Ilustrasi menonton film (Sumber gambar: Freepik)

Mengapa Film-Film Lawas Menggunakan Bahasa Indonesia Resmi?

10 February 2023   |   18:40 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Adegan Suzzanna meminta dibuatkan 200 tusuk sate di film Sundel Bolong begitu ikonik. Meski film tersebut pertama kali tayang pada 1981, hingga sekarang adegan itu masih saja diingat dan menjadi yang ditunggu setiap kali menonton ulang Sundel Bolong.

Ada banyak film-film Suzzanna lain yang berkesan. Mulai dari Ratu Ilmu Hitam, Beranak Dalam Kubur, Malam Satu Suro, hingga Ratu Buaya Putih. Hampir semua film tersebut mencapai era keemasan pada tahun 80-an.

Baca juga: Review Film Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang

Selain adegan-adegannya yang ikonik, film-film Suzzanna dan film lainnya yang hadir pada era-era awal kemerdekaan juga memiliki cara bertutur lisan yang khas. Film-film tersebut menggunakan pedoman Bahasa Indonesia yang baik.

Pengamat film nasional Hikmat Darmawan mengatakan bahwa cara bertutur memang menjadi perhatian penting bagi para sineas era-era awal. Ada beberapa hal yang membuat film Suzzanna dan film-film era awal kemerdekaan tampak menggunakan bahasa Indonesia yang baik, bahkan hingga sekarang.

Secara sosiologis, pada era tersebut bisa dibilang jarak antara bahasa Indonesia tulis dan bahasa Indonesia lisan tidak terlalu besar. Dari segi struktur, kalimat, dan kosa kata semuanya tidak berjarak. Dalam artian, bahasa Indonesia yang resmi, tidak resmi, dan lisan tidak memiliki beda yang signifikan.

Tidak adanya perbedaan tersebut membuat bahasa tulisan, yang umumnya menggunakan struktur kalimat yang baik, juga dipakai di bahasa lisan. Jadi, cara bertutur yang demikian memang lumrah dilakukan semua orang pada zamannya.

Penggunaan bahasa yang sekarang mungkin dianggap kaku, dahulu dianggap sebagai sebuah kewajaran karena sekat sosial budayanya yang masih tidak terlalu jauh. Memang, ada bahasa-bahasa prokem yang berkembang, tetapi pada masanya hal itu nyaris seperti bahasa tersendiri dan menjadi minoritas.

Bahasa Indonesia terbilang menjadi digdaya dan dipakai sebagai rujukan utama. Bahkan, bahasa daerah juga tidak terlalu hidup pada masa tersebut.

Baca juga: 7 Film Hollywood yang Menyelipkan Kosakata Bahasa Indonesia

“Kalau sekarang kan berbeda, bahasa lisan sudah tercampur-campur dengan bahasa slang hingga bahasa Inggris juga terkadang sering dimasukkan dalam percakapan sehari-hari,” ujar Hikmat kepada Hypeabis.id.

Efeknya, kata Hikmat, jarak antara bahasa lisan dan bahasa tulis menjadi lebar. Saat ini orang yang menggunakan bahasa tulis menjadi bahasa lisan akan dianggap kaku.

Selain dari sisi sosiologis, Hikmat menyebut kebijakan negara juga punya pengaruh yang besar. Saat itu ada aneka aturan, baik tertulis maupun tidak, yang membuat para sineas mau tidak mau harus mengikutinya.

Salah satunya adalah kebijakan negara terkait film Indonesia harus menghadirkan hal kultural dan edukatif. Oleh karena itu, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar semacam jadi prasyarat.

Kemudian, hadirnya para sastrawan di dunia film juga ikut mendorong penggunaan bahasa Indonesia yang baik adalah keharusan.
 

Poster-poster film Suzanna (Sumber gambar: Filmindonesia.or.id)

Poster-poster film Suzanna (Sumber gambar: Filmindonesia.or.id)

“Mungkin ini jarang ditelaah, tetapi  di dalam kepenulisan skenario sering kali ada keterlibatan sutradara yang berlatar teater atau sastra. Misalnya, dahulu ada Usmar Ismail, Arifin C Noer, Sjumandjaja, Asrul Sani, hingga Teguh Karya,” imbuhnya.

Kehadiran mereka, baik terlibat menjadi kru film maupun konsultan, sangat membantu dalam hal perkembangan naskah. Akhirnya, naskah yang keluar pun menjadi berkualitas dan memiliki cara bertutur yang khas.

Baca juga: Daftar Film Indonesia Tayang Januari 2023, Horor Mendominasi

Sementara itu, pengamat film nasional Yan Widjaya mengatakan bahwa era-era awal perfilman Indonesia memang dipenuhi dengan bahasa-bahasa sastra yang baik. Tidak mengherankan. Sebab, jika dilihat dari para bapak perfilman nasional, seperti Usmar Ismail hingga Asrul Sani selalu menggunakan pedoman bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Yan mencontohkan film Lewat Djam Malam (1954) yang menghadirkan cara bertutur yang indah meski menggunakan bahasa Indonesia yang baku. Selain itu, Kejarlah Daku Ku Tangkap (1986) yang ditulis Arsul Sani juga memiliki cara berbahasa yang baik. Menurut Yan,penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar memang seharusnya ditonjolkan di film

“Jika ditengok lagi, sineas pada tempo dahulu itu berasal dari Sumatra Barat. Sumbar ini adalah ujung pangkalnya Bahasa Indonesia atau Bahasa Melayu yang baik dan benar.” tegas Yan kepada Hypeabis.

Seniman-seniman dari daerah tersebut cenderung memiliki kekayaan bahasa dan mampu mengolah cara bertutur Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pada masa lalu, hampir sebagian besar sineas film Indonesia datang dari Sumatera Barat. Mulai dari Sukarno M Noor, Usmar Ismail, Asrul Sani, dan masih banyak lainnya.

Baca juga: Asyik, Penonton Makin Cinta Sama Film Indonesia

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

5 Kota dengan Bangunan Arsitektur Terbaik di Dunia

BERIKUTNYA

Rekomendasi Villa di Canggu Bali dengan Private Pool, Bikin Betah Staycation

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: