Pengunjung menikmati salah satu karya dalam pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro, di Galeri Nasional Indonesia, Senin, (21/7/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny Kusumawradhani)

Menyalakan Ingatan Kolektif: Perang Diponegoro dalam Tafsir Artistik di Galnas

21 July 2025   |   18:11 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Gema perayaan dua abad perlawanan Pangeran Diponegoro dalam melawan kolonialisme masih bergaung hingga hari ini. Salah satunya lewat pameran yang dihelat Museum dan Cagar Budaya unit Galeri Nasional Indonesia (Galnas), bertajuk Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro, pada 22 Juli hingga 15 September 2025.

Pameran ini menghadirkan karya dari 26 seniman Indonesia dari era kolonial hingga kontemporer yang menggambarkan refleksi Pangeran Diponegoro, sosok legendaris yang menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme Belanda, yang kelak memicu Perang Jawa (1825–1830).

Kurator pameran, Putra Hidayatullah mengatakan, lewat berbagai medium, teknik, dan gaya visual, para perupa yang ikut berpameran dalam seteleng ini menafsirkan kembali momen-momen penting Perang Jawa dalam konteks sejarah hingga situasi hari ini.

Baca juga: 200 Tahun Perang Diponegoro, Galnas Hadirkan Pameran Interdisipliner Bertajuk Nyala

Putra mengungkap, pameran ini juga merefleksikan kembali pemaknaan terhadap perang dan Pangeran Diponegoro yang terus bertransformasi. Oleh karena itu kehadiran para seniman dalam pameran ini dimaksudkan untuk memperkaya perspektif tersebut.

“Karya-karya kontemporer dalam pameran ini tidak bertujuan untuk merepresentasikan seorang figur heroik secara literal atau menjadi ‘ilustrasi’ peristiwa,” katanya.
 

Pengunjung mnyaksikan karya Jompet Kuswidananto bertajuk Long March to Java (2009)

Pengunjung mnyaksikan karya Jompet Kuswidananto bertajuk Long March to Java (2009) dalam pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro, di Galeri Nasional Indonesia, Senin, (21/7/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny Kusumawradhani)


Salah satu yang menarik adalah karya Jompet Kuswidananto bertajuk Long March to Java (2009). Instalasi berdimensi 600 x 100 x 170 cm itu merupakan rangkaian karya Jompet tentang perubahan besar pasca Perang Jawa, saat kekalahan militer berubah menjadi pertempuran diam antara individu dan kekuatan ekonomi.

Menariknya, karya ini terinspirasi dari mitos di Yogyakarta, di mana saat menjelang subuh, orang-orang mendengar suara derap kaki, tabuhan tambur, dan gema yang mengambang di udara. Konon, suara-suara tersebut adalah arwah pasukan Diponegoro, para pejuang yang gugur, dan pelarian politik.

Ada pula lukisan karya Daoed Joesoef bertajuk Perang Diponegoro (1946). Bermedium cat minyak pada papan, lukisan berdimensi 100 x 150 cm itu menggambarkan heroisme Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajahan Belanda. Lukisan ini juga unik, sebab dilukis di atas papan pintu gudang rumah dinas di Pematang Siantar.

Keunikan lain dari karya ini adalah, meski mengangkat peristiwa yang terjadi di Jawa, latar lukisan justru menampilkan lanskap Sumatra Barat, tepatnya Lembah Air Terjun Batang Anai. Ini dilakukan karena sang pelukis, saat melukis, belum pernah menginjakkan kaki di Jawa.

Perupa kontemporer Ugo Untoro juga memoyong karya terbarunya untuk merefleksikan Perang Diponegoro. Seniman asal Purbalingga itu menghadirkan karya berjudul History (2025) yang mengeksplorasi figur kuda sebagai subjek utama karya menggunakan material cat pada resin.

Menurut sang seniman, sebagaimana perang-perang besar lainnya, Perang Diponegoro tak dapat dipisahkan dari peran kuda. Lebih dari sekadar moda transportasi, kala itu kuda juga menjadi simbol kekuatan dan kecepatan, layaknya tank atau drone dalam perang modern.

“Kuda, kala itu juga menjadi pembawa kabar tentang adanya perang di suatu wilayah, serta penyebar kisah-kisah heroik dari satu medan ke medan lain,” katanya.
 

Pengunjung berinteraksi dengan karya rafura bertajuk Ulangan (2025)

Pengunjung berinteraksi dengan karya Arafura bertajuk Ulangan (2025) dalam pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro, di Galeri Nasional Indonesia, Senin, (21/7/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny Kusumawradhani)


Sementara itu, kolektif seni Arafura menghadirkan instalasi interaktif bertajuk Ulangan (2025). Karya berdimensi variatif ini merefleksikan tentang isu land reform, di mana tanah bukan sekadar ruang fisik, melainkan bagian dari laku hidup masyarakat.

Menggunakan kertas ulangan ujian dengan soal-soal pilihan ganda, publik harus mengisi senarai pertanyaan yang diajukan Arafura. Namun, dalam hal ini tidak ada jawaban yang salah atau benar, semuanya diuji berdasarkan data algoritmik, yang nantinya hasil jawaban memunculkan visual di dinding.

Pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro terbuka untuk publik setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 19.00 WIB, kecuali pada hari libur nasional. Pengunjung dapat membeli tiket langsung di lokasi atau melalui aplikasi Traveloka.

Adapun harga tiketnya adalah Rp25.000 untuk anak (3–12 tahun), Rp50.000 untuk dewasa (13–60 tahun), Rp100.000 untuk Warga Negara Asing, serta gratis untuk anak di bawah 3 tahun dan dewasa di atas 60 tahun. Tiket ini juga mencakup akses ke Pameran Tetap Galeri Nasional Indonesia dan Kids Biennale Indonesia 2025: Tumbuh Tanpa Takut.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Sejauh Mata Memandang X TULUS Gelar Pameran Pasar Kita dan Luncurkan Koleksi Busana Terbaru

BERIKUTNYA

EA Siapkan Kejutan, Battlefield 6 Diumumkan Akhir Juli

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: