Pengunjung menikmati salah satu karya dalam pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro, di Galeri Nasional Indonesia, Senin, (21/7/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny Kusumawardhani)

Dua Wajah Ingatan Perang Jawa: Dari Arsip ke Kanvas di Perpusnas & Galnas

25 July 2025   |   13:30 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Dua abad sejak Perang Jawa (1825–1830) meletus, gema perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap kolonialisme Belanda kembali dihidupkan melalui dua pameran lintas medium: naskah dan arsip di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), serta seni rupa kontemporer di Galeri Nasional Indonesia (Galnas). 

Dua ruang ini tak hanya menjadi wadah apresiasi sejarah, tetapi juga panggung refleksi atas makna perjuangan dan ingatan kolektif di masa kini—terutama dalam membayangkan ulang semangat dekolonialisme melalui seni dan dokumentasi sejarah. 

Perang Jawa merupakan salah satu konflik terberat yang pernah dihadapi pemerintah kolonial Hindia Belanda. Lebih dari sekadar catatan perlawanan bersenjata, perang ini menjelma sebagai simbol kebangkitan kesadaran nasional, yang kelak menginspirasi generasi-generasi berikutnya untuk menolak penindasan dalam berbagai bentuk. 

Baca juga: Memaknai Perang Jawa yang Dipimpin Pangeran Diponegoro Menurut Sejarawan Peter Carey 

Dua pameran bertajuk 200 Tahun Perang Jawa di Perpusnas, dan Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro di Galnas, menjadi upaya lintas institusi untuk merawat, menafsirkan, sekaligus membagikan kembali semangat perjuangan tersebut kepada publik hari ini.

Kendati hadir dengan pendekatan berbeda, keduanya saling melengkapi dalam menghidupkan kembali ingatan akan momen krusial sejarah bangsa. Sebab, pameran ini mengajak publik untuk membaca ulang narasi sejarah melalui perspektif yang lebih segar dan reflektif. 

Saat Hypeabis.id mengunjungi Perpusnas pada Rabu (23/7/25), ruang pamer tampak cukup ramai dikunjungi anak muda. Beberapa di antaranya menulis pesan dan kesan terhadap sosok Diponegoro, kolonialisme, serta relevansi keduanya dalam konteks kekinian. 

Pameran di Perpusnas menghadirkan senarai trivia penting tentang kehidupan Diponegoro, mulai dari masa kecil hingga masa pengasingan. Salah satu daya tarik utama adalah kehadiran naskah asli Babad Diponegoro, manuskrip autobiografis yang ditulis langsung oleh sang pangeran setelah ditangkap secara licik oleh pihak kolonial. 

Selain itu, publik juga bisa menyaksikan pelana kuda dan keris milik Diponegoro yang telah dikembalikan oleh pemerintah Belanda masing-masing pada 1978 dan 2020. Kedua pusaka tersebut sebelumnya menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia dan pernah ditampilkan dalam pameran tetap mereka.
 

Pengunjung membaca salah satu arsip dalam pameran 200 Tahun Perang Jawa di Perpusnas, Rabu, (23/7/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Pengunjung membaca salah satu arsip dalam pameran 200 Tahun Perang Jawa di Perpusnas, Rabu, (23/7/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Tak hanya arsip dan memorabilia, pengunjung juga diajak menelusuri jejak visual perjuangan Diponegoro melalui medium komik, film, hingga lukisan, termasuk dua karya klasik dalam bentuk reproduksi karya Raden Saleh dan Nicolaas Pieneman yang menyajikan narasi kontras atas penangkapan sang pangeran—dari sudut pandang Indonesia dan Belanda. 

Berbeda dengan Perpusnas yang mengandalkan kekuatan dokumentasi dan narasi sejarah, Galnas menawarkan pendekatan artistik dalam menafsirkan kembali sosok Diponegoro. Galeri seni terbesar di Indonesia ini memajang karya dari 26 perupa lintas generasi, mulai dari era kolonial hingga kontemporer.

Meski medium dan kurasi berbeda, benang merah dari dua pameran ini cukup jelas: keduanya mengajak publik merefleksikan bagaimana bangsa ini menyusun ingatan kolektif atas sebuah perlawanan. Meski secara militer Diponegoro kalah, suar perlawanan dan spiritnya tak pernah padam, justru tumbuh dalam berbagai bentuk ekspresi budaya.

Salah satunya hadir dalam karya Yosep Arizal bertajuk The Cock (2025), sebuah instalasi berdimensi besar yang menyoroti ketegangan budaya dalam Perang Jawa. Karya ini merefleksikan penolakan Diponegoro terhadap proyek kolonial, seperti pembangunan rel kereta api yang melintasi makam leluhurnya.

Lewat pendekatan material dan visual, Yosep menafsirkan relasi kuasa antara yang mengontrol dan yang dikontrol dalam sistem kolonial. Karya ini menjadi ruang imajinasi baru yang mengajak kita merenungkan warisan tak kasat mata yang masih hidup dalam tubuh bangsa.
 

Pengunjung menikmati salah satu karya dalam pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro, di Galeri Nasional Indonesia, Senin, (21/7/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny Kusumawradhani)

Pengunjung memotret karya Yosep Arizal bertajuk The Cock (2025) dalam pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro, di Galeri Nasional Indonesia, Senin, (21/7/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny Kusumawardhani) 

Ada pula karya Nok Santri: Resiliensi Renik (2025) dari Irene Agrifina X HONF. Dalam instalasi ini, para seniman dan kolaborator mengangkat isu ketahanan pangan dengan berangkat dari makanan yang diyakini pernah dikonsumsi Diponegoro dan pasukannya saat bergerilya: nok santri. 

Alih-alih sekadar menampilkan bentuk fisiknya, mereka menyuguhkan pengalaman multisensorik melalui instalasi visual dan suara yang menggugah. Melalui pendekatan ini, makanan tak hanya menjadi nutrisi, tapi juga narasi.

Salah satu kurator pameran, Putra Hidayatullah, menyebut bahwa para perupa dalam pameran ini tidak semata-mata merepresentasikan figur heroik atau peristiwa sejarah secara literal. “Karya-karya kontemporer dalam pameran ini tidak bertujuan untuk merepresentasikan seorang figur heroik secara literal atau menjadi ‘ilustrasi’ peristiwa,” katanya.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menilai kedua pameran ini sebagai bentuk penghormatan sekaligus ajakan untuk mengenal dan mengapresiasi nilai-nilai keteladanan dari sosok Diponegoro yang masih relevan sebagai cermin bangsa hari ini. 

Dia berharap, kehadiran dua pameran ini tidak hanya menjadi ajang mengenang sejarah, tetapi juga menjadi medium untuk menanamkan kembali nilai-nilai kebangsaan dan keberanian di kalangan generasi muda. 

“Saya kira dua pameran ini saling melengkapi. Di Perpusnas dipamerkan naskah, termasuk Babad Diponegoro. Dari perspektif teks, dan di Galnas dari seni rupa,” ujarnya saat pembukaan pameran di Galnas. 

Di tengah derasnya arus informasi, dua pameran ini mengingatkan bahwa sejarah bukan hanya soal masa lalu, tetapi juga tentang masa depan. Dari naskah hingga instalasi, dari artefak hingga imajinasi visual, perjuangan Diponegoro terus hidup di ruang-ruang yang mengajak kita untuk terus membaca, menafsir, dan merawatnya bersama. 

Baca juga: Visinema Umumkan Film Epik Perang Jawa, Mulai Produksi 2027

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Mengenal Sosok Shunsaku Tamiya: Legenda di Balik Lahirnya Dunia Mini 4WD

BERIKUTNYA

Seniman Ini Habiskan 21 Tahun Bikin Miniatur Kota New York dari Kayu

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga