Foto aerial Teluk Gurita di Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (28/11/2023). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha)

Hypereport: Potensi Indonesia Kembangkan Desa Wisata & Pariwisata Ramah Muslim

08 April 2024   |   07:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, Indonesia punya potensi besar mengembangkan pariwisata ramah muslim (moslem friendly tourism). Konsep ini dinilai cocok diterapkan di berbagai daerah dan jenis pariwisata yang sudah ada sebelumnya. Salah satunya adalah desa wisata.

Potensi wisata halal dalam kancah global memiliki prospek menjanjikan. Riset Travel Market Index (GMTI) 2019 memperkirakan pada 2026 mendatang jumlah wisatawan muslim di dunia akan mencapai 230 juta orang.

Selaras dengan prediksi tersebut, Global Islamic Economy Report juga memperkirakan perputaran uang dari wisata halal dunia diprediksi meningkat dari US$177 miliar (2017) menjadi US$274 miliar hanya dalam rentang waktu enam tahun setelahnya. 
 

Pakar pariwisata Azril Azhari mengatakan Indonesia memang memiliki potensi besar untuk tampil dan menjadi destinasi wisata favorit pada segmen moslem friendly tourism dan desa wisata. Sayangnya, dua segmen tersebut dinilainya belum digarap secara maksimal.

Salah satu alasannya adalah karena paradigma pariwisata Indonesia masih cenderung menganut mass tourism. Padahal, secara teori konsep pariwisata massal yang berorientasi pada kunjungan dalam jumlah banyak tidak ada lagi, atau sangat minim.

Konsep mass tourism memang populer pada dekade sebelum 1980-an. Kemudian, 1980-an sampai 2000-an, tren pariwisata mulai berkembang ke arah alternative tourism. Lalu, pada 2000-an sampai 2020-an, tren pariwisata berubah lagi menjadi quality tourism.

Pada dekade inilah, pariwisata sudah tidak lagi diukur dengan angka. Seperti namanya, quality tourism lebih menekankan pada kualitas kunjungan. Saat ini orang berwisata untuk tujuan tertentu, seperti ketenangan diri, ketenangan batin, dan keberlanjutan (sustainability). 

Setelah pandemi Covid-19 berlalu, pariwisata kini mengarah ke customize tourism. Kegiatan pariwisata kini jadi lebih personal lagi. Hal ini membuat wisata minat khusus menjadi berkembang, termasuk desa wisata ini.

Dengan pergeseran tren tersebut, saat ini yang paling penting bukan lagi banyak-banyakan jumlah wisatawan. Namun, yang perlu diperhatikan adalah lama mereka tinggal dan pengeluaran pariwisatanya. 

Baca juga: Punya Pesona Alam & Budaya yang Wah, 5 Desa Wisata Indah Ini Wajib Dikunjungi
 

Wisatawan bermain kayak di Desa Wisata Meat, Kabupaten Toba Samosir, Sumatra Utara, Selasa (17/10/2023). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)

Wisatawan bermain kayak di Desa Wisata Meat, Kabupaten Toba Samosir, Sumatra Utara, Selasa (17/10/2023). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)


Menggali Potensi Desa Wisata Berbasis Ramah Muslim

Salah satu hal penting dalam mengembangkan konsep pariwisata adalah menyamakan persepsi terlebih dahulu. Azril menyebut sebaiknya berbagai stakeholder terkait mulai meninggalkan istilah wisata halal dan menggantinya dengan moslem friendly tourism atau wisata ramah muslim.

Sebab, dalam perkembangannya istilah wisata halal kerap kali mendapat penolakan, terutama di daerah wisata yang memang bukan mayoritas muslim. Umumnya masyarakat di sana khawatir akan ada Islamisasi, meski sebenarnya secara penerapan berbeda.

Namun, untuk mengurangi gejolak, alangkah baiknya menggunakan istilah wisata ramah muslim. Dengan demikian, jenis pariwisata apa pun dan di daerah mana pun, konsep ramah muslim bisa masuk ke dalamnya.

Sebab, sebenarnya moslem friendly tourism adalah sebuah konsep wisata yang membuat pengunjung muslim bisa tetap merasa aman dan nyaman ketika berlibur. Fokusnya adalah pada penyediaan layanan kebutuhan wisatawan muslim.

“Jadi, ini cuma layanan tambahan. Kalau layanan ini ada di wisata mana pun dan mau dipakai oleh nonmuslim pun juga tidak masalah. Di luar negeri juga memakai moslem friendly bukan halal tourism,” ungkap Azril kepada Hypeabis.id

Untuk mewujudkan konsep ini, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan. Pada intinya adalah menyediakan berbagai tambahan fasilitas agar sesuai dengan keyakinan umat Islam. Misalnya, dalam sebuah desa wisata, ada tempat tinggal khusus yang dalam satu bangunan laki-laki dan perempuannya terpisah.

Dalam hal transportasi, tempat duduk laki-laki dan perempuan terpisah. Kemudian, dari sisi pembayaran, tempat wisata tersebut memiliki opsi transaksi berbasis syariah. Lalu, tersedia tempat salat yang memadai lengkap beserta kebutuhan air untuk wudhu dan sebagainya. 

Selanjutnya, salah satu yang tak kalah penting ialah tersedianya makanan halal. Harapannya, wisatawan muslim ini tidak hanya makan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga mencoba kuliner lokal yang ada, tetapi dengan catatan sudah halal.

Saat ini di Indonesia memiliki lembaga sertifikasi halal. Azril menyebut pemerintah bisa bekerja sama dengan lembaga tersebut untuk melakukan sertifikasi dan jaminan kepada wisatawan bahwa makanan yang ada di tempat tersebut telah halal.

Namun, di luar itu, layanan tambahan lain seperti hotel, pembayaran, dan fasilitas seperti masjid juga sebaiknya tak luput dari perhatian. Dalam artian, perlu memiliki standarisasi yang baik sehingga bukan hanya sekadar ada, tetapi juga nyaman untuk digunakan. 

Konsep ini dinilainya bisa masuk ke dalam ragam pariwisata lain di Indonesia, termasuk desa wisata. Keunikan dan kearifan lokal dari tempat-tempat di Indonesia bisa berpadu dengan layanan untuk muslim. Wisatawan pun bisa menikmati pengalaman wisata yang berbeda dalam balutan eksotisme desa dan ramah muslim.

Menurut Azril, ada tiga daerah yang saat ini punya potensi besar mengembangkan konsep desa wisata dan moslem friendly tourism, yakni Aceh, Sumatra Barat, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Baginya, ketiga wilayah ini sudah punya dasar yang kuat sehingga lebih mudah dikembangkan.

“Aceh itu sudah menerapkan hukum Islam, sehingga di sana aman. Dari hotel, makanan, lalu tidak ada prostitusi juga di sana, jadi lebih oke. Kalau di Sumatra Barat dan NTB , hukum Islam di sana berjalan baik, tetapi memang tidak tertulis. Oleh karena itu, daerah ini juga relatif aman dan bisa dikembangkan lebih jauh. Bahkan, NTB juga punya julukan kota seribu masjid,” imbuhnya. 

Baca juga: Begini Upaya Kemenparekraf Dorong Potensi Desa Wisata
 

Pengunjung beraktivitas di wisata alam Sendang Seruni di Desa Wisata Tamansari, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (10/8/2023).  (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani)

Pengunjung beraktivitas di wisata alam Sendang Seruni di Desa Wisata Tamansari, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (10/8/2023). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani)

Kombinasi Keramahan Desa, Alam & Ramah Muslim

Desa Gosari, Ujungpangkah, Gresik, Jawa Timur menjadi salah satu contoh yang apik dalam menggabungkan keindahan alam dengan konsep moslem friendly tourism. Dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat, wisata ini berhasil memadukan dua konsep wisata tersebut dan mendatangkan banyak wisatawan.

Ketua Pengelola Wisata Alam Gosari, Dawam, mengatakan tempat wisata bernama Wagos Wisata Alam Gosari (Wagos) menawarkan sejumlah wahana permainan dan situs sejarah. Keduanya kemudian dipadukan dengan konsep wisata ramah muslim.

Menurutnya, penerapan wisata ramah muslim di Wagos merupakan keputusan bersama dari warga. Hal ini tak lepas dari desa Gosari yang menjadi bagian dari Kabupaten Gresik, yang mana sudah lebih dahulu terkenal dengan wisata religi.

Oleh karena itu, untuk mendukung wisata religi, pihaknya pun mencoba menerapkan wisata ramah muslim. Dengan demikian, harapannya masyarakat yang sedang melakukan wisata religi di Gresik bisa sekalian mampir ke wisata Wagos.

“Konsep wisata halal itu terwujud dalam banyak hal. Misalnya, kami mengedepankan kesopanan, tidak ada yang haram, kemudian dari makanan juga halal. Tak terkecuali, tempat ibadah dan beberapa kali kami juga adakan event pengajian dan segala macam,” ucapnya.
 

Adapun terkait dengan daya tarik wisatanya, Wagos memiliki beberapa spot populer. Wisata ini menjanjikan pemandangan berupa area persawahan dan bukit kapur yang memukau. Kemudian, ada spot khusus untuk taman bunga, dan replika rumah unik yang kerap jadi spot foto yang instagramable.

Aneka wahana permainan, seperti alun-alun dolanan, ATV, mobil mini, menunggang kuda, mandi bola, perahu angsa, mini trail, hingga kolam renang juga tersedia di sini

Di luar itu, kata Dawam, Wagos juga memiliki wisata bersejarah berupa situs pembakaran era Majapahit. Situs tersebut diperkirakan sebagai tempat produksi gerabah terbesar saat memasok gerabah sampai Majapahit.

“Kebanyakan yang berkunjung ke sini memang keluarga atau komunitas-komunitas. Ada yang masih satu daerah, tetapi juga sering kedatangan wisatawan luar daerah bahkan luar negeri,” ucapnya.

Dawam optimistis bahwa konsep wisata ramah muslim yang dipadukan dengan keindahan alam akan makin diminati. Dawam berharap ke depan Wagos bisa makin berkembang. Nantinya, kata dia, akan ada banyak wahana lain yang coba dibangun sehingga ini bisa jadi konsep wisata yang terpadu.

Baca juga: Mengintip Keistimewaan 5 Desa Wisata Terbaik Asal Asia

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

7 Inspirasi Outfit Pria untuk Lebaran 2024 yang Modis & Kece

BERIKUTNYA

Horor Misteri Benda-Benda Tua dalam Teaser Trailer Film Pusaka

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: