Menelusuri Jejak Perjuangan Perempuan Lewat Pameran Sunting di MNI
23 July 2025 |
09:00 WIB
Perempuan memiliki peran besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka terlibat dalam perlawanan bersenjata, dunia pendidikan, hingga pengorganisasian massa. Sayangnya, kontribusi mereka kerap luput dari narasi sejarah resmi. Refleksi inilah yang menjadi benang merah dari pameran Sunting, di Museum Nasional Indonesia (MNI).
Berlangsung hingga Juli 2025, seteleng ini mengupas kontribusi perempuan dalam perjuangan bangsa melalui berbagai fase sejarah dan ranah kehidupan sosial.
Baca juga: 200 Tahun Perang Diponegoro, Galnas Hadirkan Pameran Interdisipliner Bertajuk Nyala
Memasuki ruang pamer, pengunjung diajak menyusuri lorong waktu yang menampilkan kiprah perempuan sebagai arsitek perubahan. Dari setiap jengkal perjalanan sejarah, pengunjung juga diajak memahami cara pandang dan alam pikir perempuan dalam menghidupi gerakan sosial mereka.
Keunikan dari pameran ini terletak pada kekayaan artefak yang dipamerkan. Selain arsip sejarah dan dokumen penting, pengunjung juga disuguhkan karya seni yang merefleksikan perjuangan, identitas, dan kontribusi perempuan di berbagai bidang serta lintas periode sejarah Indonesia.
Salah satu karya yang menonjol adalah Lukisan Potret Malahayati, kini menjadi koleksi Museum Bahari Jakarta. Malahayati adalah simbol kepemimpinan maritim perempuan di Nusantara. Pada abad ke-16, dia memimpin pasukan Inong Bale—barisan janda pejuang Aceh yang berani menghadapi kekuatan asing di perairan.
Dalam lukisan karya Sunarto PR itu, Malahayati digambarkan berdiri gagah di anjungan kapal, menatap laut dengan nyalang. Gambar ini menjadi simbol keberanian dan strategi perempuan dalam sejarah pertahanan wilayah maritim Indonesia.
Ada pula arca Prajnaparamita yang sering dikaitkan dengan Sri Rajapatni Gayatri, putri Raja Kertanegara. Sosok Rajapatni dikenal sebagai penasihat spiritual dan stabilisator politik Kerajaan Majapahit, dengan kontribusi penting dalam memperkuat tatanan kekuasaan.
Total, ada tiga zona utama dalam pameran ini. Masing-masing zona membagi episode perjuangan perempuan sesuai konteks zamannya. Zona 1 bertema “Perempuan, Kekuasaan, dan Perlawanan”, yang menampilkan 14 tokoh pemimpin dan pejuang perempuan dari berbagai wilayah Indonesia.
Zona 2 mengangkat tajuk “Perempuan, Penggerak Sejarah”, menghadirkan 29 tokoh yang aktif dalam dinamika sosial-politik Indonesia. Adapun zona 3, “Perempuan, Pembangun Peradaban”, menyuguhkan 53 tokoh perempuan berpengaruh di bidang seni, pendidikan, diplomasi, hingga ekonomi.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyatakan bahwa pameran ini merupakan bagian dari langkah reflektif dan partisipatif pemerintah untuk menelusuri sekaligus merayakan kontribusi perempuan Indonesia dalam sejarah, budaya, dan masa depan bangsa.
“Pameran ini membawa kita menelusuri perjalanan reflektif, perjalanan memahami peran penting perempuan dalam membentuk sejarah bangsa melalui suara, ekspresi, dan karya,” ujarnya saat pembukaan.
Simbol Martabat & Kecerdasan
Dalam budaya Nusantara, sunting adalah hiasan kepala yang tidak sekadar memperindah penampilan, melainkan juga menjadi penanda martabat, status sosial, dan identitas budaya perempuan. Di Minangkabau, misalnya, sunting dikenakan sebagai harapan akan kelembutan budi pekerti dan kesantunan perilaku.
Nama Sunting juga menjadi inspirasi bagi Rohana Kudus saat mendirikan surat kabar Soenting Melajoe pada 1912. Sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia, Rohana membuktikan bahwa perempuan bisa menjadi penggerak perubahan melalui pena dan pikiran.
Kiprah tokoh pers perempuan lainnya turut diabadikan dalam karya Wanita dalam Pers karya Sriyani Hudyonoto (1930–2006). Menggunakan media cat minyak di atas kanvas, dia menampilkan sosok-sosok seperti Rasuna Said, Herawati Diah, Hj. Ani Idrus, dan S.K. Trimurti—para jurnalis yang menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah perubahan sosial.
Kurator Citra Smara Dewi dalam catatan kuratorialnya menyebut bahwa perempuan sejak awal telah memainkan peran penting di berbagai bidang kehidupan. R.A. Kartini, dengan surat-suratnya, memperjuangkan akses pendidikan dan kesetaraan gender yang relevan hingga kini.
Seiring waktu, perjuangan ini dilanjutkan oleh perempuan dari berbagai sektor: literasi, politik, seni, sains, hingga kebijakan sosial. Mereka bukan hanya bagian dari sejarah, tapi juga penggerak masa depan bangsa.
“Dalam konteks kebijakan masa kini, pameran ini juga selaras dengan visi Indonesia Emas 2045, yang menekankan kesetaraan gender dan penguatan perempuan sebagai fondasi kesejahteraan nasional,” ucapnya.
Refleksi ini juga ditampilkan secara kuat melalui karya Solidaritas (2000) karya Dolorosa Sinaga. Patung berdimensi 83 x 100 x 38 cm ini menggambarkan tujuh perempuan bergandengan tangan, dengan satu sosok tampak hamil, dan lainnya mengepalkan tangan kiri ke udara—menggambarkan keteguhan, semangat kolektif, dan harapan.
Baca juga: Menyigi Jejak Kolonial Lewat Pameran Beyond Unsettled Pasts di Erasmus Huis Jakarta
Bagi sebagian pengunjung, pengalaman ini bukan hanya informatif, tapi juga emosional. Ilham Syaputra (27), seorang pekerja swasta asal Tanah Abang, mengaku baru mengetahui banyak tokoh perempuan Indonesia setelah mengunjungi pameran ini.
“Kesan pertama pas masuk, saya kagum. Banyak tokoh perempuan dari zaman kerajaan hingga modern. Yang paling membekas bagi saya adalah karya Bu Dolo, Solidaritas,” katanya.
Berlangsung hingga Juli 2025, seteleng ini mengupas kontribusi perempuan dalam perjuangan bangsa melalui berbagai fase sejarah dan ranah kehidupan sosial.
Baca juga: 200 Tahun Perang Diponegoro, Galnas Hadirkan Pameran Interdisipliner Bertajuk Nyala
Memasuki ruang pamer, pengunjung diajak menyusuri lorong waktu yang menampilkan kiprah perempuan sebagai arsitek perubahan. Dari setiap jengkal perjalanan sejarah, pengunjung juga diajak memahami cara pandang dan alam pikir perempuan dalam menghidupi gerakan sosial mereka.
Keunikan dari pameran ini terletak pada kekayaan artefak yang dipamerkan. Selain arsip sejarah dan dokumen penting, pengunjung juga disuguhkan karya seni yang merefleksikan perjuangan, identitas, dan kontribusi perempuan di berbagai bidang serta lintas periode sejarah Indonesia.

Pengunjung menyaksikan sejumlah karya dalam pameran Sunting, di MNI. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Salah satu karya yang menonjol adalah Lukisan Potret Malahayati, kini menjadi koleksi Museum Bahari Jakarta. Malahayati adalah simbol kepemimpinan maritim perempuan di Nusantara. Pada abad ke-16, dia memimpin pasukan Inong Bale—barisan janda pejuang Aceh yang berani menghadapi kekuatan asing di perairan.
Dalam lukisan karya Sunarto PR itu, Malahayati digambarkan berdiri gagah di anjungan kapal, menatap laut dengan nyalang. Gambar ini menjadi simbol keberanian dan strategi perempuan dalam sejarah pertahanan wilayah maritim Indonesia.
Ada pula arca Prajnaparamita yang sering dikaitkan dengan Sri Rajapatni Gayatri, putri Raja Kertanegara. Sosok Rajapatni dikenal sebagai penasihat spiritual dan stabilisator politik Kerajaan Majapahit, dengan kontribusi penting dalam memperkuat tatanan kekuasaan.
Total, ada tiga zona utama dalam pameran ini. Masing-masing zona membagi episode perjuangan perempuan sesuai konteks zamannya. Zona 1 bertema “Perempuan, Kekuasaan, dan Perlawanan”, yang menampilkan 14 tokoh pemimpin dan pejuang perempuan dari berbagai wilayah Indonesia.
Zona 2 mengangkat tajuk “Perempuan, Penggerak Sejarah”, menghadirkan 29 tokoh yang aktif dalam dinamika sosial-politik Indonesia. Adapun zona 3, “Perempuan, Pembangun Peradaban”, menyuguhkan 53 tokoh perempuan berpengaruh di bidang seni, pendidikan, diplomasi, hingga ekonomi.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyatakan bahwa pameran ini merupakan bagian dari langkah reflektif dan partisipatif pemerintah untuk menelusuri sekaligus merayakan kontribusi perempuan Indonesia dalam sejarah, budaya, dan masa depan bangsa.
“Pameran ini membawa kita menelusuri perjalanan reflektif, perjalanan memahami peran penting perempuan dalam membentuk sejarah bangsa melalui suara, ekspresi, dan karya,” ujarnya saat pembukaan.
Simbol Martabat & Kecerdasan
Dalam budaya Nusantara, sunting adalah hiasan kepala yang tidak sekadar memperindah penampilan, melainkan juga menjadi penanda martabat, status sosial, dan identitas budaya perempuan. Di Minangkabau, misalnya, sunting dikenakan sebagai harapan akan kelembutan budi pekerti dan kesantunan perilaku.
Nama Sunting juga menjadi inspirasi bagi Rohana Kudus saat mendirikan surat kabar Soenting Melajoe pada 1912. Sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia, Rohana membuktikan bahwa perempuan bisa menjadi penggerak perubahan melalui pena dan pikiran.
Kiprah tokoh pers perempuan lainnya turut diabadikan dalam karya Wanita dalam Pers karya Sriyani Hudyonoto (1930–2006). Menggunakan media cat minyak di atas kanvas, dia menampilkan sosok-sosok seperti Rasuna Said, Herawati Diah, Hj. Ani Idrus, dan S.K. Trimurti—para jurnalis yang menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah perubahan sosial.
Kurator Citra Smara Dewi dalam catatan kuratorialnya menyebut bahwa perempuan sejak awal telah memainkan peran penting di berbagai bidang kehidupan. R.A. Kartini, dengan surat-suratnya, memperjuangkan akses pendidikan dan kesetaraan gender yang relevan hingga kini.
Seiring waktu, perjuangan ini dilanjutkan oleh perempuan dari berbagai sektor: literasi, politik, seni, sains, hingga kebijakan sosial. Mereka bukan hanya bagian dari sejarah, tapi juga penggerak masa depan bangsa.
“Dalam konteks kebijakan masa kini, pameran ini juga selaras dengan visi Indonesia Emas 2045, yang menekankan kesetaraan gender dan penguatan perempuan sebagai fondasi kesejahteraan nasional,” ucapnya.

Pengunjung menyaksikan sejumlah karya dalam pameran Sunting, di MNI. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Baca juga: Menyigi Jejak Kolonial Lewat Pameran Beyond Unsettled Pasts di Erasmus Huis Jakarta
Bagi sebagian pengunjung, pengalaman ini bukan hanya informatif, tapi juga emosional. Ilham Syaputra (27), seorang pekerja swasta asal Tanah Abang, mengaku baru mengetahui banyak tokoh perempuan Indonesia setelah mengunjungi pameran ini.
“Kesan pertama pas masuk, saya kagum. Banyak tokoh perempuan dari zaman kerajaan hingga modern. Yang paling membekas bagi saya adalah karya Bu Dolo, Solidaritas,” katanya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.