Ilustrasi berpasangan (Sumber gambar: Unsplash/Céline Druguet)

Hypereport: Jalan Pintas Cari Pasangan Lewat Aplikasi Kencan dan Biro Jodoh

14 July 2024   |   13:43 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Memulai hubungan asmara bagi sebagian orang bukan hal yang mudah. Ketika media sosial muncul berpuluh-puluh tahun yang lalu dan membuat orang makin mudah terkoneksi, aktivitas mencari jodoh kini justru tak ubahnya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. 

Sulitnya orang mencari pasangan tergambar dalam laporan teranyar Badan Pusat Statistik 2024. Dalam laporan tersebut, tercatat angka pernikahan di Indonesia cenderung terus mengalami penurunan signifikan dalam enam tahun terakhir.

Pada 2018, angka pernikahan tercatat 2,01 juta pasangan. Namun, pada 2023, angka pernikahan di Indonesia kini hanya mencapai 1,57 juta pasangan saja. Fenomena resesi pernikahan yang dahulu hanya sayup-sayup terdengar di beberapa negara maju, seperti Jepang, Korea Selatan, atau Italia, kini tampaknya mulai merambah ke Tanah Air. 

Baca juga: Hypereport: Disiplin Menerapkan Batasan Ketika Berkarier Bersama Pasangan

Fenomena global ini kemudian memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru, termasuk memengaruhi cara orang mencari pasangan. Dulu orang mengandalkan jaringan sosial dan rekomendasi sekitar, kini aplikasi dan algoritma digital jadi pilihan.

Maraknya aplikasi kencan seperti menjadi oase di tengah kesulitan sebagian orang mencari pasangan romantis. Makin banyak pula agen biro jodoh yang dikemas lebih terstruktur, seperti blind date, untuk mempertemukan mereka yang masih mencari belahan hatinya.

Psikolog Kasandra & Associates, A Kasandra Putranto, mengatakan perubahan perilaku dalam mencari jodoh dari cara konvensional ke aplikasi kencan hingga biro jodoh disebabkan oleh pengaruh modernitas, media massa, dan perkembangan teknologi.

Kasandra lantas mengutip perkataan Anthony Giddens dalam The Transformation of Intimacy (1992). Menurut Giddens, laju modernitas telah mengubah konsep keintiman yang dulu hanya dikenal melalui perjodohan dan pernikahan menjadi lebih cair dan beragam, termasuk penggunaan aplikasi kencan online yang memungkinkan interaksi tanpa batas geografis.

Dengan berbagai fitur atau layanan yang tersebut, proses matching kini memungkinkan terjadi lebih cepat, efektif, dan efisien, sepanjang data yang diinput adalah data yang faktual.

“Transformasi ini juga mencerminkan adanya perubahan pandangan sosial tentang hubungan romantis, yang kini lebih menekankan kepuasan emosional dan bahkan bagi sebagian individu, mungkin mencari pemenuhan kebutuhan seksual semata,” ujar Kasandra kepada Hypeabis.id
 

Menurutnya, ada beberapa alasan mengapa orang terdorong menggunakan jasa aplikasi kencan atau biro jodoh. Salah satunya karena cara ini menjadi yang paling populer bagi seseorang untuk bertemu orang baru di luar lingkungan pertemanan mereka.

Selain itu, aktivitas ini juga mengalami perkembangan pesat sehingga seolah menjadi tren yang boleh diikuti. Di luar itu, tak jarang pula yang hanya penasaran dan untuk bersenang-senang.

Namun, kendati prosesnya kian mudah, Kasandra menyoroti budaya patriarki dan stigma negatif kepada perempuan yang masih terjadi. Sampai saat ini perempuan yang aktif mencari pasangan melalui pihak ketiga ini kerap mendapat tantangan tak mudah, termasuk risiko pelecehan seksual di dunia maya.

Bagaimanapun, katanya, bantuan pihak ketiga ini selalu memiliki keuntungan dan kerugian tersendiri bagi penggunanya. Hal tersebut memang memberi akses mudah berinteraksi dengan orang asing, tetapi bukan berarti proses mencari jodoh lebih mudah. Justru, tantangannya cukup unik.

Orang justru lebih rentan terkena deception behavior atau pemotongan fakta untuk menyesatkan orang lain. Dalam artian, ketika bertemu dengan orang baru, seseorang dapat menyampaikan informasi yang tidak benar tentang dirinya, seperti mengada-ada, melebih-lebihkan, atau menghilangkan, agar lebih terkamuflase untuk tujuan tertentu.

Selain itu, bermain aplikasi kencan atau mencoba biro jodoh juga bisa berdampak pada kesehatan mental dan kesejahteraan emosional seseorang. Sebab, seseorang bisa merasa kecanduan untuk terus mencoba, bahkan akan merasa tertekan kalau tidak memperoleh match dengan orang lain.

“Selain itu, ketika seseorang tidak mendapatkan respons dari pengguna lain, hal ini bisa memicu rasa tidak dihargai dan merasa terisolasi. Dengan adanya obsesi dan keinginan yang tinggi ini, sangat mungkin juga kecanduan pada aplikasi kencan yang akhirnya berdampak pada kesehatan fisik dan mental seseorang,” imbuhnya.

Selain itu, bermain aplikasi kencan dan biro jodoh juga dapat memengaruhi preferensi seseorang terhadap gambaran jodoh. Sebab, bantuan pihak ketiga ini kerap hanya didasarkan pada profil dan foto pengguna yang dapat memengaruhi persepsi pada tipe pasangan yang diinginkan. 

Baca juga: Rumah Tangga Pun Ada Titik Jenuh, Begini Jalan Tengah Buat Pasangan
 

Faktor Mencari Jodoh Kian Sulit

Ada beberapa hal yang membuat orang mencari jodoh pada era modern ini jadi makin sulit. Menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, setidaknya ada tiga faktor utama yang membuat angka pernikahan di Indonesia menurun

Pertama adalah faktor pendidikan. Menurut Hasto, orang yang memiliki pendidikan tinggi cenderung mengalami delay atau penundaan pernikahan. Sebab, orang yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi tentu membutuhkan waktu lebih banyak untuk menyelesaikan studinya terlebih dahulu.

“Di samping masalah waktu karena harus menyelesaikan pendidikan, faktor lainnya saya kira berkaitan dengan perubahan cara pandang. Jadi, mereka yang memiliki pendidikan tinggi ini cenderung tidak tergesa-gesa dalam menikah,” ujar Hasto kepada Hypeabis.id

Kemudian, faktor kedua yang membuat orang sulit mencari jodoh adalah ekonomi. Hasto menilai orang yang memiliki ekonomi lebih baik justru punya kecenderungan akan telat menikah. Tentu tidak semua, tetapi sebagian mengalami hal tersebut. Sebab, orang-orang seperti ini cenderung akan lebih fokus pada bisnis yang ingin ia bangun atau karier yang ingin dikejar terlebih dahulu, sebelum akhirnya memilih menikah.

Faktor ketiga, yakni tempat tinggal, juga menurutnya sangat berpengaruh. Saat ini, orang yang tinggal di kota dinilai Hasto lebih cenderung memilih menunda pernikahan. Sementara itu, orang yang tinggal di desa atau di tempat yang sepi, justru cenderung memilih nikah lebih awal.

Hasto menilai tempat tinggal juga membuat cara pandang orang berubah. Di desa, ketika ada anak umur 20-an dan belum menikah, maka akan ada anggapan tidak wajar atau telat. 

Sebaliknya, di kota, umur 20-an belum menikah adalah sesuatu yang wajar. Selain itu, orang kota yang memiliki kompleksitas lebih tinggi dan mendapat tekanan dari berbagai faktor juga membuat mereka memandang pernikahan menjadi sesuatu yang bisa dikesampingkan sejenak.

“Masalahnya, saat ini pengertian kota dan desa sudah berbeda. Misalnya, dahulu wilayah Karawang itu kan desa, tetapi sekarang sudah sangat berkembang. Fenomena munculnya kota-kota baru ini juga terjadi di banyak wilayah lain, kan. Akhirnya angkanya pun meningkat,” jelasnya.


Di Ambang Batas Aman 

Hasto mengatakan penurunan pernikahan di Indonesia masih berada di batas aman. Namun, penurunan pernikahan ini perlu disadari semua pihak. Sebab, situasinya berubah ketika angka penurunan pernikahan ini terus merosot tajam.

Salah satu alasannya adalah karena penurunan angka pernikahan secara jangka panjang bisa memengaruhi angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR). Bagi Hasto, angka TFR inilah yang mesti dijaga.

Saat ini, angka TFR di Indonesia masih di angka 2,1. Secara hitung-hitungan ilmiah, angka TFR tersebut masih tergolong aman untuk menopang keseimbangan jumlah penduduk.

Namun, angka 2,1 ini sebenarnya sudah berada di titik rawan. Sebab, jika angka kelahiran ke depan lebih rendah atau turun satu peringkat saja, jumlah penduduk akan langsung tidak seimbang. Dalam artian, jumlah penduduk bisa jadi berkurang karena angka kematiannya lebih tinggi dibanding angka kelahiran.

Jika itu terjadi, efeknya bisa berdampak pada banyak hal. Salah satu yang paling krusial adalah potensi Indonesia memanfaatkan bonus demografi bisa makin pendek. 

Baca juga: Buat Calon Pasangan, Hal-Hal Ini Sebaiknya Dibahas Sebelum Menikah

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

7 Pekerjaan dengan Gaji Tertinggi di Dunia

BERIKUTNYA

Line Up Musisi Festival Alur Bunyi, Digelar 20 Juli 2024

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: