Ilustrasi uang dolar. (Sumber gambar: Karolina Grabowska/Pexels)

Rupiah Melemah, Cek Instrumen Investasi yang Bakal Cuan Menurut Perencana Keuangan

24 October 2023   |   20:00 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah kehebohan dan dinamika politik menjelang Pemilu 2024, nilai tukar rupiah terus melemah hingga nyaris menyentuh Rp16.000 per dolar AS. Berdasarkan perdagangan per hari ini, Selasa (24/10/2023), nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,53 persen atau 85 poin ke level Rp15.845 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah pun diprediksi akan kembali melanjutkan pelemahannya dan menyentuh ke level Rp16.000 di tengah sentimen risk off di pasar oleh imbal hasil obligasi AS yang kembali naik. Meski mata uang Garuda masih berada di bawah tekanan, bukan berarti tidak ada peluang investasi.

Ada sejumlah opportunity yang justru bisa berpotensi cuan di tengah penguatan dolar AS. Perencana keuangan dari OneShildt Financial Independence, Ully Safitri, mengatakan dampak utama yang terjadi ketika nilai dolar menguat adalah turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia. 

Baca juga: Tren Investasi yang Disenangi Investor Muda, Apa Aja Ya?

Kondisi tersebut disebabkan oleh kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, sehingga para investor asing menarik dananya di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, dan menaruhnya di negara mereka. Menurutnya, saat itulah, menjadi momen yang tepat untuk membeli investasi saham jenis value investing, alih-alih panik dan menjual tabungan saham karena nilai IHSG yang turun.

 "Saat IHSG turun, ini adalah saat yang tepat untuk membeli [saham], dan kemampuan untuk bisa melihat peluang ini ditentukan oleh kekuatan psikologi kita," katanya saat dihubungi Hypeabis.id, Selasa (24/10/2023).

Value investing merupakan metode untuk membeli saham di bawah harga wajarnya atau sering disebut dengan saham yang undervalue, untuk kemudian dijual di harga wajarnya. Value investing cocok untuk untuk investor yang punya tingkat kesabaran tinggi karena keuntungan maksimal justru diperoleh saat saham dijual beberapa tahun kemudian. 

Cara paling mudah untuk memulai value investing adalah dengan mencari saham blue chip atau saham yang sudah terbukti keuangan perusahaannya sudah terbukti sehat, produknya banyak dipakai orang, plus pertumbuhan laporan keuangannya lancar. Selain membaca laporan keuangan, bisa juga dengan 'mencontek' portofolio sosok-sosok value investor di Indonesia, sebagai referensi dalam memilih saham.
 

Penting untuk mengetahui profil resiko sebelum berinvestasi. (Sumber gambar: Liza Summer/Pexels)

Penting untuk mengetahui profil risiko sebelum berinvestasi. (Sumber gambar: Liza Summer/Pexels)

Selain saham, produk investasi dari pemerintah juga direkomendasikan untuk dibeli di situasi seperti sekarang ini yakni Surat Utang Negara, baik yang berbentuk ORI, Sukuk, ataupun Surat Berharga Negara (SBN). Terlebih, Bank Indonesia baru saja menaikkan suku bunga acuan sebesar 6%, sehingga pendapatan keuntungan produk-produk investasi pemerintah juga akan ikut naik.

Imbal hasil atau kupon bulanan yang didapatkan dari investasi tersebut, nantinya dapat dialokasikan lagi untuk berinvestasi ke produk yang berbeda seperti saham, reksadana atau tabungan, sehingga bisa menciptakan sumber pendapatan lain.

"Selama negaranya sehat dan jauh dari kebangkrutan, maka membeli obligasi negara itu sangat aman," katanya.

Baca juga: Mengenal Strategi Dollar Cost Averaging untuk Investasi Reksa Dana
 

Profil Risiko 

Namun, sebelum memulai berinvestasi, para investor juga harus memahami terlebih dahulu profil risiko masing-masing. Misalnya untuk investor yang sudah terbiasa berinvestasi dan memiliki simpanan dana darurat atau tipe orang agresif, bisa memilih produk saham untuk jangka panjang. 

Sementara untuk investor yang cenderung moderat yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan secara berkala dan memiliki pertumbuhan modal dalam jangka menengah sampai panjang, bisa memilih produk investasi surat utang negara. 

Selain saham dan surat utang negara, instrumen investasi lain yang juga bisa dipilih adalah emas. Meskipun nilai kurs rupiah melemah, harga emas cenderung stabil dibandingkan saham. Naik turun harga emas tidak dapat diprediksi, bisa saja saat rupiah melemah atau sebaliknya. Namun, emas termasuk investasi jangka panjang, yang berarti baru bisa merasakan keuntungannya jika sudah berinvestasi selama 5-10 tahun.

"Kalau mau beli emas, ada yang perlu dipertimbangkan juga yaitu selalu ada selisih antara harga jual dan harga beli. Itu yang kadang orang lupa," kata Ully.

Hal lain yang juga harus diperhatikan saat berinvestasi emas adalah jangan membelinya dengan gramasi yang kecil karena cenderung lebih mahal, dan selisih harga jual dan harga belinya juga akan semakin besar. Sebaliknya, lebih baik membeli emas batangan yang memang sudah tersertifikasi.

Baca juga: Mewujudkan Pensiun Dini dengan Berinvestasi, Begini Caranya

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 

SEBELUMNYA

Album Musik Sonic/Panic, Suara Kegelisahan 13 Musisi Tentang Isu Iklim

BERIKUTNYA

Sensasi Hawaii di Hiburan Pinggir Pantai Aloha, Cek Atraksi & Keseruannya!

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: