Lakon Pasien No.1, Cermin Satir Negeri yang Sakit dari Indonesia Kita
01 November 2025 |
13:02 WIB
Cak Lontong dan Akbar bukan hanya piawai melontarkan lelucon, tetapi juga mampu menghidupkan peran di atas panggung. Dengan humor cerdas yang khas, keduanya sukses memancing tawa tanpa henti. Kemampuan itu kembali terbukti dalam pementasan lakon Pasien No.1 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (31/10) malam.
Berperan sebagai dokter dan kepala rumah sakit, dua komedian itu tak henti-hentinya membuat penonton tertawa ngakak. Tak hanya itu, lakon garapan sutradara Agus Noor itu juga sarat kritik sosial dan politik, dengan balutan komedi khas grup Indonesia Kita.
Baca juga: Eksklusif Butet Kartaredjasa: Negeri Ini Sedang Sakit, Pasien Nomor Satunya Hukum
Secara sederhana, benang merah Pasien No.1 mengisahkan tentang kemerosotan etika dan moralitas para pengelola rumah sakit yang mendahulukan perawatan dan pelayanannya berdasarkan suap. Kondisi sakit yang dialami para pasien justru dilihat sebagai kemungkinan yang menguntungkan bagi para dokter dan perawat.
Semakin banyak orang sakit yang datang, maka akan mendatangkan lebih banyak keuntungan bagi rumah sakit. Kondisi yang digambarkan pertunjukan ini menjadi narasi ajakan Indonesia Kita kepada para penonton untuk peka dan berempati terhadap kondisi penegakan hukum yang dialami republik.
Arkian, konflik semakin intens saat muncul pasien yang sederhana dan mengikuti prosedur. Namun, sosok ini tak pernah dilayani, sementara rumah sakit justru mendahulukan hakim, jaksa, dan pengacara yang memberi suap. Dari sinilah intrik muncul antara para petinggi tersebut yang melihat celah keuntungan untuk mereka sendiri.
Selain lewat dialog, kritik juga disampaikan lewat idiom dan petanda-petanda tertentu. Misalnya, gerobak penjual es yang bertuliskan “BAR.ESKRIM”, atau papan penunjuk arah ruangan di rumah sakit yang mengarahkan ke kantin MBG. Lagu-lagu yang dinyanyikan Sri Krishna dan Sruti Respati juga sarat teguran.
Sutradara Agus Noor memang cukup piawai menghadirkan kisah dalam merangkai benang merah cerita dengan situasi Indonesia termutakhir. Guyon parikena dilontarkan oleh para pemain dengan lugas, atau sesekali dibalut dengan humor yang ngetren di masyarakat maupun media sosial.
Misalnya, saat Cak Lontong dan Akbar mendiagnosis sosok orang yang meninggal serta mengaitkannya dengan driver ojol yang dilindas aparat. Atau, Inayah Wahid yang tanpa tedeng aling-aling mencerca Mucle, yang wajah dan dandananya mirip salah satu menteri yang belakangan viral.
Namun, pertunjukan berdurasi tiga jam itu cukup melelahkan dengan banyak narasi yang berkelindan di luar konteks. Hampir keseluruhan adegan adalah bentuk improvisasi pemain, yang barangkali hanya mengandalkan premis cerita. Walakin, di sinilah salah satu kekuatan utama kelompok Indonesia Kita.
Seperti pertunjukan lalu, gong dari lakon Pasien No.1 pun masih berada di tangan Cak Lontong dan Akbar sebagai hiburan penonton. Dialog keduanya yang memanfaatkan logika masih berhasil mengocok perut dengan humor-humor cerdas, meski ada unsur repetitif dengan lakon-lakon sebelumnya.
Agus Noor, sang sutradara, mengatakan bahwa selain merefleksikan situasi sosial dan politik hari ini, lakon Pasien No.1 juga dibuat untuk mengenang Jenderal Hoegeng. Mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) itu, paparnya, dikenal teguh dan berintegritas dalam menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum.
Agus menjelaskan, dipilihnya Jenderal Hoegeng juga bukan sekadar kisah biografi atau pemujaan, melainkan tentang inspirasi keteladanan dan integritas yang kini makin sulit ditemukan. Seri ini juga menjadi kelanjutan dari seri maestro yang mereka angkat sebelumnya, seperti Sawung Jabo dan N. Riantiarno.
Penulis buku Matinya Toekang Kritik itu juga berharap penonton menikmati pertunjukan sekaligus turut menghayati teladan hidup Jenderal Hoegeng. “Inspirasi pertunjukan Indonesia Kita tidak hanya dari kalangan seniman dan budayawan, tapi juga seorang jenderal polisi, yaitu Pak Hoegeng,” katanya.
Setali tiga uang, Butet Kartaredjasa mengatakan, diangkatnya sosok Hoegeng juga untuk mengingatkan pentingnya keteladanan yang diwariskan oleh orang-orang baik, khususnya di lembaga kenegaraan. Sebab, di dalam keteladanan tersebut terdapat prinsip-prinsip hidup yang tidak bisa dibeli, yakni integritas.
“Warisan jenderal polisi, yaitu kejujuran, kesederhanaan, dan keberaniannya ini, sudah sepantasnya diteladani oleh para bhayangkara, bintara, sampai jenderal polisi hari ini—terutama jika polisi serius ingin mengembalikan performance-nya,” katanya.
Baca juga: Kenang Jenderal Hoegeng, Indonesia Kita Pentaskan Pasien No.1 di Taman Ismail Marzuki
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Berperan sebagai dokter dan kepala rumah sakit, dua komedian itu tak henti-hentinya membuat penonton tertawa ngakak. Tak hanya itu, lakon garapan sutradara Agus Noor itu juga sarat kritik sosial dan politik, dengan balutan komedi khas grup Indonesia Kita.
Baca juga: Eksklusif Butet Kartaredjasa: Negeri Ini Sedang Sakit, Pasien Nomor Satunya Hukum
Secara sederhana, benang merah Pasien No.1 mengisahkan tentang kemerosotan etika dan moralitas para pengelola rumah sakit yang mendahulukan perawatan dan pelayanannya berdasarkan suap. Kondisi sakit yang dialami para pasien justru dilihat sebagai kemungkinan yang menguntungkan bagi para dokter dan perawat.
Semakin banyak orang sakit yang datang, maka akan mendatangkan lebih banyak keuntungan bagi rumah sakit. Kondisi yang digambarkan pertunjukan ini menjadi narasi ajakan Indonesia Kita kepada para penonton untuk peka dan berempati terhadap kondisi penegakan hukum yang dialami republik.

Kelompok Teater Indonesia Kita mementaskan lakon Pasien No.1, di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (31/10/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)
Arkian, konflik semakin intens saat muncul pasien yang sederhana dan mengikuti prosedur. Namun, sosok ini tak pernah dilayani, sementara rumah sakit justru mendahulukan hakim, jaksa, dan pengacara yang memberi suap. Dari sinilah intrik muncul antara para petinggi tersebut yang melihat celah keuntungan untuk mereka sendiri.
Selain lewat dialog, kritik juga disampaikan lewat idiom dan petanda-petanda tertentu. Misalnya, gerobak penjual es yang bertuliskan “BAR.ESKRIM”, atau papan penunjuk arah ruangan di rumah sakit yang mengarahkan ke kantin MBG. Lagu-lagu yang dinyanyikan Sri Krishna dan Sruti Respati juga sarat teguran.
Sutradara Agus Noor memang cukup piawai menghadirkan kisah dalam merangkai benang merah cerita dengan situasi Indonesia termutakhir. Guyon parikena dilontarkan oleh para pemain dengan lugas, atau sesekali dibalut dengan humor yang ngetren di masyarakat maupun media sosial.
Misalnya, saat Cak Lontong dan Akbar mendiagnosis sosok orang yang meninggal serta mengaitkannya dengan driver ojol yang dilindas aparat. Atau, Inayah Wahid yang tanpa tedeng aling-aling mencerca Mucle, yang wajah dan dandananya mirip salah satu menteri yang belakangan viral.
Namun, pertunjukan berdurasi tiga jam itu cukup melelahkan dengan banyak narasi yang berkelindan di luar konteks. Hampir keseluruhan adegan adalah bentuk improvisasi pemain, yang barangkali hanya mengandalkan premis cerita. Walakin, di sinilah salah satu kekuatan utama kelompok Indonesia Kita.
Seperti pertunjukan lalu, gong dari lakon Pasien No.1 pun masih berada di tangan Cak Lontong dan Akbar sebagai hiburan penonton. Dialog keduanya yang memanfaatkan logika masih berhasil mengocok perut dengan humor-humor cerdas, meski ada unsur repetitif dengan lakon-lakon sebelumnya.

Kelompok Teater Indonesia Kita mementaskan lakon Pasien No.1, di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (31/10/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)
Agus Noor, sang sutradara, mengatakan bahwa selain merefleksikan situasi sosial dan politik hari ini, lakon Pasien No.1 juga dibuat untuk mengenang Jenderal Hoegeng. Mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) itu, paparnya, dikenal teguh dan berintegritas dalam menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum.
Agus menjelaskan, dipilihnya Jenderal Hoegeng juga bukan sekadar kisah biografi atau pemujaan, melainkan tentang inspirasi keteladanan dan integritas yang kini makin sulit ditemukan. Seri ini juga menjadi kelanjutan dari seri maestro yang mereka angkat sebelumnya, seperti Sawung Jabo dan N. Riantiarno.
Penulis buku Matinya Toekang Kritik itu juga berharap penonton menikmati pertunjukan sekaligus turut menghayati teladan hidup Jenderal Hoegeng. “Inspirasi pertunjukan Indonesia Kita tidak hanya dari kalangan seniman dan budayawan, tapi juga seorang jenderal polisi, yaitu Pak Hoegeng,” katanya.
Setali tiga uang, Butet Kartaredjasa mengatakan, diangkatnya sosok Hoegeng juga untuk mengingatkan pentingnya keteladanan yang diwariskan oleh orang-orang baik, khususnya di lembaga kenegaraan. Sebab, di dalam keteladanan tersebut terdapat prinsip-prinsip hidup yang tidak bisa dibeli, yakni integritas.
“Warisan jenderal polisi, yaitu kejujuran, kesederhanaan, dan keberaniannya ini, sudah sepantasnya diteladani oleh para bhayangkara, bintara, sampai jenderal polisi hari ini—terutama jika polisi serius ingin mengembalikan performance-nya,” katanya.
Baca juga: Kenang Jenderal Hoegeng, Indonesia Kita Pentaskan Pasien No.1 di Taman Ismail Marzuki
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.