Kenalan dengan kesalahan-kesalahan dasar perencanaan keuangan (Sumber gambar: Unsplash/Marten Bjork)

Yuk Ketahui & Hindari 10 Kesalahan Dasar Perencanaan Keuangan Ini

28 July 2022   |   14:10 WIB

Tahun ini sudah separuh perjalanan berlalu. Ada banyak hal yang perlu ditinjau dan dievaluasi, guna memastikan rencana yang telah disusun pada awal tahun masih sesuai alias on the track. Termasuk perihal keuangan, yang harus menjadi perhatian di tengah situasi yang masih penuh ketidakpastian ini. 

Bagaimana memastikan urusan keuangan kita masih berjalan sehat? Salah satunya adalah dengan mengetahui hal-hal yang seringkali menjadi kesalahan atau kekeliruan dalam perencanaan keuangan. Dikutip dari Bisnis Indonesia Weekend edisi Januari 2017, Perencana Keuangan Janus Financial Farah Dini Novita memberikan pedoman tersebut. 

Berikut ini adalah sepuluh poin kesalahan keuangan yang paling sering dilakukan. Apa saja itu? Berikut ini daftarnya : 

Baca Juga : Sudah Sehatkah Keuangan Kalian? Yuk Check Up Dulu dengan Jawab 6 Pertanyaan Ini 
 

1. Besar Pasak daripada Tiang 

Kesalahan ini adalah masalah utama yang sering terjadi ketika penghasilan tidak lagi dapat menutupi semua pengeluaran. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat rencana bujet untuk pengeluaran. Hal ini guna menghindari risiko bangkrut atau berutang terlalu besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Aturan sederhana adalah dengan menggunakan peraturan 50/20/30. Jadi 50 persen untuk pengeluaran pokok, 20 persen untuk kebutuhan keuangan di masa depan, sedangkan 30 persen untuk kebutuhan gaya hidup,” ujarnya.
 

2. Akun Rekening yang Tidak Terorganisir 

Terkait dengan poin ini, idealnya adalah memiliki beberapa akun rekening dengan tujuan yang berbeda-beda, mulai dari pengeluaran harian, rekening darurat, dan rekening untuk jangka pendek, atau rekening tambahan lainnya sesuai dengan kebutuhan. 
 
Namun, banyak orang melakukan kesalahan dengan memiliki beberapa akun bank tetapi tidak ditetapkan tujuan masing-masing akun tersebut. Akibatnya, ketika ingin melakukan pengeluaran, banyak orang yang mengambil dari rekening manapun yang ada dananya. 
 

3. Tidak Menyiapkan Dana Pensiun 

Dana pensiun masih terasa lama untuk disiapkan terutama ketika kita baru bekerja. Selain itu, kita mungkin menganggap investasi pensiun bisa dilakukan setelah kebutuhan seperti membeli aset rumah atau mobil sudah terpenuhi.

Padahal, semakin muda menyiapkan investasi pensiun maka semakin banyak jumlah nominal yang akan terkumpul. Mulailah investasi pensiun dari jumlah kecil kemudian tingkatkan setiap tahunnya.

Baca Juga : 3 Kita Mengelola Keuangan Keluarga ala Mona Ratuliu & Indra Brasco 
 

4. Membeli Rumah Tidak Sesuai Kemampuan

Memaksakan diri untuk membeli rumah di daerah elite atau rumah yang terlalu besar, tidak hanya membuat cicilan KPR semakin tinggi, tetapi juga kebutuhan untuk membayar pengeluaran rutin seperti listrik, air, dan perawatan, belum lagi pajak dari rumah tersebut.

“Harus diingat juga ketika membeli rumah, maka akan ada kebutuhan untuk membeli furnitur atau biaya renovasi,” katanya. Dia juga mengingatkan, ketika membeli rumah, jangan memaksakan untuk mengisi rumah selengkap–lengkapnya dalam waktu bersamaan.
 

5. Tidak Membeli Asuransi Jiwa 

Menunda membeli asuransi jiwa, sama artinya dengan melewatkan kesempatan untuk membeli asuransi jiwa dengan premi yang lebih rendah untuk jangka waktu panjang. Padahal, semakin muda membeli asuransi jiwa semakin murah premi yang dibayarkan. 
 

6. Tidak Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak

Pendidikan anak adalah salah satu pengeluaran terbesar untuk para orangtua. Ketika dana ini tidak dipersiapkan secepat mungkin, keinginan untuk menyekolahkannya ke sekolah atau universitas terbaik bisa saja hanya menjadi impian. Dengan menyiapkannya jauh-jauh hari, orang tua bisa menyicil tabungan dana pendidikan lebih ringan. 

Baca Juga : 5 Tips Menjaga Keuangan buat Para Pekerja Kantoran  
 

7. Tidak Punya Strategi Keluar dari Utang

Apabila memiliki banyak utang, maka harus cepat-cepat diambil langkah untuk melunasinya. Strategi yang digunakan bisa bermacam-macam, mulai dari pelunasan utang dengan bunga terbesar terlebih dahulu atau dengan nominal jumlah terkecil, hingga pengetatan pengeluaran atau menjual aset.
 

8. Menganggap Rumput Tetangga Selalu Lebih Hijau

Ketika hidup kalian dihabiskan dengan melihat orang lain, maka ini akan berakibat fatal terhadap keuangan di masa yang akan datang. Selalu menginginkan apa yang dimiliki orang lain juga tidak baik karena kondisi keuangan setiap orang berbeda-beda. Sebaiknya sesuaikan pengeluaran dengan pendapatan Anda.
 

9. Tidak Tahu Pentingnya Credit Score

Bank Indonesia (BI) Checking seringkali diremehkan masyarakat. Padahal, rekam jejak yang baik di bank sentral akan mempermudah kita mengajukan pinjaman di masa mendatang. Nama kita biasanya tercoreng jika memiliki kredit macet atau bahkan pembayaran pinjaman—dalam banyak kasus adalah kartu kredit—yang sering  telat.
 

10. Tidak Menyiapkan Surat Wasiat

Membicarakan warisan apalagi menulis surat wasiat masih dianggap tabu oleh banyak orang di Indonesia. Padahal, adanya surat wasiat bisa meminimalisir  kemungkinan terjadinya pertengakaran antaranggota keluarga, karena sudah ada pembagian yang jelas. Hal ini perlu disiapkan agar kondisi generasi berikutnya bisa lebih baik. 

Editor : Syaiful Millah 
SEBELUMNYA

Hari Hepatitis Sedunia, Cegah Virus Berbahaya sekarang Juga!

BERIKUTNYA

Ternyata Ini Jenis Sepatu yang Disukai Generasi Milenial dan Gen Z

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: