sejumlah karya dalam pameran Beyond Unsettled Pasts di Erasmus Huis, Jakarta (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Menyigi Jejak Kolonial Lewat Pameran Beyond Unsettled Pasts di Erasmus Huis Jakarta  

17 July 2025   |   07:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Erasmus Huis kembali menghadirkan seteleng seni yang patut masuk daftar kunjungan Genhype untuk mengisi waktu luang. Kali ini, pusat kebudayaan Belanda di Jakarta tersebut menghelat bertajuk Beyond Unsettled Pasts, yang berlangsung hingga 1 November 2025.

Dikurasi oleh CultureLab, Beyond Unsettled Pasts mengajak publik menengok dampak kolonialisme yang masih nyata di Indonesia masa kini. Lebih jauh, pameran ini juga menyinggung isu ketimpangan sosial dan rasial, serta membuka ruang diskusi tentang cara melampaui warisan kolonial di masa depan.

Pameran ini menampilkan enam perupa kontemporer, yakni Maharani Mancanegara, Arahmaiani, Budi Agung Kuswara, Dita Gambiro, Elvia Nurvista, dan Eldwin Pradipta. Dengan pendekatan, teknik, dan medium yang beragam, mereka membongkar ulang bagaimana warisan kolonial terus berkelindan di keseharian masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Benny Raharjo Mengarsiteki Kritik Sosial lewat Pameran Pro-Gress di Neo Gallery

Salah satu karya yang menyita perhatian datang dari Budi Agung Kuswara. Seniman lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini menampilkan lukisan Anonymous Deities from the East I2024), yang menggali kembali identitas budaya dan arsip visual Bali.

Kabul—sapaan akrabnya—menghidupkan kembali seni lukis tradisional Kamasan untuk menyorot harkat leluhur Bali. Dalam kanvasnya, tampak figur perempuan anonim yang dulunya diobjektifikasi sebagai simbol eksotisme perempuan Bali pada masa kolonial.

Alih-alih menampilkan citra telanjang dada sebagaimana klise kolonial, Kabul justru mendandani figur-figur itu dengan busana Eropa, lalu memposisikannya secara megah, seolah menegaskan daya dan martabat yang direnggut masa lalu.

Uniknya, Kabul juga memanfaatkan teknik cetak fotografi cyanotype dengan cahaya matahari. Metode ini bukan tanpa makna: cyanotype pernah digunakan kolonial Eropa untuk memotret ‘the other’. Kali ini, Kabul membaliknya dengan merekam ulang narasi Bali melalui cahaya sang surya sebagai penanda waktu. 

“Ini tentang bagaimana mereka [Eropa] memotret Bali di masa itu, lalu menjualnya sebagai konsumsi publik untuk orang yang mau melihat Bali secara tidak langsung,” ujarnya.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by IndoArtNow (@indoartnow)


Berbeda dengan Kabul, Maharani Mancanegara menampilkan ironi sejarah lewat Allegory of Cornucopia (2023). Dalam tiga seri lukisan, Maharani mengkontraskan relief kolonial Eropa—yang kerap merayakan penaklukan dan eksploitasi—dengan ukiran yang mengekspresikan rasa hormat mendalam pada alam, seperti yang sering dijumpai pada relief candi.

Melalui detail-detail simbolik, Maharani memperlihatkan bagaimana kolonialisme meninggalkan trauma yang sunyi tetapi membekas. Mulai jejak sepatu lars tentara kolonial dalam kerja paksa, hingga wujud dominasi global yang terus berganti rupa hingga kini.

Lewat lukisan-lukisannya, Maharani juga menegaskan bahwa sejarah tidak melulu bercerita tentang kemenangan atau elite penguasa. Ada suara rakyat biasa yang sama pentingnya untuk disimpan, meski kerap luput diingat.

Seniman lain, Eldwin Pradipta, mengulik jejak segregasi kolonial di ruang kota lewat karya Wijkenstelsel (2017). Dengan cetakan kulit dan video proyeksi peta, Eldwin menelusuri bagaimana kebijakan pecah-belah pada abad ke-19 membagi penduduk menjadi tiga kelompok: Eropa, Timur Asing (keturunan Tionghoa, India, Arab), dan Pribumi.

Meskipun kebijakan ini dihapuskan pada 1915, jejaknya masih terasa hingga hari ini. Kawasan Pecinan misalnya, masih memancarkan rasa eksklusivitas yang berakar dari pembatasan ruang di masa kolonial. Eldwin melalui karyanya mengingatkan bahwa sekat-sekat sosial yang diwariskan masa lalu belum benar-benar hilang.

Kurator Sadiah Boonstra menjelaskan, pameran ini diharapkan menjadi ajakan untuk membayangkan jalan menuju masa depan dekolonial yang berpijak pada kepedulian, perlawanan, dan nilai-nilai lokal.

Menurutnya, Beyond Unsettled Pasts bukan sekadar pameran seni, tetapi ruang renungan, dialog, dan komitmen bersama untuk menatap masa depan dengan cara yang lebih setara.

Sadiah juga berharap, melalui karya para seniman, Indonesia dan Belanda dapat membangun kerja sama baru yang lebih konstruktif. "Ini bukan sekadar pameran, tetapi ajakan untuk bersama-sama membuka kesadaran, berdialog, dan merumuskan cara pandang baru untuk melampaui warisan kolonial,” katanya.

Baca Juga: Jembatan Baru Perfilman, Indonesia & Prancis Perkuat Kolaborasi Lintas Budaya
 

SEBELUMNYA

Ilustrator Emte Luncurkan Buku Life As I Know It, Eksplorasi Soal Perayaan Kesendirian

BERIKUTNYA

Inovasi Rangkaian Produk Rambut dengan Kandungan Glycolic Acid sampai Wild Rose Oil

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga