Guruh Sukarno Putra (Sumber gambar: Arief Hermawan P/Hypeabis.id)

Eksklusif Guruh Sukarno Putra: Perjalanan Mendalam Memaknai Musik

06 May 2024   |   22:35 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Presiden Republik Indonesia Soekarno membesarkan anaknya tak cuma berkutat di gerbong politik, tapi juga lewat kecintaannya terhadap budaya. Guruh Sukarno Putra contohnya, putra bungsu Soekarno yang kepincut musik lewat budaya yang ditanamkan padanya sedari kecil.

Lahir dengan nama Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, pria kelahiran 13 Januari 1953 ini dikenal berkat kiprahnya sebagai seniman di bidang musik. Nama Guruh naik daun sebagai musisi pada 1960-an hingga 1970-an. Dia bersinar sebagai pemusik di berbagai genre. Anak dari mendiang Fatmawati ini mencoba genre pop, rok progresif, hingga musik tradisional. 

Baca juga: Eksklusif Butet Kartaredjasa: Saat Seni Menjelma Laku Spiritual & Kritik Sosial Politik

Atas dedikasinya, Guruh dinobatkan sebagai salah satu artis Indonesia terbesar sepanjang masa oleh majalah Rolling Stone Indonesia pada 2008. Dia menerima Penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia (NBMI) dari Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) tepat pada Perayaan Hari Musik Nasional pada 23 Maret 2011. Belum lagi deretan penghargaan dari Anugerah Musik Indonesia. 

Bukan hal mudah untuk sampai di titik tersebut. Guruh harus menempuh perjalanan jauh dalam memaknai hidupnya bersama musik, utamanya saat dia berangkat ke Amsterdam, Belanda untuk menekuni pendidikan tingkat lanjut.

Lantas, bagaimana tapak jauh yang dijalani Guruh dalam memaknai musik? Dalam diskusi Ngobrol Santai No Music, Noise! Dari Balik Nada di mataWaktu ITC Fatmawati pada Minggu (5/5/2024), dia membagikan kisahnya menempuh karier sebagai musisi yang memadukan unsur modern dan tradisional, hingga ceritanya memulai band bersama Guruh Gipsy.
 

Guruh Soekarno Putra (Sumber gambar: Arief Hermawan P/Hypeabis.id)

Guruh Sukarno Putra (Sumber gambar: Arief Hermawan P/Hypeabis.id)


Bagaimana awal mula kecintaan terhadap bidang seni muncul?

Background saya bisa sampai ke musik itu karena dahulu kakek saya, juga ibu dan bapak, sudah menempatkan kebiasaan yang berkaitan dengan kebudayaan di dalam keluarga. Anak-anaknya disuruh belajar tari daerah. Saya belajar banyak mengenai aneka tari, mulai dari tari Bali tari hingga tari Sumatra sejak kecil.

Lalu, bagaimana kecintaan di bidang seni itu mengerucut ke musik? 

Tari sangat terkait dengan musik. Misalnya, tarian Sumatra dekat sekali dengan musik Melayu. Begitu juga dengan lagu-lagu tari dari Jawa yang membuat saya akrab dengan gamelan.

Saat masa kuliah di Amsterdam, saya menekuni belajar gamelan Bali di Tropenmuseum, Amsterdam. Bahkan saya sempat mengajar gamelan Bali semasa kuliah untuk mengisi kegiatan dan menambah uang di sana.

Mengapa tertarik mempelajari gamelan? 

Saya mencintai gamelan sejak kecil. Gamelan itu alat musik yang unik untuk saya. Sampai saat ini, alat musik ini pun belum terliterasi dengan baik. Selama ini hanya gamelan Bali saja yang dikenal. Padahal ada gamelan Sumatra, gamelan Kutai, gamelan Banjar, sampai gamelan Lombok yang karakteristiknya beda-beda.

Masih ingat alat musik pertama yang dipelajari?

Alat musik pertama saya adalah piano. Saya sempat belajar gitar, tetapi keadaan jari saya tidak memungkinkan waktu itu.

Apa yang menjadi DNA Guruh dalam bermusik?

Saya punya ide mengulik dan memasukkan musik bercampur dengan musik Indonesia. Dari sana juga, saya latihan dan bertemu dengan anak-anak Guruh Gipsy (band yang didirikan Guruh bersama rekannya dengan memadukan instrumen modern bergaya tradisional ala Bali dan Jawa).

Awal mula bermusik bersama Guruh Gipsy?

Saat sedang senang-senangnya mempelajari musik, entah kenapa ada saja jalannya. Tahu-tahu dapat tawaran bikin rekaman waktu itu. Ada 16 track yang awal mulanya padahal hanya 1 track saja.

Apa yang menjadikan musik tradisional Indonesia berbeda dan menarik bagi Guruh Gipsy?

Kita bisa lihat, lagu-lagu band atau orkestra musik Barat itu taat asas, seperti ada sebuah kaidah konversi internasional. Misal nada do pada posisi berapa. Sedangkan musik tradisional kita itu tidak seperti itu. Itu yang membuatnya berbeda. Misalnya di Bali, gamelannya itu tidak ada standar nadanya. Bergantung pada feeling yang membuat gamelan tersebut.

Ajaibnya, dari temuan-temuan saya, nenek moyang kita sudah tahu caranya [membuat gamelan]. Jadi, gamelan itu dibuat sebagai satu instrumen yang punya pasangan. Namanya gender, buat sepasang antara gender satu dan gender lainnya itu bisa berbeda di stemnya.

Baca juga: Eksklusif Slamet Rahardjo: Memaknai Hidup Sebagai Panggung Sandiwara 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

Hypereport: Melihat Proses Kreatif di Balik Podcast Komedi Viral

BERIKUTNYA

Tren Revenge Travel Menurun, Digitalisasi Wisata Diperlukan untuk Menggenjot Pelancong

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: