Ilustrasi mudik. (Sumber gambar: Hypeabis/Suselo Jati)

Hypereport: Menilik Sejarah Mudik hingga Cerita Kerinduan Para Perantau

17 April 2023   |   16:20 WIB
Image
Gita Carla Hypeabis.id

Like
Jalanan utama Jakarta yang terasa padat mulai terlihat longgar. Orang-orang mulai bergerak meninggalkan kota menuju desa untuk menemui keluarga tercintanya. Setidaknya itulah gambaran yang biasa terlihat ketika musim mudik tiba, yang sedari awal, selalu menjadikan Batavia atau Jakarta sebagai pusat ceritanya.

Merayakan Hari Raya Idulfitri bersama dengan orang tua dan keluarga besar menjadi sebuah keharusan. Sehingga perantau rela bersusah payah kembali ke kampung halaman untuk merayakan hari kemenangan.

Secara epistemologi mudik berarti pulang kampung halaman. Sering dikaitkan memaknai kata mudik berasal dari bahasa jawa yang berarti “mulih disik” atau dalam bahasa Betawi kata mudik berarti udik atau kampung. Sedang dalam bahasa Indonesia dari pulang dulu.
 

Tak ada yang bisa memastikan awal mula tradisi ini dimulai di Tanah Air. Namun, kegiatan mudik sudah berlangsung sejak zaman dahulu. Mulai dengan cara berjalan kaki atau menggunakan kendaraan tradisional seperti delman atau andong.

Baca juga: Mau Mudik Jalur Darat? Yuk Pantau Kemacetan Arus Lalu Lintas dengan 7 Aplikasi Ini

Sosiolog Universitas Nasional, Sigit Rochadi menjelaskan fenomena ini diperkirakan terjadi berkisar 1940 hingga 1950-an. “Mudik itu tradisi yang diberikan oleh majikan kepada para pembantu mereka, untuk memberi istirahat dan tengok keluarga biasanya selama satu minggu, pada 3 hari sebelum lebaran dan 3 hari setelahnya,” jelas Sigit kepada Hypeabis.id.
 
Fenomena mudik semakin membudaya ketika fase industrialisasi semakin merebak di kota-kota Indonesia. Industrialisasi besar-besaran ini terjadi pada 1970 hingga 1980-an, menyebabkan orang desa bepergian ke kota untuk mencari pekerjaan.

Dalam laporan khusus kali ini, Hypeabis.id coba mengangkat cerita seputar tradisi serta perantau yang ingin pulang kampung, bertepatan dengan momentum mudik Lebaran. Berikut ulasannya: (klik sub-judul untuk membaca tulisan lengkapnya).
 

1. Hypereport: Cerita-Cerita Tak Terungkap tentang Mudik

Arus pergerakan penduduk memang terbilang padat menjelang hari raya Idulfitri. Bahkan, tak sedikit yang rela menempuh perjalanan satu malam demi berkumpul bersama sanak, serta keluarga merayakan momen kemenangan di kampung halaman. 

Mobilitas yang besar ini membuat mudik disebut-sebut sebagai budaya nasional. Sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, Indonesia menjadikan hari raya Idulfitri sebagai momen untuk kembali ke desa tempat orang dilahirkan dan dibesarkan.
 
Tak ada yang tahu pasti kapan tradisi ini terjadi. Namun, ada pendapat yang menyebut bahwa tradisi ini sebetulnya bermula dari para asisten rumah tangga (ART) yang hendak pulang ke desanya setelah bekerja di kota berkisar 1940 hingga 1950an.
 

2. Hypereport: Beragam Cara Ditempuh untuk Merayakan Hari Kemenangan di Kampung Halaman

Berbagai cara dilakukan oleh banyak orang yang merantau dan meninggalkan tempat kelahirannya untuk melepas rindu dan berkumpul bersama pada hari kemenangan.
Beberapa di antara mereka rela menempuh jarak ratusan kilometer dengan menggunakan kendaraan pribadi, bahkan roda dua. Sementara itu, lainnya memilih menggunakan transportasi umum agar cepat sampai di tempat orang tua berada demi merayakan hari yang suci itu.

Adalah Fazar, seorang karyawan swasta di Jakarta, merupakan salah satu dari banyak orang yang akan melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman dengan sepeda motor meski menempuh waktu sekitar 5-7 jam perjalanan. Pria yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat, itu memiliki sejumlah alasan memilih kendaraan roda dua dibandingkan dengan mobil atau transportasi umum untuk kembali ke tanah kelahiran. 

Baginya, mudik ke kampung halaman dengan sepeda motor memiliki sensasi tersendiri yang tidak didapatkan pada momen-momen lain. Saat menunggangi kuda besi, bertemu dengan para pemudik lain di jalanan, berjalan beriringan, atau beristirahat di tempat yang sama sambil berbincang, menjadi bagian yang kerap dialami dan memberikan kesan tersendiri.

3. Hypereport: Kisah Para Penjaga Hari Raya

Tidak sedikit yang harus merelakan waktu Lebaran demi menjaga perayaan ini berjalan lancar. Layaknya sutradara, mereka lah yang bekerja di balik layar. Seperti Zaidan Ramli yang hampir separuh waktu pengabdiannya menjadi Pramugara tidak merayakan momen Idulfitri bersama keluarga besar.

Ada juga Komisaris Polisi (Kompol) Multazam Lisendra yang harus melancarkan jalannya hari raya dengan menjaga keamanan untuk warga sekitar. Dia juga mengawasi Layanan gratis ‘Titip Rumah' dan ‘Titip Motor’, yang diusungnya untuk mencegah tindak pidana pencurian rumah kosong dan pencurian kendaraan motor saat ditinggal mudik di wilayah Jagakarsa.

Fakhrizal Fakhri, jurnalis yang bekerja di sebuah media swasta, juga hampir 10 tahun sejak bekerja sebagai jurnalis di Jakarta tidak pernah pulang ke kampung halamannya di Medan ketika hari raya tiba.

 
4. Hypereport: Lebaran di Negeri Orang, Ada Cerita Seru dari London hingga Nanjing

Ramadan dan Lebaran memang selalu dinanti umat muslim di belahan dunia manapun. Namun, saat merayakannya jauh dari keluarga, tentu saja ada sesuatu yang kurang dan mengganjal di hati. Terlebih kemeriahan momen Lebaran di tanah rantau tentu berbeda dengan di saat berada di kampung halaman.

Seperti dialami Hasya Nindita, pelajar yang sudah 6 bulan menempuh S2 di Goldsmiths College of London, program MA Race, Media and Social Justice. "Iya, ini pertama kali Lebaran jauh dari keluarga. Dulu pernah juga pas kerja di Jakarta. Cuma sekarang beda ya, jaraknya tuh jauh banget," papar perempuan berusia 25 tahun itu saat dihubungi Hypeabis.id.

Baca juga: 5 Ide Merayakan Lebaran Tanpa Mudik Tapi Tetap Asyik

Ada juga kisah Lina yang tak kalah seru. Perempuan asal Pemalang itu sudah 3 tahun tinggal di Jerman. Dia saat ini sedang mengikuti program Ausbildung, semacam pendidikan keahlian sembari bekerja sebagai koki di sebuah restoran ternama di Munchen.

Namun, kisah Lina cukup menjadi antitesis bagi perantau. Alih-alih menikmati lebaran di kampung halaman, Lina justru lebih betah merayakannya di negeri orang. Sebab, dia selalu risih terhadap basa-basi pertanyaan yang diajukan masyarakat Indonesia saat lebaran tiba.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Fajar Sidik
 

SEBELUMNYA

Enggak Cuma Drakor, 3 Drama China Ini Juga Seru Loh Buat Ditonton

BERIKUTNYA

4 Tip Outfit Lebaran yang Nyaman dan Stylish dari Zaskia Sungkar

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: