Sejumlah arsip karya Wagiono Sunarto dalam pameran bertajuk Gion dalam Simulasi (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Pameran Gion dalam Simulasi, Saat Seni Gambar Jadi Medan Tafsir Sosial

16 June 2025   |   16:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Dalam medan seni rupa Indonesia, seni gambar dianggap kurang bergengsi. Medium ini meskipun menjadi fondasi seni rupa, kerap hanya dipandang sebagai studi awal, latihan anatomi, perspektif, atau pendekatan yang bersifat teknis.

Namun di tengah pameran gambar (drawing) yang semakin jarang diselenggarakan, seteleng gambar bertajuk Gion dalam Simulasi di Rubanah Underground Hub, Menteng, Jakarta, 27 Mei--22 Juni 2025, penting untuk disimak, dan tentu dikunjungi.

Melihat karya-karya Wagiono Sunarto (1949-2022), pengunjung akan memasuki dunia gambar yang intim. Garis-garisnya spontan, diolah secara reflektif lewat bahasa visual. Walhasil kita diajak melihat  praktik seni yang tidak berjarak, dan komunikatif. 

Baca juga: Menangkap Esensi Bumi dan Kehidupan Sehari-hari di Pameran Re-earth Generation

Dalam pameran ini, hanya ada beberapa karya Gion yang dibingkai dan dipacak di dinding galeri. Sebagian besar karya-karya yang dipamerkan adalah hasil reproduksi dalam bentuk digital, yang kemudian dijilid sebagai buku, dan ditaruh di meja.

Total ada 3 buku kumpulan gambar yang dibukukan dalam pameran ini. Ketiganya merupakan gambar-gambar dari epos Ramayana dan Mahabharata, yang dibuat Gion sejak dekade 1970-an, hingga beberapa tahun sebelum dia tutup usia pada 2022, di Jakarta. 
 

agag

Sejumlah arsip karya Wagiono Sunarto dalam pameran bertajuk "Gion dalam Simulasi" di Rubanah Underground Hub, Menteng, Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar) 

Gambar Gion umumnya figuratif, cenderung realistis, dan berkisah. Dalam seri karya Mahabharata, dia menggambar sejumlah fragmen penting dalam epos ini. Misal, adegan perang antara tentara Kurawa dan Pandawa yang dibuat presisi antar satu kubu dengan lainnya.

Ada pula sequence prajurit Kurawa yang terdiri dari ratusan kera berbaris. Memakai baju zirah dan helm, kera-kera besar ini digambarkan beringas dengan gigi taring mencuat. Matanya melotot, tangannya memegang toya, dengan ujung tombak diberi pisau runcing. 

Mungkin, karena yang dipamerkan hanya sebagian, kebanyakan gambar merupakan gerakan tiap laskar dari tiap pihak yang siap perlaya. Memang ada sejumlah adegan pertempuran, tapi tidak banyak. Salah satunya adegan laskar yang membawa barongsai naga yang menyemburkan api.

Dalam senarai karyanya, Gion juga piawai menggambar ekspresi. Lihatlah dalam adegan pertemuan antar kubu yang dibingkai kaca. Gion menggambar tiap karakter yang tampak marah dengan detail, saling menuding satu sama lain. Sebelum akhirnya tumpah dalam pertempuran.

Mengapa Ramayana dan Mahabharata? Menurut Gion, wayang kala itu "mereduksi nilai-nilai maknawi wayang klasik", tulis Chabib, kurator pameran ini. Pasalnya, kisah klasik tersebut kerap disederhanakan menjadi pertempuran antara yang benar dan yang salah.

Kisah-kisah inilah yang kemudian diamplifikasi oleh paradigma heroik khas pahlawan super, yang menawarkan oposisi biner antara protagonis dan antagonis. Selain itu, untuk memudahkan transisi cerita, komik bisanya juga menonjolkan dramatisasi perkelahian, kematian, atau humor.


hah

Sejumlah arsip karya Wagiono Sunarto dalam pameran bertajuk "Gion dalam Simulasi" di Rubanah Underground Hub, Menteng, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Namun, Gion melakukan pendekatan berbeda. Dalam karya-karyanya dia menjadikan satu halaman kertas yang menceritakan fragmen kisah wayang dengan latar yang kaya. Selain itu, Gion juga tidak memberikan balon percakapan, sehingga memberi nuansa multi penafisran bagi pelihat.

Keunikan lain dari karya-karya Gion adalah tidak hanya menggubah wajah dan perawakan para tokoh-tokoh wayangnya. Melainkan juga menginterpretasi setting-nya, sehingga seolah seperti kisah fiksi ilmiah. Figur-figurnya juga digambarkan selalu relevan dengan situasi sosial kontemporer.

"Dalam hal ini Gion memahami bahwa kisah wayang selalu relevan dengan situasi kontemporer, yang berkaitan dengan cinta kasih, kepemimpinan, keadilan, dan seterusnya," kata Chabib. 

Baca juga: Nindityo Adipurnomo & Imam Cahyo Duet dalam Pameran Staging Desire di Salihara


Warisan Gambar 

Gion adalah perupa lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung yang kreativitasnya terfokus pada karya gambar. Kiprahnya tidak hanya terbatas sebagai grafis, tapi juga sebagai pendidik, dan aktivis yang mendorong perbaikan ekosistem dunia desain Indonesia. 

Syahdan, pada 1970-an, seni gambar memang tersisihkan oleh seni lukis. Seni gambar kala itu dianggap minor. Dia kerap diidentifikasi dengan sketsa, atau karya yang sederhana dan tidak selesai. Premis tersebut juga didukung minimnya studi sejarah atas praktik ini. 

Maka, Gion dan kameradnya membentuk wadah bernama Persekutuan Seni Gambar Indonesia atau Persegi. Kolektif ini diisi sejumlah seniman yang gandrung seni gambar, dan mencoba memperluas batasan-batasannya. Di antaranya ada nama seperti Priyanto Sunarto, dan Djojo Gozali.

Selain itu, Gion adalah salah satu pelopor Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia yang dimulai sekitar 1975. Gerakan ini muncul sebagai kritik terhadap seni rupa akademik yang dianggap terlalu formal, elitis, dan tidak mencerminkan realitas sosial.

Dihelatnya pameran ini memang dimaksudkan untuk mengetengahkan pengaruh Gion terhadap generasi muda. Oleh karena itu, hadir pula karya-karya partisipan dari seniman yang menginterpretasi senarai karya Gion sebagai pemicu atau kata kunci karya.

Salah satunya adalah karya Ipeh Nur, yang berjudul Bukan Perang Hitam Putih (2025). Dibuat menggunakan medium bubuk batu, arang, bubuk indigo, ekstra tembakau, tali rami, dan instalasi kayu, karya ini hadir dengan cara yang menggugah, sebab, pengunjung bisa meresponnya.

Menggunakan papan presensi sekolah, Ipeh sengaja mengundang interaksi publik untuk mengutak-atik, hingga menciptakan komposisi gambar yang baru. Sang seniman juga memaknai ulang bagaimana proses menggambar, yang dapat dilakukan secara intim, laiknya menulis sebuah buku harian. 
 

agag

Karya Ipeh Nur dalam pameran bertajuk "Gion dalam Simulasi" di Rubanah Underground Hub, Menteng, Jakarta. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Ipeh memaparkan, judul karyanya dipinjam dari salah satu karya Gion, yang mengisahkan tentang peperangan antara tentara kolonial dengan orang Jawa. "Tapi dalam karya saya lebih pada perang batin antara diri saya dengan lingkungan, di mana tidak ada tema tunggal," katanya.

Selain Ipeh, ada juga karya Abi Rama, Dika+Lija, dan Iman Anggoro. Mereka juga menjadikan karya-karya Gion, sebagai titik tolok untuk kemudian diejawantahkan dalam karya seni, baik instalasi, video art, dan grafis. Lewat inovasi mutakhir, mereka menawarkan cara menikmati gambar dengan cara yang asyik.

Secara keseluruhan, pameran ini seperti menampung gagasan atau kredo dari Gion: bahwa gambar adalah bentuk bahasa visual yang paling langsung, paling jujur, dan paling terbuka untuk semua kemungkinan. 

Baca juga: Sejumlah Foto & Lukisan di Pameran Gelegar Foto Nusantara Laku Terjual

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

ONIC Menangkan Free Fire World Series SEA 2025

BERIKUTNYA

Al Ghazali dan Alyssa Daguise Resmi Menikah, Maharnya Tanggal Pernikahan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga