Hypereport: Tak Hanya Nama Besar, Aktor Harus Punya Modal Kuat untuk Jadi Sutradara
16 June 2025 |
13:34 WIB
Aktor sering kali disebut sebagai 'wajah' dari sebuah proyek film. Mereka memerankan karakter, menjadi penggerak cerita dan memikat penonton dengan penampilan akting mereka. Akan tetapi, seiring perjalanan karier, sejumlah aktor memutuskan terjun ke dunia belakang layar dan mengambil tantangan baru dengan menjadi sutradara.
Head of Content Strategy Visinema, Alexander Matius, mengatakan ada beberapa hal yang melatarbelakangi seorang aktor memutuskan untuk menekuni dunia penyutradaraan. Alasan utamanya biasanya ialah keinginan untuk menyalurkan hasrat kreatif.
Menjadi sutradara memberikan seseorang ruang untuk membentuk cerita secara keseluruhan. Aktor yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun menafsirkan naskah dan bekerja untuk mewujudkan visi sutradara, mungkin merasa ingin mengambil peran kendali kreatif itu sendiri.
Baca juga laporan terkait:
Matius mengatakan banyaknya aktor yang berkecimpung ke dunia sutradara menjadi semacam penanda bahwa industri perfilman saat ini sangat terbuka, sehingga para pelaku film bisa menjajal profesi lintas bidang. Hal ini pada akhirnya akan menambah variasi bentuk dari karya-karya film nasional.
"Tapi kan yang ingin kita lihat adalah, oke ini misalnya karya perdana, kemudian apa sih karya keduanya, bertumbuhnya akan seperti apa sih, bagaimana kemudian dia memahami soal dunia directing [penyutradaraan]," ujarnya.
Salah satu rumah produksi yang kerap mengorbitkan aktor ke bangku sutradara ialah Imajinari. Sejak berdiri pada 2022, Imajinari konsisten memberikan ruang bagi sutradara-sutradara baru untuk mewujudkan ide cerita original, sebagai tawaran tontonan yang segar sekaligus menghibur kepada masyarakat.
Menariknya, film-film yang dibuat Imajinari pun tak jarang sukses di pasaran. Misalnya, film pertama mereka, Ngeri-Ngeri Sedap (2022), yang dibuat oleh komika sekaligus aktor Bene Dion Rajagukguk. Film tersebut meraih 2,8 juta penonton dan menjadi film terlaris yang dirilis pada 2022.
Sebelum menjadi sutradara, Bene telah membintangi sejumlah film seperti Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015), Ngenest (2015), Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016), dan Susah Sinyal (2017).
Lalu ada juga Muhadkly Acho dengan film Agak Laen. Film yang dirilis tahun 2024 itu menjadi fenomenal dengan torehan 9 juta lebih penonton, hingga menjadi film Indonesia terlaris ketiga sepanjang masa.
Di samping sebagai komedian, Acho telah menjadi aktor sejak 2014 dan membintangi banyak judul film dan serial, di antaranya adalah Bajaj Bajuri the Movie (2014), Ghost Writer (2019), dan Induk Gajah (2023).
Lalu ada juga komedian sekaligus aktor Arie Kriting yang debut menjadi sutradara lewat film layar lebar Kaka Boss (2024). Film yang mengangkat budaya Timur itu meraih 800.000 lebih penonton di bioskop. Sebelumnya, Arie telah membintangi banyak judul film dan serial seperti Comic 8 (2014), Susah Sinyal (2017), Ghost Writer 2 (2022), dan The Big 4 (2022).
Terbaru, Imajinari mempercayakan komedian sekaligus aktor Kristo Immanuel untuk debut sebagai sutradara lewat film Tinggal Meninggal yang akan tayang pada tahun ini. Sebelumnya, Kristo telah membintangi sejumlah film termasuk The Big 4 (2022), Sleep Call (2023), 24 Jam Bersama Gaspar (2024), dan My Annoying Brother (2024).
Produser Imajinari Ernest Prakasa mengatakan capaian jumlah penonton yang besar dari beberapa film yang diproduksi oleh Imajinari dapat menjadi semacam bukti bahwa aktor-aktor tersebut memiliki kapabilitas sebagai sutradara. Hal itu, lanjutnya, menjadi capaian positif dari kepercayaan yang diberikan olehnya kepada mereka.
Meski demikian, Ernest menilai hal tersebut tak lantas menjadi semacam jaminan bahwa film-film yang dibuat oleh sutradara dengan latar belakang aktor akan sukses di pasaran.
Hal itu terbukti dari film-film lain di Imajinari yang tidak mencatatkan jumlah penonton yang besar di bioskop, seperti Harta, Tahta, Raisa (2024) karya Soleh Solihun, dan Cinta Tak Seindah Drama Korea (2024) karya Meira Anastasia. "Jadi pasti ada lah hit and miss," kata Ernest.
Begitu pun di mata investor. Ernest mengatakan bahwa nama-nama besar aktor yang akhirnya duduk ke bangku sutradara tidak menjadi jaminan bahwa proyek film mereka akan mulus mendapat dukungan dari investor. Menurutnya, posibilitas pendanaan dari investor justru lebih banyak dipengaruhi dari sisi produser atau rumah produksinya.
"Jadi mereka [investor] akan merasa kalau produser dan PH [production house] ini sampai percaya, ya berarti gue percaya sama mereka gitu aja. Sesimpel itu sih sebenernya," kata produser berusia 43 tahun itu.
Ernest mengatakan Imajinari memberikan kepercayaan kepada sutradara-sutradara tersebut lantaran latar belakang mereka sebagai komedian atau komika. Dia mempunyai perspektif bahwa seorang komedian memiliki kemampuan untuk mengerjakan film komedi.
Selain itu, kemampuan mereka yang terbiasa menulis skrip komedi untuk penampilan stand up comedy juga menjadi pertimbangan lain. Menurut Ernest, kemampuan untuk menulis cerita dan skrip yang baik ialah modal yang sangat krusial untuk menjadi seorang filmmaker.
"Jadi sutradara itu ada yang background-nya astrada, ada yang background-nya aktor, ada yang background-nya penulis. Nah menurut saya salah satu yang terbaik itu adalah yang berangkat dari akar penulisan, jadi dia bisa tahu dengan jernih ini cerita arahnya mau dibawa kemana," ucapnya.
Baca juga: Hypereport: Membangun Ekosistem Perfilman Indonesia yang Berkelanjutan
Senada, Matius menilai nama besar aktor bisa menjadi salah satu faktor yang bisa membuat film garapannya sebagai sutradara mendapat respons positif di pasaran. Akan tetapi, hal itu bukan menjadi jaminan bahwa karya-karya mereka akan selalu sukses.
Dia tidak memungkiri biasanya seorang aktor memiliki basis massa yang besar dibanding sutradara yang tidak memiliki latar belakang sebagai bintang layar lebar. Menurutnya, algoritma angka tersebut belum tentu akan terealisasi dengan jumlah tiket film yang terjual.
"Sudah banyak buktinya ada beberapa film yang kalau dihitung dari basis followers line up-nya itu nggak berbanding lurus sama jumlah tiket yang terjual. Jadi itu mungkin faktor yang kemudian bisa membantu media promosinya jadi lebih masif. Tapi di satu sisi juga, itu bukan faktor yang akan menentukan bahwa film itu akan laris," ucapnya.
"Karena balik lagi juga, apakah sutradaranya bikin film yang memang didasarkan harus laris? Karena ada juga sutradara yang kemudian sebenarnya bikin film untuk mengeluarkan hasrat berkreatifnya misalnya," imbuh dia.
Sebagai seorang aktor, mereka memiliki pengalaman yang panjang bekerja sama dengan berbagai karakter dan gaya penyutradaraan yang berbeda-beda dengan sutradara. Hal itu pun bisa menjadi modal untuk menciptakan kerja sama yang baik ketika mereka menjadi sutradara.
Modal lainnya ialah pemahaman yang kuat terhadap tiap layer emosi yang ada dalam film. Hal itu lagi-lagi terbentuk dengan pengalaman mereka menjadi aktor yang dituntut untuk bisa menguasai beragam emosi. "Kemudian mungkin soal karakter juga, posisi karakter [dalam film] jadi lebih kuat juga, bagaimana mereka berkembang," kata Matius.
Meski demikian, dunia keaktoran dan penyutradaraan berbeda. Matius mengatakan untuk menjadi filmmaker, seseorang harus memahami job desk dan tanggung jawab sebagai sutradara. Termasuk, memahami wilayah decision making atau pengambilan keputusan sutradara.
Lebih dari sekadar berfokus pada pendalaman karakter, mereka juga harus mendalami keseluruhan cerita dan sinematografi, memahami alur kerja sama dengan tim, memiliki kemampuan dalam membedah skrip film, termasuk mempunya direct statement dalam berkarya.
"Sebenarnya sih bebas-bebas aja karena setiap orang punya cara pandangnya sendiri, karena ini karya seni. Tapi mungkin itu yang biasanya kemudian teman-teman sutradara belajar. Karena suka nggak suka harus melepaskan bangku sebagai aktor dulu. Jadi yang harus dipelajari ya sudah pasti apa yang kemudian sutradara lakukan dan pikirkan," jelasnya.
Ernest juga mengatakan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi Imajinari ialah bagaimana membuat para sutradara keluar dari kompetensi mereka sebagai storyteller dan komedian, untuk masuk dan mendalami ranah audiovisual storytelling yang harus dikuasai seorang filmmaker.
Mereka, kata Ernest, harus belajar aspek tenis dalam membuat film, salah satunya teknik pergerakan kamera. Menurutnya, pergerakan atau bagaimana sutradara mengatur lensa kamera akan berpengaruh pada keseluruhan cerita film.
"Bukan hanya perkara close up atau lebar tapi juga apa sih bedanya pake lensa yang tele sama lensa yang wide itu kan beda banget. Nah hal-hal kaya gitu memang teknis dan berat tapi harus dipelajari supaya melengkapi kemampuannya gitu," ucapnya.
Baca juga: Hypereport: Menguatkan Posisi Film Indonesia di Kancah Global
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Head of Content Strategy Visinema, Alexander Matius, mengatakan ada beberapa hal yang melatarbelakangi seorang aktor memutuskan untuk menekuni dunia penyutradaraan. Alasan utamanya biasanya ialah keinginan untuk menyalurkan hasrat kreatif.
Menjadi sutradara memberikan seseorang ruang untuk membentuk cerita secara keseluruhan. Aktor yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun menafsirkan naskah dan bekerja untuk mewujudkan visi sutradara, mungkin merasa ingin mengambil peran kendali kreatif itu sendiri.
Baca juga laporan terkait:
- Hypereport: Rekam Jejak & Capaian Komersial Artis yang Bertransformasi Jadi Sutradara
- Hypereport: Deretan Rumah Produksi Milik Aktor Indonesia, Prilly Latuconsina hingga Reza Rahadian
Matius mengatakan banyaknya aktor yang berkecimpung ke dunia sutradara menjadi semacam penanda bahwa industri perfilman saat ini sangat terbuka, sehingga para pelaku film bisa menjajal profesi lintas bidang. Hal ini pada akhirnya akan menambah variasi bentuk dari karya-karya film nasional.
"Tapi kan yang ingin kita lihat adalah, oke ini misalnya karya perdana, kemudian apa sih karya keduanya, bertumbuhnya akan seperti apa sih, bagaimana kemudian dia memahami soal dunia directing [penyutradaraan]," ujarnya.
Salah satu rumah produksi yang kerap mengorbitkan aktor ke bangku sutradara ialah Imajinari. Sejak berdiri pada 2022, Imajinari konsisten memberikan ruang bagi sutradara-sutradara baru untuk mewujudkan ide cerita original, sebagai tawaran tontonan yang segar sekaligus menghibur kepada masyarakat.
Menariknya, film-film yang dibuat Imajinari pun tak jarang sukses di pasaran. Misalnya, film pertama mereka, Ngeri-Ngeri Sedap (2022), yang dibuat oleh komika sekaligus aktor Bene Dion Rajagukguk. Film tersebut meraih 2,8 juta penonton dan menjadi film terlaris yang dirilis pada 2022.
Sebelum menjadi sutradara, Bene telah membintangi sejumlah film seperti Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015), Ngenest (2015), Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016), dan Susah Sinyal (2017).
Lalu ada juga Muhadkly Acho dengan film Agak Laen. Film yang dirilis tahun 2024 itu menjadi fenomenal dengan torehan 9 juta lebih penonton, hingga menjadi film Indonesia terlaris ketiga sepanjang masa.
Di samping sebagai komedian, Acho telah menjadi aktor sejak 2014 dan membintangi banyak judul film dan serial, di antaranya adalah Bajaj Bajuri the Movie (2014), Ghost Writer (2019), dan Induk Gajah (2023).
Lalu ada juga komedian sekaligus aktor Arie Kriting yang debut menjadi sutradara lewat film layar lebar Kaka Boss (2024). Film yang mengangkat budaya Timur itu meraih 800.000 lebih penonton di bioskop. Sebelumnya, Arie telah membintangi banyak judul film dan serial seperti Comic 8 (2014), Susah Sinyal (2017), Ghost Writer 2 (2022), dan The Big 4 (2022).
Terbaru, Imajinari mempercayakan komedian sekaligus aktor Kristo Immanuel untuk debut sebagai sutradara lewat film Tinggal Meninggal yang akan tayang pada tahun ini. Sebelumnya, Kristo telah membintangi sejumlah film termasuk The Big 4 (2022), Sleep Call (2023), 24 Jam Bersama Gaspar (2024), dan My Annoying Brother (2024).
Produser Imajinari Ernest Prakasa mengatakan capaian jumlah penonton yang besar dari beberapa film yang diproduksi oleh Imajinari dapat menjadi semacam bukti bahwa aktor-aktor tersebut memiliki kapabilitas sebagai sutradara. Hal itu, lanjutnya, menjadi capaian positif dari kepercayaan yang diberikan olehnya kepada mereka.
Meski demikian, Ernest menilai hal tersebut tak lantas menjadi semacam jaminan bahwa film-film yang dibuat oleh sutradara dengan latar belakang aktor akan sukses di pasaran.
Hal itu terbukti dari film-film lain di Imajinari yang tidak mencatatkan jumlah penonton yang besar di bioskop, seperti Harta, Tahta, Raisa (2024) karya Soleh Solihun, dan Cinta Tak Seindah Drama Korea (2024) karya Meira Anastasia. "Jadi pasti ada lah hit and miss," kata Ernest.
Begitu pun di mata investor. Ernest mengatakan bahwa nama-nama besar aktor yang akhirnya duduk ke bangku sutradara tidak menjadi jaminan bahwa proyek film mereka akan mulus mendapat dukungan dari investor. Menurutnya, posibilitas pendanaan dari investor justru lebih banyak dipengaruhi dari sisi produser atau rumah produksinya.
"Jadi mereka [investor] akan merasa kalau produser dan PH [production house] ini sampai percaya, ya berarti gue percaya sama mereka gitu aja. Sesimpel itu sih sebenernya," kata produser berusia 43 tahun itu.
Ernest mengatakan Imajinari memberikan kepercayaan kepada sutradara-sutradara tersebut lantaran latar belakang mereka sebagai komedian atau komika. Dia mempunyai perspektif bahwa seorang komedian memiliki kemampuan untuk mengerjakan film komedi.
Selain itu, kemampuan mereka yang terbiasa menulis skrip komedi untuk penampilan stand up comedy juga menjadi pertimbangan lain. Menurut Ernest, kemampuan untuk menulis cerita dan skrip yang baik ialah modal yang sangat krusial untuk menjadi seorang filmmaker.
"Jadi sutradara itu ada yang background-nya astrada, ada yang background-nya aktor, ada yang background-nya penulis. Nah menurut saya salah satu yang terbaik itu adalah yang berangkat dari akar penulisan, jadi dia bisa tahu dengan jernih ini cerita arahnya mau dibawa kemana," ucapnya.
Baca juga: Hypereport: Membangun Ekosistem Perfilman Indonesia yang Berkelanjutan
Senada, Matius menilai nama besar aktor bisa menjadi salah satu faktor yang bisa membuat film garapannya sebagai sutradara mendapat respons positif di pasaran. Akan tetapi, hal itu bukan menjadi jaminan bahwa karya-karya mereka akan selalu sukses.
Dia tidak memungkiri biasanya seorang aktor memiliki basis massa yang besar dibanding sutradara yang tidak memiliki latar belakang sebagai bintang layar lebar. Menurutnya, algoritma angka tersebut belum tentu akan terealisasi dengan jumlah tiket film yang terjual.
"Sudah banyak buktinya ada beberapa film yang kalau dihitung dari basis followers line up-nya itu nggak berbanding lurus sama jumlah tiket yang terjual. Jadi itu mungkin faktor yang kemudian bisa membantu media promosinya jadi lebih masif. Tapi di satu sisi juga, itu bukan faktor yang akan menentukan bahwa film itu akan laris," ucapnya.
"Karena balik lagi juga, apakah sutradaranya bikin film yang memang didasarkan harus laris? Karena ada juga sutradara yang kemudian sebenarnya bikin film untuk mengeluarkan hasrat berkreatifnya misalnya," imbuh dia.
Modal Aktor sebagai Sutradara
Matius mengatakan seorang aktor yang terjun ke dunia penyutradaraan setidaknya memiliki modal yang berasal dari pengalaman mereka sebagai pemeran film. Salah satu yang mungkin paling kuat ialah kemampuan untuk bisa bekerja sama dengan aktor secara maksimal selama proses syuting.Sebagai seorang aktor, mereka memiliki pengalaman yang panjang bekerja sama dengan berbagai karakter dan gaya penyutradaraan yang berbeda-beda dengan sutradara. Hal itu pun bisa menjadi modal untuk menciptakan kerja sama yang baik ketika mereka menjadi sutradara.
Modal lainnya ialah pemahaman yang kuat terhadap tiap layer emosi yang ada dalam film. Hal itu lagi-lagi terbentuk dengan pengalaman mereka menjadi aktor yang dituntut untuk bisa menguasai beragam emosi. "Kemudian mungkin soal karakter juga, posisi karakter [dalam film] jadi lebih kuat juga, bagaimana mereka berkembang," kata Matius.
Meski demikian, dunia keaktoran dan penyutradaraan berbeda. Matius mengatakan untuk menjadi filmmaker, seseorang harus memahami job desk dan tanggung jawab sebagai sutradara. Termasuk, memahami wilayah decision making atau pengambilan keputusan sutradara.
Lebih dari sekadar berfokus pada pendalaman karakter, mereka juga harus mendalami keseluruhan cerita dan sinematografi, memahami alur kerja sama dengan tim, memiliki kemampuan dalam membedah skrip film, termasuk mempunya direct statement dalam berkarya.
"Sebenarnya sih bebas-bebas aja karena setiap orang punya cara pandangnya sendiri, karena ini karya seni. Tapi mungkin itu yang biasanya kemudian teman-teman sutradara belajar. Karena suka nggak suka harus melepaskan bangku sebagai aktor dulu. Jadi yang harus dipelajari ya sudah pasti apa yang kemudian sutradara lakukan dan pikirkan," jelasnya.
Ernest juga mengatakan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi Imajinari ialah bagaimana membuat para sutradara keluar dari kompetensi mereka sebagai storyteller dan komedian, untuk masuk dan mendalami ranah audiovisual storytelling yang harus dikuasai seorang filmmaker.
Mereka, kata Ernest, harus belajar aspek tenis dalam membuat film, salah satunya teknik pergerakan kamera. Menurutnya, pergerakan atau bagaimana sutradara mengatur lensa kamera akan berpengaruh pada keseluruhan cerita film.
"Bukan hanya perkara close up atau lebar tapi juga apa sih bedanya pake lensa yang tele sama lensa yang wide itu kan beda banget. Nah hal-hal kaya gitu memang teknis dan berat tapi harus dipelajari supaya melengkapi kemampuannya gitu," ucapnya.
Baca juga: Hypereport: Menguatkan Posisi Film Indonesia di Kancah Global
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.