Ikut Tren Kamis Pakai Lokal, Cek Inspirasi Outfit ke Kantor yang Modis
19 June 2025 |
17:49 WIB
Minat masyarakat terhadap produk fesyen lokal terus tumbuh, didorong oleh kesadaran akan pentingnya mendukung industri kreatif dalam negeri. Di tengah dominasi merek-merek global, kini konsumen mulai melirik karya desainer lokal yang menawarkan kualitas, desain yang unik dan modis, serta kaya nilai budaya.
Menteri Perdagangan (Mendag) RI Budi Santoso, secara resmi meluncurkan Gerakan 'Kamis Pakai Lokal' atau disingkat Gaspol, sebagai upaya menggaungkan kembali semangat mencintai dan menggunakan produk dalam negeri, mulai dari pakaian, tas, alas kaki, dan aksesori dari produk fesyen dalam negeri.
"Sebenarnya ini kelanjutan dari program-program 'Bangga Buatan Indonesia', tapi kami gaungkan kembali, bagaimana kita beli, bangga, beli, bela, dan pakai lokal," kata Mendag Budi, dikutip dari keterangan resminya, Kamis (19/6/2025).
Baca Juga: 5 Kiat Padu Padan Outfit Oversized yang Modis, Tambahkan Aksesori dan Bermain Layering
Gerakan Kamis Pakai Lokal pada awalnya memang dimulai dari para pegawai di lingkup kantor Kemendang. Namun, diharapkan bisa menyentuh masyarakat luas. Menurutnya, GASPOL dapat menginspirasi banyak orang untuk mengenakan produk lokal sehingga bisa menumbuhkan budaya bangga. Selain itu, gerakan ini juga sejalan dengan program prioritas Kemendag, yaitu Pengamanan Pasar Dalam Negeri.
“Jika mengisi pasar dalam negeri dengan produk-produk kita sendiri, kita sedang mendorong pertumbuhan ekonomi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kita,” tambahnya.
GASPOL juga menjadi respons positif dari meningkatnya indeks pengenalan publik terhadap produk lokal. Indeks tersebut naik dari 71,79 pada 2023 ke 73,4 pada 2024. Kenaikan ini menunjukkan bahwa persepsi masyarakat Indonesia terhadap produk lokal makin membaik dari tahun ke tahun.
Mendag Budi menambahkan, produk Indonesia memiliki kualitas yang sangat baik. Adapun dari segi desainnya juga terus mengembangkan berbagai model yang mengikuti selera terkini. Kedepannya Kemendag akan terus mendorong dan memfasilitasi UMKM Indonesia untuk mendapatkan akses pasar dalam dan luar negeri melalui berbagai program.
Program tersebut, termasuk Bangga Buatan Indonesia, promosi melalui pameran dagang dalam dan luar negeri, penjajakan kerja sama bisnis (business matching), serta fasilitasi kerja sama dengan toko serba ada (departement store), ritel modern, perhotelan, dan pusat perbelanjaan.
“Melalui budaya membeli produk lokal, kita tidak hanya memperkuat ekonomi nasional, tetapi juga menjadikan produk lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri,” pungkas Mendag.
Mengambil judul SONARI yang berarti "sekarang" dalam bahasa Batak, desainer Riki Damanik menghadirkan koleksi busana yang merupakan interpretasi modern dari wastra Batak Toba. Melalui koleksi teranyarnya, Riki memadukan elemen-elemen etnik khas Batak dengan desain yang lebih ringan dan playful, tanpa menghilangkan sisi elegan yang menjadi ciri khasnya.
“Koleksi ini meminjam ornamen desain Bohemian yang diinterpretasikan menjadi busana siap pakai yang modern namun tetap menampilkan unsur etnik sebagai khasanah budaya,” jelas Riki Damanik.
Sang desainer ingin menghadirkan nuansa yang lebih ringan dalam berbusana, namun tetap menjaga kedalaman makna dari wastra yang digunakan. Permainan ornamen yang unik mendukung cita rasa etnik dan memberikan keseimbangan terhadap siluet busana yang klasik dan sederhana.
Terdiri dari potongan blus dan luaran dengan dropped-sleeves, yang dipadankan dengan rok dan celana berpotongan chic. Hiasan berupa ornamen-ornamen playful, serta penggunaan beadings dan sequins memberi dinamika visual yang menarik.
Meski tampil sederhana dari segi potongan, keseluruhan koleksi ini membawa narasi budaya yang kuat dalam siluet yang mudah dikenakan di lingkungan kerja maupun aktivitas profesional lainnya.
Di sisi lain, Pendopo sebagai salah merek fesyen lokal yang aktif memberdayakan perajin daerah, baru saja merilis koleksi terbaru bertajuk Langgam Urban, yang mengangkat kekayaan budaya Banten melalui interpretasi kontemporer dari Tenun Baduy. Menurut Putu Laura, Head of Pendopo, koleksi ini menjadi refleksi dari perjalanan budaya yang terus hidup, berkembang, dan beradaptasi seiring zaman.
“Langgam Urban adalah interpretasi kontemporer atas kekayaan budaya tradisional Banten, khususnya melalui wastra khas Tenun Baduy yang dirangkai dengan estetika urban masa kini,” jelas Putu Laura.
Secara visual, koleksi ini menampilkan looks semi-formal dengan siluet dinamis dan sentuhan asimetris yang memberikan kesan tegas namun tetap fleksibel. Material seperti linen, katun, dan lace dipilih secara selektif untuk menciptakan permainan tekstur yang kaya namun tetap ringan saat dikenakan.
Pendopo juga menghadirkan detail seperti anyaman, aksen jahitan, serta teknik layering untuk mempertegas karakter pada setiap busana.
“Busana wastra semi-formal ini dikemas dalam perpaduan tren dan gaya asimetris yang mencerminkan semangat kota Jakarta yang tak pernah tidur. Di balik hiruk-pikuknya, ada jutaan cerita tentang mereka yang datang dari berbagai penjuru, membawa adat, harapan, dan identitas,” ujar Putu Laura.
Lebih lanjut, dia menyebut koleksi ini sebagai cara menangkap denyut kehidupan kota dalam bentuk busana. Palet warna yang digunakan pun tampil berani dan ekspresif, mulai dari nuansa lembut hingga warna-warna yang nyentrik dan mencolok menggunakan pewarna alami yang ramah lingkungan. Ini merefleksikan keberagaman karakter masyarakat urban yang menjadi sumber inspirasinya.
Terakhir ada kolaborasi antara label Nobby dan Vivi Nici yang melahirkan koleksi City Chapter, ditujukan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang tangguh, independen, dan modern. Di balik konsep ini ada narasi tentang perempuan urban yang menghadapi dinamika kota dengan langkah pasti dan kepala tegak.
“Koleksi ini mengangkat tentang perempuan-perempuan Indonesia yang tangguh, independen, dan modern, mereka yang menaklukkan dinamika kota dengan langkah pasti dan kepala tegak,” jelas desainer Afifah Nurhaeni.
City Chapter menampilkan outfit perempuan yang desainnya menggunakan cutting yang bersih dan presisi, dengan siluet yang kuat namun tetap feminin. Motif monogram eksklusif khas Nobby menjadi elemen visual utama yang digunakan dalam signature look koleksi ini, merepresentasikan kekuatan identitas dan konsistensi gaya.
Material yang digunakan merupakan kain eksklusif yang telah diprint dengan motif monogram, dipadukan dengan bahan flowy dan berkilau (shiny) untuk memberi tampilan elegan dan berkelas. Inspirasi desain diambil dari citra perempuan mandiri yang mampu memadukan ketegasan modern dengan keanggunan.
“Dengan siluet desain yang tegas namun feminin, dan detail monogram sebagai lambang kekuatan personal serta keanggunan ratu, kami ingin setiap perempuan merasa bahwa dia tidak sekadar mengenakan pakaian, tapi mengenakan jati diri,” tambahnya.
Inspirasi busana ke kantor dari para desainer merek fesyen lokal tersebut memperlihatkan bagaimana busana kerja tidak selalu kaku atau membosankan. Lewat eksplorasi siluet, material, dan warisan budaya lokal, mereka berhasil menciptakan tampilan profesional yang penuh karakter, modern, dan tetap membumi.
Produk-produk ini makin menunjukkan bahwa fesyen buatan dalam negeri mampu tampil relevan, berkualitas, dan layak menjadi bagian dari rutinitas gaya kerja sehari-hari.
Baca Juga: Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) Kembali Digelar, Angkat Tema Recrafted: A New Vision
Menteri Perdagangan (Mendag) RI Budi Santoso, secara resmi meluncurkan Gerakan 'Kamis Pakai Lokal' atau disingkat Gaspol, sebagai upaya menggaungkan kembali semangat mencintai dan menggunakan produk dalam negeri, mulai dari pakaian, tas, alas kaki, dan aksesori dari produk fesyen dalam negeri.
"Sebenarnya ini kelanjutan dari program-program 'Bangga Buatan Indonesia', tapi kami gaungkan kembali, bagaimana kita beli, bangga, beli, bela, dan pakai lokal," kata Mendag Budi, dikutip dari keterangan resminya, Kamis (19/6/2025).
Baca Juga: 5 Kiat Padu Padan Outfit Oversized yang Modis, Tambahkan Aksesori dan Bermain Layering
Gerakan Kamis Pakai Lokal pada awalnya memang dimulai dari para pegawai di lingkup kantor Kemendang. Namun, diharapkan bisa menyentuh masyarakat luas. Menurutnya, GASPOL dapat menginspirasi banyak orang untuk mengenakan produk lokal sehingga bisa menumbuhkan budaya bangga. Selain itu, gerakan ini juga sejalan dengan program prioritas Kemendag, yaitu Pengamanan Pasar Dalam Negeri.
“Jika mengisi pasar dalam negeri dengan produk-produk kita sendiri, kita sedang mendorong pertumbuhan ekonomi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kita,” tambahnya.
GASPOL juga menjadi respons positif dari meningkatnya indeks pengenalan publik terhadap produk lokal. Indeks tersebut naik dari 71,79 pada 2023 ke 73,4 pada 2024. Kenaikan ini menunjukkan bahwa persepsi masyarakat Indonesia terhadap produk lokal makin membaik dari tahun ke tahun.
Mendag Budi menambahkan, produk Indonesia memiliki kualitas yang sangat baik. Adapun dari segi desainnya juga terus mengembangkan berbagai model yang mengikuti selera terkini. Kedepannya Kemendag akan terus mendorong dan memfasilitasi UMKM Indonesia untuk mendapatkan akses pasar dalam dan luar negeri melalui berbagai program.
Program tersebut, termasuk Bangga Buatan Indonesia, promosi melalui pameran dagang dalam dan luar negeri, penjajakan kerja sama bisnis (business matching), serta fasilitasi kerja sama dengan toko serba ada (departement store), ritel modern, perhotelan, dan pusat perbelanjaan.
“Melalui budaya membeli produk lokal, kita tidak hanya memperkuat ekonomi nasional, tetapi juga menjadikan produk lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri,” pungkas Mendag.
Padu Padan Busana ke Kantor yang Modis dari Merek Lokal
Penggunaan produk fesyen lokal bisa terlihat dari pemilihan busana sehari-hari ke kantor. Tak hanya sekadar menggunakan wastra seperti batik dan tenun, tapi bagaimana mengeksplorasi kain tradisional tersebut dalam desain-desain busana modern yang sesuai dengan selera masyarakat urban.Mengambil judul SONARI yang berarti "sekarang" dalam bahasa Batak, desainer Riki Damanik menghadirkan koleksi busana yang merupakan interpretasi modern dari wastra Batak Toba. Melalui koleksi teranyarnya, Riki memadukan elemen-elemen etnik khas Batak dengan desain yang lebih ringan dan playful, tanpa menghilangkan sisi elegan yang menjadi ciri khasnya.
“Koleksi ini meminjam ornamen desain Bohemian yang diinterpretasikan menjadi busana siap pakai yang modern namun tetap menampilkan unsur etnik sebagai khasanah budaya,” jelas Riki Damanik.
Sang desainer ingin menghadirkan nuansa yang lebih ringan dalam berbusana, namun tetap menjaga kedalaman makna dari wastra yang digunakan. Permainan ornamen yang unik mendukung cita rasa etnik dan memberikan keseimbangan terhadap siluet busana yang klasik dan sederhana.

Koleksi Riki Damanik (Sumber Foto: IFW 2025)
Terdiri dari potongan blus dan luaran dengan dropped-sleeves, yang dipadankan dengan rok dan celana berpotongan chic. Hiasan berupa ornamen-ornamen playful, serta penggunaan beadings dan sequins memberi dinamika visual yang menarik.
Meski tampil sederhana dari segi potongan, keseluruhan koleksi ini membawa narasi budaya yang kuat dalam siluet yang mudah dikenakan di lingkungan kerja maupun aktivitas profesional lainnya.
Di sisi lain, Pendopo sebagai salah merek fesyen lokal yang aktif memberdayakan perajin daerah, baru saja merilis koleksi terbaru bertajuk Langgam Urban, yang mengangkat kekayaan budaya Banten melalui interpretasi kontemporer dari Tenun Baduy. Menurut Putu Laura, Head of Pendopo, koleksi ini menjadi refleksi dari perjalanan budaya yang terus hidup, berkembang, dan beradaptasi seiring zaman.
“Langgam Urban adalah interpretasi kontemporer atas kekayaan budaya tradisional Banten, khususnya melalui wastra khas Tenun Baduy yang dirangkai dengan estetika urban masa kini,” jelas Putu Laura.
Secara visual, koleksi ini menampilkan looks semi-formal dengan siluet dinamis dan sentuhan asimetris yang memberikan kesan tegas namun tetap fleksibel. Material seperti linen, katun, dan lace dipilih secara selektif untuk menciptakan permainan tekstur yang kaya namun tetap ringan saat dikenakan.
Pendopo juga menghadirkan detail seperti anyaman, aksen jahitan, serta teknik layering untuk mempertegas karakter pada setiap busana.

Koleksi Pendopo (Sumber Foto: IFW 2025)
“Busana wastra semi-formal ini dikemas dalam perpaduan tren dan gaya asimetris yang mencerminkan semangat kota Jakarta yang tak pernah tidur. Di balik hiruk-pikuknya, ada jutaan cerita tentang mereka yang datang dari berbagai penjuru, membawa adat, harapan, dan identitas,” ujar Putu Laura.
Lebih lanjut, dia menyebut koleksi ini sebagai cara menangkap denyut kehidupan kota dalam bentuk busana. Palet warna yang digunakan pun tampil berani dan ekspresif, mulai dari nuansa lembut hingga warna-warna yang nyentrik dan mencolok menggunakan pewarna alami yang ramah lingkungan. Ini merefleksikan keberagaman karakter masyarakat urban yang menjadi sumber inspirasinya.
Terakhir ada kolaborasi antara label Nobby dan Vivi Nici yang melahirkan koleksi City Chapter, ditujukan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang tangguh, independen, dan modern. Di balik konsep ini ada narasi tentang perempuan urban yang menghadapi dinamika kota dengan langkah pasti dan kepala tegak.
“Koleksi ini mengangkat tentang perempuan-perempuan Indonesia yang tangguh, independen, dan modern, mereka yang menaklukkan dinamika kota dengan langkah pasti dan kepala tegak,” jelas desainer Afifah Nurhaeni.
City Chapter menampilkan outfit perempuan yang desainnya menggunakan cutting yang bersih dan presisi, dengan siluet yang kuat namun tetap feminin. Motif monogram eksklusif khas Nobby menjadi elemen visual utama yang digunakan dalam signature look koleksi ini, merepresentasikan kekuatan identitas dan konsistensi gaya.

Koleksi Nobby X Vivi Nici (Sumber Foto: IFW 2025)
Material yang digunakan merupakan kain eksklusif yang telah diprint dengan motif monogram, dipadukan dengan bahan flowy dan berkilau (shiny) untuk memberi tampilan elegan dan berkelas. Inspirasi desain diambil dari citra perempuan mandiri yang mampu memadukan ketegasan modern dengan keanggunan.
“Dengan siluet desain yang tegas namun feminin, dan detail monogram sebagai lambang kekuatan personal serta keanggunan ratu, kami ingin setiap perempuan merasa bahwa dia tidak sekadar mengenakan pakaian, tapi mengenakan jati diri,” tambahnya.
Inspirasi busana ke kantor dari para desainer merek fesyen lokal tersebut memperlihatkan bagaimana busana kerja tidak selalu kaku atau membosankan. Lewat eksplorasi siluet, material, dan warisan budaya lokal, mereka berhasil menciptakan tampilan profesional yang penuh karakter, modern, dan tetap membumi.
Produk-produk ini makin menunjukkan bahwa fesyen buatan dalam negeri mampu tampil relevan, berkualitas, dan layak menjadi bagian dari rutinitas gaya kerja sehari-hari.
Baca Juga: Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) Kembali Digelar, Angkat Tema Recrafted: A New Vision
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.