Ilustrasi perundungan (Sumber gambar - Unsplash - Jerry Zhang)

Anak Menjadi Saksi Perundungan, Ini Langkah yang Harus Diambil Orang Tua

17 August 2022   |   16:30 WIB
Image
Dika Irawan Asisten Konten Manajer Hypeabis.id

Anak-anak bagai kaset kosong yang dapat merekam segala visual dan suara yang ditangkap dengan mudah. Lalu, apa jadinya jika anak-anak pernah menyaksikan tindak kekerasan baik secara verbal atau fisik. Mereka dihadapkan pilihan yang sulit, yakni membela tapi ikut jadi korban atau ikut meniru seolah menikmati peristiwan perundungan. 

Tak bisa dipungkiri, anak terkadang anak takut untuk lapor karena takut disangka mengkhianati temantemannya atau takut menjadi korban selanjutnya. Akhirnya, anak-anak memilih diam atau bahkan ikut menyoraki saat terjadi peristiwa perundungan. 

Baca juga: 4 Cara Melindungi Anak dari Bullying

Dalam penelitian Asosiasi Psikologis Amerika atau American Psychological Association pada 2009 menyebutkan, siswa yang menonton saat temannya mengalami pelanggaran verbal atau fisik oleh siswa lain dapat menjadi sangat terganggu secara psikologis, bahkan bisa jadi lebih tertekan dibanding korban. 

Beberapa siswa yang merupakan responden dalam penelitian tersebut mengaku mereka mengalami stres secara psikologis, seperti depresi, gelisah, marah, dan perasaan inferior. Beberapa dari mereka takut kejadian yang serupa akan menimpanya. Penelitian tersebut memberikan pandangan bahwa pelajaran tolongmenolong yang diajarkan sekolah ternyata hanya mudah menjadi teori ketimbang praktiknya. 

Mengutip Bisnis Indonesia Weekend edisi 13 Agustus 2017, Peneliti psikologi Universitas Indonesia, Ratna Djuwita mengungkapkan bahwa anak-anak yang berani membela atau membantu teman lainnya yang mengalami perundungan tergantung dari tingkat efikasi dirinya. Efikasi adalah kemampuan untuk mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan, termasuk kemampuan mengatur situasi. 

Seseorang yang memiliki efikasi tinggi dapat mengorganisasi diri maupun kelompoknya. Selain tingkat efikasi diri dan komunitas, kebahagiaan psikologis turut memengaruhi seseorang untuk berani mengintervensi kasus kekerasan. “Bagi saksi, pandangan kelompok jadi patokan. Namun, semakin tinggi kebahagiaan psikologis, semakin tinggi efikasi diri saksi, akhirnya semakin tinggi pula kesediaan saksi untuk menolong korban,” ujarnya. 

Saksi, lanjutnya, akan menolong korban jika dia merasa bahwa kehidupannya berjalan baik dan bermakna serta mendapat dukungan dari komunitas sekolah. 
 

Lalu, bagaimana sebaiknya orang tua ketika tahu anaknya yang menjadi saksi dalam peristiwa perundungan?

Beberapa saran yang dia paparkan di antaranya adalah orang tua perlu memastikan bahwa sekolah dapat secara serius merespons peristiwa perundungan, seperti memiliki kebijakan yang tegas terkait kasus ini. 

Pastikan pula bahwa sekolah berupaya untuk memperkuat kekerabatan siswa melalui kegiatan yang melibatkan siswa dari berbagai tingkat. 

Orang tua dapat menganggap semua siswa adalah anaknya, sehingga dia perlu melaporkan jika mengetahui kejadian perundungan, walaupun yang menjadi korban bukan anaknya. “Biasakan kalau ada masalah lapor. Pastikan anak-anak punya tempat lapor yang aman. Ubah mindset anak bahwa melaporkan teman yang melakukan perundungan adalah mengkhianati. Sebaliknya, itu menyelamatkan teman,” katanya. 

Bagaimanapun juga, menghindari lebih baik daripada mengobat. Pembiasaan sikap yang prososial perlu terus ditanamkan hingga mengakar, baik di ranah keluarga maupun sekolah. Sikap prososial adalah sikap tolong-menolong, dalam hal ini menyelamatkan orang lain. 

Baca juga: Simak Trik Perusahaan Ini Hadapi Bullying di Kantor

Dalam perilaku prososial, tanamkanlah sikap empati. Ajak anak untuk membayangkan dirinya berada di posisi korban. “Sikap prososial hubungannya dengan emosi. Semakin tinggi empati, maka biasanya keterlibatan sebagai pelaku atau saksi perundungan juga semakin rendah,” ujarnya. 

Editor: Dika Irawan
 

SEBELUMNYA

Tertarik Bisnis Sewa Properti? Perhatikan 5 Hal Ini Biar Enggak Rugi

BERIKUTNYA

Mewaspadai Gagal Ginjal pada Anak

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: