Toko Buku Independen Tetap Eksis di Tengah Gelombang Digitalisasi (Sumber Gambar: Unsplash)

Eksklusif Profil Ainun Mutmainnah: Akselerasi Literasi dari Jantung Taman Sari

10 August 2023   |   22:42 WIB

Sejak 2021, manajemen toko buku besar tidak lagi mampu menahan gempuran gelombang digitalisasi. Perpindahan perilaku baca dari buku fisik ke digital membuat pendapatan di atas kertas tidak lagi seimbang dengan kebutuhan operasional. Persoalan itu memaksa manajemen mengambil keputusan yang realistis yakni menutup lini usaha komersial yang berjalan puluhan tahun.

Rontoknya eksistensi toko buku besar, rupanya tidak berpengaruh terhadap keberadaan toko buku mandiri. Keberadaan toko buku mandiri justru bertumbuh mekar di daerah seiring dengan konsistensi para pegiat dan pencinta buku untuk menjaga api literasi.

Toko buku mandiri memiliki skala bisnis yang tidak terlalu besar. Namun, dengan pola bisnis seperti itu, manajemen bergerak lebih luwes. Hubungan antara penjual dan pembeli pun tidak semata-mata mengedepankan sisi komersial.

Inisiator toko buku mandiri lebih memilih mengedepankan keramahan kepada pengunjung dan komunitas melalui ruang-ruang alternatif yang berdampingan dengan transaksi di antara rak buku.

Baca Juga: Blooks, Berdiri Melawan Senja Kala Industri Toko Buku
 
Ainun Mutmainnah, Pendiri Toko Buku BawaBuku

Ruang alternatif terbuka sebagai tempat diskusi, pemutaran film, atau wahana kreatif ala anak muda. Fasilitas kedai kopi, colokan listrik, dan tentu saja jaringan internet gratis menjadi ruang diskusi terasa makin asyik.  

Salah satu toko buku mandiri yang tetap eksis karena mampu menyediakan buku yang berbobot sekaligus terampil merawat komunitas yang mencintai budaya membaca melalui diskusi-diskusi ‘daging’ adalah BawaBuku.

Tempat ini menjadi titik kumpul pencinta buku dan komunitas yang haus akan pengalaman dan wawasan baru.

Melalui tangan dingin sosok Ainun Mutmainnah, atau akrab disapa Inun, si ibunya BawaBuku, menjadi ruang yang nyaman bagi siapa saja yang mengayun langkah mengunjungi toko kecil di jantung kompleks Taman Sari, Yogyakarta.

Kepada Hypeabis.id, Ainun menuturkan, ihwal rasa cinta pada buku yang kemudian melahirkan BawaBuku.
Berikut petikannya:



Apa yang memantik Anda untuk mendirikan BawaBuku?
Keberadaan toko buku ini tidak lepas dari romantisme masa lalu saat masih tinggal di Makassar pada 2015—2016. Dahulu, tidak jauh dari rumah ada penyewaan buku namanya Snoopy. Saya termasuk aktif sebagai anggota. Lalu, jasa penyewaan ini diputuskan tutup dan seluruh koleksi bukunya diobral.

BawaBuku itu sebenarnya menutup kesedihan saya atas tutupnya Snoopy. Saya sendiri memiliki koleksi buku yang cukup banyak. Hingga akhirnya, saya buka sendiri jasa persewaan buku yang ditawarkan melalui media sosial. Usaha ini berjalan selama 6 bulan dan saya tutup gegara buku karya George Orwell, Animal Farm yang dialihbahasakan oleh Bakdi Soemanto dikembalikan dalam keadaan sampul rusak. Bukunya terbuka. Ternyata saya masih emosional juga dengan buku sendiri. [Sembari tertawa renyah]

Selanjutnya, ketika sudah pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah pada 2016, dalam satu kesempatan ngobrol bareng teman, saya sampaikan pernah punya akun penyewaan buku, BawaBuku. Dari situ lah, muncul ide kenapa tidak dipakai buat jualan buku.
 
Ya, waktu itu kendati uang kuliah dikirim rutin oleh orang tua, biaya sosialita untuk ngopi dan bersosialisasi di luar tanggungan kan? Jadi, saya pikir tidak ada salahnya memulai usaha jual buku.

Apakah langsung mencari toko fisik atau masih bertahan secara daring?
Saya masih berjualan melalui daring. Saya menjadi reseller buku yang dijual lapak Boekoe Theotraphi-nya Mas Ahmad di Muja Muju, Umbulharjo. Hampir setiap hari datang ke Umbulharjo untuk motret buku untuk diunggah di medsos.

Lama-lama usaha ini berjalan seiring banyaknya pembeli. Setelah punya simpanan uang yang cukup, saya mulai berani jadi reseller dari buku-buku yang diterbitkan oleh Marjin Kiri.

Waktu itu menjadi reseller Marjin Kiri, saya beli satu judul satu eksemplar. Dengan pola tersebut, kalau tidak laku, bisa saya baca sendiri. Jadi tidak rugi juga.

Saya juga tidak mengandalkan penjualan via daring saja. Ketika berencana pulang ke Makassar, saya woro-woro ke teman-teman kalau ada yang mau dibawakan buku. Lumayan kan, mereka tidak perlu bayar ongkir [ongkos kirim]. Apalagi harga buku di Makassar rata-rata lebih mahal 5%—10% dibandingkan dengan wilayah Jawa.

Jadi, awal mula BawaBuku ini tidak direncanakan atau di luar harapan sama sekali. Saya hanya menjalani karena senang dan merasa tidak rugi manakala dikerjakan.

Fase selanjutnya, ketika berkesempatan datang ke Post Bookshop & Press [Toko buku independen di Pasar Santa, Jaksel], saya sempat berpikir bakal seru banget ketika BawaBuku memiliki toko fisik, sekaligus digunakan untuk diskusi 5 sampai 10 orang.

Keinginan tersebut mendapatkan dukungan dari teman-teman. Toko fisik perdana BawaBuku berlokasi di Sarang Building, Bantul [galeri seni milik seniman Jumaldi Alfi], selama 14 bulan dari Oktober 2020 hingga Desember 2021.

Akhir tahun 2021, saya dan mitra, Dimas memutuskan untuk menutup toko karena tidak ada pemasukan. Biaya operasional lebih besar dan tidak dapat ditutup karena pengunjung tidak ada akibat pandemi Covid-19. Fase itu benar-benar terpuruk karena banyak uang pribadi kami yang tersedot di BawaBuku. Secara pribadi, saya juga dikejar deadline tesis S2 di UGM, dan persoalan lain yang mesti diselesaikan. Semua datang bersamaan.

Pelajaran apa yang didapatkan dari keterpurukan itu?
Waktu itu kami tersadarkan bahwa dari usaha ini hanya dapat pride saja. Kami masih muda, di usia belum genap 25 tahun sudah punya bisnis sendiri di Yogyakarta. Bayangkan saya anak rantau dari Bulukumba, 6 jam dari Makassar, sudah berpenghasilan sendiri. Jadi, pada waktu itu belum terpikir menjalankan BawaBuku secara benar dan bertanggung jawab. Selain itu, saya juga  belum muncul kesadaaran untuk berkomitmen terhadap industri literasi.
 

 

Suasana luar BawaBuku

Suasana BawaBuku (Sumber gambar: BawaBuku)

 

 

Interior Toko Buku Independen BawaBuku

Interior Toko Buku Independen BawaBuku

 

Bagaimana selanjutnya fase di Taman Sari?
Taman Sari ini juga di luar bayangan. Selapas dari Sarang, yang pertama kali saya rencanakan adalah mencari tempat untuk menaruh buku-buku sebelum dikembalikan ke penerbit. Melalui bantuan teman-teman, saya bisa pindah ke Taman Sari.

Semua berkat jejaring pertemanan dan komunitas. Kebetulan pemilik Arka Coffee & Space yang bersisian dengan BawaBuku, teman saya. Dia menawarkan untuk menggunakan ruangan di sebelah Arka Space untuk menaruh buku.

Sembari menunggu proses mengembalikan buku, teman-teman tetap memajang buku. Sekali lagi pada waktu itu, saya belum terbayang sama sekali bakal membuka toko buku fisik lagi. Namun, BawaBuku ini memang anak bandel.

Ternyata, yang datang ke toko buku ini banyak sehingga mendongkrak angka penjualan. BawaBuku dan Arka Coffee & Space saling menguatkan dalam promosi. Konsumen BawaBuku datang ke Arka Coffe, begitu juga sebaliknya. Market sharing jadinya. Tanpa terasa Oktober ini BawaBuku sudah masuk tahun ke-3.

Baca Juga: Sejarawan JJ Rizal Sebut Penamaan Penerbit Indie Keliru, Ini Alasannya

Apa yang menjadi ciri khas BawaBuku yang menonjol dibandingkan dengan toko buku mandiri lainnya?
Pastinya, calon pembeli akan merasakan keramahan. Komunikasi dua arah bakal terjalin karena penjaga di BawaBuku sangat paham buku sehingga dapat membantu memberikan referensi bacaaan.

Komunitas diskusi yang dibangun di sini [Taman Sari] pun selalu menyajikan bahan diskusi yang menarik, khususnya tentang isu perempuan. Narasi kecil yang dibangun dari diskusi selalu hidup dan mencerahkan.

Selain itu, Buat saya, toko buku mandiri itu merupakan bagian dari proses negosiasi terhadap selera [bacaan] bahkan sangat terbuka dalam mengintervensi selera. Saya memang tidak dapat mengintervensi pilihan bacaan sesorang. Namun, di Taman Sari, terjadi proses negosiasi itu. Proses di mana kami mengurasi buku yang dipajang dengan lebih seksama.

Saya pernah mendengarkan wawancara mas Teddy [Teddy W. Kusuma, Pengelola Post Book Shop & Press] yang menyatakan bahwa toko buku kecil itu secara  makna memang kecil tempatnya. Namun, proses kurasinya menjadi penting dan proses tersebut tidak menutup kemungkinan menjadi subjektif.

Jadi, tanpa ada keperpihakan atau nilai subjektivitas tersebut maka BawaBuku hanya bergerak mengikuti industri buku raksasa yang biasa-biasa. Harus ada pembeda atau berciri khas.

Hal apa yang membuat Anda merasakan keberadaan BawaBuku membawa manfaat atas rekam jejak karier seseorang?
Diskusi pertama di BawaBuku adalah bincang buku Maternal Horror (Memaksa Ibu Menjadi Hantu) karya Anissa Winda Larasati. Saya pada waktu itu menawarkan ke penerbit mengulas buku itu di Taman Sari.

Ide itu mendapatkan sambutan karena Maternal  Horror belum pernah menjadi bahan diskusi. Jadi, momentum itu menjadi yang pertama. Selanjutnya, saya mendengar mendengar bahwa mbak Anissa dapat satu forum dengan sutradara Joko Anwar untuk mendiskusikan buku itu di ajang Jogja-Netpac Asian Film Festival 2022.

Saya sangat senang bahwa BawaBuku menjadi bagian dan bahkan mengawali proses karya mereka. Rasa itu tidak dapat ditukar dengan apapun.

Apa mimpi selanjutnya dari seorang Ainun?
Saya  ingin suatu saat nanti BawaBuku memiliki toko sendiri atau punya working space sendiri. Saya bangga dengan BawaBuku karena tidak pernah menyusahkan. Dari proyek senang-senang sekarang bisa menghidupi diri sendiri dan ekosistem di dalamnya. Jadi, saya juga dapat menjaga komitmen ke penerbit karena tidak memiliki utang sama sekali. Buat saya, trust dan menjaga komitmen itu prioritas utama.

Baca Juga:  Pakar Bisnis Ungkap Penyebab Bangkrut & 5 Tren Toko Buku di Masa Mendatang 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor : Roni Yunianto

SEBELUMNYA

Warung Mak Beng Bali Terbang ke Jakarta Demi Puaskan Pecinta Kuliner, Cek Lokasinya

BERIKUTNYA

Wuling Luncurkan Facelift Almaz RS di GIIAS 2023, Begini Penampakannya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: