Cerita Angga Dwimas Sasongko Soal Film Jumbo Tayang di 40 Wilayah Dunia
19 June 2025 |
20:00 WIB
Setelah mencatatkan kesuksesan gemilang di bioskop dalam negeri, film animasi Jumbo kini mulai memasuki babak baru. Film yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy ini secara bertahap mulai didistribusikan untuk tayang di bioskop komersial internasional.
Film yang dikenal dengan kehangatan cerita dan visual yang memikat ini sedari awal memang direncanakan tak hanya tayang di dalam negeri. Sejak awal perilisan, film telah diumumkan akan tayang di 17 negara, dengan 12 negara di antaranya berasal dari kawasan Eropa.
Seiring dengan animo yang besar terhadap film ini, terutama setelah capaian di dalam negeri, bahkan turut menjadi film terlaris di Asia Tenggara, Jumbo kini makin diminati oleh agen-agen distributor internasional.
Baca Juga: Sutradara Ryan Adriandhy Ingin Film Animasi Masuk Kategori Penghargaan Umum di Festival Film
CEO Visinema sekaligus Eksekutif Produser film Jumbo, Angga Dwimas Sasongko, mengatakan sejauh ini kerja sama dengan agen distribusi internasional berjalan dengan baik. Sejak awal dirilis di Indonesia hingga sekarang, angkanya bahkan terus bertambah.
“Sejauh ini, kita sudah punya deal dengan lebih dari 40 territory di seluruh dunia,” ungkap Angga Dwimas Sasongko saat berkunjung ke Bisnis Indonesia dalam acara Kamis Santuy, Kamis, (19/6/2025).
Angga mengatakan negara-negara yang masuk ke dalam distribusi film ini bisa dibilang cukup beragam. Sebab, film yang distribusinya salah satunya bekerja sama dengan Magic Fair ini menyasar tak hanya Asia Tenggara saja, tetapi juga Asia Tengah, seperti Uzbekistan hingga Kyrgystan.
Kemudian, film ini juga didistribusikan ke Eropa Timur, Timur Tengah, hingga Afrika. Angga juga menyebut film ini bakal ditayangkan juga di Eropa Timur, Latin Amerika, dan negara-negara berbahasa Prancis.
Bagi Angga, langkah Jumbo ke kancah internasional tidak hanya membuktikan bahwa film Indonesia mampu bersaing secara global, tetapi juga menjadi simbol semangat baru dalam industri perfilman nasional.
Sebab, distribusi lintas negara ini juga bisa menjadi bentuk diplomasi budaya yang kuat, yakni ketika cerita, karakter, dan nilai-nilai lokal Indonesia melintasi batas geografis dan menyentuh hati penonton dunia.
“Di kawasan Rusia memang sudah mulai duluan. Namun, secara umum soal kapannya itu sebenarnya tergantung masing-masing territory mulainya kapan,” imbuhnya.
Terkait dengan bahasa apa yang digunakan di penayangan internasional, Angga menyebut semua serba dinamis. Menurutnya, karena film ini bentuknya adalah animasi, bahasa bukan menjadi tantangan yang berarti.
Sebab, prosesnya bisa bermacam-macam. Dalam artian, jika negara yang menayangkan ingin menonton animasi versi orisinal, mereka bisa menayangkan Jumbo dalam bahasa Indonesia, lalu hanya ditambahkan bahasa lokal di takarir.
Namun, jika ingin menonton film menggunakan bahasa mereka, film Jumbo pun bisa ditambahkan dubbing tambahan. Lantaran bentuknya animasi, meski ada dubbing tambahan pun tak akan memengaruhi pengalaman ketika menonton.
Baca juga: Angga Dwimas Sasongko Ingin Buat Genre Action Berjaya lewat Film Ratu Malaka
Sementara itu, sutradara Ryan Adriandhy mengatakan bahwa yang ditawarkan film Jumbo ialah storytelling, Sedari awal, dirinya memang mengonsepkan agar film Jumbo bisa menjadi karya yang punya rentang umur penonton luas.
Dirinya percaya animasi menjadi semacam titik tengah berbagai kalangan bisa duduk bersama menikmati sebuah film. Itulah mengapa kemudian Jumbo hadir dengan tagline Jumbo itu untuk kita, untuk anak kita, dan untuk anak-anak di dalam diri kita.
Tagline ini bukan hanya sebagai alat promosi, melainkan juga bagian visi besar yang mencoba menekankan bahwa film ini tidak hanya ditujukan untuk anak-anak, tetapi juga untuk orang dewasa yang mengajak mereka untuk mengingat kembali masa kecil mereka.
Ryan mengatakan meski film ini memiliki banyak sekali unsur lokal, sebenarnya cerita yang ditawarkan sangatlah universal. Film ini berbicara tentang impian, keluarga, trauma kehilangan, dan pertemanan.
Dengan elemen-elemen tersebut, Jumbo pun bisa menjadi film yang tak hanya melokal, tapi juga bisa diterima oleh audiens global. “Kita itu banyak banget punya animator yang skillnya tuh sebenarnya enggak kalah sama global. Di Jumbo, 100 persen ini dikembangkan oleh animator Indonesia,” tegasnya.
Film animasi Jumbo merupakan karya feature perdana dari sutradara Ryan Adriandhy. Proyek ini diproduseri dua sineas perempuan, Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari.
Jumbo mengisahkan perjalanan Don, seorang anak bertubuh besar yang kerap dipandang sebelah mata oleh lingkungan sekitarnya. Dengan tekad untuk membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar anak yang kerap gagal, Don pun mengambil langkah berani dengan mengikuti sebuah ajang pertunjukan bakat.
Dia merancang pementasan teater yang terinspirasi dari buku cerita warisan orang tuanya. Namun, jalan Don tidak mulus. Buku yang menjadi sumber inspirasinya dicuri oleh seorang perundung.
Di tengah keputusasaan, dia justru bertemu dengan seorang anak misterius yang meminta bantuannya untuk bertemu kembali dengan orang tuanya. Pertemuan itu menjadi awal dari petualangan penuh emosi dan makna, yang membawa Don pada pelajaran berharga tentang keberanian, kepercayaan diri, dan makna persahabatan sejati.
Film ini menghadirkan deretan pengisi suara dari kalangan aktor dan aktris muda berbakat seperti Prince Poetiray, Quinn Salman, Yusuf Ozkan, M. Adhiyat, dan Graciella Abigail.
Tak hanya itu, sejumlah nama besar di industri hiburan juga turut ambil bagian, antara lain Ariel NOAH, Ratna Riantiarno, Ariyo Wahab, Bunga Citra Lestari, Angga Yunanda, dan Cinta Laura Kiehl.
Baca Juga: 10 Film Indonesia Terlaris Sepanjang Masa, Jumbo Peringkat Satu
Film yang dikenal dengan kehangatan cerita dan visual yang memikat ini sedari awal memang direncanakan tak hanya tayang di dalam negeri. Sejak awal perilisan, film telah diumumkan akan tayang di 17 negara, dengan 12 negara di antaranya berasal dari kawasan Eropa.
Seiring dengan animo yang besar terhadap film ini, terutama setelah capaian di dalam negeri, bahkan turut menjadi film terlaris di Asia Tenggara, Jumbo kini makin diminati oleh agen-agen distributor internasional.
Baca Juga: Sutradara Ryan Adriandhy Ingin Film Animasi Masuk Kategori Penghargaan Umum di Festival Film
CEO Visinema sekaligus Eksekutif Produser film Jumbo, Angga Dwimas Sasongko, mengatakan sejauh ini kerja sama dengan agen distribusi internasional berjalan dengan baik. Sejak awal dirilis di Indonesia hingga sekarang, angkanya bahkan terus bertambah.
“Sejauh ini, kita sudah punya deal dengan lebih dari 40 territory di seluruh dunia,” ungkap Angga Dwimas Sasongko saat berkunjung ke Bisnis Indonesia dalam acara Kamis Santuy, Kamis, (19/6/2025).
Angga mengatakan negara-negara yang masuk ke dalam distribusi film ini bisa dibilang cukup beragam. Sebab, film yang distribusinya salah satunya bekerja sama dengan Magic Fair ini menyasar tak hanya Asia Tenggara saja, tetapi juga Asia Tengah, seperti Uzbekistan hingga Kyrgystan.
Kemudian, film ini juga didistribusikan ke Eropa Timur, Timur Tengah, hingga Afrika. Angga juga menyebut film ini bakal ditayangkan juga di Eropa Timur, Latin Amerika, dan negara-negara berbahasa Prancis.
Bagi Angga, langkah Jumbo ke kancah internasional tidak hanya membuktikan bahwa film Indonesia mampu bersaing secara global, tetapi juga menjadi simbol semangat baru dalam industri perfilman nasional.
Sebab, distribusi lintas negara ini juga bisa menjadi bentuk diplomasi budaya yang kuat, yakni ketika cerita, karakter, dan nilai-nilai lokal Indonesia melintasi batas geografis dan menyentuh hati penonton dunia.
“Di kawasan Rusia memang sudah mulai duluan. Namun, secara umum soal kapannya itu sebenarnya tergantung masing-masing territory mulainya kapan,” imbuhnya.
Terkait dengan bahasa apa yang digunakan di penayangan internasional, Angga menyebut semua serba dinamis. Menurutnya, karena film ini bentuknya adalah animasi, bahasa bukan menjadi tantangan yang berarti.
Sebab, prosesnya bisa bermacam-macam. Dalam artian, jika negara yang menayangkan ingin menonton animasi versi orisinal, mereka bisa menayangkan Jumbo dalam bahasa Indonesia, lalu hanya ditambahkan bahasa lokal di takarir.
Namun, jika ingin menonton film menggunakan bahasa mereka, film Jumbo pun bisa ditambahkan dubbing tambahan. Lantaran bentuknya animasi, meski ada dubbing tambahan pun tak akan memengaruhi pengalaman ketika menonton.
Baca juga: Angga Dwimas Sasongko Ingin Buat Genre Action Berjaya lewat Film Ratu Malaka

CEO Visinema sekaligus Eksekutif Produser Film Jumbo Angga Dwimas Sasongko (kanan) dan Sutradara Ryan Adriandhy memberikan paparan saat acara Kamis Santuy di Wisma Bisnis Indonesia, Jakarta, Kamis (19/6/2025). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani)
Dirinya percaya animasi menjadi semacam titik tengah berbagai kalangan bisa duduk bersama menikmati sebuah film. Itulah mengapa kemudian Jumbo hadir dengan tagline Jumbo itu untuk kita, untuk anak kita, dan untuk anak-anak di dalam diri kita.
Tagline ini bukan hanya sebagai alat promosi, melainkan juga bagian visi besar yang mencoba menekankan bahwa film ini tidak hanya ditujukan untuk anak-anak, tetapi juga untuk orang dewasa yang mengajak mereka untuk mengingat kembali masa kecil mereka.
Ryan mengatakan meski film ini memiliki banyak sekali unsur lokal, sebenarnya cerita yang ditawarkan sangatlah universal. Film ini berbicara tentang impian, keluarga, trauma kehilangan, dan pertemanan.
Dengan elemen-elemen tersebut, Jumbo pun bisa menjadi film yang tak hanya melokal, tapi juga bisa diterima oleh audiens global. “Kita itu banyak banget punya animator yang skillnya tuh sebenarnya enggak kalah sama global. Di Jumbo, 100 persen ini dikembangkan oleh animator Indonesia,” tegasnya.
Film animasi Jumbo merupakan karya feature perdana dari sutradara Ryan Adriandhy. Proyek ini diproduseri dua sineas perempuan, Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari.
Jumbo mengisahkan perjalanan Don, seorang anak bertubuh besar yang kerap dipandang sebelah mata oleh lingkungan sekitarnya. Dengan tekad untuk membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar anak yang kerap gagal, Don pun mengambil langkah berani dengan mengikuti sebuah ajang pertunjukan bakat.
Dia merancang pementasan teater yang terinspirasi dari buku cerita warisan orang tuanya. Namun, jalan Don tidak mulus. Buku yang menjadi sumber inspirasinya dicuri oleh seorang perundung.
Di tengah keputusasaan, dia justru bertemu dengan seorang anak misterius yang meminta bantuannya untuk bertemu kembali dengan orang tuanya. Pertemuan itu menjadi awal dari petualangan penuh emosi dan makna, yang membawa Don pada pelajaran berharga tentang keberanian, kepercayaan diri, dan makna persahabatan sejati.
Film ini menghadirkan deretan pengisi suara dari kalangan aktor dan aktris muda berbakat seperti Prince Poetiray, Quinn Salman, Yusuf Ozkan, M. Adhiyat, dan Graciella Abigail.
Tak hanya itu, sejumlah nama besar di industri hiburan juga turut ambil bagian, antara lain Ariel NOAH, Ratna Riantiarno, Ariyo Wahab, Bunga Citra Lestari, Angga Yunanda, dan Cinta Laura Kiehl.
Baca Juga: 10 Film Indonesia Terlaris Sepanjang Masa, Jumbo Peringkat Satu
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.