Cek 5 Agenda Pameran Seni Juni 2025 di Jakarta, Cocok untuk Melepas Penat
21 June 2025 |
10:00 WIB
Jakarta kembali diramaikan dengan sejumlah agenda seni sepanjang Juni 2025. Dari ruang bawah tanah hingga museum ternama, berbagai galeri menghadirkan ekshibisi yang menggugah, menjadikan seni sebagai pilihan segar untuk melepas penat di akhir pekan. Pada bulan keenam kalender Gregorian ini sejumlah galeri seni juga masih membuka ekshibisi yang dapat dinikmati publik baik secara gratis atau berbayar.
Genhype tentu dapat mengunjunginya untuk menyegarkan pikiran dan menambah pengetahuan baru. Dihimpun dari berbagai sumber resmi, berikut pameran yang dapat dikunjungi seraya menikmati momen akhir pekan di Jakarta sepanjang akhir pekan ini pada bulan Juni 2025.
Baca juga: Menyingkap Warisan Sudjana Kerton di Pameran The Hidden Treasures of Sudjana Kerton
Staging Desire (Panggung Kehendak) merupakan pameran kolaborasi antara seniman Nindityo Adipurnomo dan Imam Cahyo yang digelar di Galeri Salihara hingga 27 Juli 2025. Dalam seteleng ini, keduanya mengeksplorasi tema identitas dan tradisi dengan cara yang unik laiknya pertunjukan.
Yang menarik dari pameran ini adalah hadirnya rumah bobrok seukuran asli yang dibawa oleh Imam Sucahyo, dari Tuban, Jawa Timur. Di dalam galeri rumah tersebut diubah menjadi instalasi yang menawan, di mana di atapnya yang rusak ditancapi berbagi figur wayang dari kulit dan kawat baja.
Sementara itu, Nindityo Adipurnomo juga merespon Komunitas Salihara dengan karya-karyanya yang unik. Memanfaatkan rotan, batu, dan material lain, dia menyulap galeri menjadi semacam panggung pertunjukan yang agitatif. Judul-judul karyanya yang kritis juga mengajak kita menyelami kondisi politik hari ini.
Provoke merupakan pameran yang dihelat oleh komunitas Artpora dengan menampilkan sebanyak 19 seniman yang masing-masing berkolaborasi dengan seorang kurator dalam menyampaikan gagasan artistiknya pada publik seni, khususnya dalam menyikapi kota Jakarta yang terus berkembang.
Para seniman itu adalah Ade Artie, di Sundoro, Aidil Usman, Ari Okta, Awan Simatupang, Budi Karmanto, Dolorosa Sinaga, Hanafi, Irawan Karseno, Izal Batubara, K.P Nugroho, Lenny Ratnasari, Setiyoko Hadi, Syakieb Sungkar, Ve Dhanito, Vy Patiah, Yayat Lesmana, Yani Mariani, dan The Popo.
Alih-alih merangkum tema tunggal, para seniman justru menghadirkan karya yang terintegrasi dalam satu panggung besar dengan berbagai pendekatan. Ekshibisi ini juga mengundang pengunjung untuk masuk ke dalam isu-isu aktual melalui 'provokasi artistik' oleh para seniman kontemporer Jakarta.
Merupakan pameran tunggal Kei Imazu, yang dihelat di Museum MACAN, dan berlangsung hingga 5 Oktober 2025. The Sea is Barely Wrinkled merupakan panggung Kei Imazu dalam mengeksplorasi persinggungan antara mitos, sejarah, dan kolonialisme di Indonesia.
Judul pameran ini merujuk pada Mr. Palomar (1983), novel karya sastrawan Italia Italo Calvino. Dalam novel tersebut, laut menjadi metafora bagi keberlanjutan dan kedalaman yang tersembunyi—tenang di permukaan, namun menyimpan arus kuat yang mengalir di bawahnya.
Dalam pameran ini, Genhype juga akan bertemu dengan instalasi Batavia Ship, yang menggambarkan reruntuhan kapal Batavia yang karam di Morning Reef. Ada juga instalasi yang menggambarkan sosok Nyi Roro Kidul, yang bakal mengajak kalian mengarungi kisah-kisah mitologis berbalut sejarah.
Menampilkan karya-karya sketsa awal dari maestro seni rupa Indonesia, Sudjana Kerton. Diinisiasi oleh Sanggar Luhur, The Hidden Treasures of Sudjana Kerton mencoba mengangkat kembali peranan pelukis tersebut sebagai saksi visual penting dalam sejarah seni rupa di Indonesia.
Sudjana Kerton (1922-1994) adalah seniman otodidak yang memulai debut kesenimanannya di paruh kedua 1930-an. Karya-karyanya kini dianggap sebagai arsip visual penting tentang sejarah sosial-politik Indonesia, karena banyak menyoroti perkembangannya seturut kemerdekaan.
Di Art:1 New Museum, Genhype juga dapat menikmati karya maestro lain, yakni Fadjar Sidik (1930-2004), dalam pameran bertajuk Ruang. Pameran ini juga menyajikan senarai karya maestro seni rupa itu, yang cukup banyak memengaruhi kancah seni rupa Indonesia kiwari.
Adalah pameran untuk mengenang kiprah seniman sekaligus akademisi Wagiono Sunarto (1949–2022), di Rubanah Underground Hub, Menteng, Jakarta, hingga 22 Juni 2025. Gion adalah perupa lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, yang sejak awal menaruh perhatian serius pada seni gambar.
Dalam seteleng ini, publika akan diajak untuk mengamati estetika Gion dalam memandang seni gambar lewat arsip-arsip digitalnya yang ditampilkan dalam bentuk buku. Salah satunya sketsa bertajuk kisah Mahabharata dan Ramayana, yang dibuat Gion, sejak 1970-an hingga menjelang wafat.
Pameran “Gion dalam Simulasi” juga tidak hanya memamerkan karya Gion, tapi karya seniman muda yang merespons karya-karya Gion dengan pendekatan mutakhir. Mereka menjadikan karya Gion sebagai pemicu, bukan objek nostalgia. Di antaranya ada Ipeh Nur, Abi Rama, Dika+Lija, dan Iman Anggoro.
Genhype tentu dapat mengunjunginya untuk menyegarkan pikiran dan menambah pengetahuan baru. Dihimpun dari berbagai sumber resmi, berikut pameran yang dapat dikunjungi seraya menikmati momen akhir pekan di Jakarta sepanjang akhir pekan ini pada bulan Juni 2025.
Baca juga: Menyingkap Warisan Sudjana Kerton di Pameran The Hidden Treasures of Sudjana Kerton
1. Staging Desire, Galeri Salihara
Staging Desire (Panggung Kehendak) merupakan pameran kolaborasi antara seniman Nindityo Adipurnomo dan Imam Cahyo yang digelar di Galeri Salihara hingga 27 Juli 2025. Dalam seteleng ini, keduanya mengeksplorasi tema identitas dan tradisi dengan cara yang unik laiknya pertunjukan.
Yang menarik dari pameran ini adalah hadirnya rumah bobrok seukuran asli yang dibawa oleh Imam Sucahyo, dari Tuban, Jawa Timur. Di dalam galeri rumah tersebut diubah menjadi instalasi yang menawan, di mana di atapnya yang rusak ditancapi berbagi figur wayang dari kulit dan kawat baja.
Sementara itu, Nindityo Adipurnomo juga merespon Komunitas Salihara dengan karya-karyanya yang unik. Memanfaatkan rotan, batu, dan material lain, dia menyulap galeri menjadi semacam panggung pertunjukan yang agitatif. Judul-judul karyanya yang kritis juga mengajak kita menyelami kondisi politik hari ini.
2. Provoke, Pos Bloc
Provoke merupakan pameran yang dihelat oleh komunitas Artpora dengan menampilkan sebanyak 19 seniman yang masing-masing berkolaborasi dengan seorang kurator dalam menyampaikan gagasan artistiknya pada publik seni, khususnya dalam menyikapi kota Jakarta yang terus berkembang.Para seniman itu adalah Ade Artie, di Sundoro, Aidil Usman, Ari Okta, Awan Simatupang, Budi Karmanto, Dolorosa Sinaga, Hanafi, Irawan Karseno, Izal Batubara, K.P Nugroho, Lenny Ratnasari, Setiyoko Hadi, Syakieb Sungkar, Ve Dhanito, Vy Patiah, Yayat Lesmana, Yani Mariani, dan The Popo.
Alih-alih merangkum tema tunggal, para seniman justru menghadirkan karya yang terintegrasi dalam satu panggung besar dengan berbagai pendekatan. Ekshibisi ini juga mengundang pengunjung untuk masuk ke dalam isu-isu aktual melalui 'provokasi artistik' oleh para seniman kontemporer Jakarta.
3. The Sea is Barely Wrinkled, Museum MACAN
Merupakan pameran tunggal Kei Imazu, yang dihelat di Museum MACAN, dan berlangsung hingga 5 Oktober 2025. The Sea is Barely Wrinkled merupakan panggung Kei Imazu dalam mengeksplorasi persinggungan antara mitos, sejarah, dan kolonialisme di Indonesia.
Judul pameran ini merujuk pada Mr. Palomar (1983), novel karya sastrawan Italia Italo Calvino. Dalam novel tersebut, laut menjadi metafora bagi keberlanjutan dan kedalaman yang tersembunyi—tenang di permukaan, namun menyimpan arus kuat yang mengalir di bawahnya.
Dalam pameran ini, Genhype juga akan bertemu dengan instalasi Batavia Ship, yang menggambarkan reruntuhan kapal Batavia yang karam di Morning Reef. Ada juga instalasi yang menggambarkan sosok Nyi Roro Kidul, yang bakal mengajak kalian mengarungi kisah-kisah mitologis berbalut sejarah.
4. The Hidden Treasures of Sudjana Kerton, Art:1 New Museum
Menampilkan karya-karya sketsa awal dari maestro seni rupa Indonesia, Sudjana Kerton. Diinisiasi oleh Sanggar Luhur, The Hidden Treasures of Sudjana Kerton mencoba mengangkat kembali peranan pelukis tersebut sebagai saksi visual penting dalam sejarah seni rupa di Indonesia.Sudjana Kerton (1922-1994) adalah seniman otodidak yang memulai debut kesenimanannya di paruh kedua 1930-an. Karya-karyanya kini dianggap sebagai arsip visual penting tentang sejarah sosial-politik Indonesia, karena banyak menyoroti perkembangannya seturut kemerdekaan.
Di Art:1 New Museum, Genhype juga dapat menikmati karya maestro lain, yakni Fadjar Sidik (1930-2004), dalam pameran bertajuk Ruang. Pameran ini juga menyajikan senarai karya maestro seni rupa itu, yang cukup banyak memengaruhi kancah seni rupa Indonesia kiwari.
5. Gion dalam Simulasi, Rubanah Underground Hub
Adalah pameran untuk mengenang kiprah seniman sekaligus akademisi Wagiono Sunarto (1949–2022), di Rubanah Underground Hub, Menteng, Jakarta, hingga 22 Juni 2025. Gion adalah perupa lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, yang sejak awal menaruh perhatian serius pada seni gambar.
Dalam seteleng ini, publika akan diajak untuk mengamati estetika Gion dalam memandang seni gambar lewat arsip-arsip digitalnya yang ditampilkan dalam bentuk buku. Salah satunya sketsa bertajuk kisah Mahabharata dan Ramayana, yang dibuat Gion, sejak 1970-an hingga menjelang wafat.
Pameran “Gion dalam Simulasi” juga tidak hanya memamerkan karya Gion, tapi karya seniman muda yang merespons karya-karya Gion dengan pendekatan mutakhir. Mereka menjadikan karya Gion sebagai pemicu, bukan objek nostalgia. Di antaranya ada Ipeh Nur, Abi Rama, Dika+Lija, dan Iman Anggoro.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.