Pengunjung menikmati salah satu karya dalam pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro, di Galeri Nasional Indonesia, Senin, (21/7/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny Kusumawardhani)

Menyalakan Ingatan: Cek 5 Karya Sorotan di Pameran Nyala Galnas

25 July 2025   |   00:03 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Galeri Nasional Indonesia kembali menghadirkan pameran temporer. Kali ini, salah satu institusi seni rupa terbesar di Indonesia itu menyelenggarakan pameran untuk mengenang 200 tahun Perang Jawa bertajuk Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro, yang berlangsung dari 22 Juli hingga 15 September 2025.

Pameran ini menampilkan karya dari 26 seniman Indonesia lintas generasi, dari era kolonial hingga kontemporer, yang merefleksikan sosok Pangeran Diponegoro—figur legendaris yang menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dalam Perang Jawa (1825–1830).

Baca juga: Menyalakan Ingatan Kolektif: Perang Diponegoro dalam Tafsir Artistik di Galnas

Beberapa seniman yang berpartisipasi antara lain Raden Saleh, Basoeki Abdullah, Wayan Kun Adyana, Nasirun, Adryan Adinugraha x Fahira Herniman (Tab Space), Aliansyah Caniago, Arafura, Ugo Untoro, Jompet Kuswidananto, Irene Agrivina, dan nama-nama lainnya.
 
 


Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, mengatakan bahwa penyelenggaraan pameran ini merupakan bentuk penghormatan sekaligus ajakan untuk mengenali dan mengapresiasi nilai-nilai keteladanan dari sosok Diponegoro yang masih relevan sebagai cermin bangsa hari ini.

Tema Nyala dipilih untuk menggugah kembali ingatan tentang keberanian, nilai kepahlawanan, dan keteguhan hati dalam membela Tanah Air. “Dia bukan sekadar nyala fisik, tetapi nyala semangat, nyala budaya, dan nyala sejarah yang terus hidup di tengah masyarakat kita hari ini,” katanya.

Lantas, seperti apa citraan visual yang dapat dinikmati Genhype dalam pameran ini? Berikut lima karya yang dihimpun Hypeabis.id selama sesi media preview dan bisa menjadi alasan untuk segera mengunjungi pameran ini.

1. Raden Saleh, Penangkapan Diponegoro (1857)
 

ahah

Pengunjung menikmati karya bertajuk Penangkapan Diponegoro dalam pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro, di Galeri Nasional Indonesia, Senin, (21/7/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny Kusumawardhani)
 

Karya klasik ini merupakan salah satu aset visual paling berharga milik bangsa Indonesia. Lukisan ini dibuat oleh Raden Saleh (1811–1880) sebagai respons atas karya Nicolas Pieneman (1809–1860) yang menggambarkan peristiwa penangkapan Diponegoro.

Berbeda dengan karya Pieneman, Raden Saleh justru melukiskan Diponegoro dengan ekspresi tegas dan menantang, bukan dengan wajah lelah dan pasrah. Lukisan ini juga menghadirkan peristiwa lokal dengan pendekatan estetika Eropa.

2. Galam Zulkifli, Jalan Sang Ratu Adil #2 (2025)

Galam memboyong karya yang cukup tak biasa. Alih-alih menggambarkan sosok Diponegoro, dia memilih mengeksplorasi figur Ratu Adil sebagai penanda keseharian, seperti nama jalan dan penunjuk arah di lanskap urban.

Uniknya, karya ini lahir dari eksperimen media sosial, di mana sang seniman mengumpulkan lebih dari 20.000 foto suasana Jalan Diponegoro dari 126 kota. Hasilnya adalah video digital yang dikombinasikan dengan wajah-wajah etnik dari berbagai daerah di Indonesia.

3. Yosep Arizal, The Cock (2025)

Instalasi berbentuk metafora ayam jantan ini menyoroti ketegangan budaya selama Perang Jawa. Karya ini merefleksikan penolakan Diponegoro terhadap proyek kolonial, seperti pembangunan rel kereta yang melintasi makam leluhurnya.

Dengan pendekatan material dan visual, Yosep mengeksplorasi relasi kuasa antara yang mengendalikan dan yang dikendalikan dalam sistem kolonial. Karya ini menjadi ruang tafsir baru yang mengajak pengunjung merenungkan warisan tak kasat mata yang masih terasa dalam tubuh bangsa.

4. Sutjipto Adi, Vibrasi Bara Tanah Nusantara (2025)
 

ahal

Pengunjung melintasi karya bertajuk Vibrasi Bara Tanah Nusantara dalam pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro, di Galeri Nasional Indonesia, Senin, (21/7/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny Kusumawardhani)

Menggunakan medium cat akrilik dan spidol di atas kanvas berukuran 200 x 450 cm, karya ini menyajikan tafsir visual atas vibrasi perjuangan yang menyala selama berabad-abad di Nusantara dan menjadi pemantik Perang Jawa.

Terdiri dari tiga panel kanvas, seniman membentuk semacam anyaman waktu yang menyampaikan narasi non-verbal tentang luka, perlawanan, dan harapan. Di saat yang sama, Sutjipto membangun ketegangan emosional melalui permainan garis, tekstur, dan benturan warna.

5. Arafura, Ulangan (2025)

Karya kolektif Arafura ini berbentuk instalasi interaktif dengan proyeksi visual. Karya berdimensi variatif ini membicarakan isu landreform, dengan menempatkan tanah bukan sekadar ruang fisik, melainkan bagian dari praktik hidup masyarakat.

Menggunakan lembar soal pilihan ganda, publik diajak mengisi daftar pertanyaan yang diajukan Arafura. Tak ada jawaban benar atau salah, karena seluruh respons diproses secara algoritmik dan memunculkan citra visual secara langsung di dinding instalasi.

Baca juga:  200 Tahun Perang Diponegoro, Galnas Hadirkan Pameran Interdisipliner Bertajuk Nyala

SEBELUMNYA

Uji Publik Penulisan Buku Sejarah Nasional Indonesia Mulai Digelar

BERIKUTNYA

Hightown, Film Drama Kejahatan Tayang di Netflix

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: