Penulis Oh Su Hyang pada kesempatan media gathering di Makarya Gramedia Matraman, Jakarta, Jumat (31/10/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Bianca Wanda Zakia)

Pertama Kali ke Indonesia, Penulis Oh Su Hyang Ajak Pembaca Belajar Seni Berbicara dengan Hati

01 November 2025   |   14:00 WIB
Image
Bianca Wanda Zakia Mahasiswa Universitas Bina Nusantara

Penulis buku Korea Selatan, Oh Su Hyang, akhirnya hadir untuk pertama kalinya di Indonesia pada 31 Oktober 2025. Dikenal lewat karya-karyanya yang menyentuh seperti Bicara Itu Ada Seninya, Seni Berbicara Tanpa Bikin Sakit Hati, dan Berani Ngomong Langsung, Oh menekankan pentingnya komunikasi yang berlandaskan empati dan kejujuran.

Kunjungan perdananya ke Jakarta diinisiasi oleh Gramedia melalui Penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP), yang selama ini menjadi penerbit resmi karya-karya Oh Su Hyang di Indonesia. Acara ini menjadi momen istimewa bagi para pembaca yang selama ini hanya mengenal sang penulis melalui halaman buku, kini bisa mendengar langsung pesan dan filosofi komunikasinya secara pribadi.

Baca juga: Penulis Abigail Limuria Hidupkan Budaya Berpikir Kritis Generasi Muda di IdeaFest 2025

Dalam pertemuan tersebut, Oh Su Hyang menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan. Ia tumbuh di lingkungan yang sangat sederhana, di mana orang tuanya bekerja di pabrik dan hidup mereka jauh dari kata berkecukupan.

Dari pengalaman itulah ia belajar bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk memahami orang lain. Justru dari rasa kekurangan, seseorang bisa belajar empati dan menghargai setiap interaksi dengan lebih dalam.

Sejak muda, Oh memiliki kebiasaan membaca yang luar biasa. Ia bahkan mengaku bisa membaca hingga puluhan buku dalam sebulan, karena baginya setiap buku adalah jendela untuk memahami kehidupan. Dari kebiasaan itu pula lahirlah ketertarikannya pada dunia komunikasi.

Ia percaya bahwa berbicara bukan sekadar menyampaikan kata, melainkan tentang bagaimana memahami hati orang lain dan menciptakan koneksi yang tulus. Dalam sesi berbagi bersama media, Oh menekankan bahwa berbicara adalah keterampilan yang bisa dilatih oleh siapa saja.
 

Penulis Oh Su Hyang (kanan)

Penulis Oh Su Hyang (kanan) pada kesempatan media gathering di Makarya Gramedia Matraman, Jakarta, Jumat (31/10/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Bianca Wanda Zakia)


“Kemampuan berbicara bukanlah bakat bawaan. Setiap orang bisa belajar untuk berkomunikasi dengan lebih baik. Yang terpenting adalah niat untuk memahami dan menghargai orang lain,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa berbicara dengan empati berarti mendengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan tanggapan.

Oh Su Hyang dikenal di Korea Selatan sebagai pelatih komunikasi yang telah membimbing ribuan orang dari berbagai latar belakang, mulai dari pekerja korporasi hingga pembawa acara televisi. Dalam kunjungannya ke Indonesia, ia bahkan memperlihatkan teknik latihan berbicara yang biasa digunakan para pembawa acara di Korea, termasuk cara mengatur suara, melatih pernapasan, dan menjaga ekspresi agar tetap alami.

Menurutnya, berbicara dengan senyum bukan hanya mencairkan suasana, tetapi juga memunculkan hormon bahagia yang membuat komunikasi menjadi lebih positif.

“Ketika kita berbicara dengan senyum, hati kita akan lebih terbuka dan orang lain akan merasa nyaman. Komunikasi yang baik selalu dimulai dari hati yang hangat,” kata Oh.

Ia juga memberikan tips sederhana untuk melatih diri menjadi komunikator yang percaya diri, yaitu dengan menyampaikan pesan secara singkat dan jelas. Oh mencontohkan bahwa otak manusia cenderung mengingat hal-hal yang disusun dalam tiga kata, karena itu penting untuk membiasakan diri berbicara secara padat dan terstruktur.

Pesan yang dibawa Oh sangat relevan dengan kehidupan modern saat ini, di mana banyak orang pandai berbicara tetapi sulit mendengarkan. Ia mengingatkan bahwa berbicara seharusnya tidak dilakukan untuk memenangkan argumen, tetapi untuk membangun pemahaman. Komunikasi yang baik adalah ketika dua orang saling mendengar dan menghormati perasaan masing-masing.

Melalui karya-karyanya, Oh ingin menunjukkan bahwa setiap kata memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, memperbaiki hubungan, dan mempererat rasa kemanusiaan. Dengan gaya tutur yang lembut dan penuh empati, ia berhasil menyampaikan pesan bahwa seni berbicara sejatinya adalah seni memahami sesama.

Baca juga: Rekomendasi 8 Buku yang Bisa Meningkatkan Fokus dan Disiplin, Sudah Baca?

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Redmi Pad 2 Pro Meluncur 7 November, Bawa Layar 12, Inci & Baterai Besar

BERIKUTNYA

Lakon Pasien No.1, Cermin Satir Negeri yang Sakit dari Indonesia Kita

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga