Selektif Pilih Pakaian Berkualitas Sebagai Upaya Memerangi Fast Fashion
19 June 2025 |
19:00 WIB
Industri fast fashion tumbuh pesat dalam dua dekade terakhir berkat sistem produksi yang cepat, murah, dan efisien. Di balik kesuksesan tersebut, Chinam, Vietnam, dan Bangladesh, memegang peran sentral sebagai pusat manufaktur utama dunia.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor produk tekstil ke Indonesia mengalami peningkatan pada 2024, baik volume maupun nilainya, yakni sebanyak 2,19 juta ton produk dengan nilai mencapai US$8,94 miliar. Volume tersebut naik 12 persen dibandingkan tahun 2023, sedangkan nilainya bertumbuh 7 persen secara tahunan.
Produk tekstil yang dimaksud antara lain sutra, wol, filamen, karpet, kapas, serat tekstil, serat stapel, kain tenun, kain rajutan, pakaian rajutan, hingga pakaian non-rajutan, termasuk di dalamnya pakaian bekas.
Baca Juga: Ikut Tren Kamis Pakai Lokal, Cek Inspirasi Outfit ke Kantor yang Modis
Penyumbang utama impor pakaian jadi tersebut adalah China, Vietnam dan Bangladesh, dengan masing-masing kontribusinya sebesar 10,48 persen dan 8,95 persen. Tentunya, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku kreatif industri fesyen lokal.
Fast Fashion dengan segala kecepatan produksi dan harga terjangkaunya mampu menjangkau konsumen luas. Namun di sisi lain, model bisnis ini menciptakan jejak lingkungan yang kurang ramah dan membatasi ruang gerak bagi merek fesyen lokal untuk berkembang.
“Kita tidak bisa memaksa untuk memberhentikan fast fashion, namun bisa diusahakan lewat literasi,” ujar Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, dalam acara JF3 Talks Vol.2
Baginya, edukasi menjadi kunci utama. Masyarakat perlu paham bagaimana proses produksi fesyen berpengaruh terhadap lingkungan. Ini juga akan menuntun mereka untuk memilih dan mendukung merek fesyen yang lebih bertanggung jawab.
Lebih jauh, pemerintah juga mulai mengambil langkah konkret. Dari mengenakan produk lokal dalam keseharian, mengedukasi konsumen tentang pentingnya produk dalam negeri, hingga aktif menindak praktik thrifting dan penjualan barang fesyen ilegal di e-commerce dan platform digital lainnya.
Arah kebijakan Kemenekraf sendiri saat ini fokus pada optimalisasi kekuatan Indonesia di sektor desain. Menurut Irene, kekuatan Indonesia bukan terletak pada mass production, melainkan pada value creation yang bernilai tinggi.
“Kita sadar bahwa kekuatan terbesar kita terletak pada proses desain, karena kita memiliki fashion designer yang luar biasa,” ujarnya.
Oleh karenanya, bagaimana menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki kualitas dan nilai yang bisa diangkat ke panggung global. Pemerintah juga terus mendorong pengembangan produk ready-to-wear yang bisa bersaing di pasar internasional, tentunya tanpa meninggalkan warisan budaya seperti batik dan tenun.
Selain itu, Indonesia juga menargetkan diri sebagai pusat fesyen muslim di kawasan Asia, mengingat besarnya populasi muslim dalam negeri. Desain-desain modest fesyen lokal pun kian hari kian berkembang, tak hanya dari segi estetika tetapi juga dalam penggunaan material yang ramah lingkungan.
“Fast fashion itu memang bergerak secara masif dan biasanya dilakukan oleh perusahaan besar, tapi jika mass production dibelokkan ke brand lokal tentu bisa sangat membangun industri mode Indonesia," katanya.
Fast fashion selama ini identik dengan produksi besar-besaran dan cepat, yang dikendalikan oleh perusahaan raksasa retail global. Jika sistem produksi massal tersebut bisa dialihkan atau diterapkan untuk mendukung brand lokal, misalnya lewat dukungan fasilitas produksi, distribusi, hingga teknologinya, maka bisa mendorong pertumbuhan yang signifikan bagi industri mode dalam negeri.
Dalam menghadapi gempuran fast fashion yang walaupun modis tapi minim kualitas, Lakon Indonesia sendiri memilih untuk berinvestasi dalam riset dan pengembangan desain. Salah satu fokusnya dengan meminimalkan potongan kain yang terbuang untuk mengurangi limbah, sekaligus memilih bahan terbaik agar pakaian bertahan lama.
“Yang penting adalah pemilihan kualitas (bahan) agar bertahan lama, ini bagian dari tanggung jawab terhadap lingkungan, baik bagi konsumen maupun produsen,” ujar Thresia.
Di samping itu, Thresia mengungkapkan bahwa tren mode memang terus berubah, tetapi pada akhirnya, bagaimana gaya disesuaikan atau diolah kembali (styling) menjadi faktor penting dalam mempertahankan nilai suatu produk.
Dengan memahami teknik-teknik styling, semua orang bisa memadu padankan pakaian lamanya yang masih bagus menjadi beberapa look baru yang lebih modis. Dengan demikian, keinginan untuk belanja konsumtif bisa ditekan.
Selain itu, juga bisa mengurangi limbah tekstil yang kian menggunung. Mengacu pada laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), bahwa industri tekstil Indonesia diperkirakan akan menghasilkan 3,9 juta ton limbah tekstil pada 2030.
Dengan demikian, upaya memerangi arus fast fashion bukan hanya soal menyaingi kecepatan produksi, tetapi juga tentang membangun kesadaran akan pentingnya kualitas, keberlanjutan, dan identitas lokal. Dengan mengedepankan nilai-nilai tersebut, industri mode Indonesia memiliki peluang untuk tumbuh lebih kokoh dan mandiri.
Baca Juga: 5 Istilah Tren Busana ke Kantor yang Modis, Smart Casual sampai Office Siren
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor produk tekstil ke Indonesia mengalami peningkatan pada 2024, baik volume maupun nilainya, yakni sebanyak 2,19 juta ton produk dengan nilai mencapai US$8,94 miliar. Volume tersebut naik 12 persen dibandingkan tahun 2023, sedangkan nilainya bertumbuh 7 persen secara tahunan.
Produk tekstil yang dimaksud antara lain sutra, wol, filamen, karpet, kapas, serat tekstil, serat stapel, kain tenun, kain rajutan, pakaian rajutan, hingga pakaian non-rajutan, termasuk di dalamnya pakaian bekas.
Baca Juga: Ikut Tren Kamis Pakai Lokal, Cek Inspirasi Outfit ke Kantor yang Modis
Penyumbang utama impor pakaian jadi tersebut adalah China, Vietnam dan Bangladesh, dengan masing-masing kontribusinya sebesar 10,48 persen dan 8,95 persen. Tentunya, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku kreatif industri fesyen lokal.
Fast Fashion dengan segala kecepatan produksi dan harga terjangkaunya mampu menjangkau konsumen luas. Namun di sisi lain, model bisnis ini menciptakan jejak lingkungan yang kurang ramah dan membatasi ruang gerak bagi merek fesyen lokal untuk berkembang.
“Kita tidak bisa memaksa untuk memberhentikan fast fashion, namun bisa diusahakan lewat literasi,” ujar Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, dalam acara JF3 Talks Vol.2
Baginya, edukasi menjadi kunci utama. Masyarakat perlu paham bagaimana proses produksi fesyen berpengaruh terhadap lingkungan. Ini juga akan menuntun mereka untuk memilih dan mendukung merek fesyen yang lebih bertanggung jawab.
Lebih jauh, pemerintah juga mulai mengambil langkah konkret. Dari mengenakan produk lokal dalam keseharian, mengedukasi konsumen tentang pentingnya produk dalam negeri, hingga aktif menindak praktik thrifting dan penjualan barang fesyen ilegal di e-commerce dan platform digital lainnya.
Arah kebijakan Kemenekraf sendiri saat ini fokus pada optimalisasi kekuatan Indonesia di sektor desain. Menurut Irene, kekuatan Indonesia bukan terletak pada mass production, melainkan pada value creation yang bernilai tinggi.
“Kita sadar bahwa kekuatan terbesar kita terletak pada proses desain, karena kita memiliki fashion designer yang luar biasa,” ujarnya.
Oleh karenanya, bagaimana menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki kualitas dan nilai yang bisa diangkat ke panggung global. Pemerintah juga terus mendorong pengembangan produk ready-to-wear yang bisa bersaing di pasar internasional, tentunya tanpa meninggalkan warisan budaya seperti batik dan tenun.
Selain itu, Indonesia juga menargetkan diri sebagai pusat fesyen muslim di kawasan Asia, mengingat besarnya populasi muslim dalam negeri. Desain-desain modest fesyen lokal pun kian hari kian berkembang, tak hanya dari segi estetika tetapi juga dalam penggunaan material yang ramah lingkungan.
Memerangi Fast Fashion dengan Kualitas Desain
Sementara itu, dari sisi pelaku industri pun mengeluhkan hal yang sama. Thresia Mareta, pendiri merek fesyen lokal Lakon Indonesia, memahami betul bagaimana eksistensi fast fesyen sangat mengancam industri mode lokal.“Fast fashion itu memang bergerak secara masif dan biasanya dilakukan oleh perusahaan besar, tapi jika mass production dibelokkan ke brand lokal tentu bisa sangat membangun industri mode Indonesia," katanya.
Fast fashion selama ini identik dengan produksi besar-besaran dan cepat, yang dikendalikan oleh perusahaan raksasa retail global. Jika sistem produksi massal tersebut bisa dialihkan atau diterapkan untuk mendukung brand lokal, misalnya lewat dukungan fasilitas produksi, distribusi, hingga teknologinya, maka bisa mendorong pertumbuhan yang signifikan bagi industri mode dalam negeri.
Dalam menghadapi gempuran fast fashion yang walaupun modis tapi minim kualitas, Lakon Indonesia sendiri memilih untuk berinvestasi dalam riset dan pengembangan desain. Salah satu fokusnya dengan meminimalkan potongan kain yang terbuang untuk mengurangi limbah, sekaligus memilih bahan terbaik agar pakaian bertahan lama.
“Yang penting adalah pemilihan kualitas (bahan) agar bertahan lama, ini bagian dari tanggung jawab terhadap lingkungan, baik bagi konsumen maupun produsen,” ujar Thresia.
Di samping itu, Thresia mengungkapkan bahwa tren mode memang terus berubah, tetapi pada akhirnya, bagaimana gaya disesuaikan atau diolah kembali (styling) menjadi faktor penting dalam mempertahankan nilai suatu produk.
Dengan memahami teknik-teknik styling, semua orang bisa memadu padankan pakaian lamanya yang masih bagus menjadi beberapa look baru yang lebih modis. Dengan demikian, keinginan untuk belanja konsumtif bisa ditekan.
Selain itu, juga bisa mengurangi limbah tekstil yang kian menggunung. Mengacu pada laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), bahwa industri tekstil Indonesia diperkirakan akan menghasilkan 3,9 juta ton limbah tekstil pada 2030.
Dengan demikian, upaya memerangi arus fast fashion bukan hanya soal menyaingi kecepatan produksi, tetapi juga tentang membangun kesadaran akan pentingnya kualitas, keberlanjutan, dan identitas lokal. Dengan mengedepankan nilai-nilai tersebut, industri mode Indonesia memiliki peluang untuk tumbuh lebih kokoh dan mandiri.
Baca Juga: 5 Istilah Tren Busana ke Kantor yang Modis, Smart Casual sampai Office Siren
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.