200 Tahun Perang Diponegoro, Galnas Hadirkan Pameran Interdisipliner Bertajuk Nyala
21 July 2025 |
13:43 WIB
Genhype penikmat seni siap semringah. Pasalnya, pada pertengahan tahun ini, Museum dan Cagar Budaya unit Galeri Nasional Indonesia (Galnas) siap menggelar pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro, yang berlangsung dari 22 Juli hingga 15 September 2025.
Nyala merupakan pameran seni dan sejarah yang mengangkat kembali makna perjuangan Diponegoro melalui perspektif visual, artistik, dan interdisipliner. Seteleng ini dihelat untuk menyambut peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus mengenang dua abad meletusnya peristiwa bersejarah Perang Diponegoro (1825–1830).
Direktur Eksekutif Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin, menyatakan bahwa dua abad setelah Perang Jawa, warisan Diponegoro tidak berhenti pada perlawanan terhadap kolonialisme. Diponegoro, sebagai sosok sentral dalam perang tersebut, menurutnya, tak pernah selesai untuk ditafsirkan ulang.
Baca juga: Cerita Ragam Pusaka Pangeran Diponegoro di Museum Nasional Indonesia
Dia menjelaskan bahwa dalam pameran ini, sosok Diponegoro tidak hanya dihadirkan sebagai subjek visual, tetapi sebagai medan wacana yang terus memicu tafsir, pemikiran, dan ekspresi kreatif. Lewat pameran ini, dia berharap masyarakat dapat melihat relevansi narasi sejarah Nusantara dengan situasi kekinian.
“Museum dan Cagar Budaya melihat pentingnya ruang semacam ini untuk memperkaya dialog antara warisan budaya, seni rupa, dan identitas bangsa,” katanya dalam konferensi pers di Galeri Nasional, Senin (21/7/2025).
Selaras, salah satu kurator pameran, Putra Hidayatullah, menyebut Perang Diponegoro sebagai peristiwa monumental dalam sejarah perlawanan Nusantara terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Perang ini berlangsung lima tahun dan memakan ratusan ribu korban jiwa.
Dari sosok dan peristiwa besar itulah, pameran ini mencoba menggali kembali memori, narasi, dan tafsir yang diterjemahkan oleh para seniman lintas generasi ke dalam karya-karya mereka. Visual yang dihadirkan beragam, mulai dari figur Diponegoro hingga semangat perlawanannya yang dikontekstualisasi dalam situasi hari ini.
“Jadi ini soal bagaimana Diponegoro bukan hanya soal medan di Pulau Jawa. Ia harus menjadi dorongan di luar [wilayah tersebut], seperti perebutan hak atas ruang hidup, dan terhubung dengan pulau-pulau lain, bahkan antar benua,” jelasnya.
Lebih jauh, Putra menjelaskan bahwa tim kurator yang terdiri atas Citra Smara Dewi, Dio Pamola Chandra, dan dirinya, telah memilih 33 karya dari 26 perupa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Karya-karya ini meliputi lukisan, patung, instalasi, sketsa, hingga seni media seperti augmented reality, video, dan instalasi imersif.
Seniman yang berpartisipasi antara lain Raden Saleh, Basoeki Abdullah, Adryan Adinugraha x Fahira Herniman (Tab Space), Aliansyah Caniago, Arafura, Ugo Untoro, Jompet Kuswidananto, Irene Agrivina, dan masih banyak lagi.
Tak hanya menampilkan sosok Diponegoro secara literal, pameran ini juga menelusuri narasi tersembunyi seperti tokoh-tokoh non-sentral, pengalaman rakyat biasa, suara perempuan, hingga kisah sosiokultural yang terbentuk di sekitar peristiwa tersebut dan pengaruhnya hingga kini.
Menariknya, pengunjung juga dapat menikmati berbagai artefak seperti arsip, naskah, koin, dan buku-buku langka terkait Perang Diponegoro. Melalui pendekatan ini, publik diajak untuk menyelami semangat perjuangan dan sikap anti-kolonialisme sebagai nilai utama dari peristiwa tersebut.
Pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro terbuka untuk publik setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 19.00 WIB, kecuali pada hari libur nasional. Pengunjung dapat membeli tiket langsung di lokasi atau melalui aplikasi Traveloka.
Adapun harga tiketnya adalah Rp25.000 untuk anak (3–12 tahun), Rp50.000 untuk dewasa (13–60 tahun), Rp100.000 untuk Warga Negara Asing, serta gratis untuk anak di bawah 3 tahun dan dewasa di atas 60 tahun. Tiket ini juga mencakup akses ke Pameran Tetap Galeri Nasional Indonesia dan Kids Biennale Indonesia 2025: Tumbuh Tanpa Takut.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Nyala merupakan pameran seni dan sejarah yang mengangkat kembali makna perjuangan Diponegoro melalui perspektif visual, artistik, dan interdisipliner. Seteleng ini dihelat untuk menyambut peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus mengenang dua abad meletusnya peristiwa bersejarah Perang Diponegoro (1825–1830).
Direktur Eksekutif Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin, menyatakan bahwa dua abad setelah Perang Jawa, warisan Diponegoro tidak berhenti pada perlawanan terhadap kolonialisme. Diponegoro, sebagai sosok sentral dalam perang tersebut, menurutnya, tak pernah selesai untuk ditafsirkan ulang.
Baca juga: Cerita Ragam Pusaka Pangeran Diponegoro di Museum Nasional Indonesia
Dia menjelaskan bahwa dalam pameran ini, sosok Diponegoro tidak hanya dihadirkan sebagai subjek visual, tetapi sebagai medan wacana yang terus memicu tafsir, pemikiran, dan ekspresi kreatif. Lewat pameran ini, dia berharap masyarakat dapat melihat relevansi narasi sejarah Nusantara dengan situasi kekinian.
“Museum dan Cagar Budaya melihat pentingnya ruang semacam ini untuk memperkaya dialog antara warisan budaya, seni rupa, dan identitas bangsa,” katanya dalam konferensi pers di Galeri Nasional, Senin (21/7/2025).
Selaras, salah satu kurator pameran, Putra Hidayatullah, menyebut Perang Diponegoro sebagai peristiwa monumental dalam sejarah perlawanan Nusantara terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Perang ini berlangsung lima tahun dan memakan ratusan ribu korban jiwa.
Dari sosok dan peristiwa besar itulah, pameran ini mencoba menggali kembali memori, narasi, dan tafsir yang diterjemahkan oleh para seniman lintas generasi ke dalam karya-karya mereka. Visual yang dihadirkan beragam, mulai dari figur Diponegoro hingga semangat perlawanannya yang dikontekstualisasi dalam situasi hari ini.
“Jadi ini soal bagaimana Diponegoro bukan hanya soal medan di Pulau Jawa. Ia harus menjadi dorongan di luar [wilayah tersebut], seperti perebutan hak atas ruang hidup, dan terhubung dengan pulau-pulau lain, bahkan antar benua,” jelasnya.
Lebih jauh, Putra menjelaskan bahwa tim kurator yang terdiri atas Citra Smara Dewi, Dio Pamola Chandra, dan dirinya, telah memilih 33 karya dari 26 perupa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Karya-karya ini meliputi lukisan, patung, instalasi, sketsa, hingga seni media seperti augmented reality, video, dan instalasi imersif.
Seniman yang berpartisipasi antara lain Raden Saleh, Basoeki Abdullah, Adryan Adinugraha x Fahira Herniman (Tab Space), Aliansyah Caniago, Arafura, Ugo Untoro, Jompet Kuswidananto, Irene Agrivina, dan masih banyak lagi.
Tak hanya menampilkan sosok Diponegoro secara literal, pameran ini juga menelusuri narasi tersembunyi seperti tokoh-tokoh non-sentral, pengalaman rakyat biasa, suara perempuan, hingga kisah sosiokultural yang terbentuk di sekitar peristiwa tersebut dan pengaruhnya hingga kini.
Menariknya, pengunjung juga dapat menikmati berbagai artefak seperti arsip, naskah, koin, dan buku-buku langka terkait Perang Diponegoro. Melalui pendekatan ini, publik diajak untuk menyelami semangat perjuangan dan sikap anti-kolonialisme sebagai nilai utama dari peristiwa tersebut.
Pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro terbuka untuk publik setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 19.00 WIB, kecuali pada hari libur nasional. Pengunjung dapat membeli tiket langsung di lokasi atau melalui aplikasi Traveloka.
Adapun harga tiketnya adalah Rp25.000 untuk anak (3–12 tahun), Rp50.000 untuk dewasa (13–60 tahun), Rp100.000 untuk Warga Negara Asing, serta gratis untuk anak di bawah 3 tahun dan dewasa di atas 60 tahun. Tiket ini juga mencakup akses ke Pameran Tetap Galeri Nasional Indonesia dan Kids Biennale Indonesia 2025: Tumbuh Tanpa Takut.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.