Menyingkap Warisan Sudjana Kerton di Pameran The Hidden Treasures of Sudjana Kerton
18 June 2025 |
18:05 WIB
Dalam lanskap sejarah seni rupa Indonesia, nama Sudjana Kerton mungkin tak selalu muncul di urutan pertama dalam perbincangan populer. Akan tetapi, dalam pameran The Hidden Treasures of Sudjana Kerton yang digelar di Art:1 New Museum, publik diingatkan kembali pada kekuatan ekspresi dan dedikasi dari sang maestro.
Pameran ini adalah upaya menyeluruh untuk menelusuri hampir lima dekade perjalanan artistik Sudjana Kerton. Di pameran ini, ditampilkan kembali karya-karya Kerton yang berupa sketsa, cat air, lukisan, cetakan, hingga grafis yang jarang dipamerkan sebelumnya.
Kurasi yang cermat membuat karya-karya ini tak hanya hadir sebagai objek visual, tetapi juga sebagai narasi yang hidup tentang kemanusiaan, perjuangan, cinta tanah air, dan pencarian jati diri seorang seniman.
Sebagai seorang seniman-reporter di masa Revolusi, Kerton menghadirkan catatan visual yang langka dan sangat personal tentang masa-masa krusial dalam sejarah bangsa.
Baca juga: Pameran Once Was: Memori yang Bergerak Lewat Boneka dan Arang
“Warisan Kerton bukan sekadar himpunan sketsa, gambar, dan lukisan. Ia adalah arsip hidup yang mencerminkan kelahiran dan pertumbuhan bangsa Indonesia, dilihat melalui mata seorang seniman yang merupakan pengamat tajam dan juga pelaku sejarah,” ucap Sadiah Boonstra.
Sadiah menjelaskan bahwa karya-karya yang ditampilkan merefleksikan perjalanan perkembangan artistik Sudjana Kerton, dimulai dari masa penuh gejolak di era 1940-an saat Revolusi Kemerdekaan, berlanjut ke 1950-an ketika dia memperdalam ilmu seni dan bermigrasi ke Amerika Serikat, hingga akhirnya kembali ke Indonesia pada dekade 1970-an.
“Karya-karya pada masa kembalinya ke tanah air menawarkan potret yang peka, cermat, dan manusiawi terhadap masyarakat Indonesia, sementara sketsa-sketsanya dari era Revolusi menjadi dokumen primer yang sangat penting, bukan semata ilustrasi sejarah,” imbuhnya.
Salah satu menarik berjudul Klaten (1949). Karya ini tampak memotret suasana keseharian rakyat Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Kerton menangkap dinamika sebuah ruang publik, dengan orang-orang yang tengah beraktivitas, bendera berkibar, serta latar bangunan tradisional berdinding papan.
Komposisi yang padat tapi teratur ini menunjukkan ketertarikan Kerton pada kehidupan sosial serta atmosfer kolektif yang ia temui pada masa Revolusi. Tidak hanya sebagai dokumentasi, karya ini juga menjadi bentuk keterlibatan personal sang seniman terhadap pergolakan zamannya.
Karya Stasiun Madiun (1948) juga kembali memperlihatkan kepekaan Sudjana Kerton dalam menangkap denyut kehidupan masyarakat pasca-kemerdekaan.
Dia menampilkan adegan sekelompok orang yang tengah berinteraksi di peron stasiun. Di latar belakang, kereta tampak berhenti, sementara bayangan hitam pada langit menciptakan kontras dramatis yang mempertegas suasana tegang.
Sketsa tersebut seolah tengah membicarakan bahwa ruang-ruang publik seperti stasiun bukan hanya tempat berpindah, tapi juga panggung bagi kehidupan sosial bangsa yang terus bergerak.
Pada bagian lain, ada pula Kerton ketika menggambarkan sesama seniman sebagai bagian penting dalam awal sejarah Indonesia. Di bagian atas, tampak potret berjudul Affandi, Pelukis Indonesia.
Sorot matanya yang tajam serta guratan rambut yang riak menggambarkan sosok Affandi yang dikenal penuh semangat dan intuitif. Di sisi kiri bawah, potret Bapak Katamsi digambarkan dalam pose formal mengenakan jas, dengan kepala sedikit menoleh ke kanan. Ekspresi tenangnya menunjukkan wibawa dan pemikiran mendalam.
Sementara di kanan bawah, Chairil Anwar tampil dengan gestur wajah yang lebih hidup dan ekspresif. Latar gelap di belakangnya memberikan tekanan visual yang kuat pada wajah sang penyair, mempertegas aura eksistensial dan pemberontak.
Sadiah mengatakan bahwa Sudjana Kerton memiliki posisi yang unik dalam sejarah seni rupa Indonesia. Meski kontribusinya sangat penting, pengakuan terhadap perannya sempat tertinggal dibandingkan dengan kualitas karya-karyanya.
Dia menapaki karier luar biasa yang menyatukan keahlian artistik, semangat jurnalistik, dan komitmen nasionalisme yang kuat. Hasilnya, katanya, adalah karya yang tidak hanya bernilai sejarah tinggi tetapi juga penuh daya ungkap emosional.
Warisan Kerton mencakup sketsa-sketsa langsung dari masa Revolusi Indonesia hingga lukisan-lukisan penuh emosi pada periode-periode selanjutnya. Karya-karya ini menawarkan pemahaman yang mendalam mengenai kaitan antara seni rupa modern Indonesia dengan arus seni internasional, sekaligus menegaskan keterikatannya yang kuat pada sejarah bangsa.
Saat ini karya-karya dari Sudjana Kerton masih ditampilkan di Art:1 New Museum yang di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Pameran akan digelar sampai 26 Juni 2025.
Baca juga: Pameran Gion dalam Simulasi, Saat Seni Gambar Jadi Medan Tafsir Sosial
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Pameran ini adalah upaya menyeluruh untuk menelusuri hampir lima dekade perjalanan artistik Sudjana Kerton. Di pameran ini, ditampilkan kembali karya-karya Kerton yang berupa sketsa, cat air, lukisan, cetakan, hingga grafis yang jarang dipamerkan sebelumnya.
Kurasi yang cermat membuat karya-karya ini tak hanya hadir sebagai objek visual, tetapi juga sebagai narasi yang hidup tentang kemanusiaan, perjuangan, cinta tanah air, dan pencarian jati diri seorang seniman.
Sebagai seorang seniman-reporter di masa Revolusi, Kerton menghadirkan catatan visual yang langka dan sangat personal tentang masa-masa krusial dalam sejarah bangsa.
Baca juga: Pameran Once Was: Memori yang Bergerak Lewat Boneka dan Arang
“Warisan Kerton bukan sekadar himpunan sketsa, gambar, dan lukisan. Ia adalah arsip hidup yang mencerminkan kelahiran dan pertumbuhan bangsa Indonesia, dilihat melalui mata seorang seniman yang merupakan pengamat tajam dan juga pelaku sejarah,” ucap Sadiah Boonstra.
Sadiah menjelaskan bahwa karya-karya yang ditampilkan merefleksikan perjalanan perkembangan artistik Sudjana Kerton, dimulai dari masa penuh gejolak di era 1940-an saat Revolusi Kemerdekaan, berlanjut ke 1950-an ketika dia memperdalam ilmu seni dan bermigrasi ke Amerika Serikat, hingga akhirnya kembali ke Indonesia pada dekade 1970-an.
“Karya-karya pada masa kembalinya ke tanah air menawarkan potret yang peka, cermat, dan manusiawi terhadap masyarakat Indonesia, sementara sketsa-sketsanya dari era Revolusi menjadi dokumen primer yang sangat penting, bukan semata ilustrasi sejarah,” imbuhnya.

Klaten - Sudjana Kerton (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Komposisi yang padat tapi teratur ini menunjukkan ketertarikan Kerton pada kehidupan sosial serta atmosfer kolektif yang ia temui pada masa Revolusi. Tidak hanya sebagai dokumentasi, karya ini juga menjadi bentuk keterlibatan personal sang seniman terhadap pergolakan zamannya.

Stasiun Madiun - Sudjana Kerton (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Dia menampilkan adegan sekelompok orang yang tengah berinteraksi di peron stasiun. Di latar belakang, kereta tampak berhenti, sementara bayangan hitam pada langit menciptakan kontras dramatis yang mempertegas suasana tegang.
Sketsa tersebut seolah tengah membicarakan bahwa ruang-ruang publik seperti stasiun bukan hanya tempat berpindah, tapi juga panggung bagi kehidupan sosial bangsa yang terus bergerak.
Pada bagian lain, ada pula Kerton ketika menggambarkan sesama seniman sebagai bagian penting dalam awal sejarah Indonesia. Di bagian atas, tampak potret berjudul Affandi, Pelukis Indonesia.
Sorot matanya yang tajam serta guratan rambut yang riak menggambarkan sosok Affandi yang dikenal penuh semangat dan intuitif. Di sisi kiri bawah, potret Bapak Katamsi digambarkan dalam pose formal mengenakan jas, dengan kepala sedikit menoleh ke kanan. Ekspresi tenangnya menunjukkan wibawa dan pemikiran mendalam.
Sementara di kanan bawah, Chairil Anwar tampil dengan gestur wajah yang lebih hidup dan ekspresif. Latar gelap di belakangnya memberikan tekanan visual yang kuat pada wajah sang penyair, mempertegas aura eksistensial dan pemberontak.

Affandi, Pelukis Indonesia; Bapak Katamsi; dan Chairil Anwar - Sudjana Kerton (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Sadiah mengatakan bahwa Sudjana Kerton memiliki posisi yang unik dalam sejarah seni rupa Indonesia. Meski kontribusinya sangat penting, pengakuan terhadap perannya sempat tertinggal dibandingkan dengan kualitas karya-karyanya.
Dia menapaki karier luar biasa yang menyatukan keahlian artistik, semangat jurnalistik, dan komitmen nasionalisme yang kuat. Hasilnya, katanya, adalah karya yang tidak hanya bernilai sejarah tinggi tetapi juga penuh daya ungkap emosional.
Warisan Kerton mencakup sketsa-sketsa langsung dari masa Revolusi Indonesia hingga lukisan-lukisan penuh emosi pada periode-periode selanjutnya. Karya-karya ini menawarkan pemahaman yang mendalam mengenai kaitan antara seni rupa modern Indonesia dengan arus seni internasional, sekaligus menegaskan keterikatannya yang kuat pada sejarah bangsa.
Saat ini karya-karya dari Sudjana Kerton masih ditampilkan di Art:1 New Museum yang di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Pameran akan digelar sampai 26 Juni 2025.
Baca juga: Pameran Gion dalam Simulasi, Saat Seni Gambar Jadi Medan Tafsir Sosial
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.