Alat-alat rekaman podcast (Sumber Foto: Freepik)

Hypereport: Melihat Proses Kreatif di Balik Podcast Komedi Viral

07 May 2024   |   18:04 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Saat ini, konten komedi dapat dinikmati dalam berbagai medium. Salah satunya dalam format siniar atau podcast. Tak sedikit komika populer Tanah Air yang memanfaatkan media audio streaming ini untuk menghibur dan menjangkau audiens yang lebih luas.

Podcast yang menyuguhkan konten audio cenderung lebih mudah diterima masyarakat karena simpel, tanpa membutuhkan data internet yang terlalu besar, sehingga bisa mendengarkan siaran konten komedi favorit sambil mengerjakan sesuatu.

Salah satu grup lawak yang menghadirkan podcast bergenre komedi adalah GJLS. Mereka adalah para komika populer yang beranggotakan Ananta Rispo, Hifdzi Khoir, dan Rigen Rakelna. Podcast GJLS ini tersedia di platform streaming musik Spotify.

Baca juga: Hypereport: Ramuan Humor Segar yang Bikin Film Komedi Enggak Ada Matinya

Ketiga komika menyuguhkan tema-tema yang beragam dalam bentuk talkshow, dikemas dengan obrolan-obrolan ringan yang jenaka dan spontan. Salah satu personal GJLS, yakni Hifdzi Khoir membagikan ceritanya tentang proses kreatif di balik pembuatan konten-konten podcast-nya.

"Sebelum dengan GJLS, dulu pernah bikin podcast bareng istri, lalu diunggah di Spotify. Bikinnya masih pakai Zoom dan audionya masih jelek," katanya kepada Hypeabis.id.

Idenya untuk membuat konten berbasis audio tersebut datang setelah menonton Podcast Raditya Dika dan Adriano Qolbi pada 2019 lalu yang juga ditayangkan di YouTube. Kedua komika tersebut memperkenalkan apa itu podcast, serta bagamana mereka tertarik untuk mendistribusikan konten-konten mereka di platform audio.

Hifdzi bersama Ananta Rispo dan Rigen Rakelna kemudian membentuk grup lawak bernama GJLS. Mereka mengunggah siniar pertamanya pada Juli 2020 di platform Spotify. Perlahan-lahan, konten mereka mulai meraih popularitasnya yang ditandai dengan bertambahnya jumlah pendengar.

"GJLS sendiri singkatan dari gak jelas, karena kita bertiga sama-sama suka komedi yang aneh, absurd, dan beda dari yang lain," kata Hifdzi.

 
 
Tema yang diangkat pun cenderung ringan dan sangat beragam. Mulai dari kehidupan pribadi, keluarga, atau kejadian-kejadian apapun di sekitar mereka yang sedang trending dan banyak dibicarakan.

Selain itu, GJLS juga menyuguhkan segmen Theater of Mind, di mana mereka memainkan sketsa komedi dan melakoni peran-peran yang telah ditentukan.

"Jujur dengan nama GJLS ini, kita bikin konten se-random apapun, orang-orang masih bisa nerima-nerima aja. Jadi, bisa lebih bebas bereksplorasi soal tema-temanya," paparnya.

Baca juga: Hypereport: Gaya Lawakan Segar Komedian Muda & Ladang Baru Monetisasi Konten

Adapun untuk durasi podcast GJLS berkisar antara 10-20 menit. Semuanya telah melalui proses penyuntingan dengan proses rekaman lebih dari 25 menit.

Lebih lanjut Hifdzi menyebut sejumlah penyuntingan diperlukan untuk memangkas beberapa obrolan yang keluar dari topik dan dirasa kurang lucu, sehingga pendengar bisa tetap mendapatkan unsur komedinya.

Melihat lebih dekat ke dalam dapur rekaman podcast GJLS, ternyata mereka pun menggaet tim kreatif untuk merumuskan tema dan konsep menarik yang akan dituangkan dalam setiap episode podcast-nya. Meski begitu, baik Rispo, Rigen, dan dirinya sendiri juga turut menyumbangkan ide saat proses brainstorming.

"Sekarang alhamdulllah kita sudah ada tim kreatif. Biasanya sudah disiapin sama mereka untuk tema-temanya, gimmick-gimmick-nya, termasuk konsep untuk Theater of Mind kita," ujarnya.

Tak ketinggalan, mereka juga menyiapkan alat-alat untuk membuat audio berkualitas tinggi, seperti miktofon, pop filter, dan headphone untuk menghasilkan suara yang jernih. Selain itu juga tentunya laptop dan software untuk penyuntingan audio.

"Kalau jalan dulu pakai rodecaster, kita bisa masukin backsound atau efek suara seperti 'tringg'," katanya.

Meski begitu, dia berpesan supaya para podcaster pemula tidak terpaku dengan alat untuk mulai membuat konten audionya. Hanya bermodelkan mikrofon dan ponsel saja, kita sudah bisa membuat rekaman yang jernih. Menurutnya yang paling penting kontennya unik, menarik, dan beda dari yang lain.

Sementara itu, bicara soal monetisasi yang kerap menjadi pertanyaan orang-orang, tentang apakah bisa atau tidak menghasilkan uang sebagai podcaster? Hifdzi menjelaskan, sayangnya saat ini platform yang dia gunakan untuk ber-podcast belum memonetisasi para konten kreator baru.

Peluang untuk monetisasi hanya tersedia untuk beberapa podcaster yang dieksklusifkan oleh Spotify. Kemungkinan para kreator sendiri yang approach ke platform tersebut, atau justru perusahaan yang menghubungi duluan untuk dijadikan podcast eksklusif.

"Kalau di Spotify ada tulisan podcast eksklusif, nah itu baru bisa monetisasi, kalau konten kita sesuai dengan rules-rules mereka baru kita dibayar," kata Hifdzi.

Selain itu, ada juga podcast original yang memang dibuat langsung oleh Spotify. Perusahaan akan merekrut sejumlah kreator yang sesuai dengan genre yang banyak diminati masyarakat Indonesia, seperti komedi, romansa, horor, dan kriminal. Konten-kontem tersebut nantinya akan tersedia untuk pengguna layanan gratis maupun premium.

"Aku harap, mereka bisa segera menemukan cara terbaik untuk memonetisasi para podcaster baru, mungkin konsepnya bisa seperti YouTube dengam adanya adsense," katanya.

Menggali lebih dalam, pengalamannya selama berkarier sebagai komika dan podcaster, Hifdzi juga menghadapi sejumlah tantangan saat membuat konten-konten audio GJLS. Mengingat, podcast adalah konten berbasis audio yang hanya mengandalkan suara, terkadang mereka merasa ada keterbatasan untuk berkomedi.

"Saat merekam Theater of Mind, kita harus bisa membuat pendengar membayangkan apa yang diceritakan oleh si penyiar. Tapi kadang Rispo masih suka kelupaan, ada gestur gerak-gerak kalau lagi cerita, akhirnya kita harus jelasin ke pendengar, tapi itu bisa jadi poin komedi juga," paparnya.

Baca juga: Hypereport: Komika Makin Mewarnai Panggung Komedi Indonesia

Selain itu, GJLS juga menghadirkan live podcast, di mana mereka akan siaran langsung di depan penonton. Dengan demikian mereka akan menyuguhkan konten audio sekaligus visual. Durasinya juga akan lebih panjang dan tanpa melalui proses editing seperti biasanya. Menurut Hifdzi, live podcast cukup memberikan banyak tantangan karena persiapannya yang panjang dan sangat matang.

"Kalau live podcast biasanya harus detail dan lebih terkonsep, misalnya setelah ini bahas ini, lalu bahas ini, juga akan ada banyak improve," ujarnya.

Meski begitu, mengingat para personel GJLS adalah komika yang biasa melakukan stand up komedi, tentunya mereka tidak canggung membawakan pertunjukan komedi secara langung. Selain itu, lantaran mereka sudah lama saling mengenal satu sama lain, proses lempar-melempar lawakannya pun bisa mengalir dengan luwes dan natural sehingga bisa mengundang gelak tawa audiens.


Podcast Genre Komedi Makin Diminati

Penyedia layanan streaming audio, Spotify mengungkapkan podcast bergenre komedi menjadi salah satu favorit masyarakat Indonesia. Data Wrapped Spotify mengungkap, terjadinya peningkatan sebesar 91 persen untuk konsumsi genre komedi sejak 2019 hingga 2023. Selain itu, sejak 2021 komedi juga terus bertahan di posisi lima besar genre podcast yang paling banyak didengarkan.

“Pertumbuhan genre komedi di Indonesia begitu menarik dan mencerminkan budaya nongkrong sehari-hari di Indonesia. Kami telah melihat pertumbuhan pendengar yang begitu pesat dan menjadikan komedi sebagai salah satu genre yang paling banyak didengar di Indonesia,” ujar Kepala Podcast Spotify Asia Tenggara Carl Zuzarte, dalam siaran persnya.

Data lain juga mengungkapkan, para pendengar podcast komedi merupakan muda-mudi yang usianya berada di bawah 34 tahun. Berbagai jenis konten komedi yang mereka dengarkan di antaranya mulai dari stand up (lawak tunggal), percakapan bernaskah, atau bahkan komedi-komedi yang absurd sekalipun.

Setiap harinya makin banyak kreator dan podcast komedi di platform layanan streaming audio tersebut. Melalui podcast, para kreator menemukan cara alternatif untuk menggambarkan situasi yang kocak dan menggelikan sehingga membuat pendengarnya tertawa dan terhibur.

Podcast seperti PODKESMAS dan GJLS konsisten menyuguhkan beragam konten komedi berbentuk talkshow dengan percakapan yang jenaka dan spontan. Ada juga Destanya Siapa? yang menghadirkan daya tarik komedi lewat monolog dan diskusi yang dipandu oleh Deddy Mahendra 'Desta'. Selain itu, bagi kamu yang suka nongkrong, podcast komedi seperti PODCAST ANCUR identik dengan humor-humor dalam percakapannya yang mengalir seperti di tongkrongan.

Baca juga: Hypereport: Deretan Tokoh & Grup Lawak Legendaris Indonesia

Podcast dengan sentuhan budaya Indonesia juga berhasil memikat hati para pendengarnya, seperti MENDOAN yang isinya percakapan jenaka dalam bahasa Jawa, serta AGAK LAEN! dengan dialek Batak. Mereka membahas topik-topik yang sedang hangat, dibalut dengan humor ringan yang mudah dinikmati oleh semua orang.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Mulai Digarap, Film Ki Hajar Dewantara Bakal Tayang 2026

BERIKUTNYA

Eksklusif Guruh Sukarno Putra: Perjalanan Mendalam Memaknai Musik

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: