Lukisan Legendaris Henk Ngantung Siap Sambut HUT RI ke-80 di Museum Perumusan Naskah Proklamasi
07 August 2025 |
09:19 WIB
Delapan puluh tahun sejak proklamasi, jejak sejarah Indonesia bakal kembali hadir lewat karya seni. Museum Perumusan Naskah Proklamasi akan memamerkan lukisan-lukisan Henk Ngantung, seniman sekaligus Gubernur DKI Jakarta 1964–1965, pada 16 Agustus 2025.
Pameran ini merupakan inisiasi pihak keluarga Henk Ngantung yang turut difasilitasi Kementerian Kebudayaan (Kemenbud). Pameran ini dimaksudkan untuk menggambarkan semangat perjuangan dan proklamasi lewat karya-karya seni, dalam momentum perayaan Hari Kemerdekaan.
Baca juga: Hypereport Kemerdekaan: Kisah Lukisan Karya Henk Ngantung, Diincar Soekarno & Jadi Saksi Bisu Detik-detik Proklamasi
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk menghidupkan museum sebagai ruang rekreasi sekaligus sarana edukasi. Baginya, museum bukan sekadar bangunan, melainkan penjaga kisah perjuangan tokoh-tokoh nasional yang layak terus diingat.
"Semoga semakin banyak pameran berarti semakin banyak kesempatan bagi publik untuk meresapi sejarah. Terutama perjuangan para pahlawan yang sudah mengorbankan segalanya demi bangsa," pparnya dalam taklimat resmi pada awak media.
Pada saat melakukan pertemuan dengan keluarga Henk Ngantung, Menbud juga mengusulkan untuk menampilkan lukisan legendaris karya Henk Ngantung bertajuk Memanah. Sebab, lukisan ini adalah salah satu saksi bisu proklamasi Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 silam.
Menurutnya, lukisan Memanah merupakan karya yang dapat ‘menghidupkan’ kembali peristiwa proklamasi sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung museum. “Lukisan Memanah itu dulu dibeli oleh Bung Karno tahun 1944 dan menjadi saksi bisu proklamasi,”imbuhnya.
Selain Memanah, Menbud juga mengusulkan agar pameran menghadirkan arsip foto karya Alex dan Frans Mendur. Kedua fotografer ini dikenal sebagai saksi visual yang merekam detik-detik proklamasi, saat memotret para tokoh dan suasana pengibaran bendera sang saka merah putih.
“Foto Frans dan Alex Mendur adalah saksi dari proklamasi. Jadi, mereka harus di-acknowledge juga,” katanya.
Tak hanya itu, untuk menarik keingintahuan publik, Menbud juga mendorong penggunaan teknologi modern. Foto-foto hitam-putih proklamasi, tersebut nantinya akan diberi warna digital. Cara ini diharapkan membawa penonton lebih dekat dengan atmosfer asli hari itu.
Dengan pewarnaan, pengunjung juga bisa membayangkan bendera merah putih yang berkibar. Bisa merasakan cahaya matahari pagi Jakarta pada 17 Agustus 1945. Bahkan melihat ekspresi para tokoh nasional dengan lebih nyata.
Selain itu, Menbud juga menekankan pentingnya menghadirkan referensi dari memoar para tokoh. Sebab, buku-buku di sana dapat memberikan perspektif Indonesia yang autentik. Menurutnya, narasi sejarah harus hidup lewat sumber langsung dari mereka yang mengalami peristiwa tersebut.
Geni Ngantung, putri Henk Ngantung menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh Kementerian Kebudayaan. Dia mengatakan keluarga sudah menyiapkan koleksi pribadi untuk pameran. “Untuk kelengkapan pameran, sudah siap koleksi dari keluarga yang akan dipamerkan nanti,” ungkapnya.
Henk Ngantung adalah pelukis kelahiran Sulawesi Utara, 1 Maret 1921. Ia menempuh pendidikan seni di Taman Siswa dan dikenal lewat karya yang menyoroti kehidupan rakyat serta semangat kebangsaan. Selain seniman, ia juga pernah menjabat Gubernur DKI Jakarta pada 1964–1965.
Karya Henk memadukan gaya realis dengan sentuhan ekspresif. Lukisannya tidak hanya indah, tetapi juga sarat pesan sosial dan politik. Ia aktif di kelompok Pelukis Rakyat dan sering diminta Bung Karno membuat karya bertema perjuangan.
Frans dan Alex Mendur adalah pelopor foto jurnalistik Indonesia asal Minahasa, Sulawesi Utara. Frans mengabadikan momen pembacaan teks proklamasi 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta, sementara Alex banyak memotret peristiwa pasca kemerdekaan.
Pada 1946, mereka mendirikan IPPHOS (Indonesian Press Photo Service). Foto-foto Mendur bersaudara kini menjadi arsip visual penting, merekam perjalanan bangsa dari hari kemerdekaan hingga awal republik.
Baca juga: Jejak Lukisan Locatelli di Balik Dinding Istana
Pameran ini merupakan inisiasi pihak keluarga Henk Ngantung yang turut difasilitasi Kementerian Kebudayaan (Kemenbud). Pameran ini dimaksudkan untuk menggambarkan semangat perjuangan dan proklamasi lewat karya-karya seni, dalam momentum perayaan Hari Kemerdekaan.
Baca juga: Hypereport Kemerdekaan: Kisah Lukisan Karya Henk Ngantung, Diincar Soekarno & Jadi Saksi Bisu Detik-detik Proklamasi
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk menghidupkan museum sebagai ruang rekreasi sekaligus sarana edukasi. Baginya, museum bukan sekadar bangunan, melainkan penjaga kisah perjuangan tokoh-tokoh nasional yang layak terus diingat.
"Semoga semakin banyak pameran berarti semakin banyak kesempatan bagi publik untuk meresapi sejarah. Terutama perjuangan para pahlawan yang sudah mengorbankan segalanya demi bangsa," pparnya dalam taklimat resmi pada awak media.
Pada saat melakukan pertemuan dengan keluarga Henk Ngantung, Menbud juga mengusulkan untuk menampilkan lukisan legendaris karya Henk Ngantung bertajuk Memanah. Sebab, lukisan ini adalah salah satu saksi bisu proklamasi Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 silam.
Menurutnya, lukisan Memanah merupakan karya yang dapat ‘menghidupkan’ kembali peristiwa proklamasi sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung museum. “Lukisan Memanah itu dulu dibeli oleh Bung Karno tahun 1944 dan menjadi saksi bisu proklamasi,”imbuhnya.
Selain Memanah, Menbud juga mengusulkan agar pameran menghadirkan arsip foto karya Alex dan Frans Mendur. Kedua fotografer ini dikenal sebagai saksi visual yang merekam detik-detik proklamasi, saat memotret para tokoh dan suasana pengibaran bendera sang saka merah putih.
“Foto Frans dan Alex Mendur adalah saksi dari proklamasi. Jadi, mereka harus di-acknowledge juga,” katanya.
Tak hanya itu, untuk menarik keingintahuan publik, Menbud juga mendorong penggunaan teknologi modern. Foto-foto hitam-putih proklamasi, tersebut nantinya akan diberi warna digital. Cara ini diharapkan membawa penonton lebih dekat dengan atmosfer asli hari itu.
Dengan pewarnaan, pengunjung juga bisa membayangkan bendera merah putih yang berkibar. Bisa merasakan cahaya matahari pagi Jakarta pada 17 Agustus 1945. Bahkan melihat ekspresi para tokoh nasional dengan lebih nyata.
Selain itu, Menbud juga menekankan pentingnya menghadirkan referensi dari memoar para tokoh. Sebab, buku-buku di sana dapat memberikan perspektif Indonesia yang autentik. Menurutnya, narasi sejarah harus hidup lewat sumber langsung dari mereka yang mengalami peristiwa tersebut.
Geni Ngantung, putri Henk Ngantung menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh Kementerian Kebudayaan. Dia mengatakan keluarga sudah menyiapkan koleksi pribadi untuk pameran. “Untuk kelengkapan pameran, sudah siap koleksi dari keluarga yang akan dipamerkan nanti,” ungkapnya.
Henk Ngantung adalah pelukis kelahiran Sulawesi Utara, 1 Maret 1921. Ia menempuh pendidikan seni di Taman Siswa dan dikenal lewat karya yang menyoroti kehidupan rakyat serta semangat kebangsaan. Selain seniman, ia juga pernah menjabat Gubernur DKI Jakarta pada 1964–1965.
Karya Henk memadukan gaya realis dengan sentuhan ekspresif. Lukisannya tidak hanya indah, tetapi juga sarat pesan sosial dan politik. Ia aktif di kelompok Pelukis Rakyat dan sering diminta Bung Karno membuat karya bertema perjuangan.
Frans dan Alex Mendur adalah pelopor foto jurnalistik Indonesia asal Minahasa, Sulawesi Utara. Frans mengabadikan momen pembacaan teks proklamasi 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta, sementara Alex banyak memotret peristiwa pasca kemerdekaan.
Pada 1946, mereka mendirikan IPPHOS (Indonesian Press Photo Service). Foto-foto Mendur bersaudara kini menjadi arsip visual penting, merekam perjalanan bangsa dari hari kemerdekaan hingga awal republik.
Baca juga: Jejak Lukisan Locatelli di Balik Dinding Istana
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.