Hypereport: Ekspresi Cinta Sineas untuk Industri Perfilman lewat Regenerasi
14 February 2025 |
16:00 WIB
Pada momen Valentine, ungkapan kasih sayang tak hanya dikemas dalam kisah romansa para pelakonnya di layar. Tetapi juga, bisa berwujud dedikasi dari para sineas yang memberikan sumbangsih berupa ilmu, inovasi, dan karya demi memajukan industri perfilman.
Mulai dari sutradara hingga penulis skenario, dari aktor hingga kru produksi, mereka memiliki caranya sendiri dalam mengekspresikan cintanya terhadap dunia sinema. Ada yang membagikan ilmunya lewat seminar, workshop, dan kelas-kelas film atau membentuk komunitas sebagai wadah regenerasi filmmaker muda
Salah satunya Salman Aristo seorang penulis skenario, produser, dan sutradara terkemuka di Indonesia. Pria yang memulai kariernya sebagai jurnalis sebelum beralih ke dunia perfilman tersebut mendirikan Wahana Kreator Nusantara, yakni perusahaan berbasis riset dan pengembangan yang berfokus pada penciptaan kreator dan konten berkualitas tinggi di Indonesia.
Baca juga laporan terkait:
1. Hypereport: Ragam Ekspresi Cinta Para Musisi Terhadap Dunia Musik
2. Hypereport: Cinta & Dedikasi Para Seniman Visual dalam Berbagai Rupa
3. Hypereport: Dedikasi Teater untuk Seni dan Pemberdayaan
4. Hypereport: Daftar 10 Selebritas Dunia yang Aktif di Bidang Filantropi
5. Hypereport: Deretan Karya & Alat Musik yang Dilelang untuk Amal dengan Harga Tinggi
"Wahana Kreator Nusantara awalnya bernama Wahana Penulis yang lahir dari perkumpulan 13 penulis skenario pada periode 2005 sampai 2005 dan khawatir dengan masa depan penulisan skenario film di Indonesia," ujarnya pada Hypeabis.id.
Didirikannya Wahana Penulis berawal dari keresahan para penulis, khususnya terkait dengan sistem penulisan skenario striping yang sering kali menuntut produksi cepat, tapi dengan kualitas yang kurang optimal. "Dulu penulisan skenario film masih mengadopsi sistem striping tanpa development naskah, mungkin baru menulis draft satu sudah di-shooting," katanya.
Kala itu, Salman Artisto berserta para penulis skenario lainnya bertekad mengadopsi mekanisme sistem seperti yang digunakan di Hollywood, di mana minimal ada penulis skenario, sutradara, dan produser dalam suatu proyek film. Melalui sistem tersebut juga memungkinkan proses development naskah yang lebih matang.
Sebagai tim pengembangan dan penulisan naskah pertama di Indonesia yang menggunakan riset serta metode pengembangan sistematis dan terintegrasi, mereka berkomitmen untuk meningkatkan kualitas penulisan skenario melalui pendekatan yang lebih terstruktur dan mendalam.
"Development skenario itu setidaknya dilakukan bisa sampai 10-18 draft, apa yang diharapkan dari aktor-aktor yang baru membaca skenario setengah jam sebelum take?" katanya.
Misalnya, naskahnya baru ditulis tadi pagi sementara filmnya tayang malam ini. Tentunya para pelakon tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan pendalaman karakter dan emosinya. Sampai akhirnya pada 2018 Salman Aristo bersama istrinya, sesama penulis skenario, Gina S. Noer, sepakat membesarkan Wahana Penulis menjadi Wahana Kreator Nusantara.
Kala itu, Gina sendiri sudah lama menjalankan workshop PlotPoint Kreatif yang berisi pelatihan-pelatihan untuk pelaku industri kreatif. PlotPoint Kreatif akhirnya berganti nama menjadi Wahana Edukasi yang kini menjadi yayasan.
"Tanpa disadari Wahana Kreator sudah memiliki tiga kegiatan, di mana ada development, edukasi, dan produksi di dalamnya," katanya.
Saat ini Wahana Kreator Nusantara terdiri dari Wahana Penulis, yakni tim pengembangan dan penulisan naskah cerita yang telah berkontribusi pada berbagai film layar lebar, FTV, serial TV, dan miniseri. Ada juga Wahana Edukasi yang menyediakan pelatihan untuk industri kreatif, dengan lebih dari 1.500 alumni dari Indonesia dan Malaysia sejak pertama berdirinya. Ada juga wahana Dimensi untuk post-production.
"Di Wahana Edukasi sendiri kita ada kelas-kelas untuk post-production, production designer, music scoring, tapi flagship-nya penulisan seperti romcom, horor, dan lainnya," ujar Salman.
Kelas-kelasnya intens sekali hanya ada 8-10 orang dengan durasi enam jam dan delapan kali pertemuan seminggu sekali. Mereka akan membawa sebuah proyek dan dikerjakan sama-sama, targetnya menghasilkan satu skenario.
"Dalam setiap kelas, Wahana Edukasi sendiri selalu menyediakan dua kursi beasiswa untuk calon-calon filmmaker yang tertarik mengikutinya," katanya.
Melalui Wahana Kreator Nusantara, Salman Aristo menunjukkan komitmennya dalam pengembangan industri perfilman Indonesia melalui berbagai kegiatan edukatif dan kolaboratif. Penulis skenario film populer Indonesia seperti Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, dan Garuda di Dadaku tersebut berharap bisa mendirikan sekolah film di masa depan.
Lebih lanjut, dia juga berharap bisa berkontribusi untuk mengembangkan bakat-bakat baru di industri perfilman dan meningkatkan kualitas konten kreatif di Indonesia, yang secara tidak langsung memberikan dampak positif bagi masyarakat luas.
Sampai sekarang beberapa karya notable dari Wahana Kreator Nusantara antara lain film "Dua Garis Biru" (2019), "Keluarga Cemara" (2019), dan serial "Saiyo Sakato" (2019). Perusahaan ini juga aktif dalam memproduksi podcast dan drama audio, seperti "Kisah Horor The Sacred Riana" (2020–2021).
Garin dikenal karena karya-karyanya yang mengangkat isu sosial, politik, dan budaya Indonesia. Debut film panjangnya, "Cinta dalam Sepotong Roti" (1990), berhasil meraih penghargaan Film Terbaik di Festival Film Indonesia 1991. Film keduanya, "Surat untuk Bidadari" (1992), membawa namanya ke kancah internasional
Garin Nugroho telah memberikan kontribusi signifikan dalam mencetak para pembuat film muda di Indonesia. Pada 1987, dia mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama SET, yang bertujuan menciptakan bahasa baru, semangat penciptaan, dan membentuk komunitas. Melalui SET Film lahirsejumlah sutradara muda berbakat seperti Riri Riza.
Selain itu, Garin Nugroho juga menyelesaikan berbagai karya filmnya, baik dokumenter, film pendek, maupun film panjang, bersama SET Film Workshop. Pada 1999, SET Film Workshop mengembangkan peran sosialnya dengan mengubah format menjadi sebuah yayasan.
Pada 2007, Garin Nugroho juga mendirikan LA Indie Movie (LAIM), sebuah komunitas seni yang berfokus pada pengembangan keterampilan pembuatan film independen di kalangan generasi muda Indonesia. LAIM menyelenggarakan berbagai program, termasuk lokakarya, festival film, dan kompetisi film pendek.
Komunitas ini hadir untuk mendukung dan memfasilitasi para sineas muda dalam proses pengembangan, produksi, hingga penayangan karya mereka. Melalui inisiatif ini, dia berperan penting dalam mendorong pertumbuhan dan perkembangan komunitas film independen di Indonesia.
Garin Nugroho juga aktif berbagi pengetahuan dan pengalamannya melalui berbagai seminar dan diskusi. Misalnya, dia pernah berbicara tentang pengaruh teknologi pada film di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, memberikan wawasan berharga bagi mahasiswa dan calon sineas muda.
Dia juga kerap mengisi seminar bertema kebudayaan. Misalnya di ISI Yogyakarta mengenai Seni dan Diplomasi, seperti apa peran seniman dalam membangun jembatan budaya di era global. Tak ketinggalan seminar nasional mengenai Wayang.
Garin juga memberikan kiat-kiat jitu untuk para filmmaker muda yang ingin serius berkarier di industri perfilman Tanah Air.
"Menjadi filmmaker artinya belajar tanpa henti, pertama mengikuti ekosistem, lalu menerapkan jurus berladang berpindah dan jurus Nasi Campur," katanya saat mempromosikan film yang ditulisnya, A Perfect Fit, dikutip dari Netflix Indonesia.
Filmmaker muda perlu mengikuti ekosistem, sekarang ekosistemnya berkaitan dengan media teknologi baru, maka ikutilah. Salah satunya mereferensikan karya film, behind the scene, atau metode-metode kerja teknik yang terus bertumbuh cepat lewat media sosial.
"Jadi media sosial menjadi pustaka besar," ujarnya.
Selanjutnya, jurus berladang berpindah dari satu tanah ke tanah yang lain, menanam. Maka ikutilah beragam bentuk yang disebut pengembangan diri. Mulai dari mengikuti komunitas film, workshop, ataupun magang pada wilayah-wilayah penciptaan dengan beragam pasar, metode, dan goal dari masing-masing pencipta.
Terakhir jurus nasi campur, dianalogikan dengan metode belajar yang mencampur segala formula dan gaya, serta segala pendekatan sampai kemudian akhirnya bisa menemukan diri sendiri.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Nirmala Aninda
Mulai dari sutradara hingga penulis skenario, dari aktor hingga kru produksi, mereka memiliki caranya sendiri dalam mengekspresikan cintanya terhadap dunia sinema. Ada yang membagikan ilmunya lewat seminar, workshop, dan kelas-kelas film atau membentuk komunitas sebagai wadah regenerasi filmmaker muda
Salah satunya Salman Aristo seorang penulis skenario, produser, dan sutradara terkemuka di Indonesia. Pria yang memulai kariernya sebagai jurnalis sebelum beralih ke dunia perfilman tersebut mendirikan Wahana Kreator Nusantara, yakni perusahaan berbasis riset dan pengembangan yang berfokus pada penciptaan kreator dan konten berkualitas tinggi di Indonesia.
Baca juga laporan terkait:
1. Hypereport: Ragam Ekspresi Cinta Para Musisi Terhadap Dunia Musik
2. Hypereport: Cinta & Dedikasi Para Seniman Visual dalam Berbagai Rupa
3. Hypereport: Dedikasi Teater untuk Seni dan Pemberdayaan
4. Hypereport: Daftar 10 Selebritas Dunia yang Aktif di Bidang Filantropi
5. Hypereport: Deretan Karya & Alat Musik yang Dilelang untuk Amal dengan Harga Tinggi
"Wahana Kreator Nusantara awalnya bernama Wahana Penulis yang lahir dari perkumpulan 13 penulis skenario pada periode 2005 sampai 2005 dan khawatir dengan masa depan penulisan skenario film di Indonesia," ujarnya pada Hypeabis.id.
Didirikannya Wahana Penulis berawal dari keresahan para penulis, khususnya terkait dengan sistem penulisan skenario striping yang sering kali menuntut produksi cepat, tapi dengan kualitas yang kurang optimal. "Dulu penulisan skenario film masih mengadopsi sistem striping tanpa development naskah, mungkin baru menulis draft satu sudah di-shooting," katanya.
Kala itu, Salman Artisto berserta para penulis skenario lainnya bertekad mengadopsi mekanisme sistem seperti yang digunakan di Hollywood, di mana minimal ada penulis skenario, sutradara, dan produser dalam suatu proyek film. Melalui sistem tersebut juga memungkinkan proses development naskah yang lebih matang.
Sebagai tim pengembangan dan penulisan naskah pertama di Indonesia yang menggunakan riset serta metode pengembangan sistematis dan terintegrasi, mereka berkomitmen untuk meningkatkan kualitas penulisan skenario melalui pendekatan yang lebih terstruktur dan mendalam.
"Development skenario itu setidaknya dilakukan bisa sampai 10-18 draft, apa yang diharapkan dari aktor-aktor yang baru membaca skenario setengah jam sebelum take?" katanya.
Misalnya, naskahnya baru ditulis tadi pagi sementara filmnya tayang malam ini. Tentunya para pelakon tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan pendalaman karakter dan emosinya. Sampai akhirnya pada 2018 Salman Aristo bersama istrinya, sesama penulis skenario, Gina S. Noer, sepakat membesarkan Wahana Penulis menjadi Wahana Kreator Nusantara.
Kala itu, Gina sendiri sudah lama menjalankan workshop PlotPoint Kreatif yang berisi pelatihan-pelatihan untuk pelaku industri kreatif. PlotPoint Kreatif akhirnya berganti nama menjadi Wahana Edukasi yang kini menjadi yayasan.
"Tanpa disadari Wahana Kreator sudah memiliki tiga kegiatan, di mana ada development, edukasi, dan produksi di dalamnya," katanya.
Saat ini Wahana Kreator Nusantara terdiri dari Wahana Penulis, yakni tim pengembangan dan penulisan naskah cerita yang telah berkontribusi pada berbagai film layar lebar, FTV, serial TV, dan miniseri. Ada juga Wahana Edukasi yang menyediakan pelatihan untuk industri kreatif, dengan lebih dari 1.500 alumni dari Indonesia dan Malaysia sejak pertama berdirinya. Ada juga wahana Dimensi untuk post-production.
"Di Wahana Edukasi sendiri kita ada kelas-kelas untuk post-production, production designer, music scoring, tapi flagship-nya penulisan seperti romcom, horor, dan lainnya," ujar Salman.
Kelas-kelasnya intens sekali hanya ada 8-10 orang dengan durasi enam jam dan delapan kali pertemuan seminggu sekali. Mereka akan membawa sebuah proyek dan dikerjakan sama-sama, targetnya menghasilkan satu skenario.
"Dalam setiap kelas, Wahana Edukasi sendiri selalu menyediakan dua kursi beasiswa untuk calon-calon filmmaker yang tertarik mengikutinya," katanya.
Melalui Wahana Kreator Nusantara, Salman Aristo menunjukkan komitmennya dalam pengembangan industri perfilman Indonesia melalui berbagai kegiatan edukatif dan kolaboratif. Penulis skenario film populer Indonesia seperti Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, dan Garuda di Dadaku tersebut berharap bisa mendirikan sekolah film di masa depan.
Lebih lanjut, dia juga berharap bisa berkontribusi untuk mengembangkan bakat-bakat baru di industri perfilman dan meningkatkan kualitas konten kreatif di Indonesia, yang secara tidak langsung memberikan dampak positif bagi masyarakat luas.
Sampai sekarang beberapa karya notable dari Wahana Kreator Nusantara antara lain film "Dua Garis Biru" (2019), "Keluarga Cemara" (2019), dan serial "Saiyo Sakato" (2019). Perusahaan ini juga aktif dalam memproduksi podcast dan drama audio, seperti "Kisah Horor The Sacred Riana" (2020–2021).
Jurus Jitu untuk Filmmaker Muda
Sineas lainnya, ada Garin Nugroho seorang sutradara, penulis skenario, dan produser film terkemuka asal Indonesia. Pria yang menyelesaikan pendidikan di Fakultas Sinematografi Institut Kesenian Jakarta tersebut dikenal lewat karya-karyanya yang fenomenal.Garin dikenal karena karya-karyanya yang mengangkat isu sosial, politik, dan budaya Indonesia. Debut film panjangnya, "Cinta dalam Sepotong Roti" (1990), berhasil meraih penghargaan Film Terbaik di Festival Film Indonesia 1991. Film keduanya, "Surat untuk Bidadari" (1992), membawa namanya ke kancah internasional
Garin Nugroho telah memberikan kontribusi signifikan dalam mencetak para pembuat film muda di Indonesia. Pada 1987, dia mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bernama SET, yang bertujuan menciptakan bahasa baru, semangat penciptaan, dan membentuk komunitas. Melalui SET Film lahirsejumlah sutradara muda berbakat seperti Riri Riza.
Selain itu, Garin Nugroho juga menyelesaikan berbagai karya filmnya, baik dokumenter, film pendek, maupun film panjang, bersama SET Film Workshop. Pada 1999, SET Film Workshop mengembangkan peran sosialnya dengan mengubah format menjadi sebuah yayasan.
Pada 2007, Garin Nugroho juga mendirikan LA Indie Movie (LAIM), sebuah komunitas seni yang berfokus pada pengembangan keterampilan pembuatan film independen di kalangan generasi muda Indonesia. LAIM menyelenggarakan berbagai program, termasuk lokakarya, festival film, dan kompetisi film pendek.
Komunitas ini hadir untuk mendukung dan memfasilitasi para sineas muda dalam proses pengembangan, produksi, hingga penayangan karya mereka. Melalui inisiatif ini, dia berperan penting dalam mendorong pertumbuhan dan perkembangan komunitas film independen di Indonesia.
Garin Nugroho juga aktif berbagi pengetahuan dan pengalamannya melalui berbagai seminar dan diskusi. Misalnya, dia pernah berbicara tentang pengaruh teknologi pada film di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, memberikan wawasan berharga bagi mahasiswa dan calon sineas muda.
Dia juga kerap mengisi seminar bertema kebudayaan. Misalnya di ISI Yogyakarta mengenai Seni dan Diplomasi, seperti apa peran seniman dalam membangun jembatan budaya di era global. Tak ketinggalan seminar nasional mengenai Wayang.
Garin juga memberikan kiat-kiat jitu untuk para filmmaker muda yang ingin serius berkarier di industri perfilman Tanah Air.
"Menjadi filmmaker artinya belajar tanpa henti, pertama mengikuti ekosistem, lalu menerapkan jurus berladang berpindah dan jurus Nasi Campur," katanya saat mempromosikan film yang ditulisnya, A Perfect Fit, dikutip dari Netflix Indonesia.
Filmmaker muda perlu mengikuti ekosistem, sekarang ekosistemnya berkaitan dengan media teknologi baru, maka ikutilah. Salah satunya mereferensikan karya film, behind the scene, atau metode-metode kerja teknik yang terus bertumbuh cepat lewat media sosial.
"Jadi media sosial menjadi pustaka besar," ujarnya.
Selanjutnya, jurus berladang berpindah dari satu tanah ke tanah yang lain, menanam. Maka ikutilah beragam bentuk yang disebut pengembangan diri. Mulai dari mengikuti komunitas film, workshop, ataupun magang pada wilayah-wilayah penciptaan dengan beragam pasar, metode, dan goal dari masing-masing pencipta.
Terakhir jurus nasi campur, dianalogikan dengan metode belajar yang mencampur segala formula dan gaya, serta segala pendekatan sampai kemudian akhirnya bisa menemukan diri sendiri.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor: Nirmala Aninda
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.