Aktor dan aktris kerap berperan di balik layar (Sumber gambar/ilustrasi: Pexels/ cottonbro studio)

Hypereport: Panggung Baru Para Bintang, Tren Aktor Berkiprah di Balik Layar

18 June 2025   |   20:10 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Sejumlah aktor dan aktris di Indonesia yang terus berperan di belakang layar terus tumbuh. Rasa cinta terhadap perfilman Indonesia dan perkembangannya yang terus bergerak ke arah yang kian menyenangkan membuat mereka memainkan peran yang lain.

Perfilman Indonesia terus menunjukkan tajinya di rumah sendiri. Banyak film buatan anak negeri mendapatkan sambutan yang sangat hangat. Setelah KKN di Desa Penari, ada film animasi Jumbo yang berhasil mencatatkan jumlah penonton hingga lebih dari 10 juta. Tidak hanya itu, sejumlah film juga laris manis sehingga berhasil mencetak box office dengan meraih jutaan penonton.

Di antara banyak film yang meramaikan layar bioskop Indonesia, beberapa di antaranya memiliki produser atau sutradara seorang aktor. Selain berperan di depan kamera, para pemeran itu juga berperan di belakang layar suatu karya. Tidak hanya satu atau dua, tercatat ada cukup banyak bintang yang mencoba peruntungannya dengan peran baru tersebut, misalnya Arie Kriting, Baim Wong, Ernest Prakasa, Reza Rahadian, dan sebagainya.

Baca juga laporan terkait:
1. Hypereport: Deretan Rumah Produksi Milik Aktor Indonesia, Prilly Latuconsina hingga Reza Rahadian
2. Hypereport: Rekam Jejak & Capaian Komersial Artis yang Bertransformasi Jadi Sutradara

3. Hypereport: Tak Hanya Nama Besar, Aktor Harus Punya Modal Kuat untuk Jadi Sutradara
4. Hypereport: Menelaah Fenomena Aktor Jadi Produser Film

Produser film Sampai Jumpa, Selamat Tinggal dari rumah produksi Adhya Pictures, Shierly Kosasih, melihat bahwa keberadaan aktor dan aktris yang berperan di balik layar tak lepas dari industri perfilman yang terbuka untuk semua orang. "Apalagi untuk orang-orang yang sudah bekerja, baik di depan atau di belakang layar," katanya kepada Hypeabis.id.

Dengan begitu, perubahan peran dari depan ke belakang layar atau sebaliknya sangat mungkin terjadi dan merupakan kesempatan bagi setiap orang. Tidak menutup kemungkinan, produser yang kerap bekerja di balik layar pun bisa menjadi artis pada suatu hari.

Meskipun begitu, perpindahan peran dari depan ke belakang layar membutuhkan waktu lantaran kedua profesi itu sangat berbeda kendati berada dalam industri yang sama. "Kita perlu rendah hati untuk menyadari bahwa antara depan dan belakang layar itu adalah dua hal yang sangat berbeda," tambahnya.

Saat memutuskan untuk berganti peran, aktor dan aktris tersebut mungkin akan memulai dari titik awal yang berbeda. Namun, mereka tetap membutuhkan proses untuk mencapai kemahiran penuh.
 


Pengamat film Hikmat Dharmawan menambahkan bahwa kehadiran aktor dan aktris yang berperan di belakang layar sudah ada sejak awal sejarah perfilman Indonesia. Dia mengungkapkan, sudah ada seniman panggung yang kemudian merambah dunia film sebagai sutradara, penulis skenario, bahkan produser.

Dia mencontohkan Ratna Asmara, aktris sekaligus bintang panggung yang berhasil menyutradarai film berjudul Dokter Samsi pada 1952. Selain itu, ada juga Sofya W.D yang menjadi pengarah film Badai Selatan. Karya Sofya, yang juga seorang aktris, bahkan menjadi film Indonesia pertama yang menembus Berlinale, Jerman, dan bersaing dengan film-film legendaris dari sutradara sekelas Kurosawa dan Jean Renoir.

Selain mereka, nama-nama seperti Christine Hakim, Deddy Mizwar, Jenar Maesa Ayu, dan Slamet Rahardjo juga tercatat bekerja di balik layar. Keputusan aktor atau aktris untuk berperan di balik layar suatu karya tercatat menjadi bagian integral dari perjalanan film Indonesia.

Kehadiran mereka menunjukkan banyak hal. Salah satunya adalah bahwa para seniman peran itu memiliki pemahaman yang mendalam tentang dunia film dari berbagai sisi. “Jadi bukan aji mumpung juga. Kalau ada aktris yang masuk ke ranah menjadi produser atau sutradara, dan jejak sejarahnya panjang,” ujarnya.

Tidak hanya itu, sejarah juga mencatat keterlibatan mereka di balik layar juga memiliki berbagai alasan. Namun, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa keterlibatan para aktor atau aktris di belakang layar membuat karya yang tengah atau akan diproduksi memiliki nilai lebih atau menjadi kekuatan untuk melakukan kerja sama dengan pemilik modal ketika berperan sebagai produser.

Aktor atau aktris yang terlibat dalam proses di balik layar akan menjadi wajah bagi karya yang akan dibuat. Langkah menjual nama besar aktor atau aktris sebagai individu di balik layar dalam pembuatan film tidak dapat dihindari, lantaran industri ini membutuhkan biaya yang tidak kecil, yakni miliaran rupiah.

Meski demikian, Hikmat mengingatkan bahwa modal finansial dan sosial tidak serta-merta membuat karya dengan keberadaan aktor atau aktris di belakang layar menjadi sukses. Cerita aktor atau aktris yang berada di balik layar tidak selalu manis dalam meraih keberhasilan. Beberapa karya tercatat harus bersusah payah untuk membuat masyarakat datang menyaksikannya, bahkan tak jarang mendapatkan kritikan dari para penonton di dalam negeri.

Kualitas karya menjadi penentu utama karya tersebut diterima oleh masyarakat atau tidak. Di satu sisi, keberadaan sang bintang di balik layar bisa memberikan nilai lebih, namun di sisi lain, jika tidak diimbangi dengan kompetensi yang relevan, kehadirannya justru dapat menjadi tantangan.

Aktor atau aktris yang berhasil menciptakan karya apik kerap memiliki konsep dan pemahaman yang mumpuni. Saat menjadi seorang sutradara, sang bintang kerap menawarkan keunikan dari segi narasi visual, pengarahan, penciptaan adegan, dan juga naskah.

Saat ini, Hikmat menilai perhatian aktor atau aktris yang menjadi pengarah cenderung memiliki perhatian lebih terhadap adegan atau akting, bukan kepada permainan lensa kameranya. Meskipun begitu, ada juga beberapa aktor yang memiliki perhatian terhadap keduanya.

Terlepas dari semua itu, baik Hikmat maupun Shierly, menilai bahwa kehadiran banyak aktor atau aktris yang mengambil peran di balik layar akan berdampak positif terhadap industri perfilman di dalam negeri. Bagi Shierly, jumlah pembuat film yang kian banyak dan industri yang terus berkembang dari sisi talenta merupakan dukungan yang baik bagi perfilman di dalam negeri.

Sementara itu, Hikmat mengatakan hal terpenting bagi siapa pun yang ingin masuk ke industri film harus memiliki kesadaran bahwa film Indonesia sudah menjadi tuan di rumah sendiri dan tidak melakukan diskriminasi terhadap penonton.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Asal-usul Karakter Tung Tung Tung Sahur yang Kini Lagi Viral

BERIKUTNYA

Menyingkap Warisan Sudjana Kerton di Pameran The Hidden Treasures of Sudjana Kerton

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga