Seorang pengunjung di pameran Henk Ngantung: Seni & Diplomasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio C.)

Karya-Karya Henk Ngantung Era Kemerdekaan Tampil di Pameran Seni dan Diplomasi Museum Proklamasi

17 August 2025   |   07:00 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan RI, Museum Perumusan Naskah Proklamasi menggelar pameran temporer bertajuk Henk Ngantung: Seni dan Diplomasi. Pameran ini menampilkan karya-karya sketsa dan lukisan maestro Henk Ngantung semasa era kemerdekaan.

Henk Ngantung (1921-1991) ialah pelukis asal Minahasa yang berkarier di Jakarta sejak era kolonial Belanda, dan terlibat aktif di seputar pergolakan kemerdekaan RI dan revolusi fisik.

Selain mengerjakan karya-karya yang menginspirasi perjuangan kemerdekaan, dia juga ditugaskan secara khusus untuk mengerjakan sketsa suasana diplomasi mulai dari Perundingan Linggarjati (1946), hingga Konferensi Meja Bundar (1949) di Den Haag, Belanda.
 
Pameran Seni dan Diplomasi menampilkan setidaknya 10 karya sketsa dan 2 lukisan dari Henk Ngantung, yang didapat dari berbagai koleksi mulai dari Museum Seni Rupa dan Keramik, Galeri Nasional Indonesia, hingga koleksi pribadi dari Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon. Termasuk, narasi yang berkaitan dengan ketokohan Henk Ngantung yang berjasa besar di bidang seni dan diplomasi pada era kemerdekaan.
 

Seorang pengunjung di pameran Henk Ngantung: Seni & Diplomasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio C.)

Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat melihat pameran Henk Ngantung: Seni & Diplomasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio C.)

Di pameran ini, ditampilkan sederet karya sketsa Henk Ngantung yang beragam, mulai dari menggambarkan suasana terjadinya diplomasi hingga potret para pemikir dan pendiri bangsa. Karya-karya sketsanya menjadi bukti sejarah yang penting di kala fotografi belum digunakan secara masif kala itu sebagai media dokumentasi.
 
Lewat karya-karyanya, kita bisa melihat suasana Perundingan Linggarjati, mulai dari momen konferensi pers, potret tempat penginapan PM Sjahrir, hingga upacara penandatanganan naskah Linggarjati. Tak lupa, Henk Ngantung juga menggambar wajah-wajah para tokoh bangsa pada peristiwa tersebut seperti Bung Hatta, Sukarno, dan beberapa tokoh Belanda.
 
Henk Ngantung juga memotret momen-momen penting saat kepindahan ibu kota sementara ke Yogyakarta pascakemerdekaan. Salah satu karya yang ditampilkan di pameran ialah potret Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada Hari Angkatan Perang, 5 Oktober 1946 di Jogja. 
 

Seorang pengunjung di pameran Henk Ngantung: Seni & Diplomasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio C.)

Lukisan Memanah versi reproduksi di pameran Henk Ngantung: Seni & Diplomasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio C.)

Menariknya, ditampilkan juga potret foto Henk Ngantung saat tengah membuat sketsa di atas kapal USS Renville, tempat berlangsungnya perundingan Perjanjian Renville tahun 1948. Tak ketinggalan, ditampilkan juga lukisan Memanah (1944) yang ikonik versi reproduksi. Sementara versi aslinya tersimpan di Istana Kepresidenan Jakarta.
 
Lukisan tersebut menjadi salah satu karya monumental Henk Ngantung lantaran berhasil menarik perhatian Sukarno. Bahkan, Presiden ke-1 RI itu juga menjadi model agar lukisan tersebut bisa rampung dan segera diboyongnya.
 
Lukisan Memanah pun menjadi mahakarya yang menampilkan sosok dua model yakni sastrawan Marius Ramis Dajoh di mana pada bagian lengannya menggunakan Sukarno sebagai modelnya.
 

Seorang pengunjung di pameran Henk Ngantung: Seni & Diplomasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio C.)

Suasana di pameran Henk Ngantung: Seni & Diplomasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio C.)

Hadir membuka pameran, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyampaikan pameran Henk Ngantung: Seni dan Diplomasi dapat diresapi melalui dua lensa. Pertama, seni sebagai kesaksian sejarah. Henk Ngantung merekam manusia kota, suasana zaman, dan momentum-momentum kebangsaan. Karya-karyanya menjadi living heritage, arsip visual yang terus hidup.
 
Kedua, seni menjadi imajinasi kewargaan. Garis yang tegas, gestur yang peka, dan pilihan subjek yang manusiawi dari karya-karya Henk Ngantung, mengajak publik merasakan empati, menumbuhkan identitas kebangsaan, hingga menyuburkan semangat gotong royong.
 
"Jadi bagi para generasi perupa muda, sosok Henk Ngantung memberi keladan tentang integritas dan etos bagi publik, yang menunjukkan bahwa karya yang kuat lahir dari kepekaan atas realitas, disiplin proses, dan keberanian berdialog dengan ruang dan masyarakat," katanya dalam acara pembukaan pameran di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta, Sabtu (16/8/2026).
 
Pada kesempatan yang sama, Kepala Museum dan Cagar Budaya, Abi Kusno, mengatakan pameran ini bukan hanya menampilkan rangkaian peristiwa sejarah, tapi juga menjadi refleksi bagaimana proklamasi, diplomasi, dan seni saling terkait dalam membentuk identitas bangsa.
 
"Kita diajak untuk merenungkan apakah semangat yang diwariskan para pendahulu seperti Henk Ngantung telah kita wujudkan dalam kehidupan berbangsa hari ini. Semoga pameran ini memberi inspirasi bagi kita untuk terus berkarya, berdiplomasi cerdas, dan menjaga kemerdekaan," ujarnya.
 
Pameran pun semakin menarik lantaran menghadirkan video interaktif dan kesempatan bagi pengunjung untuk mewarnai sketsa. Nantinya, hasil sketsa yang telah dibuat bisa ditampilkan dalam layar yang sudah disediakan. Adapun, pameran Henk Ngantung: Seni dan Diplomasi berlangsung pada 17 Agustus-31 Oktober 2025 di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta.

Baca Juga: Kisah Lukisan Karya Henk Ngantung, Diincar Soekarno & Jadi Saksi Bisu Detik-detik Proklamasi

SEBELUMNYA

Menbud Fadli Zon Beberkan Alasan Buku Sejarah Indonesia Batal Rilis 17 Agustus 2025

BERIKUTNYA

Sejarah dan Perbedaan Paskibraka dan Paskibra dalam Upacara 17 Agustus

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga