Still photo A Normal Woman. (Sumber gambar: Netflix)

Trending di Netflix, Simak 5 Fakta Menarik Film A Normal Woman

27 July 2025   |   19:39 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

A New Woman menjadi film yang kini tengah populer di Netflix. Film yang dibintangi Marissa Anita itu menduduki posisi nomor 1 dalam daftar Top 10 Movies in Indonesia. A New Woman unggul dari film-film lainnya dari berbagai negara yang tayang di layanan streaming asal AS tersebut.

Menurut data dari Flix Patrol per 26 Juli 2025, A New Woman berada di puncak daftar Top 10 Movies in Indonesia alias film-film Netflix yang paling banyak ditonton oleh pemirsa di Indonesia. Film besutan Lucky Kuswandi itu unggul dari beberapa film lainnya dari berbagai negara yang juga masuk dalam daftar.

Mulai dari film Jepang Monster Island, film animasi Amerika Serikat KPop Demon Hunters, film Korea Selatan yang dibintangi Kang Ha-neul, Wall to Wall, hingga film thriller Jerman berjudul Brick.
 
Dari segi cerita, A Normal Woman berkisah tentang Milla (diperankan oleh Marissa Anita), seorang ibu rumah tangga dan sosialita yang hidup dalam kesempurnaan. Akan tetapi, hidupnya mulai goyah saat dia harus mengidap penyakit misterius yang tak bisa disembuhkan. 
 
Saat kondisi tersebut mulai membuat hidupnya kacau, Milla harus mengungkap misteri di balik penyakit itu sebelum semuanya terlambat. Penyakit yang diidapnya itu juga akan mengungkap sisi gelap masa lalunya. 
 
Sebelum mengikuti kisahnya, simak fakta-fakta menarik dari film A Normal Woman seperti yang telah dirangkum Hypeabis.id berikut ini.
 
 

1. Angkat fenomena Woman Trapped

Film A Normal Woman lahir dari gagasan sutradara Lucky Kuswandi yang berangkat dari fenomena a woman trapped, perempuan yang terkungkung. Bersama penulis naskah Andri Cung, Lucky ingin mengangkat bagaimana norma-norma sosial yang ketinggalan zaman masih terus menjerat perempuan, bahkan di era modern. Hal ini digambarkan lewat karakter Milla yang diperankan oleh Marissa Anita.
 
Dalam kisahnya, Milla hidup di dalam belenggu keluarga Gunawan. Dia menikah dengan Jonathan (Dion Wiyoko), putra tunggal dari keluarga konglomerat pemilik bisnis farmasi. Liliana (Widyawati), sang ibu mertua sekaligus pemegang kekuasaan tertinggi dalam keluarga Gunawan, jadi figur dominan yang turut mengekang Milla. Sebagai seorang matriarki sejati, Liliana berada di puncak struktur kekuasaan keluarga Gunawan, diikuti Jonathan, dan Milla berada di posisi terbawah.
 
Marissa mengatakan Milla merupakan representasi perempuan yang kehilangan otonomi atas tubuh dan hidupnya. Sejak kecil, Milla sudah terbiasa hidup di bawah kendali figur otoritatif, mulai dari ibunya sendiri, lalu berpindah ke suami dan ibu mertua setelah menikah. Dia hidup layaknya boneka yang selalu tampil manis demi menyenangkan orang lain.
 
“Film ini adalah perjalanan Milla untuk mencari dirinya sendiri. Bagaimana manusia tumbuh dari pengalaman-pengalaman hidupnya. Saya pun bisa memahami Milla, Marissa di usia 20 tahun berbeda dengan Marissa di usia 40 tahun," katanya.
 

Still photo A Normal Woman. (Sumber gambar: Netflix)

Tim kru dan pemain A Normal Woman. (Sumber gambar: Netflix)
 

2. Inspirasi cerita A Normal Woman

Lucky selaku penulis sekaligus sutradara mengatakan dirinya terinspirasi membuat A Normal Woman lantaran ingin membuat sebuah film yang membawa penontonnya masuk ke dalam dunia batin seorang karakter (the mind of the character). Sehingga, pendekatan visual filmnya dilihat dari kacamata karakter utamanya. 
 
"Jadi, saya selalu tertarik untuk bermain dengan subjective dan objective point of view, dan bagaimana itu memengaruhi cara penonton memandang karakter.
 
Selain itu, dia juga mengaku selalu suka dengan buku dan film gothic. Contohnya seperti Rebecca karya Alfred Hitchcock dan novel-novel Charlotte Brontë, yang umumnya menggambarkan seorang perempuan yang terperangkap (a woman trapped) dalam sebuah ruang yang mengancam. Dia pun akhirnya terinspirasi untuk menuliskan ide tersebut ke dalam film bersama dengan penulis Andri Cung.
 
Dalam menggarap filmnya, Lucky melakukan banyak riset tentang penyakit-penyakit misterius dan chronic pain. Misalnya autoimun yang sering kali tidak tahu penyebab pastinya. Menurutnya, manusia acapkali tidak menyadari kalau dirinya sedang hidup di lingkungan yang sangat abnormal, yang menjauhkan mereka dari autentisitasnya sebagai seorang manusia.
 
Itu yang menyebabkan tubuh kita sakit. Tubuh kita memberontak dan ingin memberitahukan ke kita, bahwa ada yang salah dengan diri kita. Kita terlalu melekatkan diri pada karier, prestasi, status, kekayaan sampai akhirnya kita menjauh dari diri kita yang sebenarnya. Jadi ini yang ingin kami bahas di A Normal Woman, tubuh kita sebenarnya sangat cerdas, ia bisa memberi tahu kita bahwa ada yang tidak normal dari cara kita menjalankan hidup," jelasnya.
 

3. Potret keluarga kaya yang dingin

Megah dan sempurna jadi kata kunci dalam mendeskripsikan keluarga Gunawan. Kemegahan dalam film A Normal Woman bukan hanya menjadi latar, tetapi juga bagian dari konflik batin tokoh utamanya, Milla. Untuk menciptakan dunia ini, setiap departemen produksi A Normal Woman saling bekerja sama dengan intens.
 
Dari set hingga kostum, semua dirancang untuk mencerminkan persona karakter, sekaligus menciptakan suasana dingin, hampa, dan rasa terkekang. Departemen wardrobe, misalnya, menggandeng berbagai desainer high-end untuk menciptakan tampilan elegan nan otoritatif bagi para tokohnya. 
 
Tak hanya mencerminkan kemegahan, wardrobe juga berperan untuk membangun karakter. Untuk Milla, dipilih busana dengan warna-warna muted dan siluet yang tidak menonjol. “Banyak busana Milla dirancang agar ia tampak menyatu dengan lingkungannya, hampir tak terlihat. Kami ingin menampilkan kesan depresif hidup Milla lewat pakaiannya," ujar Fadillah Putri selaku penata busana A Normal Woman.
 
Set film juga tak kalah pentingnya dalam membangun suasana. Penata produksi Teddy Kho merancang seluruh set interior dari nol. Baginya, film ini jadi peluang untuk menunjukkan bahwa genre drama pun layak digarap serius secara produksi. 
 
Hasilnya adalah rumah megah yang justru terasa sunyi dan tak ramah. Setiap sudut dirancang agar terasa asing bagi Milla. Tak ada jejak dirinya dalam rumah tersebut. Semua keputusan estetika mencerminkan selera keluarga Gunawan, bukan pilihan Milla. 
 
Begitupun secara arsitektur, rumah keluarga Gunawan bahkan dirancang menyerupai penjara, lengkap dengan garis-garis vertikal yang kaku dan membatasi.
 
“Berdasarkan hasil diskusi kreatif dengan Lucky Kuswandi dan kepala-kepala departemen, kami memutuskan untuk menggambarkan rumah yang terlihat cantik dan sempurna tapi sangat dingin. Ruang gerak karakter Milla juga seakan-akan terbatas. Semua yang ia lakukan adalah untuk keluarganya,” jelas Teddy.
 
Untuk menguatkan suasana terkurung ini, tim penata produksi bekerja sama dengan departemen sinematografi. Sinematografer Batara Goempar menerapkan pendekatan eksploratif dalam pemilihan lensa, pencahayaan, hingga tone warna. Semua dirancang agar penonton turut merasakan tekanan batin yang dialami Milla.
 
“Kami banyak melakukan permainan lensa. Ada satu lensa yang kami pakai untuk menggambarkan feel matanya Milla melihat. Jadi seperti ada sesuatu di belakang matanya. Nah, alat-alat itu sebetulnya dipakai bukan untuk sekadar perkara teknis, tapi bagaimana mereka bisa menjadi pendukung cerita,” tutur Batara.
 
 

4. Kisah perempuan menemukan jati diri

Film A Normal Woman menghadirkan kisah perempuan yang sedang dalam proses menemukan kembali dirinya. Ini digambarkan oleh Milla sekaligus putrinya, Angel (diperankan Mima Shafa). Jika Milla sedang berada dalam fase terkekang dan kehilangan jati dirinya, Angel digambarkan sebagai karakter remaja perempuan yang tengah bergulat dengan self-image.
 
Mima Shafa mengaku sangat dekat dengan karakter Angel. Dia mengisahkan bahwa masa pubertasnya juga diwarnai tekanan. Dia kerap dibandingkan dengan sang ibu yang dianggap lebih memenuhi standar kecantikan Indonesia.
 
Sebagai seorang pegiat kesehatan mental dan body positivity, Mima sering membagikan perjalanannya dalam mencintai dan menerima dirinya sendiri. 
 
“Karakter Angel sangat personal dan relatable buat aku. Memerankan Angel rasanya seperti memberi penghormatan untuk diri aku yang dulu. It’s such a big honor for me," ucapnya.
 
Lucky mengatakan A Normal Woman mengajak penonton untuk mendiskusikan kembali tentang standar kecantikan dan relasi ibu-anak perempuan melalui perjalanan hidup Milla dan Angel dalam menemukan autentisitas diri mereka. 

"Lewat karakter dan dinamika yang kompleks, film ini mengajak penonton menyelami sisi-sisi kehidupan yang dekat bagi banyak orang—dari ekspektasi rumah tangga yang ideal, tekanan sosial dan tuntutan reputasi, hingga pencarian jati diri dan luka masa lalu yang belum pulih," ujarnya.
 

5. Kritik terhadap ekspektasi usang pada perempuan

Liliana (Widyawati), kepala keluarga atau the matriarch dari keluarga Gunawan, hadir sebagai sosok yang menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional dan berkeras untuk melanggengkannya. Bagi Liliana, tugas seorang istri adalah mengurus urusan domestik rumah tangga, melayani suami, serta menjaga kehormatan dan reputasi keluarga.
 
Nilai-nilai itu pun ia pegang teguh dan ia tuntut kepada menantunya, Milla. Ekspektasi ini membuat hubungan Liliana dan Milla tidak harmonis. Namun, ketegangan tak hanya terjadi antara Liliana dan Milla. Nilai-nilai konservatif Liliana juga berbenturan dengan cucunya, Angel, seorang remaja dari generasi yang jauh lebih vokal dan sadar akan isu kesetaraan gender.
 
Benturan-benturan nilai antargenerasi yang digambarkan dalam A Normal Woman ini membuka sebuah ruang refleksi, bahwa warisan norma sosial di masa lalu bisa jadi tidak relevan di masa kini.
 
Film ini secara tajam memperlihatkan bagaimana kesadaran akan gender terus berkembang. Ekspektasi patriarkis dan usang yang ditanamkan Liliana kepada Milla—untuk selalu melayani kebutuhan suami, mertua, dan anak—bisa jadi sah-sah saja bagi generasi Liliana, tetapi ini menjadi sesuatu yang disebut generasi Milla dan Angel dengan tegas sebagai “penindasan”.
 
"Mereka tidak lagi bisa menoleransi nilai-nilai tersebut. Apa yang dianggap normal Liliana bagi kami justru terasa salah,” ujar Marissa.
 

SEBELUMNYA

Melestarikan Budaya Lewat Tenun Iban, Aram Bekelala Dorong Ekonomi Lokal

BERIKUTNYA

Belum Ada Perlindungan Seragam, Transfer Data WNI ke AS Tuai Kekhawatiran

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: