Melestarikan Budaya Lewat Tenun Iban, Aram Bekelala Dorong Ekonomi Lokal
27 July 2025 |
21:30 WIB
Aram Bekelala Tenun Iban, merupakan sebuah program pemberdayaan yang mengusung misi pelestarian budaya sekaligus penguatan ekonomi para perempuan penenun di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Melalui pendekatan pemberdayaan komunitas, pelatihan teknik tenun, inovasi warna alami, hingga kolaborasi desain, program ini membuka jalan bagi regenerasi wastra Iban yang berkelanjutan dan berdaya saing di pasar modern.
Di balik gerakan ini, Yayasan Kawan Lama bersama mitra seperti Cita Tenun Indonesia, desainer Wilsen Willim, dan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) mengintegrasikan berbagai pendekatan mulai dari Training of Trainers (ToT) hingga pengembangan kapasitas komunitas.
Baca juga: Fashion Show Mantra di IFW 2025, Eksplorasi Tenun Tolaki dan Batik Wakaroros
Dengan melibatkan 20 fasilitator lokal yang menjangkau lebih dari 80 penenun lainnya, program ini telah mencatat partisipasi aktif dari lebih dari 100 penenun hingga Juli 2025.
Selain itu, juga berkolaborasi dengan desainer Wilsen Willim yang berperan menerjemahkan kekayaan wastra Tenun Iban ke dalam koleksi ready-to-wear yang sesuai dengan selera pasar modern, tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang terkandung.
Tak ketinggalan, dukungan pemerintah daerah dan Lingkar Temu Kabupaten Lestari membuka peluang integrasi program ke dalam perencanaan pembangunan daerah, sekaligus memungkinkan replikasi di wilayah lain yang memiliki potensi budaya dan sosial serupa.
Tasya Widyakrisnadi, Ketua Yayasan Kawan Lama menyampaikan, keterlibatan Wilsen Willim dan Lingkar Temu Kabupaten Lestari akan memastikan program ini tidak hanya berjalan tetapi juga memberikan dampak jangka panjang.
“Melalui kolaborasi lintas sektor ini, kami ingin memastikan dampak program tidak berhenti di pelatihan, tetapi juga mendorong lahirnya ekonomi sirkular yang inklusif dan berkelanjutan, terutama bagi komunitas penenun yang menjadi bagian penting dari warisan budaya Indonesia,” ujar Tasya Widyakrisnadi, Ketua Yayasan Kawan Lama, dalam keterangan resminya, dikutip Minggu (27/7/2025).
Inovasi dalam penggunaan pewarna alami dari tanaman lokal seperti ketawang, gambut, dan daun kratom juga menjadi pencapaian penting program ini. Sejak awal 2025, eksplorasi ini berhasil memperluas palet warna dari enam menjadi 69 warna berbeda yang berasal dari 23 jenis tanaman lokal.
Hasil ini tidak hanya mencerminkan besarnya potensi sumber daya hayati Kalimantan Barat, tetapi juga menghasilkan karakter warna khas yang tidak ditemukan di daerah lain.
Selain aman bagi penenun dan pemakainya, penggunaan pewarna alami ini memperkaya variasi warna kain, sekaligus meningkatkan keterampilan warga dalam mengolah bahan pewarna dari alam. Tanaman-tanaman pewarna alami juga mulai ditanam di pekarangan rumah dan hutan adat sebagai bagian dari upaya pelestarian yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Lebih jauh, program Aram Bekelala Tenun Iban juga menyentuh aspek sosial yang lebih dalam dengan membuka akses pendidikan dasar dan pengenalan budaya bagi anak-anak penenun.
Dengan memberi akses pendidikan bagi anak-anak penenun, program ini menanamkan nilai budaya sejak dini sekaligus menyiapkan generasi baru yang bisa menjaga dan meneruskan warisan tersebut. Langkah ini ikut memperkuat upaya pelestarian budaya yang berkelanjutan dan melibatkan semua generasi.
Midun, Kepala Desa Rantau Prapat, menuturkan bahwa dalam enam bulan terakhir, program ini memberikan dampak yang positif. Para perempuan penenun kini tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga merasakan peningkatan ekonomi dan sosial. Bahkan anak-anak mereka ikut merasakan manfaatnya melalui kegiatan pendidikan budaya.
"Kami melihat langsung bagaimana semangat dan keterampilan para penenun tumbuh, dan kami percaya ini adalah awal dari perubahan jangka panjang yang berkelanjutan," tutupnya.
Baca Juga: Pendopo Hadirkan Koleksi Langgam Urban di IFW 2025, Angkat Wastra Tenun Baduy
Melalui pendekatan pemberdayaan komunitas, pelatihan teknik tenun, inovasi warna alami, hingga kolaborasi desain, program ini membuka jalan bagi regenerasi wastra Iban yang berkelanjutan dan berdaya saing di pasar modern.
Di balik gerakan ini, Yayasan Kawan Lama bersama mitra seperti Cita Tenun Indonesia, desainer Wilsen Willim, dan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) mengintegrasikan berbagai pendekatan mulai dari Training of Trainers (ToT) hingga pengembangan kapasitas komunitas.
Baca juga: Fashion Show Mantra di IFW 2025, Eksplorasi Tenun Tolaki dan Batik Wakaroros
Dengan melibatkan 20 fasilitator lokal yang menjangkau lebih dari 80 penenun lainnya, program ini telah mencatat partisipasi aktif dari lebih dari 100 penenun hingga Juli 2025.

Perempuan Penenun (Sumber Foto: Yayasan Kawan Lama)
Selain itu, juga berkolaborasi dengan desainer Wilsen Willim yang berperan menerjemahkan kekayaan wastra Tenun Iban ke dalam koleksi ready-to-wear yang sesuai dengan selera pasar modern, tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang terkandung.
Tak ketinggalan, dukungan pemerintah daerah dan Lingkar Temu Kabupaten Lestari membuka peluang integrasi program ke dalam perencanaan pembangunan daerah, sekaligus memungkinkan replikasi di wilayah lain yang memiliki potensi budaya dan sosial serupa.
Tasya Widyakrisnadi, Ketua Yayasan Kawan Lama menyampaikan, keterlibatan Wilsen Willim dan Lingkar Temu Kabupaten Lestari akan memastikan program ini tidak hanya berjalan tetapi juga memberikan dampak jangka panjang.
“Melalui kolaborasi lintas sektor ini, kami ingin memastikan dampak program tidak berhenti di pelatihan, tetapi juga mendorong lahirnya ekonomi sirkular yang inklusif dan berkelanjutan, terutama bagi komunitas penenun yang menjadi bagian penting dari warisan budaya Indonesia,” ujar Tasya Widyakrisnadi, Ketua Yayasan Kawan Lama, dalam keterangan resminya, dikutip Minggu (27/7/2025).
Inovasi dalam penggunaan pewarna alami dari tanaman lokal seperti ketawang, gambut, dan daun kratom juga menjadi pencapaian penting program ini. Sejak awal 2025, eksplorasi ini berhasil memperluas palet warna dari enam menjadi 69 warna berbeda yang berasal dari 23 jenis tanaman lokal.
Hasil ini tidak hanya mencerminkan besarnya potensi sumber daya hayati Kalimantan Barat, tetapi juga menghasilkan karakter warna khas yang tidak ditemukan di daerah lain.
Selain aman bagi penenun dan pemakainya, penggunaan pewarna alami ini memperkaya variasi warna kain, sekaligus meningkatkan keterampilan warga dalam mengolah bahan pewarna dari alam. Tanaman-tanaman pewarna alami juga mulai ditanam di pekarangan rumah dan hutan adat sebagai bagian dari upaya pelestarian yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Masyarakat Kapuas Hulu (Sumber Foto: Yayasan Kawan Lama)
Lebih jauh, program Aram Bekelala Tenun Iban juga menyentuh aspek sosial yang lebih dalam dengan membuka akses pendidikan dasar dan pengenalan budaya bagi anak-anak penenun.
Dengan memberi akses pendidikan bagi anak-anak penenun, program ini menanamkan nilai budaya sejak dini sekaligus menyiapkan generasi baru yang bisa menjaga dan meneruskan warisan tersebut. Langkah ini ikut memperkuat upaya pelestarian budaya yang berkelanjutan dan melibatkan semua generasi.
Midun, Kepala Desa Rantau Prapat, menuturkan bahwa dalam enam bulan terakhir, program ini memberikan dampak yang positif. Para perempuan penenun kini tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga merasakan peningkatan ekonomi dan sosial. Bahkan anak-anak mereka ikut merasakan manfaatnya melalui kegiatan pendidikan budaya.
"Kami melihat langsung bagaimana semangat dan keterampilan para penenun tumbuh, dan kami percaya ini adalah awal dari perubahan jangka panjang yang berkelanjutan," tutupnya.
Baca Juga: Pendopo Hadirkan Koleksi Langgam Urban di IFW 2025, Angkat Wastra Tenun Baduy
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.