Dorong Potensi Wisata & Ekonomi Lokal, Kepulauan Nias Diusulkan Jadi Kawasan Geopark
22 June 2025 |
08:30 WIB
Malam itu, angin di salah satu tepi pantai di Kepulauan Nias berembus lembut. Ombak menggulung dengan suaranya yang merdu, sementara bulan bercahaya memantulkan sinar di lautan menambah suasana menenangkan setelah menempuh beberapa jam perjalanan dari Jakarta.
Di salah satu kafe, Direktur Operasional dan Transformasi PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Rio Theodore Natalianto Lasse, menyapa beberapa awak media dengan ramah. Berbalut kemeja putih, dia begitu antusias menyampaikan rencananya untuk mendorong Kepulauan Nias sebagai kawasan Geopark baru di Indonesia.
Baca juga: Kemegahan Omo Nifolasara Sebua, Warisan Arsitektur 160 Tahun di Nias Selatan
Baca juga: Kemegahan Omo Nifolasara Sebua, Warisan Arsitektur 160 Tahun di Nias Selatan
Inisiatif itu muncul seiring dengan langkah ASDP yang menghadirkan rute penyebrangan baru di Pulau Nias, yakni Gunungsitoli—Sibolga yang diresmikan pada 13 Juni 2025. Lebih dari sekadar menghadirkan kapal penyebrangan, mereka membawa misi untuk bisa turut mengembangkan perekonomian di Nias, salah satunya dengan mendorong pulau tersebut menjadi kawasan Geopark.
"ASDP hadir yang pasti tidak hanya membawa kapal. Jadi memang misi kita juga bisa mengembangkan perekonomian di belakangnya, pertumbuhan ekonomi di daerah. Jadi konsepnya integrasi antara penyebrangan, kemudian kegiatan ekonomi di belakangnya," kata Rio dalam bincang santai bersama media di Gunungsitoli, Nias, Kamis (12/6/2025).

Pemandangan Pantai Lagundri, salah satu pantai eksotis dan terkenal sebagai tempat selancar di Pulau Nias. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta).
Geopark, yang dalam bahasa Indonesia berarti Taman Bumi, didefinisikan sebagai sebuah kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi terkemuka (outstanding), termasuk nilai arkeologi, ekologi, dan budaya yang ada di dalamnya. Masyarakat setempat pun diajak berperan-serta untuk melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam berdasarkan konsep perlindungan, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan.
Kepulauan Nias pun dianggap memenuhi unsur-unsur dari kawasan Geopark. Pulau dengan luas 5.625 kilometer persegi itu memiliki banyak destinasi wisata yang memukau yang siap memanjakan mata baik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Nias punya deretan pantai eksotis dengan berbagai macam keindahannya. Ombak yang besar menggulung di sejumlah pantai menjadikan Nias kerap menjadi lokasi incaran para peselancar dari berbagai negara, sebut saja Pantai Sorake dan Pantai Lagundri. Bahkan, sering digelar juga kejuaraan selancar (surfing) dunia di pantai tersebut.
Jika ingin melihat keindahan biota laut seperti terumbu karang, koral, dan ikan hias warna-warni, biasanya pelancong akan ke Pulau Asu yang bahkan dijuluki Paradise on the Earth atau surga di Bumi. Pantai lainnya yang menarik dikunjungi termasuk Sirombu, Gawu Soyo, Tureloto, Ladeha, serta Pulau Tello dan Pulau Hinako.

Omo Nifolasara Sebua, rumah raja berusia 160 tahun di Desa Bawomataluo. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
Selain keragaman bahari, Nias juga memiliki warisan budaya leluhur yang sampai saat ini masih terjaga. Setidaknya hal tersebut bisa dilihat dari desa-desa adat yang ada, salah satunya Desa Bawomataluo. Di desa yang berada di ketinggian 324 meter di atas permukaan laut itu, dapat dijumpai mulai dari rumah adat, situs-situs megalitikum, tari-tarian tradisional hingga atraksi lompat batu yang terkenal.
Warisan budaya Nias yang kaya juga bisa dijumpai di Museum Pusaka Nias, satu-satunya museum yang ada di pulau berpenduduk 900.000 jiwa lebih itu. Di tempat ini, tersimpan sekitar 6.000 koleksi artefak peninggalan leluhur yang langka seperti ukiran batu, tutup kepala, patung-patung kuno, sampai alat musik tradisional.
"Pulau Nias ini kan sebenarnya termasuk benteng dari Sumatera. Jadi ada keunikan geologi, budaya, flora dan fauna, yang di tempat lain tidak ada, tapi di sini ada. Nah ini kan perlu untuk diekspos, supaya dunia melihat bahwa Pulau Nias ini luar biasa, ada potensi yang selama ini belum banyak dieksplorasi," ucap Rio.
Rio mengatakan status geopark sangat penting untuk Pulau Nias khususnya guna meningkatkan aktivitas dan kegiatan yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan investasi dan pariwisata. Hal itu pula yang dia lihat di beberapa kawasan geopark seperti Kaldera Toba dan Belitong Geopark.
"Jadi dengan adanya status geopark itu, perhatian [kepada suatu daerah] akan semakin tinggi. Kalau ini sudah berkembang, ya harapannya ada juga mulai investasi masuk, buka usaha misalnya, membuka lapangan pekerjaan, termasuk juga harapannya bisa memacu peningkatan infrastruktur. Arahnya seperti itu," ujarnya.

