Kemegahan Omo Nifolasara Sebua, Warisan Arsitektur 160 Tahun di Nias Selatan
16 June 2025 |
16:53 WIB
Bertandang ke Pulau Nias, tak lengkap jika tak pergi ke desa Bawomataluo, Kecamatan Fanayama, Telukdalam, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Di sana, kita dapat menyaksikan kekayaan budaya masyarakat Nias yang masih terjaga, salah satunya di bidang arsitektur.
Desa Bawomataluo yang secara harfiah berarti 'bukit matahari' merupakan sebuah perkampungan dengan deretan rumah adat tradisional (Omo Hada) khas Nias Selatan. Terdapat setidaknya 137 Omo Hada yang masih utuh, dengan sebuah rumah adat besar atau rumah raja di tengah-tengahnya yang disebut sebagai Omo Nifolasara Sebua.
Hypeabis.id pekan lalu berkesempatan untuk berkunjung langsung ke Omo Nifolasara Sebua yang tampak menonjol dari deretan rumah lainnya, dengan ketinggian bangunan sekitar 40 meter. Nama Omo Nifolasara Sebua sendiri jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti rumah besar yang menjadi pusat orientasi desa.
Baca juga: Eksklusif Yori Antar: Menjaga & Melestarikan Rumah Adat Demi Keberlangsungan Arsitektur Nusantara
Baca juga: Eksklusif Yori Antar: Menjaga & Melestarikan Rumah Adat Demi Keberlangsungan Arsitektur Nusantara

Akses masuk ke dalam Omo Nifolasara Sebua. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
Konstruksi Omo Nifolasara Sebua sangat unik, bahkan disebut sebagai salah satu desain arsitektur vernakular terbaik di Asia. Bangunan megah tersebut dibangun tanpa paku. Hanya dengan pasak kayu untuk mengikat dan menyambung palang kayu satu dengan yang lain.
Pada bagian bawah rumah, disangga oleh kurang lebih 60 tiang yang saling menyilang dan beberapa di antaranya merupakan tiang kayu glondongan (utuh dan bulat) yang sangat besar. Konon, kayu-kayu tersebut didatangkan dari luar Pulau Nias, seperti Pulau Telo dan pulau-pulau lainnya di sekitar Nias.
Untuk memasuki rumah tersebut, pengunjung harus melewati kolom bangunan yang berada di tengah bangunan Omo Nifolasara Sebua. Sedangkan, pada Omo Hada umumnya memiliki jalan masuk yakni tangga yang berada di samping bangunan.

Tempat duduk raja di rumah Omo Nifolasara Sebua. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
Sementara untuk memasuki bangunan utama rumah raja, pengunjung harus naik tangga menuju ke atas. Setiba di atas, embusan angin menerobos melalui kisi-kisi bangunan rumah menerpa wajah. Meski cuaca di luar sedang terik dan panas, udara di dalam rumah justru terasa adem dan sejuk. Hal ini dikarenakan penggunaan kayu yang menjadi material utama pada rumah.
Pada bagian utama Omo Nifolasara Sebua, terdapat ruangan luas yang difungsikan sebagai ruang utama untuk menerima tamu. Di salah satu sudut, ada sebuah level yang dibuat di bagian bawah ventilasi rumah.
Di tempat itu, terdapat kursi tempat duduk raja, serta celah yang membuat kita bisa melihat dengan jelas seluruh kampung. Konon, ventilasi itu digunakan sang raja pada masa itu untuk mengawasi warga setempat. Selain itu, ruang utama juga biasanya digunakan untuk melakukan musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama.

Omo Hada atau rumah warga di Desa Adat Bawomataluo. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
Karena getaran gempa sering terjadi di wilayah ini, masyarakat Nias telah muncul dengan cara yang unik untuk membuat rumah mereka menahan gempa. Semua rumah adat Nias pakai Ndriwa, yaitu penyokong yang dipasang secara diagonal di antara tiang-tiang vertikal di bawah rumah.
Ndriwa ini penyokong rumah ke empat arah. Tiang-tiang berdiri di atas lempengan batu bukan dipancangkan ke dalam tanah, sehingga menciptakan struktur yang sangat kuat, namun tetap fleksibel yang bisa menahan gempa bumi yang signifikan. Termasuk, mempertahankan rumah dari bergerak selama badai atau gempa bumi.
Sejarah Omo Nifolasara Sebua
Saat berkunjung, Hypeabis.id bertemu dengan Martinus Boarota Fau, generasi kelima dari raja yang paling tertua yang masih menempati Omo Nifolasara Sebua. Pria yang akrab disapa Ama Ana itu bercerita menurut sejarah, Omo Nifolasara Sebua didirikan mulai tahun 1865. Artinya, sampai saat ini, rumah tersebut telah berusia sekitar 160 tahun dan sudah ditinggali oleh tujuh generasi.
Proses pembangunan Omo Nifolasara Sebua dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan sekitar 40 pekerja ahli dan membutuhkan waktu sekitar 4 tahun untuk merampungkannya. Selama itu, tiap harinya dua ekor babi disediakan untuk makan para pekerja.

Rahang kepala babi sebagai ornamen interior di Omo Nifolasara Sebua. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
Puncaknya, 300 ekor babi dihidangkan saat Omo Nifolasara Sebua selesai dibangun. Uniknya, seluruh tengkorak kepala babi selama empat tahun dijadikan dekorasi interior rumah dan masih ada hingga kini.
Lantaran kala itu kebanyakan masyarakat sekitar bekerja sebagai pelaut, baik rumah Omo Nifolasara Sebua maupun Omo Hada dibuat dengan desain seperti kapal. Mereka dibangun di atas tiang yang kuat dari batang kayu dan atap sisi dilapisi daun rumbia.
Meski, saat ini banyak rumah yang telah menggunakan atap seng demi alasan keselamatan dari kebakaran. Sementara bagian dalam rumah dibagi menjadi ruang publik besar di depan dan kamar pribadi kecil di belakang.
Meski, saat ini banyak rumah yang telah menggunakan atap seng demi alasan keselamatan dari kebakaran. Sementara bagian dalam rumah dibagi menjadi ruang publik besar di depan dan kamar pribadi kecil di belakang.
"Rumah ini [Omo Nifolasara Sebua] dihuni oleh keluarga raja secara turun-temurun, dan dipakai juga untuk acara adat. Tapi hanya khusus untuk kalangan bangsawan, tidak semua orang," kata Ama Ana.


Ukiran di dalam rumah Omo Nifolasara Sebua. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
Bagian interior Omo Nifolasara Sebua juga memiliki detail yang unik dengan penuh filosofi. Kita akan menemukan ukiran kapal lengkap dengan awak dan ikan-ikan di bagian bawahnya. Ama Ana menjelaskan ukiran tersebut merupakan bukti kapal perang Belanda pertama yang masuk ke Indonesia pada zaman dahulu.
Selain itu, ada pula ukiran cicak yang terukir di dekat singgasana raja. Ukiran cicak itu memiliki filosofi bahwa zaman dahulu, ketika cicak sudah berbunyi, tandanya proses musyawarah telah selesai dan tidak ada lagi revisi. Sebaliknya, ketika cicak belum berbunyi, artinya rapat dan proses diskusi masih berlangsung.
Ukiran menarik lainnya termasuk kera-kera kecil yang bergelantungan di beberapa sudut rumah. Ukiran tersebut memiliki filofosi bahwa masyarakat setempat kala itu memiliki keyakinan untuk segera memusnahkan kera jika ditemukan di hutan kala berburu. Jika tidak, kera nantinya akan merusak tanaman mereka.

Ruang utama di Omo Nifolasara Sebua. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
Namun, seiring waktu, rumah Omo Nifolasara Sebua sudah mengalami kerusakan di berbagai sisi, seperti kayu yang lapuk dan tiang penyangga rumah yang telah rapuh. Ama Ana mengaku mereka tidak sanggup untuk melakukan renovasi tanpa bantuan dari pemerintah daerah maupun pusat.
Dia pun mengharapkan perhatian lebih dari pemerintah untuk bisa melakukan renovasi pada rumah raja Omo Nifolasara Sebua, guna menjaga warisan arsitektur dari leluhur. Jika tidak, Ama Ana meramalkan bahwa sekitar 20 tahun ke depan, Omo Nifolasara Sebua akan hancur dan mungkin tidak bisa dinikmati lagi oleh generasi mendatang.
"Rumah warisan leluhur kita ini boleh dibilang belum terjaga. Makanya harapan kami alangkah baiknya pemerintah harus ada perhatian. Kalau tidak ada perhatian pemerintah daerah ataupun pusat, boleh kita katakan rumah ini akan ambruk," ucapnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.