Mindful Production, Strategi Baru Brand Lokal Menggaet Konsumen Muda
01 July 2025 |
19:30 WIB
Beberapa tahun terakhir, kesadaran masyarakat dalam membeli produk mulai berubah. Mereka tidak lagi hanya melihat bentuk dan harga, tetapi mulai mempertimbangkan bagaimana produk dibuat, siapa yang membuatnya, serta dampaknya terhadap lingkungan. Fenomena ini mendorong munculnya gelombang mindful consumerism.
Ini sejalan dengan laporan IBM (2023), yang menunjukkan 62 persen konsumen global bersedia mengubah perilaku belanjanya untuk mengurangi dampak lingkungan, dan tren ini makin terasa di Indonesia.
Generasi muda khususnya Gen Z menjadi motor utama perubahan ini, yang menuntut transparansi dan tanggung jawab lebih dari brand yang mereka konsumsi. Untuk menarik pasar tersebut, brand lokal harus dapat beradaptasi dengan tren dan mulai bertransformasi dari dalam, melalui praktik yang disebut sebagai mindful production.
“Produksi yang sadar bukan berarti harus mahal atau sempurna. Ini tentang mengambil keputusan dengan mempertimbangkan manusia, lingkungan, dan masa depan,” ujar Abdurrahman Robbani (Rahman), Head of Emerging Brand Hypefast.
Baca juga: Trend Gaya Hidup Mindful Living Dongkrak Bisnis Makanan Sehat
Transformasi ke arah mindful production bukan sekadar kewajiban moral, tetapi juga strategi bisnis jangka panjang. Di tengah ketatnya persaingan industri kreatif, brand lokal yang mampu menunjukkan kepedulian terhadap dampak produksinya akan punya posisi tersendiri di hati konsumen.
"Brand lokal memiliki keunggulan di sisi cerita dan kedekatan dengan komunitas yang bisa menjadi kekuatan besar untuk dioptimalkan jika proses produksinya juga selaras dengan nilai tersebut," ujarnya.
Menurut laporan Bappenas, industri tekstil diperkirakan menghasilkan 3,9 juta ton limbah pada 2030 jika tidak ada intervensi signifikan. “Dengan mengenal lebih dalam asal-usul bahan baku, brand bisa mengambil kontrol atas dampak produksinya,” kata Rahman.
Da menyarankan penggunaan bahan deadstock, sumber lokal, dan material daur ulang sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan. Selain itu, pendekatan reduce, reuse, recycle perlu diadaptasi secara kreatif.
Salah satu brand yang sudah menjalankan inisiatif reuse dengan mengolah limbah kain dan payet menjadi boneka serta bros adalah Nona Rara. Inovasi ini berhasil memangkas 75 persen limbah produksi mereka. Sementara itu di industri kecantikan, Luxcrime menggandeng organisasi lingkungan Seven Clean Seas untuk mendaur ulang kemasan produknya.
Namun, mindful production bukan hanya soal bahan, tetapi juga mengenai manusianya. Laporan Katadata Insight Center 2024 menunjukkan bahwa 73 persen Gen Z Indonesia lebih percaya brand yang menjelaskan proses pembuatan produk, bukan hanya menjual hasil akhirnya.
Rahman menyebut transparansi sebagai elemen penting untuk membangun kepercayaan. “Brand lokal punya keunggulan di sisi cerita dan kedekatan dengan komunitas. Itu kekuatan besar yang bisa dioptimalkan jika proses produksinya juga selaras dengan nilai tersebut,” ujarnya.
Salah satu brand yang menunjukkan praktik ini adalah SukkhaCitta. Mereka konsisten mengangkat profil para perajin, menjelaskan proses produksinya, dan membangun narasi yang menyentuh. Bagi konsumen, hal ini menciptakan hubungan emosional yang lebih dalam terhadap produk dan nilai yang diusung brand.
Menariknya, langkah-langkah ini tidak hanya berdampak pada sosial-lingkungan, tetapi juga membuka peluang bisnis baru. Nona Rara misalnya, tengah mendiversifikasi lini produknya dengan aksesori dari sisa bahan, yang ternyata disukai konsumen muda.
“Mindful production bukan lagi tren, tapi kebutuhan. Ini adalah cara bagi brand untuk tumbuh secara holistik baik dari sisi ekonomi, sosial, hingga lingkungan,” ujar Rahman.
Menurutnya, ketika brand menjadi bagian dari solusi, mereka tidak hanya bertahan di pasar, tapi juga menjadi pemimpin perubahan. Praktik mindful production juga sejalan dengan agenda pemerintah Indonesia dalam mendorong ekonomi kreatif berkelanjutan, sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2020–2024 dan target Net Zero Emission 2060.
Baca juga: Tren Skincare Berkelanjutan, Kombinasi Bahan Aktif dan Bahan Alami
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Ini sejalan dengan laporan IBM (2023), yang menunjukkan 62 persen konsumen global bersedia mengubah perilaku belanjanya untuk mengurangi dampak lingkungan, dan tren ini makin terasa di Indonesia.
Generasi muda khususnya Gen Z menjadi motor utama perubahan ini, yang menuntut transparansi dan tanggung jawab lebih dari brand yang mereka konsumsi. Untuk menarik pasar tersebut, brand lokal harus dapat beradaptasi dengan tren dan mulai bertransformasi dari dalam, melalui praktik yang disebut sebagai mindful production.
“Produksi yang sadar bukan berarti harus mahal atau sempurna. Ini tentang mengambil keputusan dengan mempertimbangkan manusia, lingkungan, dan masa depan,” ujar Abdurrahman Robbani (Rahman), Head of Emerging Brand Hypefast.
Baca juga: Trend Gaya Hidup Mindful Living Dongkrak Bisnis Makanan Sehat
Transformasi ke arah mindful production bukan sekadar kewajiban moral, tetapi juga strategi bisnis jangka panjang. Di tengah ketatnya persaingan industri kreatif, brand lokal yang mampu menunjukkan kepedulian terhadap dampak produksinya akan punya posisi tersendiri di hati konsumen.
"Brand lokal memiliki keunggulan di sisi cerita dan kedekatan dengan komunitas yang bisa menjadi kekuatan besar untuk dioptimalkan jika proses produksinya juga selaras dengan nilai tersebut," ujarnya.
Langkah Konkret Mindful Production
Salah satu langkah penting dalam menerapkan mindful production adalah pengelolaan limbah sejak awal proses produksi. Di industri fashion dan tekstil, limbah dari pewarna, bahan sintetis, hingga sisa potongan kain menjadi tantangan besar. Jika tidak dikelola dengan benar, limbah ini berkontribusi pada pencemaran lingkungan yang serius.Menurut laporan Bappenas, industri tekstil diperkirakan menghasilkan 3,9 juta ton limbah pada 2030 jika tidak ada intervensi signifikan. “Dengan mengenal lebih dalam asal-usul bahan baku, brand bisa mengambil kontrol atas dampak produksinya,” kata Rahman.
Da menyarankan penggunaan bahan deadstock, sumber lokal, dan material daur ulang sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan. Selain itu, pendekatan reduce, reuse, recycle perlu diadaptasi secara kreatif.
Salah satu brand yang sudah menjalankan inisiatif reuse dengan mengolah limbah kain dan payet menjadi boneka serta bros adalah Nona Rara. Inovasi ini berhasil memangkas 75 persen limbah produksi mereka. Sementara itu di industri kecantikan, Luxcrime menggandeng organisasi lingkungan Seven Clean Seas untuk mendaur ulang kemasan produknya.
Namun, mindful production bukan hanya soal bahan, tetapi juga mengenai manusianya. Laporan Katadata Insight Center 2024 menunjukkan bahwa 73 persen Gen Z Indonesia lebih percaya brand yang menjelaskan proses pembuatan produk, bukan hanya menjual hasil akhirnya.
Rahman menyebut transparansi sebagai elemen penting untuk membangun kepercayaan. “Brand lokal punya keunggulan di sisi cerita dan kedekatan dengan komunitas. Itu kekuatan besar yang bisa dioptimalkan jika proses produksinya juga selaras dengan nilai tersebut,” ujarnya.
Salah satu brand yang menunjukkan praktik ini adalah SukkhaCitta. Mereka konsisten mengangkat profil para perajin, menjelaskan proses produksinya, dan membangun narasi yang menyentuh. Bagi konsumen, hal ini menciptakan hubungan emosional yang lebih dalam terhadap produk dan nilai yang diusung brand.
Menariknya, langkah-langkah ini tidak hanya berdampak pada sosial-lingkungan, tetapi juga membuka peluang bisnis baru. Nona Rara misalnya, tengah mendiversifikasi lini produknya dengan aksesori dari sisa bahan, yang ternyata disukai konsumen muda.
“Mindful production bukan lagi tren, tapi kebutuhan. Ini adalah cara bagi brand untuk tumbuh secara holistik baik dari sisi ekonomi, sosial, hingga lingkungan,” ujar Rahman.
Menurutnya, ketika brand menjadi bagian dari solusi, mereka tidak hanya bertahan di pasar, tapi juga menjadi pemimpin perubahan. Praktik mindful production juga sejalan dengan agenda pemerintah Indonesia dalam mendorong ekonomi kreatif berkelanjutan, sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2020–2024 dan target Net Zero Emission 2060.
Baca juga: Tren Skincare Berkelanjutan, Kombinasi Bahan Aktif dan Bahan Alami
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.