Keracunan Makanan Terkait Program MBG Bertambah, Kenali Penyebab dan Penanganannya
18 May 2025 |
14:43 WIB
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dimulai sejak 6 Januari 2025 kerap menjadi sorotan, mengingat sejumlah insiden keracunan massal yang terjadi di berbagai daerah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan keamanan dan pengawasan dalam pelaksanaan program tersebut.
Adapun MBG adalah inisiatif strategis pemerintah Indonesia sebagai bagian dari visi Indonesia Emas 2045. Program ini bertujuan untuk meningkatkan status gizi masyarakat, terutama di kalangan pelajar dan kelompok rentan, guna menciptakan sumber daya manusia yang sehat dan produktif.
Program MBG menyasar berbagai kelompok masyarakat, termasuk peserta didik dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, SMA, SMK, pendidikan keagamaan, pendidikan khusus (SLB), pendidikan layanan khusus, hingga pesantren. Serta ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita.
Baca juga: Mau Bikin Menu Makanan Sehat dan Bergizi dengan Harga Terjangkau? Ini Kata Ahli Gizi
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat bahwa hingga pertengahan Mei 2025, terdapat 17 kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan terkait program MBG di 10 provinsi. Penyebab utama insiden ini meliputi kontaminasi bahan mentah, pengolahan makanan yang tidak higienis, serta distribusi makanan yang tidak sesuai standar suhu dan waktu.
Sejumlah kasus keracunan makanan terkait Program MBG telah dilaporkan di berbagai daerah Indonesia sejak Januari hingga Mei 2025.
Pada Januari 2025 di Cianjur, Jawa Barat, sebanyak 72 siswa mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG. Siswa dari dua sekolah di Nunukan, Kalimantan Utara juga mengalami mual dan diare usai menyantap ayam kecap dari MBG, lalu sebanyak 40 siswa SDN Dukuh 03 di Sukoharjo, Jawa Tengah mengalami mual dan muntah setelah mengonsumsi ayam.
Selanjutnya pada Februari 2025, sebanyak 51 siswa di Tasikmalaya, Jawa Barat mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan dari program MBG. Lalu, 60 siswa mengalami gejala keracunan di Batang, Jawa Tengah dan 4 siswa keracunan di PALI, Sumatera Selatan.
Pada Maret 2025, sekitar 100 siswa mengalami gejala keracunan. Satu bulan kemudian, terjadi lagi di Batang, Jawa Tengah, sebanyak 60 siswa SDN Proyonanggan 5 mengalami gejala keracunan dan sebanyak 78 siswa dari MAN 1 dan SMP PGRI 1 Cianjur, Jawa Barat mengalami gejala keracunan.
Kini pada awal Mei 2025, sebanyak 223 siswa dari delapan sekolah di Bogor, Jawa Barat mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG yang mengandung bakteri E.coli dan Salmonella dan 10 siswa SD di Bombana, Sulawesi Tenggara mengalami gejala mual dan muntah setelah makan. Lalu, 121 siswa di Kabupaten Pali, Sumsel mengalami gejala seperti sakit perut, pusing, dan mual diduga keracunan makanan.
Sebagai respons atas sejumlah kasus keracunan tersebut, pemerintah melalui BGN dan BPOM melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, termasuk pengawasan terhadap dapur penyedia makanan dan distribusi makanan ke sekolah-sekolah.
“Kontaminasi pada makanan bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kuman, racun, bakteri, atau virus yang masuk melalui proses pengolahan, penyimpanan, atau bahkan bahan mentah yang tidak bersih,” jelas Devy Eryn Marsyntha, dokter umum dari RS Premier Jatinegara.
Gejala keracunan makanan bisa sangat bervariasi tergantung dari jenis kontaminan yang masuk ke dalam tubuh. Selain mual, muntah, dan diare, pasien juga bisa mengalami kram perut, sakit kepala, bahkan demam. Biasanya gejala-gejala tersebut muncul karena sistem pencernaan tidak mampu mencerna makanan yang sudah tercemar dengan baik.
Makanan yang berpotensi menyebabkan keracunan antara lain adalah telur atau seafood mentah, sayur dan buah yang tidak dicuci dengan bersih, makanan beku yang diolah dengan cara yang tidak tepat, serta makanan kedaluwarsa.
Makanan yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa bisa mengandung bakteri berbahaya, dan jika dikonsumsi dapat menyebabkan keracunan berat. Karenanya, penting sekali menyimpan makanan dengan baik dan memastikan proses pengolahan dilakukan secara higienis.
Untuk kasus keracunan ringan yang terjadi di rumah, terdapat beberapa langkah pertolongan pertama yang bisa dilakukan. Di antaranya adalah menghindari konsumsi makanan pedas, tidak minum minuman dingin atau berwarna, serta memperbanyak konsumsi air hangat.
“Yang juga penting adalah menghindari konsumsi susu setelah muntah atau diare, karena dapat memperparah kondisi. Jika muntah atau diare terjadi secara berlebihan dan berisiko menyebabkan dehidrasi, sebaiknya segera pergi ke fasilitas kesehatan terdekat,” imbau Devy.
Baca juga: Cek Standar Keamanan Pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Kemenkes
Di sisi lain Muhammad Rizal, seorang nutrisionis, juga memaparkan seperti apa penanganan keracunan makanan. Dia mengingatkan pentingnya tetap tenang dan melakukan langkah-langkah pertolongan pertama secara tepat sebelum mendapatkan penanganan medis.
"Hal pertama yang harus dilakukan adalah tetap tenang dan tidak panik. Kalau kita panik, kita justru tidak bisa berpikir jernih dan bisa bertindak gegabah," ujarnya, dalam Siaran Radio Kementerian Kesehatan RI.
Langkah selanjutnya adalah menjaga tubuh tetap terhidrasi. Menurutnya, air putih dapat membantu membuang racun yang terlanjur masuk ke dalam tubuh melalui urin. Selain itu, hidrasi juga penting untuk mencegah dehidrasi akibat muntah dan diare.
Lebih lanjut, Rizal juga menyarankan agar tidak langsung mengonsumsi obat anti-diare. Pasalnya, muntah dan diare merupakan mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan zat berbahaya. Kalau langsung dihentikan dengan obat, racun bisa tetap tertahan di dalam tubuh.
Jika seseorang menyadari baru saja menelan makanan yang mengandung zat berbahaya, induksi muntah bisa dilakukan sebagai langkah awal. Ada referensi yang menyarankan minum air garam untuk merangsang muntah, tentu ini bisa saja dilakukan jika situasinya memungkinkan dan baru saja terjadi.
Namun, setelah melakukan langkah-langkah tersebut, segera mencari bantuan medis, terutama jika terjadi dehidrasi berat. Penanganan dari tenaga kesehatan tetap dibutuhkan untuk memastikan kondisi tubuh tetap stabil dan tidak berlanjut menjadi komplikasi serius.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program makan bergizi gratis yang terus menunjukkan perkembangan signifikan sejak diluncurkan secara bertahap pada Januari 2025. Dia menekankan bahwa program ini bukan hanya soal makanan, tetapi merupakan wujud nyata investasi negara dalam membangun generasi sehat dan berkualitas.
"Sampai hari ini saya dapat laporan barusan sudah lebih dari seribu titik, 1.286. Yang total penerima makan berizi sekarang sudah di atas 3 juta, 3,4 juta di awal Mei dan diperkirakan akhir Mei akan mencapai 4 juta. Di akhir Juni akan mencapai 6 juta dan di akhir Agustus akan mencapai 22 juta. Sehingga di akhir November 2025 akan mencapai 82,9 juta penerima manfaat,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Sekretariat Negara.
Di sisi lain, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan, realisasi anggaran belanja untuk program makan bergizi gratis (MBG) sudah mencapai Rp2,3 triliun sampai 29 April 2025. Ini terjadi percepatan, mengingat sampai akhir Februari 2025 kemarin mencapai Rp300 miliar.
Anggaran tersebut telah didistribusikan kepada sekitar 3,26 juta penerima yang terdiri atas balita, anak sekolah, sampai ibu hamil dan menyusui.
Belanja program MBG paling banyak disalurkan untuk anak sekolah tingkat SD/MI dengan jumlah penerima sekitar 1,42 juta orang. Sementara penyaluran paling sedikit untuk seminari, lembaga pendidikan calon imam/pastor Katolik, yang hanya diterima 352 orang.
Baca juga: Cerita Makan Bergizi Gratis, Siswa Minta Susu hingga Perlunya Jaminan Kualitas Makanan
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Adapun MBG adalah inisiatif strategis pemerintah Indonesia sebagai bagian dari visi Indonesia Emas 2045. Program ini bertujuan untuk meningkatkan status gizi masyarakat, terutama di kalangan pelajar dan kelompok rentan, guna menciptakan sumber daya manusia yang sehat dan produktif.
Program MBG menyasar berbagai kelompok masyarakat, termasuk peserta didik dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, SMA, SMK, pendidikan keagamaan, pendidikan khusus (SLB), pendidikan layanan khusus, hingga pesantren. Serta ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita.
Baca juga: Mau Bikin Menu Makanan Sehat dan Bergizi dengan Harga Terjangkau? Ini Kata Ahli Gizi
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat bahwa hingga pertengahan Mei 2025, terdapat 17 kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan terkait program MBG di 10 provinsi. Penyebab utama insiden ini meliputi kontaminasi bahan mentah, pengolahan makanan yang tidak higienis, serta distribusi makanan yang tidak sesuai standar suhu dan waktu.
Sejumlah kasus keracunan makanan terkait Program MBG telah dilaporkan di berbagai daerah Indonesia sejak Januari hingga Mei 2025.
Pada Januari 2025 di Cianjur, Jawa Barat, sebanyak 72 siswa mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG. Siswa dari dua sekolah di Nunukan, Kalimantan Utara juga mengalami mual dan diare usai menyantap ayam kecap dari MBG, lalu sebanyak 40 siswa SDN Dukuh 03 di Sukoharjo, Jawa Tengah mengalami mual dan muntah setelah mengonsumsi ayam.
Selanjutnya pada Februari 2025, sebanyak 51 siswa di Tasikmalaya, Jawa Barat mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan dari program MBG. Lalu, 60 siswa mengalami gejala keracunan di Batang, Jawa Tengah dan 4 siswa keracunan di PALI, Sumatera Selatan.
Pada Maret 2025, sekitar 100 siswa mengalami gejala keracunan. Satu bulan kemudian, terjadi lagi di Batang, Jawa Tengah, sebanyak 60 siswa SDN Proyonanggan 5 mengalami gejala keracunan dan sebanyak 78 siswa dari MAN 1 dan SMP PGRI 1 Cianjur, Jawa Barat mengalami gejala keracunan.
Kini pada awal Mei 2025, sebanyak 223 siswa dari delapan sekolah di Bogor, Jawa Barat mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG yang mengandung bakteri E.coli dan Salmonella dan 10 siswa SD di Bombana, Sulawesi Tenggara mengalami gejala mual dan muntah setelah makan. Lalu, 121 siswa di Kabupaten Pali, Sumsel mengalami gejala seperti sakit perut, pusing, dan mual diduga keracunan makanan.
Sebagai respons atas sejumlah kasus keracunan tersebut, pemerintah melalui BGN dan BPOM melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, termasuk pengawasan terhadap dapur penyedia makanan dan distribusi makanan ke sekolah-sekolah.
Gejala & Pertolongan Pertama Keracunan Makanan
Keracunan makanan merupakan kondisi yang dapat muncul secara tiba-tiba setelah seseorang mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi. Umumnya ditandai dengan gejala mual, muntah, atau diare, yang bisa terjadi dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah makanan masuk ke dalam tubuh.“Kontaminasi pada makanan bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kuman, racun, bakteri, atau virus yang masuk melalui proses pengolahan, penyimpanan, atau bahkan bahan mentah yang tidak bersih,” jelas Devy Eryn Marsyntha, dokter umum dari RS Premier Jatinegara.
Gejala keracunan makanan bisa sangat bervariasi tergantung dari jenis kontaminan yang masuk ke dalam tubuh. Selain mual, muntah, dan diare, pasien juga bisa mengalami kram perut, sakit kepala, bahkan demam. Biasanya gejala-gejala tersebut muncul karena sistem pencernaan tidak mampu mencerna makanan yang sudah tercemar dengan baik.
Makanan yang berpotensi menyebabkan keracunan antara lain adalah telur atau seafood mentah, sayur dan buah yang tidak dicuci dengan bersih, makanan beku yang diolah dengan cara yang tidak tepat, serta makanan kedaluwarsa.
Makanan yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa bisa mengandung bakteri berbahaya, dan jika dikonsumsi dapat menyebabkan keracunan berat. Karenanya, penting sekali menyimpan makanan dengan baik dan memastikan proses pengolahan dilakukan secara higienis.
Untuk kasus keracunan ringan yang terjadi di rumah, terdapat beberapa langkah pertolongan pertama yang bisa dilakukan. Di antaranya adalah menghindari konsumsi makanan pedas, tidak minum minuman dingin atau berwarna, serta memperbanyak konsumsi air hangat.
“Yang juga penting adalah menghindari konsumsi susu setelah muntah atau diare, karena dapat memperparah kondisi. Jika muntah atau diare terjadi secara berlebihan dan berisiko menyebabkan dehidrasi, sebaiknya segera pergi ke fasilitas kesehatan terdekat,” imbau Devy.
Baca juga: Cek Standar Keamanan Pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Kemenkes
Di sisi lain Muhammad Rizal, seorang nutrisionis, juga memaparkan seperti apa penanganan keracunan makanan. Dia mengingatkan pentingnya tetap tenang dan melakukan langkah-langkah pertolongan pertama secara tepat sebelum mendapatkan penanganan medis.
"Hal pertama yang harus dilakukan adalah tetap tenang dan tidak panik. Kalau kita panik, kita justru tidak bisa berpikir jernih dan bisa bertindak gegabah," ujarnya, dalam Siaran Radio Kementerian Kesehatan RI.
Langkah selanjutnya adalah menjaga tubuh tetap terhidrasi. Menurutnya, air putih dapat membantu membuang racun yang terlanjur masuk ke dalam tubuh melalui urin. Selain itu, hidrasi juga penting untuk mencegah dehidrasi akibat muntah dan diare.
Lebih lanjut, Rizal juga menyarankan agar tidak langsung mengonsumsi obat anti-diare. Pasalnya, muntah dan diare merupakan mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan zat berbahaya. Kalau langsung dihentikan dengan obat, racun bisa tetap tertahan di dalam tubuh.
Jika seseorang menyadari baru saja menelan makanan yang mengandung zat berbahaya, induksi muntah bisa dilakukan sebagai langkah awal. Ada referensi yang menyarankan minum air garam untuk merangsang muntah, tentu ini bisa saja dilakukan jika situasinya memungkinkan dan baru saja terjadi.
Namun, setelah melakukan langkah-langkah tersebut, segera mencari bantuan medis, terutama jika terjadi dehidrasi berat. Penanganan dari tenaga kesehatan tetap dibutuhkan untuk memastikan kondisi tubuh tetap stabil dan tidak berlanjut menjadi komplikasi serius.
Target Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Pelaksanaan program MBG dilakukan secara bertahap melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai daerah. Pada tahap awal, program ini menargetkan sekitar 3 juta penerima manfaat, dan secara bertahap akan diperluas hingga mencakup seluruh wilayah Indonesia.Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program makan bergizi gratis yang terus menunjukkan perkembangan signifikan sejak diluncurkan secara bertahap pada Januari 2025. Dia menekankan bahwa program ini bukan hanya soal makanan, tetapi merupakan wujud nyata investasi negara dalam membangun generasi sehat dan berkualitas.
"Sampai hari ini saya dapat laporan barusan sudah lebih dari seribu titik, 1.286. Yang total penerima makan berizi sekarang sudah di atas 3 juta, 3,4 juta di awal Mei dan diperkirakan akhir Mei akan mencapai 4 juta. Di akhir Juni akan mencapai 6 juta dan di akhir Agustus akan mencapai 22 juta. Sehingga di akhir November 2025 akan mencapai 82,9 juta penerima manfaat,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Sekretariat Negara.
Di sisi lain, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan, realisasi anggaran belanja untuk program makan bergizi gratis (MBG) sudah mencapai Rp2,3 triliun sampai 29 April 2025. Ini terjadi percepatan, mengingat sampai akhir Februari 2025 kemarin mencapai Rp300 miliar.
Anggaran tersebut telah didistribusikan kepada sekitar 3,26 juta penerima yang terdiri atas balita, anak sekolah, sampai ibu hamil dan menyusui.
Belanja program MBG paling banyak disalurkan untuk anak sekolah tingkat SD/MI dengan jumlah penerima sekitar 1,42 juta orang. Sementara penyaluran paling sedikit untuk seminari, lembaga pendidikan calon imam/pastor Katolik, yang hanya diterima 352 orang.
Baca juga: Cerita Makan Bergizi Gratis, Siswa Minta Susu hingga Perlunya Jaminan Kualitas Makanan
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.