya doang.
Contohnya, di musikal Keluarga Cemara, nama gue bahkan gak ada di credit title. Itu proyeknya Cristian Imanuell sebagai produser, dan yang pegang bisnisnya Pak Heri. Itu bisa kejadian karena ada platform yang gue bangun di Visinema.
Contoh lain, di film Jumbo, gue cuma di posisi eksekutif produser. Yang produser justru dua perempuan: Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari. Lo pernah bayangin gak, di industri film yang katanya dikuasai cowok, film nomor satu di Indonesia justru diproduseri dua perempuan? Novia itu usianya bahkan masih 20-an, paling tua awal 30-an.
Di sini kita semua bener-bener jalanin apa yang kita omongin. Tim yang ngerjain Jumbo, Rian, Anggia, Novi, Bida penulisnya, itu semua bukan orang yang direkrut dari luar, tapi hasil dari proses nurturing di Visinema. First job mereka ya di sini. Jadi, kita itu sekolah, dan perusahaannya adalah ekosistemnya. Anak-anak kantor malah suka ngecengin, bilangnya ini UNAS—Universitas Angga Sasongko.
Baca juga: Eksklusif CEO Larasati Auctioneers Daniel Komala: Selektif Lelang Karya saat Pasar Seni Lesu
11. Di tengah film Indonesia yang terus memecah rekor baru, apa makna ini bagi perkembangan industri bagi Visinema?
Menurut saya, industri atau bisnis kreatif itu sangat dinamis, beda banget sama industri lain kayak ekstraksi atau manufaktur. Di industri kreatif, kompetitor terbesar justru diri kita sendiri. Jadi ini bukan soal menangin market sebanyak-banyaknya, atau jadi nomor satu atau dua.
Ini bukan omongan kosong, tapi refleksi. Industri kreatif itu bukan ajang lomba. Ini soal kita mau jadi apa, dan siapa mau jadi apa, sekarang atau nanti.
Teman-teman di industri kreatif harus milih: mau jadi gerbong yang ikut aja, atau jadi lokomotif yang narik ke depan. Dan pilihan itu ditentukan dari langkah pertama.

CEO Visinema sekaligus Eksekutif Produser Film Jumbo Angga Dwimas Sasongko (kanan) dan Sutradara Ryan Adriandhy memberikan paparan saat acara Kamis Santuy di Wisma Bisnis Indonesia, Jakarta, Kamis (19/6/2025). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.