Atraksi Lompat Batu (Fahombo), salah satu tradisi budaya yang terkenal di Nias. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta).
Inisiatif itu pun mendapat dukungan dari Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution. Bobby menyebut pihaknya akan berkoordinasi dengan Wali Kota Gunungsitoli Sowa'a Laoli serta beberapa kepala daerah, untuk melakukan kajian secara lebih lanjut terkait usulan Pulau Nias sebagai kawasan geopark.
Menurutnya, konsep ini bukan hanya terkait kepentingan satu daerah tetapi juga Indonesia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan koordinasi bersama di seluruh tingkatan pemerintahan, mulai dari kabupaten, kota, provinsi bahkan pusat, untuk mewujudkan gagasan tersebut.
"Kalau untuk geopark, ini bukan hanya mengatasnamakan Nias, ke depannya juga bisa membawa nama Sumatera Utara bahkan Indonesia. Geopark ini kelasnya bukan lagi lokal atau nasional, tapi kelasnya sudah internasional. Jadi pasti kita dukung," ucapnya di Pelabuhan Gunungsitoli, Jumat (13/6).
Pada kesempatan terpisah, peneliti di Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM) Janianton Damanik mengatakan tidak dipungkiri bahwa status geopark bisa membuat suatu kawasan menjadi lebih terfasilitasi untuk mengembangkan pariwisatanya. Namun, dia mengingatkan agar pemerintah juga menyusun visi yang jelas terkait rencana pengembangannya, alih-alih hanya terjebak pada jargon-jargon yang tidak realistis.
"Karena kita belum ada success story [kisah sukses] dari geopark yang real bahwa itu memang bisa meningkatkan perekonomian lokal. Bukan berarti kita tidak setuju dengan itu, tapi apa sih sebenarnya yang mau diharapkan dari geopark ini?" katanya kepada Hypeabis.id, Jumat (20/6/2025).
Damanik menyoroti ketidakkonsistenan pemerintah dalam mengembangkan geopark di beberapa kawasan. Menurutnya, hal itu hanya berhenti pada penyematan status geopark, tanpa langkah pembangunan khususnya di sektor pariwisata yang sistematis dari hulu hingga hilir. Plus, ada juga kawasan geopark justru dirusak aktivitas tambang seperti yang terjadi di Raja Ampat.
"Kita harus patuh pada standar-standar geopark secara global. Lalu juga seberapa konsisten kita dengan itu? Jangan-jangan kan ini diklaim geopark, kemudian ternyata ada penyingkiran masyarakat lokal lalu aktor-aktor yang lain bermain di dalamnya," katanya.
Menurutnya, status geopark seharusnya dibarengi dengan langkah-langkah pengembangan sistematis yang bisa memberikan dampak nyata bagi ekonomi masyarakat setempat. Hal itu bisa terjadi jika pemerintah atau pemegang modal menjadikan masyarakat sebagai kolaborator, sehingga mereka juga bisa ikut berkontribusi sekaligus menikmati geliat pariwisata setempat.
"Implementasinya adalah bagaimana menghubungkan antara bisnis pariwisata itu dengan sektor-sektor pendukungnya yang dikelola oleh masyarakat. Artinya ada linkages dengan ekonomi lokal itu jalan. Kadang-kadang kita terlalu angkuh dengan istilah-istilah pembangunan, tapi untuk apa kalau masyarakat itu justru termarjinalisasi," imbuhnya.
Baca juga: UNESCO Bakal Asesmen Destinasi Wisata Geopark Kaldera Toba
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Baca juga: UNESCO Bakal Asesmen Destinasi Wisata Geopark Kaldera Toba
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.