Ilustrasi produk (Sumber gambar: Unsplash/Artem Beliakin)

Hypereport: Kelokalan & Autentik jadi Kekuatan Brand Premium Tanah Air

12 June 2023   |   19:48 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Sejumlah merek premium produk asli Indonesia di bidang fesyen berhasil unjuk gigi, tidak hanya di pasar dalam negeri tapi juga luar negeri. Unsur kelokalan, keunikan, dan ciri khas yang dimiliki menjadi penyebab produk yang dihasilkan banyak digandungi oleh para konsumen. 

Nama-nama merek premium lokal yang sudah tidak asing bagi para pencinta fesyen antara lain Niluh Djelantik, Jetalla’ Anneiu, Zilia Leather, dan masih banyak lagi. 

Baca juga laporan terkait: 
Hypereport: Saat Barang Mewah Jadi Tolak Ukur dan Validasi Eksistensi
Hypereport: Value Tinggi di Balik Preloved Luxury Brand 
Hypereport: Mencoba Tetap Berkelas Walau dengan Barang Bekas

 
Jetalla’ Anneiu adalah merek yang dibuat oleh pasangan suami dan istri Paul & Ann. Dalam lamannya, mereka disebut menemukan kecintaan terhadap kerajinan kulit. Keduanya langsung jatuh cinta dan terpesona dengan keindahan, tekstur, aroma, daya tahan dan segala sesuatu tentang kulit ketika pertama kali menyentuhnya.
 
Paul & Ann juga telah berkeliling Eropa guna mempelajari keahlian dalam kulit terbaik dan rahasia metode jahitan tangan tradisional yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Rahasia ini telah lama dilupakan karena salah satunya adalah industrialisasi. Merek ini membuat produk yang dihasilkan di studio khusus di Bandung, Jawa Barat.
 
Sementara itu, dikutip dari laman resminya, Niluh Djelantik merupakan merek aksesori mewah, dan sepatujadi produk utama dari merek ini. Merek Niluh Djelantik yang telah sampai ke pasar global menggunakan nama dari sang desainer, yakni Niluh Putu Ary Pertami Djelantik.
 
Wanita kelahiran Bali itu memulai usahanya dengan merek Nilou pada 2003 silam. Pada saat itu, dia hanya memiliki dua pengrajin sepatu lokal dan berhasil membuat supermodel Gisele Bundchen tertarik ketika mengunjungi toko kecilnya.
 
Tidak lama kemudian, merek Nilou melanglang buana sampai ke Eropa, Australia, Asia, dan juga Selandia Baru. Merek ini mengalami perubahan atau rebranding pada 2008 menjadi Niluh Djelantik.
 
Selain menawarkan kenyamanan dalam desain yang stylish, produk Niluh Djelantik memiliki estetika yang khas dan dekat dengan akar serta warisan budaya Bali. Tidak hanya itu, produk yang dihasilkan juga dituliskan mewakili para pelanggan, wanita modern yang selalu bepergian, mencintai kualitas, dan juga menghargai berbagai hal indah dalam kehidupan.
 
Harga produk yang ditawarkan oleh brand-brand asal Indonesia seperti Niluh Djelantik dan Jetalla’ Anneiu beragam, yakni dari jutaan rupiah sampai dengan puluhan juta rupiah. Tidak hanya itu, mereka juga memastikan bahwa produk yang dibuat merupakan buatan tangan atau handmade dengan bahan atau material berkualitas yang terjaga. 
 

Kualitas 

Terkait dengan produk premium, banyak masyarakat juga yang masih menganggap barang dari luar negeri lebih baik dibandingkan dengan produk dalam negeri. Padahal tidak demikian. Dorongan untuk membuktikan bahwa kualitas merek lokal yang bisa bersaing dengan produk luar negeri membuat pendiri Zilia Leather tergugah. 

Shelli Tanzilia, Co Founder & Creative Marketing di Zilia Leather, mengatakan bahwa begitu banyak orang, khususnya di Indonesia, yang berpikir bahwa produk yang baik dan indah hanya bisa didapatkan dari luar negeri. 

Padahal, Indonesia adalah negara yang kaya akan seni dan sumber daya manusia, seperti pengarjin kulit. “Dan pemilihan tas branded dari negara luar biasanya menjadi pilihan untuk memiliki tas bagus dalam kualitas, gaya fashion, dan branding. Jadi, tim Zilia Leather hadir dan ingin memperkenalkan karya produk lokal juga dapat bersaing secara profesional,” katanya kepada Hypeabis.id. 

Tidak hanya itu, pendirian merek ini tidak dapat dilepaskan dari mimpi untuk dapat menjual produk tas dari dalam negeri dibeli oleh para pelanggan dari luar negeri. Kemudian, alasan kecil lainnya adalah belum ada brand lokal premium dengan mood atau vibe seperti tas luar negeri dari cara gaya dan konsep. 

Kondisi itu juga yang menjadi salah satu alasan perusahaan ingin memiliki brand dengan konsep yang berbeda dari yang lain, yakni dengan cara menampilkan mood branding yang unik seperti yang dimiliki pada saat ini. 

Dia menuturkan, produk-produk yang dihasilkan oleh Zilia Leather memiliki sejumlah keunggulan untuk meraih pangsa pasar premium di dalam negeri. Pertama adalah bahan kulit yang digunakan didatangkan dari luar negeri, seperti Italia, Denmark, Polandia, Jepang, Bangladesh, dan sebagainya. 

Kedua, produk yang dibuat dikerjakan dengan sangat rapih. Ketiga, keunggulan lainya adalah produk perusahaan merupakan hasil pembuatan manual yang dikerjakan oleh pengrajin profesional. Menurutnya, satu produk akan dikerjakan oleh satu pengrajin. 

“Diiringi dengan brand image yang kami bangun, Zilia Leather memiliki gaya premium agar setiap customer yang melihat, memilih dan, memakai tas kami, dapat merasakan nilai art & emosi yang berbeda dengan produk lainnya,” katanya. 

Menurutnya, produk Zilia Leather adalah untuk mereka yang mengetahui nilai diri sendiri dan lebih suka dengan produk yang anggun. Namun, mereka tidak ingin apa yang digunakannya sama dengan yang dipakai oleh orang lain. 

Dalam meraih pasar premium di dalam negeri, perusahaan memiliki dua strategi yang dijalankan. Pertama adalah dengan cara mengggunakan jasa pemengaruh fesyen yang tepat dan cocok dengan gaya produk Zilia Leather. Kedua, perusahaan membuat branding produk terlihat bagus dengan cara menyajikan foto produk yang baik, kerapihan kualitas produk, packaging, dan sebagainya. 

Dia menuturkan, perusahaan menjalankan strategi pertama pada 2015-2019. Sementara itu, sejak 2019 sampai dengan saat ini, mereka fokus pada strategi kedua, yakni membangun brand image. Menurutnya, Zilia Leather juga menjual emosi dan seni selain produk. 

“Dan bila branding sudah sesuai dengan visinya, produk otomatis menjadi lebih menarik, menurutku ini peluang besar untuk customer setidaknya tertarik atau melirik produk Zilia Leather terlebih dahulu,” katanya. 

Saat ini, salah satu pasar premium di dalam negeri adalah generasi milenial dan generasi z. Mereka memiliki minat yang tinggi terhadap produk premium lokal lantaran banyak yang teredukasi. 

“Banyak yang sudah teredukasi akan produk premium & indahnya karya lokal, bahwa produk lokal premium bisa menyaingi produk luar negri. Apa lagi saat ini semakin terkenal dengan sebutan estetis, dan kami sebagai produsen & penjual harus bisa ikut & menyesuaikan dengan zaman estetis ini,” katanya.

 
Pakar Branding dan Pemasaran Yuswohady mengatakan bahwa brand premium lokal Indonesia yang ada saat ini agak sulit jika harus bersaing dengan merek-merek global seperti Luis Vuitton, Hermes, Chanel, dan sebagainya.
 
Ada beberapa alasan merek premium lokal bersaing dengan merek global. Pertama adalah merek dari dalam negeri membutuhkan jam terbang yang lebih lama. Untuk diketahui, merek seperti Luis Vuitton, Hermes, dan sebagainya sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu sehingga memiliki cerita yang kuat. Cerita dan sejarah yang ada sejak ratusan tahun itu merupakan kekuatan brand tersebut.
 
Dia menuturkan bahwa karakter dan cerita yang dibangun sejak lama oleh merek global seperti Luis Vuitton, Hermes, dan sebagainya adalah yang dijual oleh merek tersebut kepada para konsumennya di dunia.
 
Kedua, customer brand global tersebut sudah memiliki orientasi dunia, sehingga merek dari dalam negeri kerap dianggap bukan level mereka. Dengan begitu, maka brand premium lokal bisa mengambil pangsa pasar yang berada di bawah merek-merek global itu.

Segmen di bawahnya, bukan konsumen Luis Vuitton atau Hermes,” katanya kepada Hypeabis.id.
 
Untuk menarik pasar premium yang berbeda dari konsumen merek global, jenama lokal harus menguatkan kelokalan dan keunikan yang mereka miliki. Selain itu, mereka juga harus memiliki cerita yang autentik dan eksotik.
 
Cerita tentang merek produk yang autentik dan eksotik itu dapat membuat segmen generasi milenial dan generasi z tertarik. Bukan tanpa sebab, kedua generasi tersebut memiliki awareness terhadap lokalitas yang kian tinggi.
 
Mereka yang telah terpapar internet sejak kecil tidak terpukau dengan dunia luar seperti Amerika Serikat atau Eropa lantaran sudah terbiasa menjelajah dunia dengan internet. Jadi, mereka justru kembali ke Indonesia yang memiliki keaslian untuk kaum muda. Kedua generasi ini lebih menghargai nilai-nilai lokal.
 
Pandangan generasi milenial dan z terhadap global berbeda jika dibandingkan dengan generasi yang lebih tua, yakni generasi x dan baby boomers. Kedua generasi yang lebih tua ini akan terpukau ketika melihat Amerika Serikat atau Eropa lantaran pada zaman dahulu belum ada internet.
 

Model Bisnis

Yuswohady juga menilai bahwa merek-merek global itu memiliki model bisnis yang kerap berbeda dari merek lokal. Para produsen merek global yang ada saat ini memilih membatasi pemilik produk mereka dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa pemiliknya masuk dalam orang-orang elit yang tidak bisa diikuti oleh sembarang orang.
 
Kondisi itu agak berbeda dengan kebanyakan brand yang sebisa mungkin memiliki banyak pelanggan untuk produk yang dihasilkannya. Mereka menaikkan harga barang yang dijual setinggi mungkin untuk membatasi pelanggannya.
 
Pada saat ini, tidak banyak merek yang mampu menggunakan bisnis seperti yang dilakukan oleh para pemilik merek global itu. Dia menilai bahwa merek lokal tidak mampu untuk menerapkan strategi bisnis seperti itu. 

Baca juga: Hypereport: Menelusuri Kehidupan Perantau di Ibu Kota

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

SEBELUMNYA

Simak Pengumuman Menarik dari Xbox Games Showcase & Starfield Direct 2023 

BERIKUTNYA

Keunggulan Internet 5G di Berbagai Sektor Pendidikan, Pertambangan, dan Bisnis

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: