Suasana pmeran The Hidden Treasures of Sudjana Kerton (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Menggali Arsip & Jejak Visual Sudjana Kerton di Art:1 New Museum

23 June 2025   |   15:27 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Nama Sudjana Kerton mungkin tak terlalu sering disebut dalam percakapan seni rupa populer saat ini. Namun, pameran The Hidden Treasures of Sudjana Kerton yang digelar di Art:1 New Museum menjadi momen penting untuk menyoroti kembali peran besarnya sebagai saksi visual yang merekam dinamika Indonesia melalui medium seni.

Digelar hingga 26 Juni 2025, pameran ini menjadi upaya komprehensif untuk menelusuri visi artistik Kerton. Beragam karya dari masa revolusi Indonesia ditampilkan, sebagian besar belum pernah diperlihatkan ke publik sebelumnya. Medium yang digunakan pun beragam, menunjukkan luasnya cakupan eksplorasi artistiknya.

Baca juga: Cek 5 Agenda Pameran Seni Juni 2025 di Jakarta, Cocok untuk Melepas Penat
 
 


Melalui karya-karyanya, Sudjana Kerton (1922–1994) membawa penonton menyelami dunia visual yang reflektif dan penuh empati. Garis-garisnya tampak spontan namun tetap terkontrol, menyampaikan bahasa visual yang kuat, terutama saat menggambarkan keseharian masyarakat akar rumput.

Pada masa revolusi, Kerton memang aktif sebagai seniman, ilustrator, sekaligus jurnalis. Dia banyak mendokumentasikan suasana perang kemerdekaan—dari wajah lelah para tentara, ketegangan di meja perundingan, hingga rapat-rapat rahasia para pejuang kemerdekaan.

Tak hanya artistik, karya-karya tersebut juga menyimpan narasi visual yang sangat personal. Salah satunya bisa dilihat dalam sketsa Suasana Penjerahan Kekoeasaan di Bandung (pena dan tinta di atas kertas, 25,2 x 32,6 cm, 1949), yang menangkap euforia rakyat menyambut kemerdekaan.

Dalam sketsa itu, terlihat kerumunan masyarakat dan prajurit di sebuah lapangan terbuka. Mereka berdiri rapat-rapat menghadap bendera Merah Putih yang berkibar. Kemungkinan besar ini adalah dokumentasi visual dari upacara pengibaran bendera saat penyerahan kekuasaan.
 

ahah

Sejumlah karya arsip dalam pemeran The Hidden Treasures of Sudjana Kerton (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Karya lain yang turut menggambarkan babak penting Revolusi Indonesia antara lain Stasiun Madiun (1948), Tentara Siliwangi (1949), dan Tentara Marinir Belanda (1949). Sketsa-sketsa ini memuat keterangan tangan sang seniman yang memperkuat konteks narasinya.

Menurut kurator Sadiah Boonstra, selama masa revolusi, Kerton tak hanya melukis, tetapi juga menjalani peran sebagai jurnalis yang terlibat langsung. Ia sempat bekerja di surat kabar Patriot di Yogyakarta bersama tokoh film dan budaya Usmar Ismail (1921–1971).

Pengalaman awal itu kelak membentuk kesadaran artistik dan politik Kerton. Di puncak kariernya, Kerton tetap memperhatikan isu estetika dan formal dalam karya seni, sembari tetap terlibat dalam percakapan politik dan responsif terhadap dinamika sosial dunia.

"Sebagai jurnalis sekaligus seniman, Kerton menggambarkan dengan penuh empati penderitaan dan ketangguhan rakyat Indonesia dalam menghadapi masa-masa sulit," ujar Sadiah, menjelaskan sensitivitas artistik yang diangkat dalam pameran ini.


Jejak yang Melintasi Benua

Sudjana Kerton lahir di Bandung pada 22 November 1922. Dia adalah seniman otodidak yang mulai berkarya sejak akhir 1930-an. Kini, karya-karyanya dianggap sebagai dokumen visual penting sejarah sosial-politik Indonesia.

Kurator Sadiah Boonstra menjelaskan, sekitar 70 karya Kerton yang dipamerkan mencerminkan perjalanan hidup dan kariernya. Pada 1940–1944, dia mulai melukis potret orang-orang Belanda di Bandung, sebelum terlibat dalam kegiatan seni di masa pendudukan Jepang.

Kerton sempat berpartisipasi dalam pameran di Pusat Kebudayaan Keimin Bunka Shidoso di Bandung. Setelah Indonesia merdeka, ia aktif melukis adegan-adegan revolusi. Tahun 1946, ia hijrah ke Yogyakarta dan mulai bekerja di majalah Patriot sebagai ilustrator.

Selama periode itu, dia juga melukis. Salah satu karya pentingnya adalah Hantoe Pendjajah Koeterkam (1947) yang kemudian dibeli oleh Presiden Soekarno. Ini menunjukkan pengakuan terhadap kekuatan ekspresi visualnya pada masa itu.
 

The Hidden Treasures of Sudjana Kerton (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Seniman Sudjana Kerton (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Pada 1951, Kerton melanjutkan studi seni ke Art Students League di New York. Dia juga belajar seni mural di Meksiko di bawah bimbingan murid Diego Rivera. Pengalaman ini memperkaya perspektif estetikanya yang kemudian berpengaruh pada karya-karya selanjutnya.

Kerton menetap di luar negeri selama lebih dari dua dekade sebelum akhirnya kembali ke Indonesia pada 1976. Namun, perubahan zaman membuatnya harus beradaptasi kembali, apalagi namanya kurang dikenal publik seni arus utama saat itu.

"Meski tak selalu mudah, ayah kami sangat menikmati waktunya di studio yang terletak di atas bukit itu. Di sanalah sebagian besar lukisan cat minyak terbaiknya lahir," kenang Tjandra Kerton, anak sulung sang seniman.

Baca juga: Pameran Gion dalam Simulasi, Saat Seni Gambar Jadi Medan Tafsir Sosial

Sebagai seniman, Kerton banyak mengangkat tema kehidupan rakyat kecil. Gaya dan pendekatan ini disebut-sebut sebagai kekuatan utama Kerton yang membedakannya dari para maestro sezamannya di Indonesia.

Karya-karya bertema kerakyatan masih sangat terasa dalam pameran ini. Salah satunya Pulang Panen (cat minyak di kanvas, 48 x 89 cm, 1958) yang menggambarkan seorang petani pulang membawa hasil panen. Sentuhan deformatif dan warna hijau mendominasi lukisan ini.
 

The Hidden Treasures of Sudjana Kerton (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Dari kiri: Lukisan Pulang Panen, dan geribak Sapi,  dalam pameran The Hidden Treasures of Sudjana Kerton (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Berbeda dari sketsanya yang cenderung spontan, lukisan Gerobak Sapi (cat air di atas kertas, 75 x 55 cm, 1983) tampil lebih puitis. Dia menyoroti keseharian dan perjuangan wong cilik untuk bertahan hidup, tanpa kehilangan keindahan estetiknya.

Baca juga: Pameran Once Was: Memori yang Bergerak Lewat Boneka dan Arang

Salah satu karya Kerton bahkan pernah digunakan UNICEF untuk kartu Natal resmi. Berjudul Pulang (1964), karya ini juga turut ditampilkan dalam pameran yang digagas oleh Sanggar Luhur ini, menandai pengakuan internasional atas kepiawaiannya.

Lewat karyanya yang retrospektif, Sudjana Kerton tidak hanya menampilkan karya seni, tapi juga memperlihatkan bagaimana seni bisa merekam jejak sejarah. Melalui karya retrospektifnya, Kerton menyuarakan suara zaman dan mengukuhkan seni rupa sebagai medium naratif bangsa.

SEBELUMNYA

Film Dokumenter Pejuang ALS jadi Inspirasi Film Hanya Namamu Dalam Doaku

BERIKUTNYA

Suga BTS Donasi Rp59 Miliar untuk Bangun Pusat Perawatan Autisme

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: