Ilustrasi brand mewah (Sumber gambar: Unsplash/Kouji Tsuru)

Hypereport: Value Tinggi di Balik Preloved Luxury Brand

11 June 2023   |   18:58 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Like
Barang fesyen preloved alias bekas pakai semakin digemari dalam beberapa tahun terakhir. Kesadaran akan sustainable atau keberlanjutan untuk meminimalisir pencemaran lingkungan dengan memperpanjang usia pakai barang semakin tumbuh, terutama di kalangan generasi muda.

Co-founder dan COO Tinkerlust, Aliya Amitra, mengatakan barang preloved menjadi tren bagi kalangan generasi Z yang sudah sadar akan bahaya limbah fashion. Tidak dipungkiri, mengutip laporan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), industri fesyen menjadi penyumbang pencemaran lingkungan kedua di dunia. 

Industri ini menghasilkan 8 persen dari emisi karbon, 20 persen limbah air, dan seperlima dari 300 juta ton plastik yang diproduksi setiap tahun pada skala global. Sementara itu, laporan dari Morgan McFall-Johnson di Weforum, industri tekstil menghabiskan 79 miliar kubik air pada 2017. 

Baca juga laporan terkait: 
> Hypereport: Saat Barang Mewah Jadi Tolak Ukur dan Validasi Eksistensi

> Hypereport: Mencoba Tetap Berkelas Walau dengan Barang Bekas
> Hypereport: Kelokalan & Autentik jadi Kekuatan Brand Premium Tanah Air
 
Tentu hal tersebut tidak lepas dari kebiasaan masyarakat yang ingin produk baru. Laporan berjudul Tinkerlust Impact Report 2022 - Unlocking Fashion Sustainability & Circular Economy, sekitar 63,46 persen masyarakat Indonesia lebih memilih membeli produk fast fashion. Harga yang murah dan gaya yang lebih kekinian menjadi alasannya. 

“Limbah fesyen tinggi apalagi banyak clothing murah, sekali pakai, kualitas gak bagus, dibuang,” ujarnya kepada Hypeabis.id beberapa waktu lalu.

Melakukan edukasi sejak 2015, Tinkerlust katanya melihat seiring waktu mulai banyak masyarakat yang memilih untuk membeli dan memakai barang preloved. Namun bukan berarti barang bekas ini tidak memiliki nilai jual dan kondisinya buruk loh. 

Saat ini, banyak barang preloved dari luxury brand fashion hadir seperti Dior, Gucci, Chanel, Louis Vuitton, Hermes, Prada, Versace, dan lainnya. Bahkan barang fashion vintage seperti tas Hermes keluaran 1980an bisa dijual dengan harga tinggi. Lagi pula, saat ini sudah banyak tempat perbaikan tas yang bisa dimanfaatkan seller maupun pembeli.

Aliya menyebut perkembangan penjualan dan peminat luxury brand cukup pesat di Tinkerlust setelah pandemi Covid-19. Platform jual beli barang luxury preloved ini mencatat peningkatan transaksi hingga empat kali lipat. 

Menurutnya, ketika pandemi, banyak orang yang tidak bisa ke luar negeri. Ada pula yang mungkin memiliki kebutuhan lantas menjual produk luxury fesyen merek.  kebutuhan jual cepat barang. “Kemudian ketika melihat ada supply banyak, harga miring, akhirnya transaksinya tinggi,” ungkapnya. 

Untuk kategori pembeli, memang usia jelang 30 tahun hingga 40 tahun ke atas terbilang mendominasi pembelian barang mewah atau luxury. Kendati demikian, tidak sedikit mereka yang berusia awal 20an mencari barang branded atau produk bermerek. “70 persen transaksi dari tas,” imbuhnya.

Aliya menyampaikan tingginya transaksi luxury preloved di Tinkerlust juga tidak lepas dari keaslian dan kualitas barang. Tinkerlust memiliki tim dan proses autentikasi untuk barang luxury. “Kita ada kerja sama dari Amerika dan Eropa yang memberikan sertifikasi kalau barang itu asli,” tambahnya. 

Tidak hanya keaslian, pihaknya juga mengecek kondisi barang. Apakah barang tersebut terbilang baru atau memang sering dipakai. Kelengkapannya pun selalu diperhatikan. Seperti tas, semakin lengkap aksesorisnya seperti box atau sarung tas, harga jualnya kata Aliya akan semakin bagus. Proses ini hanya memerlukan waktu 24-48 jam untuk akhirnya bisa ditampilkan di dalam website atau marketplace Tinkerlust. 
 

Bazaar Preloved Luxury Brand Terbesar

Jika Tinkerlust berbentuk platform atau marketplace, Irresistible Bazaar menjadi bazaar preloved luxury terbesar di Indonesia yang sudah melaksanakan lebih dari 30 kali event sejak berdiri 2015 lalu. Founder Irresistible Bazaar dan Irress Urban Bazaar, Marisa Tumbuan menyebut lebih dari 80 seller atau tenant menyediakan produk preloved barang fesyen mewah dari desainer lokal maupun internasional pada setiap acara yang dibuatnya. 
 

Ilustrasi brand (Sumber gambar: Unsplash/Jules)

Ilustrasi brand (Sumber gambar: Unsplash/Jules)


“Selalu sold out. Jadi memang seller profesional dan mereka sudah memiliki follower fanatik yang selalu hadir melihat koleksi mereka di bazar saya,” tuturnya.

Ya, seller yang ikut dalam bazar ini pun tidak asal. Mereka mengikuti proses penilaian atau kurasi yang ketat. Marisa dan tim sangat teliti melihat keaslian dan kondisi barang mewah yang akan dijual. Sebagai sesama penjual barang preloved, dia tentu mengetahui profil pasti peserta bazaar dan kemampuan mereka dalam mengkurasi luxury item

Bisa dikatakan, semua barang atau brand fashion mewah ada di Irresistible Bazaar. Termasuk koleksi desainer yang sudah meninggal. “Itu pasti diburu. Selama kondisi bagus bisa dijual. Chanel vintage keluaran 1970an pun bisa dijual. Kadang masuk barang dicari kolektor,” jelas Marisa. 

Dia juga menilai peminat barang preloved luxury brand semakin banyak. Bukan mereka tidak mampu membeli barang baru, namun tidak jarang beberapa pembeli mencari barang koleksi yang tidak dijual lagi saat ini dan masih layak pakai. 

Selain itu, kampanye keberlanjutan untuk barang fesyen pun semakin gencar digaungkan. Alhasil terjadi perluasan market ke generasi yang lebih muda. 

Melihat potensi ini, Irresistible Bazaar lantas membuat event serupa di beberapa kota, tidak hanya di Jakarta saja. Bahkan Marisa membuat Irressavenue, luxury concept store yang mengusung konsep one stop shopping bagi pencinta luxury brand di Indonesia. 

Tidak henti di situ, Marisa sedang menyiapkan Irressneaker Bazaar pada awal September. Bazaar khusus untuk para pecinta sneaker streetwear ini turut mengajak lokal brand loh. 


Jadi Investasi 

Rangga Dewamoela, mantan personel boyband SMASH tidak memungkiri menjadi salah satu penggemar barang fesyen mewah. Sebagai salah satu publik figur yang sempat memiliki jargon spekta ini, dia dituntut memberikan penampilan terbaik dari segi fesyen.

Namun demikian, Rangga termasuk orang yang menjadikan barang mewah sebagai investasi. Dia kerap menjual produk luxury brand yang tak lagi terpakai. 

Rangga memiliki akun Instagram khusus untuk menjual barang preloved ini. Menurutnya, peminatnya cukup banyak. Selain karena percaya dengan keaslian produk, ada value atau nilai tersendiri ketika barang tersebut bekas dipakai public figure. Alhasil, penjualannya tidak membutuhkan waktu lama, cukup membutuhkan waktu beberapa menit setelah foto produk diunggah.

Rangga menyampaikan beberapa barang bahkan memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Terutama produk fesyen vintage. Terkadang material yang dipakai produk tersebut lebih bagus dari yang dirilis saat ini.

“Barang preloved harganya terkadang naik. Aku pernah jual coat dari RAF Simons seharga 2 digit, under Rp30 juta. Untungnya lumayan karena barangnya limited, yang tahu orang-orang tertentu,” ungkapnya. 

Baca juga: Menyingkap Industri Duplikasi Tas Branded dan Tren Konsumen Indonesia

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Gita Carla

SEBELUMNYA

CRT, Solusi Jitu Atasi Gagal Jantung

BERIKUTNYA

5 Resep Olahan Jeruk yang Bikin Segar

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: