Ilustrasi perundungan di sekolah. (Sumber gambar: Mikhail NIlov/Pexels)

Marak Kasus Bullying Remaja di Sekolah, Ini Penyebabnya Kata Psikolog Anak

20 February 2024   |   17:35 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Bullying atau perundungan masih marak terjadi di lingkungan sekolah. Bahkan, Indonesia disebut tengah mengalami darurat kekerasan terhadap anak, khususnya di dunia pendidikan lantaran maraknya aksi bullying. Bukan anggapan semata, hal itu tercermin dari sejumlah data yang dirilis terkait angka kasus bullying di sekolah.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), misalnya, mencatat bahwa sepanjang 2023 terjadi 30 kasus perundungan di satuan pendidikan. Jumlah tersebut meningkat sembilan kasus dari tahun sebelumnya. 

Dari 30 kasus tersebut, setengahnya terjadi di jenjang SMP, 30 persen terjadi di jenjang SD, 10 persen di jenjang SMA, dan 10 persen di jenjang SMK. Jenjang SMP paling banyak terjadi perundungan baik yang dilakukan peserta didik ke teman sebaya maupun yang dilakukan pendidik.

Kasus perundungan bahkan sampai memakan korban jiwa seorang siswa SDN di Kabupaten Sukabumi dan seorang santri di MTs di Blitar, Jawa Timur. Keduanya meninggal seusai mengalami kekerasan oleh teman sebaya di lingkungan satuan pendidikan.

Baca juga: 3 Faktor yang Bikin Anak Bisa Jadi Pelaku Bullying di Sekolah
 

Ilustrasi perundungan di sekolah. (Sumber gambar: Mikhail NIlov/Pexels)

Ilustrasi perundungan di sekolah. (Sumber gambar: Mikhail NIlov/Pexels)

Sementara menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dari Januari sampai Agustus 2023, terdapat 2.355 kasus pelanggaran terhadap perlindungan anak. Dari jumlah tersebut, 861 kasus terjadi di lingkup satuan pendidikan.

Dengan perincian, anak sebagai korban dari kasus kekerasan seksual sebanyak 487 kasus, korban kekerasan fisik dan/atau psikis 236 kasus, korban bullying 87 kasus, korban pemenuhan fasilitas pendidikan 27 kasus, dan korban kebijakan 24 kasus.

Bullying atau perundungan adalah perilaku agresif yang berulang, disengaja, dan memiliki tujuan untuk menyakiti, merendahkan, atau mendominasi orang lain secara emosional, fisik, ataupun mental. Tindakan bullying bisa terjadi dalam berbagai konteks, seperti di sekolah, tempat kerja, lingkungan online (cyberbullying), atau di tempat umum.

Mengacu pada data FSGI, bullying lebih marak terjadi di jenjang SMP di mana anak-anak memasuki usia remaja awal yakni 13-15 tahun. Ada beberapa faktor baik internal maupun eksternal yang membuat anak remaja rentan untuk terlibat dalam tindakan perundungan.

Psikolog Klinis Anak Alia Mufida menjelaskan perilaku perundungan yang dilakukan anak remaja tak bisa terlepas dari faktor internal dalam diri mereka, yang biasanya tengah memasuki fase ingin menunjukkan eksistensi ataupun peran sehingga dianggap ada secara signifikan oleh orang lain.

Keinginan itu pun biasanya ditempuh dengan berbagai cara, salah satunya dengan menunjukkan sikap senioritas kepada junior, menunjukkan kepemilikan dan kemampuan, dan lain sebagainya. Sayangnya, keinginan itu juga rentan disertai dengan pengaruh-pengaruh lain sehingga membuat anak mengambil keputusan tindakan tanpa pertimbangan yang matang.

"Akhirnya melakukan sesuatu hal yang sebetulnya dilarang. Karena namanya anak remaja kan pertimbangan untuk mengambil keputusan atau menilai baik buruknya hal belum optimal, jadi kadang-kadang muncul pengambilan keputusan yang salah," katanya kepada Hypeabis.id, Selasa (20/2/2024). 

Baca juga: 4 Faktor Utama Penyebab Orang Terseret Kasus Bullying 
 

Ilustrasi perundungan di sekolah. (Sumber gambar: Mikhail NIlov/Pexels)

Angka kasus perundungan di sekolah di Indonesia masih tinggi. (Sumber gambar: Rdne Stock Project/Pexels)

Perempuan yang akrab disapa Fida itu juga menerangkan pertimbangan tidak optimal yang diambil anak juga acapkali dipengaruhi oleh intuisi untuk mengikuti tindakan teman sekitar. Pasalnya, kata Fida, anak remaja juga berada di tahapan yang menganggap teman adalah segalanya.

"Sehingga seringkali itu juga membuyarkan pertimbangan, yang penting teman saya melakukan, ya saya juga melakukan. Padahal mungkin dia tahu itu sesuatu yang enggak perlu dilakuin, tapi karena ini teman mereka dan supaya diterima, akhirnya melakukan hal yang sama. Namanya konformitas dengan lingkungan," terangnya.

Konformitas adalah suatu jenis pengaruh sosial ketika seseorang mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada. Fida mengatakan sikap konformitas tersebut bisa memberikan pengaruh yang besar pada seseorang, terlebih ketika bergabung pada satu kelompok tertentu. Terkait hal ini misalnya anak bergabung dengan satu geng di sekolah.

Saat masuk ke dalam kelompok sosial semacam itu, anak bisa mengalami transformasi, baik secara sikap maupun cara pandang yang cenderung mengikuti perilaku orang-orang di perkumpulan tersebut. Bukan tidak mungkin, anak justru akan lebih berani untuk berekspresi dan bertindak ketika berada di kelompok, dibandingkan jika mereka melakukannya secara individu.

Selain hal tersebut, ada juga faktor-faktor lain yang perlu diperhatikan ketika anak melakukan perundungan seperti kondisi lingkungan keluarga dan latar belakang anak itu sendiri. "Jadi pengaruh dari teman-teman dan lingkungan itu gede banget untuk remaja," kata Fida. 

Baca juga: 5 Jurus Jitu Atasi Bullying di Sekolah

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

Gemini AI Bisa Digunakan di iPhone, Begini Cara Pakainya

BERIKUTNYA

Harga Beras Naik Tinggi, Cek 5 Bahan Makanan Alternatif Pengganti Nasi 

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: