2023 memang menjadi babak baru pandemi Covid-19 di Indonesia. (Sumber gambar: Unsplash/Engin Akyurt)

Tren Kesehatan 2023: Ancaman Deretan Penyakit pada 2023, HIV/AIDS Bisa Outbreak

09 January 2023   |   18:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Like
Optimisme pandemi Covid-19 di Indonesia segera berakhir, tumbuh, seiring kasus yang berhasil ditekan dan meningkatnya imunitas masyarakat. Namun demikian, masalah lain muncul. Beberapa penyakit yang terabaikan selama tiga tahun ini menjadi ancaman, begitu pula dampak sisa dari infeksi SARS-CoV-2.

2023 memang menjadi babak baru pandemi Covid-19 di Indonesia. Pasalnya, tepat menyambut tahun baru, Presiden Joko Widodo resmi mencabut pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di seluruh wilayah Indonesia. Dia mengklaim Indonesia termasuk negara yang berhasil mengendalikan pandemi ini dengan tolak ukur standar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Namun demikian, epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, dr. Dicky Budiman menyampaikan pandemi Covid tetap menjadi ancaman bagi wilayah yang cakupan vaksinasinya masih rendah, booster-nya terlambat, atau pada masyarakat yang tidak bisa diberikan vaksin. Di satu sisi, tantangan kesehatan terkait dengan Covid pada 2023 akan berbeda. 

Baca jugaBikin Cemas, 4 Penyakit Ini Jadi Momok Sepanjang 2022

Dia menyebut keparahan dan kematian tidak lagi mendominasi, tetapi infeksi Covid yang berulang berpotensi merusak organ vital tubuh hingga timbul atau meningkatnya penyakit katastropik seperti diabetes, kardiovaskuler, gangguan di otak. 

“Rusaknya organ ini yang menjadi masalah di 2023 dan tahun selanjutnya,” ujar Dicky kepada Hypeabis.id, Selasa (3/2/2022). 

Dampak lainnya yakni krisis penyakit yang sebelumnya bisa dicegah melalui vaksinasi atau imunisasi, tetapi tidak terlaksana dengan baik. “Seperti polio, monkeypox, HIV/AIDS, selama ini tertahan, itu bisa outbreak,” sebutnya.

Bicara human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS), menurut data Kementerian Kesehatan selama 2018-2022, capaian target penanggulangan penyakit infeksi ini pada perempuan, anak, dan remaja masih belum optimal. Sebab, baru 79 persen Orang Dengan HIV (ODHIV) mengetahui status HIV-nya, baru 41 persen ODHIV yang diobati, dan 16 persen ODHIV yang diobati mengalami supresi virus.

Berdasarkan data modeling AEM, pada 2021 diperkirakan ada sekitar 526.841 orang hidup dengan HIV di Tanah Air, dengan estimasi kasus baru sebanyak 27.000 kasus. Sekitar 40 persen dari kasus infeksi baru tersebut terjadi pada perempuan.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Imran Pambudi menjelaskan penanggulangan yang belum optimal dan munculnya kasus baru ini disebabkan pandemi Covid-19, retensi pengobatan ARV yang rendah, adanya ketidaksetaraan dalam layanan HIV. Selain itu, stigma dan diskriminasi pun masih tinggi karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang HIV-AIDS.

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM dr. Ari Fahrial Syam menyebut peningkatan kasus HIV/AIDS ini juga dipicu oleh meningkatnya gaya hidup seks bebas di tengah masyarakat, terutama kalangan remaja. “Baik sesama jenis maupun lawan jenis. Ini bisa meningkatkan berbagai macam penyakit hubungan seksual terutama HIV/AIDS,” tegasnya. 

Diketahui, pada Agustus lalu, masyarakat dihebohkan dengan kabar ratusan mahasiswa di Bandung yang dinyatakan positif HIV/AIDS. Kabar ini ditegaskan oleh data dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung yang menyebutkan jika penularan HIV/AIDS, mayoritas terjadi di usia produktif yakni rentang umur 15-64 tahun. Di Bumi Parahyangan itu, kasus HIV/AIDS meningkat dari 2.260 kasus pada 2021, menjadi 2.397 kasus pada pertengahan 2022.

Penyakit lain yang mengancam dan menjadi endemi pada 2023 menurut Dicky yakni penyakit saluran pernapasan. Indonesia perlu waspada kejadian luar biasa yang dialami Amerika Serikat. Negeri Paman Sam itu dihadapkan dengan flu, Respiratory syncytial virus (RSV), dan Covid yang menyerang secara bersamaan. “TIga ini bisa coinfection dan masalah yang kecenderungan jadi endemi,” sebutnya.

H5N1 juga patut diwaspadai karena data terakhir ada temuan kasus infeksi mamalia seperti kucing yang memakan burung. Belum lagi Henipavirus yang juga berasal dari kelelawar. “Ini penyakit yang berpotensi jadi pandemi,” tutur peneliti dan ahli kesehatan lingkungan ini.

Masih berkaitan dengan infeksi, Ari menilai kasus TBC diprediksi meningkat pada 2023. Tidak dipungkiri, penanganan tuberkulosis ini terabaikan selama pandemi Covid-19.

Berdasarkan Global TB Report 2021, diperkirakan ada 824.000 kasus TBC di Indonesia, namun pasien TBC yang berhasil ditemukan, diobati, dan dilaporkan ke dalam sistem informasi nasional hanya 393.323 (48 persen). Masih ada sekitar 52 persen kasus TBC yang belum ditemukan atau sudah ditemukan namun belum dilaporkan. Pada 2022 data per September untuk cakupan penemuan dan pengobatan TBC, baru sebesar 39 persen.

“TBC di Indonesia saat ini masih menjadi nomor 2 di dunia. Masalah TBC ini sedikit terabaikan. Lebih banyak konsentrasi ke Covid sehingga penanganan kurang perhatian,” ujar Ari berpendapat. 

Menurutnya, untuk mengeliminasi TBC pada 2030 dengan target insiden rate 65/100.000 penduduk dengan angka kematian 6/100.000 penduduk, penanganan harus menyeluruh dari temuan kasus, ketepatan berobat, hingga konsistensi penggunaan obat. “Perlu penanganan holistik,” tegasnya.

Baca jugaYuk Simak 5 Fakta Tentang HIV/AIDS Biar Enggak Termakan Hoaks
1
2


SEBELUMNYA

Berlaga ke Kandang Lawan, Shin Tae-yong Optimistis Skuad Garuda Mampu Gulung Vietnam

BERIKUTNYA

5 Bandara Paling Sibuk di Dunia Sepanjang Desember 2022

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: