Debut di Galnas, Kids Biennale 2025 Tampilkan Ratusan Karya Anak Indonesia
03 July 2025 |
16:21 WIB
Momen libur sekolah kali ini sepertinya bakal menjadi waktu yang berbeda bagi para pelajar dan siswa di Jakarta. Pasalnya, Pameran Kids Biennale Indonesia 2025 siap menghadirkan senarai karya seni dari anak-anak dan remaja di Tanah Air di Galeri Nasional Indonesia pada 3-31 Juli 2025.
Kids Biennale merupakan platform seni inklusif yang akan diselenggarakan dua tahun sekali dan ditujukan bagi anak dan remaja (6–17 tahun), juga mereka dengan kebutuhan khusus (hingga usia 22 tahun) untuk berkarya dan mengekspresikan ide, serta empati pada sesama lewat karya seni.
Baca juga: Kids Biennale 2025 Ajak Generasi Muda Berekspresi Lewat Karya Seni, Cek Syaratnya
Direktur Kids Biennale Indonesia, Gie Sanjaya mengatakan, dihelatnya pameran adalah untuk menyuarakan isu yang jarang disadari di masyarakat. Salah satunya terkait ancaman kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi, yang menjadi tiga dosa besar pendidikan di Tanah Air.
Menurut Gie, ketiga isu besar tersebut tidak hanya merusak rasa aman bagi anak-anak, tetapi juga menghambat kreativitas, keberanian, dan kebebasan mereka untuk bermimpi. Oleh karena itu, pihaknya dalam gelaran tahun ini mengangkat tajuk Tumbuh Tanpa Takut sebagai tema debut pameran.
"Tumbuh Tanpa Takut kami hadirkan sebagai medium perlawanan, kesetaraan, penyembuhan, dan pemberdayaan, serta mempertemukan berbagai pihak untuk bekerja sama dalam menciptakan dunia yang lebih baik,” katanya dalam konferensi pers di Galeri Nasional Indonesia, Kamis (3/7/25).
Selaras, Direktur Eksekutif Museum dan Cagar Budaya (MCB) Esti Nurjadin mengatakan dihelatnya pameran ini juga menjadi bentuk pendekatan yang strategis untuk mengenalkan karya seni pada anak. Sebab, mereka tidak lagi mengundang seniman-seniman yang sudah terkenal, akan tetapi anak-anak.
Dia berharap lewat gelaran ini, para pameris juga bisa berdialog dan mengutarakan ketakutan yang selama ini tidak bisa disampaikan secara verbal. Pihaknya juga mengapresiasi acara ini karena mampu memberikan ruang bagi masa depan anak-anak Indonesia melalui karya seni.
"Seni bisa menjadi medium untuk berdialog dan kami di sini mensuport untuk terus memberikan tempat, dan semoga kita dapat berkolaborasi lagi dengan memberikan beberapa tempat lagi dari MCB, agar lebih banyak lokasi yang bisa dipakai," katanya.
Sementara itu, kurator Anggun Priambodo mengatakan, dalam pameran ini total terdapat 142 pameris yang turut meramaikan. Mereka tersebar di sejumlah wilayah, dengan mayoritas berasal dari Pulau Jawa. Namun eksplorasi material dan pendekatan yang dipakai cukup beragam.
Dia mengungkap selama panggilan terbuka (open call) secara nasional, pihaknya mendapat respons antusias dari para peserta yang melampaui dugaan pihak penyelenggara. Total karya yang terkumpul sebanyak 1.026 karya, yang dikurasi menjadi 142 karya individu maupun kolektif.
Arkian, karya yang terkurasi lalu dipamerkan bersama dengan karya 3 Seniman Indonesia yaitu Darren Chandra (ABK)- Bogor, Reexp- Bandung, dan M. Alwi- Banda Neira. Selama pameran berlangsung, pihaknya juga akan menyelenggarakan berbagai program untuk anak, orang tua, dan publik.
"Tahun ini kita berbicara soal urgensi di sekitar anak, yang mana dengan luas geografi Indonesia ini ada banyak ketakutan yang berbeda. Itu baru tiga tema, kita belum ngomongin soal adat, tanah, dan yang lain. Itu yang sebenarnya bisa menjadi bahan pembelajaran bersama buat kita," katanya.
Kids Biennale Indonesia dilangsungkan di Gedung B dan D, Galeri Nasional Indonesia. Bagi publik yang ingin mengunjungi pameran ini kalian bisa membeli tiketnya di laman Galeri Nasional Indonesia dengan harga Rp15.000 untuk anak, Rp30.000 untuk dewasa, dan Rp50.000 untuk WNA.
Baca juga: Yayasan Kids Biennale Indonesia Gelar Pameran Speak Up On Bullying and Intolerance
Kids Biennale merupakan platform seni inklusif yang akan diselenggarakan dua tahun sekali dan ditujukan bagi anak dan remaja (6–17 tahun), juga mereka dengan kebutuhan khusus (hingga usia 22 tahun) untuk berkarya dan mengekspresikan ide, serta empati pada sesama lewat karya seni.
Baca juga: Kids Biennale 2025 Ajak Generasi Muda Berekspresi Lewat Karya Seni, Cek Syaratnya
Direktur Kids Biennale Indonesia, Gie Sanjaya mengatakan, dihelatnya pameran adalah untuk menyuarakan isu yang jarang disadari di masyarakat. Salah satunya terkait ancaman kekerasan seksual, perundungan, dan intoleransi, yang menjadi tiga dosa besar pendidikan di Tanah Air.
Menurut Gie, ketiga isu besar tersebut tidak hanya merusak rasa aman bagi anak-anak, tetapi juga menghambat kreativitas, keberanian, dan kebebasan mereka untuk bermimpi. Oleh karena itu, pihaknya dalam gelaran tahun ini mengangkat tajuk Tumbuh Tanpa Takut sebagai tema debut pameran.
"Tumbuh Tanpa Takut kami hadirkan sebagai medium perlawanan, kesetaraan, penyembuhan, dan pemberdayaan, serta mempertemukan berbagai pihak untuk bekerja sama dalam menciptakan dunia yang lebih baik,” katanya dalam konferensi pers di Galeri Nasional Indonesia, Kamis (3/7/25).

Pengunjung mengamati karya dalam pameran Kids Biennale Indonesia 2025 di Galeri Nasional, Jakarta, Kamis (3/7/2025) (sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny Kusumawardhani)
Selaras, Direktur Eksekutif Museum dan Cagar Budaya (MCB) Esti Nurjadin mengatakan dihelatnya pameran ini juga menjadi bentuk pendekatan yang strategis untuk mengenalkan karya seni pada anak. Sebab, mereka tidak lagi mengundang seniman-seniman yang sudah terkenal, akan tetapi anak-anak.
Dia berharap lewat gelaran ini, para pameris juga bisa berdialog dan mengutarakan ketakutan yang selama ini tidak bisa disampaikan secara verbal. Pihaknya juga mengapresiasi acara ini karena mampu memberikan ruang bagi masa depan anak-anak Indonesia melalui karya seni.
"Seni bisa menjadi medium untuk berdialog dan kami di sini mensuport untuk terus memberikan tempat, dan semoga kita dapat berkolaborasi lagi dengan memberikan beberapa tempat lagi dari MCB, agar lebih banyak lokasi yang bisa dipakai," katanya.
Sementara itu, kurator Anggun Priambodo mengatakan, dalam pameran ini total terdapat 142 pameris yang turut meramaikan. Mereka tersebar di sejumlah wilayah, dengan mayoritas berasal dari Pulau Jawa. Namun eksplorasi material dan pendekatan yang dipakai cukup beragam.
Dia mengungkap selama panggilan terbuka (open call) secara nasional, pihaknya mendapat respons antusias dari para peserta yang melampaui dugaan pihak penyelenggara. Total karya yang terkumpul sebanyak 1.026 karya, yang dikurasi menjadi 142 karya individu maupun kolektif.
Arkian, karya yang terkurasi lalu dipamerkan bersama dengan karya 3 Seniman Indonesia yaitu Darren Chandra (ABK)- Bogor, Reexp- Bandung, dan M. Alwi- Banda Neira. Selama pameran berlangsung, pihaknya juga akan menyelenggarakan berbagai program untuk anak, orang tua, dan publik.
"Tahun ini kita berbicara soal urgensi di sekitar anak, yang mana dengan luas geografi Indonesia ini ada banyak ketakutan yang berbeda. Itu baru tiga tema, kita belum ngomongin soal adat, tanah, dan yang lain. Itu yang sebenarnya bisa menjadi bahan pembelajaran bersama buat kita," katanya.
Kids Biennale Indonesia dilangsungkan di Gedung B dan D, Galeri Nasional Indonesia. Bagi publik yang ingin mengunjungi pameran ini kalian bisa membeli tiketnya di laman Galeri Nasional Indonesia dengan harga Rp15.000 untuk anak, Rp30.000 untuk dewasa, dan Rp50.000 untuk WNA.
Baca juga: Yayasan Kids Biennale Indonesia Gelar Pameran Speak Up On Bullying and Intolerance
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.