World Schizophrenia Day (WSD) atau Hari Skizofrenia Sedunia diperingati pada 24 Mei tiap tahunnya. (Sumber gambar: catiamatos/Pexels)

World Schizophrenia Day Tiap 24 Mei, Kenali Perbedaan Skizofrenia & Bipolar

24 May 2025   |   13:33 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

World Schizophrenia Day (WSD) atau Hari Skizofrenia Sedunia diperingati pada 24 Mei tiap tahun. Peringatan ini dibuat untuk meningkatkan kesadaran publik akan penyakit skizofrenia yang diderita lebih dari 20 juta orang di seluruh dunia, melawan stigma, serta memudahkan penderitanya mendapat bantuan dan pengobatan. 

Hari Skizofrenia Sedunia hadir untuk menarik perhatian dunia terhadap tantangan yang dihadapi oleh penderita skizofrenia serta keluarga mereka. Dilansir dari Only My Health, WSD diperingati tanggal 24 Mei setiap tahun untuk menghormati Philippe Pinel, seorang dokter Prancis yang dianggap sebagai pelopor dalam penanganan pasien psikiatri secara manusiawi. 

Karya Pinel pada akhir abad ke-18 meletakkan dasar bagi praktik perawatan kesehatan mental modern, yang menganjurkan penanganan yang penuh kasih sayang dan rasa hormat bagi individu dengan gangguan mental. 

Baca juga: Ilmuwan Temukan Cara untuk Deteksi Dini Gejala Skizofrenia

Selama bertahun-tahun, berbagai organisasi kesehatan mental, profesional perawatan kesehatan, dan kelompok advokasi berkolaborasi untuk meningkatkan kesadaran publik, mengadvokasi kebijakan kesehatan mental yang lebih baik, serta mendukung penelitian berkelanjutan tentang penyebab dan pengobatan skizofrenia.

Skizofrenia ialah kondisi kesehatan mental serius yang memengaruhi cara penderitanya berpikir, merasa, dan berperilaku, sebagaimana dikutip dari Mayo Clinic. Kondisi ini dapat mengakibatkan komplikasi gejala seperti halusinasi, delusi, serta pikiran dan perilaku yang tidak teratur. 

Halusinasi membuat seseorang merasa melihat sesuatu atau mendengar suara-suara yang sebenarnya tidak ada atau tidak diperhatikan orang lain, sementara delusi melibatkan keyakinan kuat tentang hal-hal yang tidak benar.

Dengan kata lain, orang dengan skizofrenia merasa kehilangan kontak atau terasing dengan kenyataan, yang dapat membuat kehidupan sehari-hari penderitanya menjadi sangat sulit. 
 

Perbedaan Skizofrenia & Bipolar

Gangguan skizofrenia kerap disamakan dengan bipolar, lantaran gejala-gejala dari kedua penyakit mental tersebut tampak serupa dan saling tumpang tindih. Meski begitu, keduanya merupakan gangguan kesehatan yang berbeda, sebagaimana dilansir dari Healthline. 

Tanda dari gangguan bipolar adalah perubahan drastis dalam energi, mood, dan tingkat aktivitas. Jika seseorang memiliki gangguan bipolar, akan mengalami episode perubahan mood ekstrem dan dapat beralih antara mania (kegembiraan yang luar biasa) dan depresi. 

Sementara itu, tanda utama dari skizofrenia adalah psikosis atau kondisi merasa putus dari realitas. Psikosis biasanya muncul sebagai halusinasi atau khayalan. Halusinasi melibatkan seseorang bisa melihat, mendengar, mencicipi, mencium, atau merasakan hal-hal yang tidak ada. Sementara khayalan adalah keyakinan yang palsu dan tidak rasional. 

Seseorang yang mengalami gangguan bipolar, mungkin mengalami psikosis selama episode tertentu, tapi itu tidak serta merta mendefinisikan kondisi tersebut. Selain itu, psikosis yang terjadi pada gangguan bipolar biasanya tidak terlalu berat daripada psikosis di skizofrenia.

Adapun, skizofrenia juga dapat menyebabkan seseorang memiliki cara pikir atau pemikiran yang tidak terorganisir, sehingga merasa kesulitan untuk beraktivitas sehari-hari. 
 

Gejala Skizofrenia & Bipolar

Menukil dari Very Well Health, gejala skizofrenia mencakup gejala positif, negatif, dan kognitif. Gejala positif merujuk pada perilaku atau pikiran yang biasanya tidak muncul, tetapi muncul selama episode. Sementara gejala negatif adalah perilaku atau pola pikir yang biasanya muncul -menghilang selama episode. 

Untuk gejala positif skizofrenia meliputi, delusi dan/atau halusinasi, paranoia, agitasi, serta bicara dan berperilaku tidak teratur. Sementara gejala negatifnya meliputi kurangnya minat (apatis), penarikan diri dari orang lain, isolasi, kurangnya ekspresi emosi, dan tidur berlebihan.

Adapun, gejala kognitif skizofrenia termasuk perhatian berkurang, gangguan memori dan pembelajaran, serta kesulitan berpikir dan memecahkan masalah. Gangguan memori yang diderita dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengurus diri sendiri. 

Sementara itu, gejala bipolar mencakup episode depresi yang signifikan secara klinis, serta hipomania dan/atau mania. Gejala depresi pada gangguan bipolar meliputi merasa sedih, kurangnya minat pada hal-hal yang sebelumnya dinikmati, merasa tidak berharga, perubahan nafsu makan, serta perasaan putus asa dan pikiran bunuh diri.

Sedangkan gejala mania meliputi gelisah dan sulit tidur, banyak berpikir, suasana hati yang meningkat atau mudah tersinggung, tidak realistis, melebih-lebihkan kemampuan pribadi, serta berani mengambil risiko.

Selain itu, gangguan bipolar juga dapat menyebabkan paranoia yang berlebihan atau rasa mementingkan diri sendiri yang berlebihan, dengan perasaan terasing yang ekstrem dari kenyataan. Gejala-gejala ini mungkin tampak seperti skizofrenia.

Adapun, episode afektif campuran terjadi ketika mania dan depresi terjadi pada saat yang bersamaan. Misalnya, seseorang mungkin merasa putus asa tetapi juga terus berpacu dengan pemikirannya atau melakukan sesuatu yang penuh risiko. 
 

Penyebab Skizofrenia & Bipolar

Gangguan bipolar dan skizofrenia masing-masing diyakini berasal dari penyebab genetik, biologis, dan lingkungan. Kebanyakan penderitanya berusia di awal 20-an, meskipun rentang usia tersebut lebih rentan mengalami gangguan bipolar.

Seseorang bisa menderita bipolar atau skizofrenia karena genetik, yakni ada anggota keluarga yang mengalaminya. Selain itu, faktor-faktor biologis yang terjadi sebelum seseorang lahir juga bisa berkontribusi terhadap perkembangan skizofrenia. Stres emosional orang tua, infeksi, komplikasi kelahiran, kadar oksigen rendah, dan tekanan janin punya risiko lebih tinggi terkena skizofrenia. 

Selain itu, komunitas dan lingkungan seseorang berperan dalam risiko gangguan bipolar dan skizofrenia. Faktor lingkungan tidak secara langsung menyebabkan kondisi ini, tetapi para peneliti berpendapat bahwa lingkungan dapat berkontribusi terhadap gejala pada orang yang secara genetik lebih mungkin mengalaminya.

Para peneliti berpendapat bahwa paparan terhadap penyalahgunaan zat dan/atau stres berlebihan dapat menyebabkan perubahan metabolisme dalam tubuh, yang menyebabkan lebih banyak ekspresi faktor genetik yang berkontribusi terhadap gangguan tersebut. Ada kemungkinan juga bahwa hal itu menyebabkan perubahan otak yang dapat menyebabkan gejala gangguan bipolar maupun skizofrenia.

Tinggal di daerah perkotaan merupakan salah satu faktor lingkungan yang dikaitkan dengan kondisi kesehatan mental seperti gangguan bipolar dan skizofrenia. Penelitian telah menunjukkan bahwa polusi, kebisingan, gangguan tidur, dan stres sosial dapat berperan dalam perkembangan kedua penyakit mental ini. 

Baca juga: Mengenal Gejala & Risiko Skizofrenia, Gangguan Mental yang Bisa Diwariskan ke Anak

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Toastina Hadir Lebih Modern & Nyaman, Jadi Tempat Ngopi Asyik di Dago Bandung

BERIKUTNYA

Line up Allo Bank Festival 2025, Ada Xodiac & Treasure

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: