Fashion Show Mantra di IFW 2025 (Sumber Foto: Hypeabis.id/Abdurachman)

Fashion Show Mantra di IFW 2025, Eksplorasi Tenun Tolaki dan Batik Wakaroros

31 May 2025   |   06:20 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Gelaran Indonesia Fashion Week (IFW) 2025, hari ketiga pada Jumat (30/5/2025) menampilkan peragaan busana bertajuk Mantra. Terdiri dari koleksi desainer dari berbagai daerah Indonesia yang mengeksplorasi gaya couture sampai kasual. Lily Tenun Galeri dan desainer Julie Kaimuddin menampilkan koleksi berjudul Pesona Tenun Tolaki (Hinoru Ndolaki) Sulawesi Tenggara.

Koleksinya mengangkat wastra tenun suku Tolaki yang memiliki ciri khas warna dan coraknya yang cerah, serta motif-motifnya memiliki makna tentang kebanggan, kemakmuran, kecantikan, dan budi pekerti.

"Tenun ini belum terlalu banyak dikenal, karena dari Sulawesi Tenggara sendiri sudah banyak tenun lain. Namun Tenun Tolaki ini benar-benar mengakar dari budaya Tolaki," kata Julie Kaimuddin.

Baca juga: Allure of Indonesia IFW 2025, Saat Warisan Budaya Bertransformasi Jadi Busana Kontemporer

Koleksi yang ditampilkan terdiri dari 9 looks dan 2 muse. Kain tenunnya semua dibuat kurang lebih 3 bulan oleh para perajin Sulawesi Tenggara menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Menggabungkan kain tenun dengan kain modern menggunakan teknologi mesin pemanas sehingga menghasilkan kain bertekstur tiga dimensi.
 

Koleksi

Koleksi Lily Tenun Galeri X Julie Kaimuddin (Sumber Foto: Hypeabis.id/Abdurachman)


Tak kalah menarik, deretan busana couture mewah dari Ladzz by Lady Wantah tampil memukau. Koleksi ini terdiri dari gaun panjang off-shoulders dengan siluet fit body, belahan rok tinggi, dan ekor menyapu lantai. Material yang digunakan termasuk satin, tulle bermotif daun dan bunga, serta kain mengkilap.

"Hari ini saya dengan bangga mempersembahkan koleksi terbarunya yang bertajuk Timeless Hour, sebuah interpretasi keindahan yang tak terikat waktu. Koleksi ini bukan hanya tentang busana, tetapi tentang esensi wanita yang kuat, percaya diri, dan memikat tanpa kehilangan kelembutan alaminya," kata Lady Wantah.

Inspirasinya datang dari keindahan klasik siluet A-line yang lembut dan anggun, potongan mermaid yang sensual namun tetap terjaga. Perpaduan ini menciptakan harmoni antara nostalgia dan keberanian modern antara kekuatan dan kehalusan suara dan keheningan yang agung.

Palet warnanya seperti cokelat mousse, rose gold, dan cokelat muda dipilih untuk memantulkan cahaya, menciptakan kesan hangat sekaligus mewah. Timeless Hour adalah pernyataan bahwa seorang wanita bisa menjadi segalanya sekaligus klasik, seksi, lembut, kuat, cantik, dan memukau.

 

Koleksi

KoleksiLadzz by Lady Wantah (Sumber Foto: Hypeabis.id/Abdurachman)


Lainnya ada Dekranasda Kabupaten Kutai Timur berkolaborasi dengan The RattyKha oleh Nora Suratman membawakan koleksi busana modest. Koleksinya terdiri dari gamis berbahan batik yang dipadukan dengan wastra batik khas Kutai Timur.

Tak ketinggalan, busana pria seperti beskap dan kemeja, dipadukan dengan celana panjang dan kain yang dililit di pinggang. Palet warnanya mengeksplorasi nuansa hijau cerah, kuning, coral, serta cokelat sebagai warna alami batik.

"Saya membawakan batik khas Kutai Timur, wakaroros bersama batik-batik setempat lainnya seperti batik juwita dan batik Paku dan lainnya," kata Nora.

Batik Wakaroros sendiri adalah motif batik yang terinspirasi dari ukiran kayu tradisional suku Dayak Basap, khususnya motif akar tumbuhan oros. Motif ini memiliki makna khusus dan melambangkan kekayaan alam serta budaya lokal Dayak Basap. Proses pewarnaan batik wakaroros juga masih menggunakan bahan alami seperti getah kayu ulin. 
 

Koleksi

Koleksi Dekranasda Kabupaten Kutai Timur X The RattyKha by Nora Suratman (Sumber Foto: Hypeabis.id/Abdurachman)


Di sisi lain, Dekranasda Kabupaten Ngawi bersama merek fesyen Dannique menghadirkan busana modest kasual. Atasan tunik dipadukan celana bermotif dan atasan kemeja berlengan balon yang dikombinasikan dengan rok panjang lurus. Warna coral dan turquoise menciptakan nuansa segar, dilengkapi topi bundar berpita yang manis.

"Saya ingin mengangkat keindahan dan potensi kota Ngawi melalui karya bertema berbunga ini yang terinspirasi dari motif-motif cantik, feminin, dan anggun," kata Dani Paraswati founder Dannique.

Lewat karya busananya itu, dia juga mengangkat konsep sustainable tak hanya dari bahan, tetapi dari desainnya juga. Artinya, busana ini bisa dibuat ulang dan dijual kembali dengan nilai tinggi.
 

Koleksi

Koleksi Dekranasda Kabupaten Ngawi X Dannique (Sumber Foto: Hypeabis.id/Abdurachman)


Lainnya ada Rhino Indonesia bersama desainer Hanny Lovelly menampilkan busana modest bergaya couture. Koleksinya terdiri dari gamis polos dipadukan outer bermotif, tunik dengan celana lebar, serta baju koko pria yang dipadukan outer panjang mewah. Palet warnanya meliputi putih, hitam, merah, burgundy, dan cokelat keemasan.

"Hari ini saya menampilkan koleksi bertajuk Anvaya, yang dalam bahasa Sansekerta berarti garis keturunan atau kesinambungan dari masa lalu," kataHanny.

Motif tenun dan songket Batak dalam koleksi ini bukan sekadar visual, tetapi simbol identitas dan kebanggaan. Sang desainer menerjemahkannya ke dalam kain printing dari Rhino Indonesia. 

 

Koleksi

Koleksi Rhino Indonesia X Hanny Lovelly (Sumber Foto: Hypeabis.id/Abdurachman)


Terakhir Rhino Indonesia juga berkolaborasi dengan Alicia Amaris, menampilkan pesona budaya Betawi dalam busana couture mewah. Koleksi ini terdiri dari gaun pendek dengan rok berpotongan tinggi. Palet warna yang digunakan mencakup putih, hijau, biru, dan merah. Menariknya saat di runway, para model mencoret-coret busana putih mereka menggunakan laser biru yang menciptakan pola visual unik meski tak permanen.

Baca juga: Desainer Aida Kaumenova Hadirkan Budaya Kazakhstan Lewat Mode di IFW 2025

"Koleksi pertama saya bertajuk The Betawi Chronicles, menceritakan perjalanan Jakarta dari suatu daerah hingga menjadi megapolitan. Tema utamanya Betawi karena saya asli Jakarta," katanya.

Saya menciptakan tiga motif, yakni jali-jali, pohon kelapa dari Batik Nusa Kelapa, dan bunga kelapa dari hiasan ondel-ondel. Semua desain ini dibuat lebih modern untuk generasi muda agar tetap mengingat akar budaya Jakarta. Siluet-siluetnya segar namun tetap berciri budaya.
 

Koleksi

Koleksi Rhino Indonesia X Alicia Amaris, (Sumber Foto: Hypeabis.id/Abdurachman)


Adapun Gelaran Indonesia Fashion Week (IFW) 2025 digelar pada 28 Mei hingga 1 Juni 2025 dan diikuti lebih dari 200 desainer dan merek fesyen ternama. Hari ketiga menampilkan empat slot fashion show yang memamerkan koleksi busana para desainer dari berbagai daerah Indonesia yang mengacu pada tema Ronakultura sebagai konsep besar pekan mode IFW 2025.

Show pertama bertajuk Allure of Indonesia yang memperlihatkan koleksi busana karya mahasiswa Italian Fashion School Jakarta. Dilanjutkan dengan show bertajuk Serenaya dan Mantra yang menampilkan koleksi busana karya desainer daerah. Terakhir show berjudul Megakultura Jakarta yang membawakan koleksi para desainer dan rumah mode seperti Raga Bicara, Fukugu, kebaya kembang, Batik Marunda, dan lainnya.

SEBELUMNYA

Hari Tanpa Tembakau, Dokter Ungkap Bahaya Asapnya Bagi Perokok Pasif

BERIKUTNYA

Cek Lineup & Jadwal Lengkap BNI Java Jazz Festival 2025 Day 2, Ada Isyana Sarasvati & Danilla

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga