Ilustrasi hotel (sumber gambar: Unsplash/Marten Bjork)

Begini Cara Hotel Bertahan Tutupi Hilangnya Pasar Pemerintahan

23 July 2025   |   08:30 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Sepinya agenda dinas dan rapat-rapat pemerintahan belakangan ini, sepertinya menjadi pukulan telak bagi industri perhotelan. Efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah membuat banyak hotel kehilangan salah satu pasar terbesarnya. Padahal, mayoritas hotel di daerah selama ini mengandalkan kunjungan dinas dan kegiatan pemerintahan.

Kota-kota seperti Bandung, Semarang, Surabaya, dan Makassar kini mulai merasakan efeknya, yakni okupansi menurun, pendapatan menyusut, dan imbasnya menjalar ke sektor restoran dan katering yang biasa jadi mitra utama. 

Baca juga: Rekomendasi Hotel Strategis untuk Nonton Konser G-Dragon di Jakarta

Sekjen PHRI, Maulana Yusran, menyebut efisiensi pos belanja kemeterian dan lembaga sangat memukul. Dari penginapan hingga konvensi, semua lini terdampak. Banyak hotel, penyedia jasa MICE, dan restoran bergantung pada acara pemerintah seperti rapat kerja, sosialisasi, dan pameran.

Kontribusi kegiatan pemerintah bisa mencapai 40-60 persen bagi pendapatan hotel. Di beberapa daerah, bahkan tembus 70 persen. “Dampaknya adalah perang tarif. Semua rebutan pasar yang makin kecil,” ujar Maulana.

Namun, strategi banting harga ini  hanya menguntungkan pengelola hotel bintang tiga atau yang lebih tinggi. Pasalnya, sebagian besar konsumen tetap mengincar pengalaman menginap di hotel bagus dengan harga miring. 

Walhasil, hotel-hotel nonbintang pun semakin tergencet karena tak bisa bersaing dalam layanan maupun persepsi kualitas. Situasi ini pun membuka potensi gulung tikar bagi hotel-hotel kecil yang tak mampu bersaing. 

“Bayangkan, hotel bintang tadinya jual Rp800 ribu per malam, sekarang turun ke Rp300 ribu. Yang di bawah makin tertekan,” ujarnya.

Angin Segar 
Namun, di tengah tekanan itu, Maulana juga menyebut ada angin segar bagi industri perhotelan setelah Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian melonggarkan kebijakan bagi pemerintah daerah untuk kembali menggelar ragam kegiatan hingga rapat di hotel dan restoran.

Momen ini juga berbarengan dengan musim liburan sekolah dan insentif dari pemerintah seperti diskon tarif tol dan tiket pesawat. “Harapannya okupansi bisa naik, tidak hanya dari anak-anak yang berlibur, tapi juga kegiatan bisnis travel,” tambah Maulana.

Di sisi lain, pelaku usaha seperti OYO Indonesia mulai mencari celah. Hendro Tan, Country Supply and Operation Head OYO Indonesia, mengatakan pihaknya terus meluncurkan strategi agar tetap kompetitif di tengah tekanan pasar.

Salah satunya lewat Oravel Travel Solutions, program baru untuk memenuhi kebutuhan perjalanan bisnis yang makin meningkat, sekaligus mendorong keterlibatan UMKM dalam rantai pasok hotel.

Lain dari itu, pihaknya juga memperkenalkan program sarapan melalui online travel agent (OTA). Tujuannya, adalah meningkatkan pengalaman tamu sekaligus mendukung usaha kuliner lokal.

“Kami bermitra dengan vendor makanan dan penyedia layanan regional. Ke depan, jaringan ini akan diperluas untuk menjangkau lebih banyak wilayah,” ujarnya.

Baca juga: Rayakan HUT ke-498, Pemprov DKI Jakarta Gandeng 10 Hotel Angkat Seni Budaya dan Kuliner Betawi

Menu yang disajikan pun beragam. Mulai dari nasi ayam serundeng, ayam asam manis, sampai ayam balado. Tak ketinggalan opsi internasional seperti ayam teriyaki, chicken karaage, hingga chicken wrap crispy dan sandwich ayam panggang.

Semua menu dikirim ke properti  mereka pada pukul 7 pagi, demi memastikan awal hari yang menyenangkan bagi para tamu. “Program ini kami rancang untuk meningkatkan kenyamanan menginap sekaligus mendukung ekonomi kuliner lokal,” pungkas Hendro.

SEBELUMNYA

Buku Bajakan Makin Laris, Penulis dan Penerbit Kian Tercekik

BERIKUTNYA

Menelusuri Jejak Perjuangan Perempuan Lewat Pameran Sunting di MNI

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: