Kecerdasan buatan atau artificial intelligence tampaknya bukan lagi masa depan. Dia sedang berjalan sekarang memasuki berbagai dimensi. Teknologi yang dulu hanya hidup dalam fiksi ilmiah tersebut, kini perlahan merasuk ke hampir semua aspek kehidupan, tak terkecuali medium seni seperti film.
Tanpa kru ratusan orang, kamera mahal, dan CGI rumit, sebuah film kini bisa tercipta dari layar komputer. Lewat sebuah prompt (permintaan natural language), gambar bisa terbentuk, dialog pun dapat tercipta. Namun, akankah hal-hal semacam itu benar-benar membuat kita takjub pada masa depan?
Masih banyak hal yang perlu dipertanyakan. Namun, diakui atau tidak, kecerdasan buatan mulai merasuk ke dalam keseharian kita. Baru-baru ini, bahkan muncul sebuah film berjudul Nusantara yang seluruhnya dibuat dengan bantuan AI.
Helmy Yahya (Sumber gambar: Instagram/Helmy Yahya)
Film tersebut berhasil menyabet penghargaan Best Documentary di ajang AI Film Awards di Prancis. Helmy Yahya, figur yang selama ini dikenal di dunia pertelevisian dan dikenal sebagai 'raja kuis', terlibat dalam produksi tersebut sebagai produser eksekutif.
Bersama rumah produksi Neyra Vision, studio film berbasis AI di Indonesia, Helmy tengah mencoba menggabungkan yang lawas dan yang baru. Lewat film tersebut, dia mencoba menghidupkan kisah kejayaan Majapahit dan tokoh legendaris Gajah Mada yang mempersatukan Nusantara lewat bantuan teknologi berbasis AI.
Helmy yang namanya melejit lewat program kuis legendaris Siapa Berani? Memang tak pernah berhenti di satu titik. Dia terus bergerak menjajal berbagai peran, dari pembawa acara, produser, aktor, dirut televisi, hingga komisaris berbagai lembaga.
Meski telah mencicipi berbagai puncak karier, Helmy memutuskan tak memilih berhenti. Di tengah revolusi digital, dia kini kembali muncul.
Melalui Nusantara, Helmy seakan menggabungkan dua obsesinya, yakni dunia hiburan dan sejarah Indonesia. Namun, ini barulah awal. Helmy rupanya telah menyusun rencana panjang terkait untuk mengembangkan industri kreatif yang berdampingan dengan AI.
Kepada Hypeabis.id, Helmy Yahya berbicara mengenai kesuksesan film Nusantara, perkembangan AI di Indonesia, dan peran penting seniman manusia di tengah revolusi digital ini:
1. Apa arti kemenangan film Nusantara di AI Film Awards 2025?
Ya, ini suatu pengakuan bahwa Indonesia itu sudah punya studio film dan sudah punya para pekerja seni di bidang AI yang diakui dunia. Lebih senang lagi, karena cerita yang diangkat itu tentang Nusantara, terutama yang kita fokuskan pada kebesaran Majapahit, kemudian juga perjuangan Gajah Mada menyatukan Indonesia.
Saya pikir ini jadi punya banyak dimensi ya. Satu, kita mengangkat cerita Indonesia ini negara yang sangat besar dahulu, waktu zaman Majapahit. Kedua, Indonesia juga sudah mampu sekarang (soal AI). Tinggal ke depan, ilmu untuk AI ini, karena kan saya juga Ketua Asosiasi Konten Kreator Indonesia (AKKI), saya sih berharap melalui AI kita bisa merebut kejayaan internasional.
2. Proses pembuatan film AI itu bagaimana sih? Apa yang paling membedakan dengan konvensional?
Prosesnya cukup lama juga ya. Kita tentu diskusi dengan filmmaker yang terlibat, lalu menentukan storyline. Terlebih, ini adalah short movie ya, sehingga skrip harus benar-benar compact. Kita juga mengecek sejarahnya betul atau tidak. Tapi, tentu kemudian kita harus dramatize juga.
Kehebatan AI kan kita jadi bisa menggambarkan tentang situasi zaman itu secara detail gitu. Dari angle-angle terbaik gitu ya. Dan kita punya konsultan, ada beberapa teman dari Rusia yang memang sudah 12 tahun bergelut dengan AI. Jadi, banyak sekali transfer knowledge. Ini kerja sama antara seniman-seniman Indonesia dan dibantu teman-teman dari Rusia.
Harapannya, semangat ini bisa terus berlanjut, agar Indonesia dapat bangkit dengan mendorong ekonomi kreatif melalui pemanfaatan AI. Teknologi AI sangat fleksibel, bisa digunakan untuk membuat iklan, film, hingga materi presentasi. Kita berharap AI juga mengisi ruang-ruang presentasi dari berbagai daerah, dari provinsi, kabupaten, dan kota, yang ingin menampilkan potensi alam, ekonomi, maupun sejarah mereka, dengan cara yang lebih mudah dan efisien lewat AI.
Saya ingin mengajak para seniman Indonesia dan generasi muda untuk mulai mempelajari AI. Tidak ada ruginya, justru ini adalah bekal penting untuk masa depan.
3. Setelah menang di AI Film Awards 2025, distribusi film ini akan seperti apa?
Kalau Nusantara ini kan lagi dijajakin untuk masuk Oscar ya. Jadi, ini bisa menjadi showcase kalau menunjukkan Indonesia mampu gitu, bahwa ada studio di Indonesia menghasilkan AI terbaik yang diakui dunia di AI Film Awards.
4. Apakah ke depan AI akan mendisrupsi seniman-seniman kita?
Jadi, jangan salah persepsi. Ini penting juga untuk diluruskan bahwa kehadiran AI bukan untuk menggantikan seluruh peran manusia. Itu juga bukan tujuan kita. AI hadir untuk berjalan berdampingan, sebagai alat pendukung.
Para seniman, dari penulis skenario, sutradara, tim artistik, para aktor, mereka tetap menjadi pusat dari karya seni. Mereka tidak akan tergeser oleh teknologi ini. AI hanya digunakan pada bagian-bagian tertentu untuk membantu efisiensi, misalnya dari segi biaya atau teknis eksekusi.
Peran AI bisa dianalogikan seperti CGI dalam film, yang memungkinkan adegan-adegan luar biasa, seperti berbicara dengan hewan purba, yang tidak mungkin diwujudkan secara nyata. Jadi, AI bukan pengganti, tapi pelengkap bagi imajinasi dan karya para seniman.
5. Bagaimana perkembangan AI di Indonesia saat ini?
Hebat ya, hebat banget. Proyek kemarin memang masih dalam bentuk film pendek, hanya sekitar 4–5 menit. Tapi ke depannya, kita sudah mulai merancang produksi film panjang. Harapannya, langkah ini juga bisa membuka lebih banyak lapangan pekerjaan di sektor industri kreatif.
Selanjutnya, bersama Neyra Studio, kita juga berencana membentuk semacam akademi untuk pelatihan-pelatihan di bidang AI. Ada banyak hal yang bisa digali dari sini. Semoga inisiatif ini bisa mendorong lebih banyak anak-anak muda di Indonesia, khususnya yang bergerak di sektor ekonomi kreatif, untuk lebih percaya diri dan berani berkarya.
6. Bakal ada project film panjang menggunakan AI?
Ya, kita sedang merencanakan film feature. Namun, bukan full AI ya. Ini akan jadi hybrid. Jadi, tetap menggunakan real shot, kemudian mungkin ada extended reality (XR), lalu CGI-nya kita pakai AI gitu. Kita ingin melahirkan banyak film-film legenda.
Kemarin Majapahit kan sudah naik. Yang terbaru itu mungkin cerita soal Enrique Maluku, dia pengeliling bumi pertama kan. Kita akan naikkin itu dulu. Kemarin saya juga sudah menghadap ke Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya, beliau juga sangat mendukung karena studio ini sudah mendapat pencapaian internasional.
Saya juga sudah mendapat dukungan dari Gubernur Maluku Utara. Enrique adalah pemuda kelahiran Tidore. Jadi, saya berharap dalam tahun ini sudah bisa rilis film hybrid. Ini gabungan antara real shot dan AI. AI ini di film hanya sebagai pendukung.
7. Kenapa harus AI?
Karena AI itu menggampangkan proses prodsuksinya ya. Secara biaya juga biasanya akan jauh lebih rendah, terutama untuk adegan-adegan kolosal. Kita kan juga cukup banyak legenda-legenda yang bisa diangkat.
Bayangkan, kalau kita pakai AI itu kan enggak perlu syuting, enggak perlu bikin set lokasi juga. Misalnya, kisah Enrique nih, dia lagi di atas kapal di samudera luas gitu. Gimana coba buat momennya?
Namun, tentu tidak semaunya harus AI. Kalau adegannya biasa aja, misalnya hanya dialog di ruangan, tentu itu akan lebih mudah dan murah menggunakan real shot. Untuk sekarang, kalau mau pakai AI semua pun masih akan mahal sekali. Ya, bisa dibilang ini bakal kayak CGI gitu. Kalau ada adegan yang sulit dibuat, baru kita pakai teknologi.
8. Seperti apa project Anda dalam beberapa tahun ke depan dengan AI ini?
Saya sangat berharap teman-teman bisa mulai mempelajari AI, agar kita tidak tertinggal dan bisa memperkenalkan banyak kisah serta kekayaan budaya kita ke dunia. Saya masih ingin mengangkat tokoh-tokoh hebat yang kita punya, seperti Laksamana Malahayati, seorang perempuan tangguh yang bertempur di atas kapal.
Kisah itu tentu akan sulit direalisasikan tanpa bantuan AI, terutama dalam hal visual dan produksi. Kita juga berencana mengangkat kisah Ratu Kalinyamat dan Prabu Siliwangi. Menggunakan AI akan sangat membantu mewujudkan latar dan adegan yang kompleks. Tapi tentu saja, semuanya akan dikombinasikan dengan pengambilan gambar nyata (real shot), agar tetap terasa autentik dan hidup.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.