Dunia perfilman Indonesia kini menunjukkan dinamika baru di balik layar. Para aktor yang dulunya dikenal hanya berperan membawakan cerita di depan kamera, kini mulai mengambil bagian penting dalam ekosistem produksi dengan terlibat langsung sebagai produser.
Dalam lima tahun terakhir, fenomena ini makin menonjol. Hal menariknya, bukan hanya aktor berpengalaman yang berani mengambil peran ini, mereka yang masih baru di industri juga sudah menapaki jalan ini.
Ada yang memulainya sebagai produser eksekutif, tetapi tak sedikit pula yang langsung terlibat sebagai produser. Beberapa lainnya bahkan mendirikan rumah produksi mereka sendiri.
Produksi film (Sumber gambar: Unsplash/Jakob Owens)
Misalnya, Umay Shahab dan Prilly Latuconsina yang mendirikan Sinamaku Pictures pada 2019 lalu. Hampir 6 tahun berdiri, Sinemaku Pictures telah menggarap sejumlah film dan beberapa di antaranya meraih box office di bioskop, seperti Perayaan Mati Rasa (2025), Bolehkah Sekali Saja Kumenangis (2024), Temurun (2024), Ketika Berhenti di Sini (2023) dan Kukira Kau Rumah (2022).
Aktor sekaligus komika Ernest Prakasa turut membentuk rumah produksi Imajinari, yang berhasil mencetak kesuksesan besar lewat film Agak Laen dengan capaian penonton lebih dari 9 juta penonton.
Selain itu, sejumlah nama lain juga mengikuti langkah serupa, dari Baim Wong mendirikan Tiger Wong Entertainment pada 2020, pada tahun yang sama Reza Rahadian membentuk Gambar Gerak, disusul Dian Sastrowardoyo dengan Beacon Film, Iko Uwais dengan Uwais Pictures, serta Lukman Sardi yang menginisiasi Kathanika Films.
Masuknya aktor ke ranah produksi memang bisa memberi dorongan kuat dari sisi visibilitas dan branding. Nama-nama beken yang ikut turun tangan ini bisa membuka pintu lebih lebar dalam menjaring investor, sponsor, hingga distribusi yang lebih luas.
Namun, seiring tantangan industri perfilman yang semakin kompleks, terutama di tengah isu ekonomi yang lesu dan persaingan tontonan digital, keterlibatan mereka dituntut untuk lebih dari sekadar simbolik.
Mereka harus memahami bahwa menjadi produser bukan hanya soal nama, tapi juga tentang strategi, ketahanan, dan visi jangka panjang.
Lukman Sardi (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Arief Hermawan P)
Lukman Sardi, aktor senior sekaligus Founder Kathanika Films yang baru-baru ini memproduksi film Mungkin Kita Perlu Waktu, menggarisbawahi pentingnya pola pikir realistis dalam produksi film hari ini.
“Kalau kita ngomong produksi film, terutama sisi budgeting ya, itu selalu ada tantangan dari tahun ke tahun. Kita enggak pernah nggak punya masalah. Tapi itu bukan berarti kita stuck. Kita harus terus berpikir bagaimana membuat film yang realistis,” ujarnya kepada Hypeabis.id.
Menurut Lukman, industri film tidak selalu hanya mengandalkan nama besar. Sebab, titik tolak produksi hari ini adalah bagaimana menyelaraskan visi kreatif dengan realitas bujet yang tersedia.
Lukman menyebut hulu dari sebuah produksi film bukan berpatok pada bujet. Akan tetapi, hal yang pertama dirumuskan tetaplah proses kreatifnya. Itulah fondasi produksi film yang diyakininya.
“Dari kreatif ini kita coba mengolah, kemudian masuk ke bujet, kebutuhan syuting, dan lain-lain. Jadi, bukan ada bujet, lalu kita asal bikin. Enggak begitu,” imbuhnya.
Dia mengatakan bujet adalah jembatan untuk mewujudkan visi dari sebuah produksi. Dengan demikian, ide dan sisi kreatiflah yang mestinya jadi nakhoda sebuah produksi. Kendati demikian, dia tak menampik bahwa bujet jadi hal yang penting. Sebab, dari visi tersebut, perlu diantar menjadi sebuah karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga harus membawa makna bagi penonton setelah menyaksikannya.
Lukman menyebut visi ini juga ditanamkan melalui Kathanika Films, rumah produksinya yang diambil dari bahasa Sanskerta yang artinya adalah bercerita atau storytelling. Melalui rumah produksinya ini, ke depan Lukman ingin memproduksi film-film yang tidak hanya menarik secara sinematik, tapi juga membangkitkan refleksi terhadap kehidupan.
Mungkin Kita Perlu Waktu yang dirilis 15 Mei 2025 lalu menjadi titik mula dari langkah tersebut. Sebelumnya, film ini telah mencuri perhatian sejak masuk menjadi bagian dari kompetisi Indonesia Screen Awards di JAFF 2024.
Cinta Laura (Sumber gambar: Poplicist)
Sementara itu, Cinta Laura juga menunjukkan perspektif yang saling melengkapi. Dia tahun ini juga memulai perjalanan baru dengan terlibat sebagai eksekutif produser bersama Rumah Produksi Wahana Kreator di film Agen +62.
Cinta mengatakan dalam melakukan banyak hal, dirinya termasuk orang yang pilih-pilih. Menurutnya, bisa terlibat di dalam project ini karena dirinya yakin dan percaya dengan cerita dan rumah produksi yang menggarapnya.
“Dari dulu aku selalu mengagumi proyek yang digarap Wahana. Semua film yang dibuat memiliki kritik sosial yang kuat dan menyadari kekurangan dari masyarakat kita,” ujar Cinta.
Menariknya, keterlibatan Cinta sebagai produser justru membuatnya lebih peka terhadap kondisi di balik layar. Dia mengaku menjadi lebih “cerewet” karena merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan seluruh kru dan pemain.
“Aku enggak mau ada yang bete, gak mau ada yang sedih. Selain kualitas film, kesejahteraan semua yang terlibat juga penting,” tuturnya.
Dirinya percaya film yang dikerjakan dengan ketulusan dan semangat kolektif akan menghasilkan karya yang lebih kuat dan berdampak.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.