Seniman Butet Kartaredjasa (sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)

Eksklusif Butet Kartaredjasa: Negeri Ini Sedang Sakit, Pasien Nomor Satunya Hukum

30 October 2025   |   19:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Kelompok teater Indonesia Kita, bakal kembali hadir dengan pementasan terbarunya berjudul Pasien No. 1, yang dijadwalkan digelar di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 31 Oktober dan 1 November 2025.

Menjadi produksi ke-44, lakon ini mengisahkan kemerosotan etika dan moralitas para pengelola rumah sakit, yang mendahulukan perawatan dan pelayanannya berdasarkan suap dari para pasien, untuk keuntungan pribadi.

Baca juga: Menyelisik Makna Wirid Visual Butet Kartaredjasa dalam Pameran Melik Nggendong Lali

Menggunakan gaya satir dan humor kritis, Indonesia Kita mengajak penonton menengok kondisi negeri lewat metafora rumah sakit—sebuah ruang yang mestinya menyembuhkan, tapi bisa juga menjadi cermin atas penyakit moral dan hukum yang melanda bangsa.

Sehari sebelum pementasan berlangsung, Hypeabis.id berkesempatan berbincang dengan Butet Kartaredjasa, aktor dan salah satu penggagas Indonesia Kita. Berikut petikan wawancaranya:

 
Seniman Butet Kartaredjasa (sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)
Indonesia Kita sering mengangkat kegelisahan publik lewat pertunjukan teater. Apa yang paling membuat Anda gelisah belakangan ini hingga merasa perlu menuangkannya lewat Pasien No. 1?

Peristiwa di akhir Agustus dengan adanya demo besar-besaran itu kan jadi indikator ada yang tidak benar di negeri ini. Tidak ada kepastian hukum, ada ancaman terhadap kebebasan berekspresi. Hari ini kawan-kawan masih di penjara hanya karena bersuara. Itu artinya sejarah bisa berulang. Raising of the Barbarian hadir kembali. Apalagi presidennya dari kalangan militer, lalu Suharto akan dijadikan pahlawan nasional.

Ini fakta-fakta yang menggelisahkan. Maka dengan cara kami, kami melihat Indonesia secara kritis dan jenaka dalam bentuk pertunjukan. Kami ingin mengingatkan semua pihak, terutama aparat hukum, polisi, dan jaksa, bahwa negeri ini sedang sakit. Maka kami bertanya: siapa sebenarnya pasien nomor satu itu? Jawabannya: hukum Indonesia.

Berarti “pasien nomor satu” merujuk pada sesuatu yang sedang sakit dan perlu diutamakan?

Ya, benar. Yang sedang sakit itu adalah hukum, dan hukum itu harus disembuhkan. Kalau negara ini diibaratkan rumah sakit, maka pasiennya adalah hukum.

Selain tema hukum, apa yang ingin Anda hadirkan dari pementasan kali ini?

Hari ini kita seperti kehilangan keteladanan. Maka dalam lakon ini, kami melanjutkan seri maestro—setelah Sawung Jabo dan Nano Riantiarno—dengan menghadirkan sosok Pak Hoegeng sebagai inspirasi.

Beliau itu orang jujur dan berani. Berani melawan perintah atasan ketika perintah itu keliru. Sifat itulah yang menginspirasi pertunjukan ini. Kami ingin mengingatkan pentingnya keteladanan orang-orang baik, karena integritas tidak bisa dibeli.

Pak Hoegeng itu tahu mana yang boleh dan mana yang tidak. Hari ini, polisi seperti dia sudah langka. Aparat hukum sekarang malah main suap, hakim dan jaksa memperjualbelikan keadilan. Pasal hukum dipakai sesuai pesanan penguasa. Itu kejahatan hukum.

Maka kami tampilkan kritik itu lewat satire. Hot news atau situasi aktual kami hadirkan bukan sebagai replika, tapi dalam perspektif kejenakaan. Orang mungkin tertawa, tapi sambil merenungkan kenyataan yang sebenarnya terjadi.

Kami tidak mengajak atau memprovokasi siapa pun. Kami hanya ingin masyarakat sadar: oh, Indonesia memang sedang seperti ini.
 

an

Seniman Butet Kartaredjasa (sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)
 

Teater sering dianggap ruang kritik sosial. Di tengah situasi politik yang sensitif, bagaimana Anda menyeimbangkan keberanian berbicara dengan risiko disalahpahami?

Kami meyakini satu hal, yaitu kebenaran itu ada. Selama yang kami bela adalah kebenaran, tidak ada alasan untuk takut. Menegakkan kebenaran bukan pelanggaran hukum. Saya hanya takut kalau melanggar hukum.

Kalau misalnya gara-gara pementasan ini saya ditangkap, saya yakin banyak yang membela, karena saya tidak sedang berbuat jahat. Seperti kawan-kawan yang dipenjara karena bersuara, itu pelanggaran terhadap hak berekspresi yang dijamin konstitusi.

Kami bebas berpikir, bebas berpendapat, dan tidak takut. Seperti Pak Hoegeng, berani karena tidak melanggar hukum.

Jika bangsa ini bercermin lewat Pasien No. 1, kira-kira bayangan apa yang akan terlihat—wajah yang sedang dirawat, atau wajah yang menolak diobati?

Mungkin wajah yang sudah nyaman dengan keburukan. Banyak aparat hukum yang menikmati zona nyaman dari suap dan kekuasaan. Kalau dikritik, mereka terganggu. Itu masalahnya.

Dalam konteks penegakan hukum dan moral publik, apakah Anda masih percaya kesenian punya daya sembuh?

Oh, sangat. Di seluruh dunia, seni selalu punya fungsi untuk menggugah daya kritis. Karya seni bisa jadi alat katarsis, energi untuk menggerakkan kesadaran kolektif.  Saya percaya seni bisa memperkuat civil society. Dan ketika masyarakat sipil terancam—aktivis, mahasiswa, orang-orang kritis dipenjara—maka seni juga harus ikut bergerak.

Saya masih percaya ada banyak polisi, jaksa, dan hakim yang baik. Tapi mereka perlu ruang untuk berani jujur. Seni bisa jadi ruang itu, ruang penyembuhan bersama.

Baca juga: Eksklusif Butet Kartaredjasa: Saat Seni Menjelma Laku Spiritual & Kritik Sosial Politik
 

SEBELUMNYA

Kenali 5 Pola Halus Ghosting & Cara Menghindarinya

BERIKUTNYA

Kenang Jenderal Hoegeng, Indonesia Kita Pentaskan Pasien No.1 di Taman Ismail Marzuki

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga